Prolog

20 3 1
                                        

"Hooiiiiiii....." Clio berlari ke arah Luca yang sedang berteduh di bawah pohon besar. Luca menoleh ke arah Clio yang mengambil ancang-ancang untuk melompat. Segera Luca berdiri dan pindah ke tempat yang tidak terlalu jauh agar Clio tidak menimpanya.

"Apaa?" Luca kembali duduk setelah Clio terjatuh dan meringis karena gagal mengerjai Luca.

"Kau sedang baca apa?" Clio memandangi buku yang Luca pegang sambil kebingungan. Tangannya diluruskan sehingga ia bisa sejajar dengan wajah cupu Luca.

"Ahh ini, ini buku yang menceritakan tentang sejarah. Mau membacanya?" Luca memperbaiki posisi kacamatanya dan agak menyodorkan buku tebal miliknya. Clio segera menggeleng dengan cepat.

"Tidak, aku tidak mau membaca buku setebal itu, sangat memusingkan." Bibir Clio mengerucut dan matanya menangkap beberapa buku tebal milik Luca.

"Bagaimana kalau yang itu? Apa isinya?" Clio bangun dan menghampiri buku-buku tebal milik Luca. Luca meletakkan buku yang sedang dipegangnya dan menghampiri Clio yang seperti sedang membaca halaman awalnya.

"Aku tidak tahu, aku belum membacanya. Tapi aku penasaran dengan buku ini." Luca mengambil salah satu buku. Buku tersebut bersampul biru dan terlihat sangat indah.

"Apakah dongeng?!" Mata Clio berbinar ketika Luca mengambil buku itu.

"Tidak tahu, mari kita baca bersama." Luca bangun dan kembali ke tempat duduk awalnya. Dengan posisi tengkurap ia menepuk pelan tanah pertanda mengajak Clio tengkurap disisinya.

"Baik ayo kita baca." Luca membuka sampul indah itu dan mulai membaca kata per kata. Mata Clio kembali berbinar ketika ia membaca isi buku itu.

"Benar-benar menakjubkan!" Mata Clio mengerjap karena takjub dengan isinya.

"Hei kita bahkan belum membaca seperempatnya." Luca memperbaiki kacamatanya yang melorot.

"Kerenn, padahal baru awal tapi sekeren ini. Aku penasaran dengan selanjutnya, bagaimana kalau kita melihat bagian akhir dulu?" Clio  terlihat mengintip dibagian akhir buku.

"Hei! Jangan merusak rasa penasaranmu." Luca menepuk pelan buku yang Clio buka sedikit. Clio mengangguk dan menatap Luca dengan wajah yang menggemaskan.

"Ahh lama kelamaan membosankan." Clio mengganti posisinya menjadi terlentang. Luca menatap Clio dengan rambut coklatnya dan mata hijau zamrudnya.

Angin berhembus pelan membuat rambut hitam Luca tertiup pelan. Luca mengganti posisinya menjadi duduk dan badannya bertumpu pada tangannya yang ia luruskan. Luca menatap langit Chukredo yang biru. Tanpa sadar Luca mengangkat tangan kirinya seperti ingin menggapai langit Chukredo. Clio menatap Luca dan angin kembali berhembus pelan, rambut Luca kembali tertiup menjadikan pemandangan yang candu bagi Clio. Mata hijau zamrud Clio berbinar menatap Luca yang terlihat sangat menarik baginya.

"Hei, ayo naik keatas!" Clio segera bangkit dan menarik tangan Luca bermaksud mengajaknya untuk naik pohon besar.

"Kacamatamu akan mengganggu saat kau memanjat." Clio melepas kacamata Luca dan menaruhnya di atas buku yang tadi ia baca bersama Luca.

"Hahaha, ternyata fisikmu kuat juga Luca." Clio segera menyusul Luca yang sudah setengah perjalanan untuk mencapai dahan paling rendah di pohon itu. Luca menundukkan kepalanya dan melihat Clio sedang fokus memanjat tanpa memperhatikan Luca. Clio yang sadar diperhatikan Luca segera mendongakkan kepalanya dan meringis. Luca sudah mencapai dahan terendah pohon itu dan segera mengulurkan tangan kearah Clio untuk membantu Clio naik.

"Hei! Lihat!" Clio menunjuk ke hutan yang terlihat dikelilingi kabut. Luca mengikuti arah tangan Clio dan fokus ke hutan yang dimaksud Clio.

"Kau tahu? Disana katanya terdapat makhluk-makhluk fantasi, yang ada di dongeng." Luca tersenyum dan memandang Clio.

"Benarkah? Aku ingin kesana. Aku ingin kesana bersama kau Luca. Kau akan sangat terhibur jika kau mengetahui kebenaran dari hutan itu kan?" Clio menatap wajah Luca yang sedikit lebih tinggi daripada dia, matanya kembali berbinar dan menunggu jawaban dari Luca.

Luca tersenyum lebar dan mengangguk, "Hm! Baiklah."

"Kau mau berjanji?" Clio mengulurkan jari kelingkingnya di hadapan wajah Luca. "Hm! Tentu saja." Luca membalas uluran jari kelingking Clio dan mengaitkannya serta tak lupa senyum lebarnya yang membuat matanya tertutup. Begitu pula dengan Clio, ia segera tersenyum memamerkan gigi putihnya yang rapi.

"Nah, sekarang ayo kita turun! Kau bisa?" Luca menunduk dan menatap Clio. Clio ikut menunduk dan nyengir memamerkan gigi putihnya. "Tentu saja, ini sangat rendah. Bahkan aku bisa melompat dari sini." Clio melompat dan mendarat dengan baik tanpa luka dan meringis kesakitan. "Haha, kau memang energik. Tunggu aku disitu dan jangan bergerak sedikitpun." Luca mengacungkan jari telunjuknya pertanda memperingatkan Clio. Clio mengangguk pelan dan tersenyum lebar. Luca segera menuruni batang pohon besar itu dan tidak memakan waktu yang lama ia sudah berdiri di samping Clio. Luca agak membungkuk menyejajarkan wajahnya dan wajah Clio.

"Baiklah, hari mulai sore. Jadi! Ayo kuantar kau pulang dan bantu aku membawa buku-bukuku tolong." Luca mendekati buku-bukunya yang berserakan dan memakai kacamatanya. Clio segera menyusul Luca dan membantu membawa buku-buku tebal itu.

Guardians of Winter AngelsStories to obsess over. Discover now