Sebuah kendaraan berbentuk aneh berlalu di sampingnya, membuat angin bergerak cepat. Hal itu membuat pandangannya mengikuti arah tujuan kendaraan itu. Dari jarak yang entah sejauh apa, indranya menangkap seorang gadis dengan tinggi badan sedikit lebih rendah dibandingkan kebanyakan orang di tempat itu. Matanya tertuju lurus pada gadis itu yang kini sedang berlutut entah karena apa. Gadis itu mengangkat kepalanya ke arah jalanan berwarna hitam yang dilalui kendaraan-kendaraan aneh yang terbuat dari logam yang berada tepat di hadapannya.
Angin di sekitarnya kembali berembus kencang, saking kencangnya malah membuat rambutnya mengambang di udara. Pandangannya masih tertuju pada gadis yang sama. Kini gadis itu menoleh ke arah dirinya berada lalu dengan cepat bangkit dari posisinya yang tengah berlutut dan berlari menghampiri seorang gadis. Dengan sigap dia menarik lengan gadis di hadapannya, namun Tuhan berkehendak lain. Kedua gadis itu malah bertukar posisi. Sepersekian detik setelah itu, suara tubrukan keras beserta suara pekikan tertahan terdengar, mengalahkan suasana hiruk-pikuk di sekitar sana.
Gadis berambut pendek itu kini tergeletak di atas genangan tinta merah. Mungkin saja, kini gadis berambut pendek itu telah meregang nyawa.
***
Seorang wanita paruh baya berjalan ke dekat sebuah ranjang dengan seember air digenggaman. Wanita paruh baya itu lalu menyiram seember air itu kepada gadis yang tidur di atas ranjang.
Mata gadis itu langsung terbuka dan ia langsung bangkit dari posisinya menjadi duduk. “Ibu, aku mendapat mimpi aneh lagi,” rengek gadis itu. Ia merengek bukan karena disiram air, melainkan hanya karena mimpi.
“Wah, Tuan Raja sudah bangun.... Kau kira sekarang sudah jam berapa, hah?! Bangun, Mayya! Tidak ada kata terlambat! Dasar berandalan!
***
Gadis itu berjongkok di hadapan seekor kucing yang tergeletak tak berdaya. Dia menyentuh tubuh kucing tersebut, namun tak ada respon sedikit pun dari sang kucing. Gadis itu meraba tubuh kucing tersebut, tangannya terhenti di bagian perut sang kucing kemudian dia memejamkan matanya. Cahaya hijau menyilaukan muncul dari kedua telapak tangan gadis itu. Helai demi helai rambut hijaunya beterbangan tak beraturan seperti sedang berada di dalam air. Tak lama kemudian, cahaya itu meredup secara perlahan hingga padam. Kucing yang terbaring di tanah itu mengeong parau lalu kabur ke arah semak-semak di taman.
Mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang dia saksikan. Lelaki itu tidak menduga kalau hanya mengikuti seorang gadis berpenampilan asing yang tidak mengenakan seragam akademi akan menggiringnya melihat hal yang mungkin tidak akan pernah dia temui di tempat dan waktu yang lain.
Lelaki itu keluar dari persembunyiannya. “Bagaimana bisa kau menghidupkan kucing itu? Kau penyihir?” tanyanya dengan penuh intimidasi.
Gadis berambut hijau itu menjawab tanpa memedulikan keadaan sekitar. “Kucing itu belum mati, dia hanya sekarat. Jadi, aku menyembuhkannya.”
“Apa kau gila? Mana ada orang yang bisa menyembuhkan seekor kucing yang sekarat dalam sekejap. Apa kau seorang penyihir?”
Gadis berambut hijau itu bangkit berdiri lalu menatap lawan bicaranya dengan tenang. “Aku hanya menyembuhkannya. Aku menyembuhkannya dengan kekuatanku. Kau juga memiliki kekuatan, tapi bukan kekuatan penyembuhan. Kau memiliki kekuatan yang berbeda denganku,” jawabnya lalu tersenyum simpul. “Aku Irine aku bisa menyembuhkan luka-luka yang kau dapat. Lebih baik pembicaraan ini segera diakhiri. Aku pergi” Irine lalu pergi searah dengan arah perginya kucing yang disembuhkannya tadi.
“Omong kosong. Aku tidak percaya dengan omong kosong yang kau bicarakan. Aku juga tidak memiliki kekuatan yang kau maksud itu,” seru lelaki itu lalu berbalik berjalan menuju ke dekat air mancur untuk menemui seseorang.
Setibanya di tempat yang dituju, lelaki itu langsung disambut oleh seorang gadis yang duduk di tepi air mancur itu.
“Faro, Kau dari mana saja? Seharusnya kau memberi tahuku kalau ingin pergi. Bagaimana jika aku tersesat? Aku kan belum mengenal tempat ini dengan baik,” ujar gadis itu.
“Itu semua terserah padaku, Fiona. Berhenti bergantung padaku, dasar payah.” sahut Faro sedikit ketus.
“Hei! Jaga ucapanmu. Mau bagaimana pun kau itu lebih muda dariku,” seru gadis yang bernama Fiona itu. Dia lalu berdiri dari posisinya hendak menjewer telinga Faro.
“Ingat, kita kembar. Lahir duluan bukan berarti kau lebih tua dariku kita kembar dan di saat penciptaannya, kita diciptakan dalam waktu bersamaan. Dan ingat sampai kapan pun tanganmu tidak akan sampai untuk menjewer telingaku,” ejeknya. Faro lalu berlari menghindari Fiona yang ikut mengejarnya.
***
Lelaki bertubuh jangkung itu asik menyirami bunga-bunga yang ada di ruangan beratap transparan.
Seorang nenek-nenek yang usianya sudah mencapai seratus tahun menyebut nama lelaki itu dengan lembut, “Aaron, kau tidak pergi ke akademi?”
Lelaki yang bernama Aaron itu menghentikan aktivitasnya. “Tidak, hari ini aku libur saja. Aku akan membantu Nenek menjaga toko. Lagi pula hari ini belum jadwalnya belajar.” Dia lalu melangkah mendekati sosok yang dipanggilnya nenek lalu memberikan ember yang digunakannya untuk menyiram bunga kepada sang nenek. “Aku pergi dulu sebentar ke tempat Paman untuk menjemput vas bunga yang aku buat minggu lalu.”
Suara lonceng berdenting pun terdengar begitu dia meninggalkan tempat itu.
*****
Thank you for reading. Please drop ur vote and comment. That means a lot.
Setelah sekian lama Selenic memberanikan diri lagi buat berkarya di sini. Semoga projek yang tertunda sejak tahun 2018 ini bisa tamat.
01 Juni 2023
Selenic
KAMU SEDANG MEMBACA
The Hidden
FantasiUPDATE SETIAP HARI SENIN [ON HOLD] THE HIDDEN: Sorcerer's Dimension "Aku bisa menjelajahi waktu." -Mayya "Aku pernah membaca sebuah buku, di sana tertulis bahwa dulu ada perang besar antar dimensi." -Fiona "Nenekku bilang kita keturunan penyihir."...
