Kala hati sudah kuberi
Sang penakluk hati ternyata sudah lari
Pergi tanpa saya sadari
Semenjak masalah itu terjadi
Semenjak sepuluh hari tanpa basa basi
Kenapa?
Kenapa selalu seperti ini?
Kenapa saat saya mulai memupuk rasa,
Mereka lantas pergi
Ya, ini bukan kali pertama
Setiap kali saya mulai percaya pada seseorang,
Setiap itu pula mereka tinggalkan saya
Tapi untuk yang kali ini,
Yang memulai bukan saya
Dia yang lebih dulu menunjukkan perhatiannya
Apa saya yang terlalu terbawa perasaan?
Bagaimana saya tidak jatuh,
Tiap kali saya ada masalah, dia ada untuk menenangkan saya
Lalu dia berkata "Kamu kenapa? Are you okay? Mau crita?" dan segala bentuk perhatian yang lain.
Awalnya, saya menolak
Saya tidak menyukainya
Saat itu ya berdoa supaya dia tidak jatuh cinta pada saya
Ya, kamu benar
Ada sedikit penyesalan
Kenapa dulu saya berdoa seperti itu
Saat itu, saya hanya tidak ingin membuatnya merasa sedih
Sungguh. Saya tau rasanya menyukai orang lain yang tidak mempunyai rasa yang sama dengan saya, itu menyakitkan.
Maka dari itu, saya berdoa agar dia tidak menyukai saya. Saya tidak mau dia terluka lebih dalam lagi.
Setelah semua berjalan,
Nyatanya saya juga seperti manusia lain
Saya juga perempuan biasa
Perlahan saya mulai memiliki rasa padanya
Setiap kali dia tidak mengirim kabar, rasanya hampa sekali.
Seperti ada yang hilang, seperti ada yang kurang
Lalu saya berusaha untun mencairkan suasana
Semenjak masalah itu terjadi, semenjak sepuluh hari tanpa kabar, akhirnya saya yang mengalah
FYI, jarang sekali saya mau mengalah
Lalu saya kembali menghubunginya, menurunkan sedikit ego saya
Setelah itu kami kembali seperti sedia kala
Namun, saya rasa ada yang berbeda
Perhatiannya tidak seperti dulu
Berkabar tidak seintens dulu
Sekarang dia sudah tidak fast respon
Awalnya, saya kira dia sibuk
Saya kira pesan saya tidak sengaja tidak terbalas
Tapi, saya rasa lama kelamaan ini menjadi aneh
Dia memposting snap whatssap, dia membalas pesan grup. Tapi pesan saya tidak dia balas
Lalu dia membalas selang beberapa jam kemudian
"Maaf ya baru balas"
"baru ngerjain"
(mungkin maksudnya baru mengerjakan tugas)
"Kamu udah tidur?"
Malam itu, saya kesal bukan main
Saya marah. Mungkin lebih marah pada diri saya ketimbang marah padanya. Saya marah kenapa saya marah sama dia? Padahal saya bukan siapa-siapanya. Saya hanya temannya.
Lalu paginya, saat saya terbangun jam 3 pagi,
saya balas pesannya
"hehe iya"
Setelah itu dia meminta maaf lagi
Saya balas "Iya sans wkwk"
Typing saya mungkin bisa sesantai itu, tapi hati saya? Apa dia tau? Hehe, rasanya saya ingin sekali menangis.
Hal seperti itu terjadi tidak hanya sekali
Namun berkali-kali
Saya awalnya sabar, lama-lama saya lelah
Saya ingin menyudahi rasa ini
Biar saya hentikan rasa ini
Saya rasa dia sudah tidak menyukai saya lagi
Lantas kenapa saya masih menunggunya?
Akan saya biarkan semuanya kembali seperti semula, seperti saat kami belum bertemu
Saya akan menganggapnya sebagai teman saja.
Hell?! Kamu pikir kalian itu apa? Sejak awal kan memang teman
Hehe iya, saya tau
Maksud saya, saya akan berusaha menjadi "teman". Saya tidak mau terbawa terlalu dalam. Biar waktu yang berperan. Biar semesta yang menetapkan.
