TAEHYUNG_
Sudah hampir dua puluh menit aku berada di posisi yang sama; duduk bersila di lantai lobi fakultas, terus memandangi layar ponsel yang masih menampilkan PDF berisi daftar nama anggota kelompok KKN 60. Mataku terus mencari, hatiku tak henti berharap, agar setidaknya ada satu dari tujuh nama yang tertulis ini tidak asing untukku. Namun, nyatanya tidak. Tak peduli selama apa pun aku memandangi, isi file ini tidak akan berubah. Aku harus menerima kenyataan bahwa aku akan dan harus tinggal di suatu desa terpencil selama dua puluh hari bersama delapan orang yang benar-benar asing.
Mendengus keras, aku mengangkat wajah. Mataku kemudian menangkap Namjoon yang sedang berjalan mendekat. Senyumnya terlihat semakin lebar seiring langkah kaki yang ia ambil. "Taehyung!" Ia melambaikan tangannya, menyapaku dengan begitu antusias. "Udah ketemu kelompok lo?" tanyanya sambil mempercepat langkah.
Aku menggeleng pelan. "Belum."
"Lo kelompok berapa?" Namjoon duduk begitu saja di lantai kosong sebelahku.
"Kelompok 60," jawabku lemas, lalu kembali menunduk dan meratapi nasib yang sepertinya memang tidak bisa diubah lagi.
"Lo kenapa?"
Mendengar nada suara yang tidak biasa dari Namjoon, aku terpaksa mengangkat wajah dan melirik ke arahnya. Namjoon menatapku dengan kedua alis yang terangkat, serta kening yang berkerut sempurna. Wajahnya jelas melukiskan rasa penasaran yang mungkin sedang ia rasakan saat ini.
"Bukannya sebelum berangkat tadi lo excited banget, ya? Kenapa sekarang ditekuk begini mukanya?" lanjut Namjoon, bertanya.
"Nggak ada yang kenal," ujarku datar, tidak ingin menjelaskan lebih detail tentang kekecewaanku terhadap pembagian kelompok KKN yang menurutku tidak adil ini.
Namjoon benar tentang aku yang sebelumnya memang sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ini. Pikirku, pasti akan menyenangkan tinggal di suatu desa yang jauh dari Surabaya selama dua puluh hari dengan segala tantangan yang diberikan. Aku bahkan rela melewatkan KKN literasi hanya demi KKN reguler ini. Namun ternyata, aku melupakan satu hal di balik semua bayangan menyenangkan yang sudah tergambar jelas di kepalaku, yaitu tidak bisa memilih teman kelompok.
"Sama sekali?"
"Sama sekali." Aku menghela napas.
Namjoon menepuk pundakku pelan, lalu melemparkan satu senyum tipisnya sekali lagi, yang kini terlihat begitu hangat. "Semangat, ya? Semoga temen KKN lo asik dan baik-baik orangnya. Mungkin emang belum kenal, tapi nanti akan kenal dan akrab, kok. Bisa aja setelah general meeting nanti, sebelum kalian berangkat ke lokasi. Dan jangan khawatir, gue ada di desa sebelah, literally sebelah, karena gue kelompok 59. Gue janji, gue akan sering ke tempat lo. No need to worry, okay?"
Kalimat sederhana yang Namjoon lontarkan dengan begitu santai itu terdengar menenangkan untukku, tak urung kemudian membuatku tersenyum, juga membuat sesuatu dalam diriku terasa sedikit lebih lega.
"Semangat!" tambah Namjoon sambil mengepalkan satu tangannya di udara.
"Makasih, Joon."
Mungkin memang tak seburuk yang aku kira. Semoga saja.
***
Dengan langkah kaki yang terasa berat, aku dan Namjoon berjalan menuju ruang pertemuan kami masing-masing. Aku akan berkumpul dan bertemu dengan anggota kelompokku untuk yang pertama kali, begitu pula dengan Namjoon.
YOU ARE READING
KKN • KookV Horror Fiction
HorrorImajinasi Taehyung tentang KKN menyenangkan dan penuh cinta yang selama ini ia dengar melalui cerita seniornya hancur begitu saja ketika ia mengetahui kalau ia harus tinggal di rumah berhantu bersama delapan orang asing lainnya. Ditambah lagi, ia ha...
