Buurrssttt
Aku merasakan tubuhku terbang ke atas dengan kecepatan maksimum, seperti roket yang lepas landas ke luar angkasa, sebelum kemudian mendarat di sebuah kubah emas yang familier dalam ingatanku.
"Selamat datang di Asgard, Lady Camael Iridescent of Ravendell," seru suara pria yang berdiri di depanku.
"Hai, Heimdall. Tinggalkanlah keformalanmu dan panggil saja aku Lady El seperti biasa. Bagaimana kabarmu?" jawabku.
"Apa adanya seperti yang dapat kau lihat dari seorang penjaga gerbang dunia," sahut Heimdall.
Aku tertawa.
"130 tahun sejak terakhir kali kau meninggalkan Asgard, dapat ku lihat Ravendell berkembang dengan baik," lanjutnya.
"Yah, tentu saja, duniaku berjalan baik, sangat baik," jawabku puas.
"Duniamu berjalan baik, ya benar. Tapi tidak dengan hatimu," katanya.
"Oh ya? Apa maksudnya itu?" tanyaku.
"Kau tentu tahu maksudku. Tidak mungkin seorang Lady dengan kemampuan telepati tidak dapat memahami kalimatku."
Aku terdiam.
"Loki. Hatimu merindukan Loki selama 130 tahun ini," lanjutnya.
"Heimdall, stop it." Aku menyela.
"Ya, aku tahu aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, tapi tolonglah, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas itu," sambungku.
Heimdall tersenyum.
"Frigga sedang menantimu di balkon istana," katanya.
Seketika aku teringat dengan tujuan kedatanganku kembali ke Asgard.
"Ah right, thank you Heimdall, see you later."
Ku langkahkan kakiku ke arah jembatan, kemudian terbang menuju istana.
Aku mendaratkan kakiku di balkon istana, lalu segera menghampiri Frigga yang tersenyum melihat kedatanganku.
"My Queen.." ucapku menundukkan kepala.
Namun, Frigga langsung memelukku erat.
"Oh, El. 130 tahun. Apa yang menahanmu untuk tidak pulang kemari?" tanya Frigga, masih memelukku.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya hanya tidak memiliki alasan untuk datang ke sini," jawabku.
Frigga melepaskan pelukannya, kemudian menangkup pipiku dengan kedua tangannya.
"But Asgard is your home, dear. Am I wrong?" Frigga menatapku dengan pandangan penuh arti.
Aku tersenyum. Ku rasakan butiran air mata membasahi pipiku.
"Oh, sayang, kau memiliki senyuman ibumu," lanjutnya.
Frigga pun kembali memelukku dan membelai pelan rambutku.
"Bahkan memelukmu, rasanya sama seperti aku memeluk ibumu dulu," lanjutnya lagi, sebelum melepaskan pelukannya.
"Sekarang, sayang, kau sudah tahu bukan alasan Odin memanggilmu ke sini?" tanya Frigga.
"Untuk menghadiri penobatan Thor 4 bulan lagi, benar?" kataku.
"Ya benar, tetapi bukan hanya untuk itu," ujar Frigga.
"Kau tahu benar bahwa 7 hari lagi adalah peringatan 200 tahun kematian ibumu, kematian pahlawan terhormat yang menyelamatkan kami semua Asgardians," lanjutnya.
Aku menelan ludahku dengan susah payah. Mengenang kembali kematian ibuku adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupku.
"Oleh sebab itu, kami ingin melakukan ritual penghormatan di sini, bersamamu. Selama ini kami telah melakukan ritual itu tanpa kehadiranmu. Ku rasa sudah saatnya seluruh rakyat Asgard mengenalmu, keturunan pahlawan kami," lanjutnya lagi.
ESTÁS LEYENDO
LOKI FANFICTION | I'LL BE YOURS
Fanfiction"I'm the monster parents tell their children about at night!!" "No, Loki. You're not a monster to me." Ditulis menggunakan English dan Indonesia.
