Please notice this one fact about life: the world doesn't fucking care even when you're hurting. It will keep revolve around like it should be.
Setidaknya itu yang gue tahu sore ini. Hari ini rasanya layak disebut sebagai salah satu hari paling patah dalam hidup gue. Tapi sepanjang perjalanan keluar dari rumah ke kafe yang lagi gue duduki ini, hingga saat ini, gue melihat dunia masih berjalan dengan baik-baik saja. Ada orang-orang yang tertawa sambil mengobrol. Ada kemacetan Jakarta di jam pulang kantor begini yang masih juga ramai. Ada orang-orang yang sibuk menjalani kegiatannya sendiri-sendiri. Nggak ada yang berubah. Cuman gue sendirian aja yang hancur lebur di dunia yang ramai ini.
Atau orang-orang itu juga sedang bergulat dengan emosinya sendiri-sendiri dalam ruang diamnya, sementara bumi masih berputar dengan ramainya. Gue juga nggak ngerti. Yang jelas, bumi tetap berputar mau lo sehancur apa juga.
Gue baru ditolak ujian masuk universitas beberapa jam yang lalu, setelah sebelumnya juga berkali-kali menerima penolakan serupa. Harapan terakhir gue di jalur mandiri nggak berbuah manis. Yang rupanya, artinya setelah ini gue harus jadi anak gap-year yang harus merelakan satu tahunnya lepas sebelum coba-coba daftar lagi tahun depan.
Sebenarnya ada opsi lain, masuk di kampus swasta. Atau kampus vokasi dan politeknik yang jalurnya masih buka. But too bad, orang tua gue yang perfeksionis nggak ngizinin gue masuk swasta, dan gue nggak punya pandangan bakal kuliah apaan di vokasi dan politeknik. Kedua orang tua gue nggak ngasih banyak pilihan dan gue udah capek harus berdebat lagi dengan mereka. Cukup waktu milih jurusan kemarin aja. Bokap nyokap gue ngotot masukin gue ke Manajemen, Akuntansi, atau Bisnis, jurusan yang linier sama profesi dan latar belakang mereka sementara gue ogah banget ngurusin begituan. Gue pengennya di Sastra Inggris, tapi kedua orang tua gue mikir sastra nggak terlalu bonafit buat masa depan. Yes, my parent is that kind of old-fashioned minded and I can do nothing about it. Dan setelah debat yang lumayan panjang, dibantuin ketiga kakak gue juga, akhirnya Mama-Papa tercinta mengizinkan gue milih Sastra Inggris, tapi di pilihan kedua dan ketiga. Pilihan pertamanya Hubungan Internasional, katanya masih lebih menjanjikan. Gue sih iya-iya aja, HI juga cukup menarik minat gue. Asal gue bisa daftar Sastra Inggris. Gue pikir masalah gue selesai sampai disitu, nyatanya Papa dan Mama gue masih nambahin satu pressure lagi: harus di universitas negeri, titik, gak boleh enggak. Bagus lagi kalau di top 5, kalau nggak terlampaui mending gap-year aja buat coba lagi tahun depan.
Hell yeah.
And it's getting more hellish because I can do nothing. Dan sekarang, menyadari kemungkinan terburuk itu terjadi, rasanya dunia gue runtuh dan kacau. Maka dari itulah gue di kafe ini, janjian sama Nadira, pacar gue, karena yang ada di pikiran gue cuman dukungan hangat dia yang biasa dia beri ke gue. Salah satu obat paling manjur yang bisa diberikan cewek yang udah gue pacari satu setengah tahun ke belakang ini.
Pintu kafe terbuka. Dari baliknya gue bisa menemukan figur yang gue rindu selama... duh, berapa lama ya gue nggak ketemu sama ayang gue ini? Kayaknya mulai kita berdua fokus sama urusan kuliah-kuliahan ini. Nadira sibuk mengejar mimpinya masuk Ilmu Komunikasi dan gue, seperti yang udah gue sebutin di atas. Bedanya sekarang, Nadira udah berhasil dapat mimpinya sementara gue hancur lebur dengan kegagalan yang gue terima.
I know I'm such a pathetic man.
"Aduh, Ge. Udah lama nunggunya?"
Suara lembut Nadira nampak mengkhawatirkan gue sebelum duduk. Ya Tuhan, suara lembut itu akhirnya masuk juga di telinga gue.
"Enggak kok, Nad. Masih sepuluh menitan kali. Eh, kamu nggak pesen dulu?"
"Oh iya. Bentar ya."
Gadis itu beranjak. Lima menit kemudian dia sudah kembali dengan segelas Green Tea Latte dan semangkuk kentang goreng.
YOU ARE READING
Lepas
Short StoryKarena tidak semua yang diperjuangkan mati-matian akan bisa kamu dapatkan. -- Project number #1 in my amateur writing projects Short story by Peppreoni
