"Dongeng Sebelum Tidur"

38 1 0
                                    

Seul Bi menerima bungkusan roti yang diulurkan kepadanya dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Ahjussi1 di hadapannya. Ahjussi itu sudah sibuk melayani pelanggan lainnya jadi Seul Bi langsung bergegas meninggalkan hadapan Ahjussi itu sambil memeluk bungkusan penuh roti yang baru dibelinya.

"Noona !"

Seul Bi langsung menoleh dan tersenyum kecil. "Jeong Il"

"Itu sarapan kita pagi ini ?" tanya Jeong Il yang sudah berdiri tepat di samping Seul Bi. Kini keduanya berjalan beriringan menembus keramaian pasar kota.

"Iya. Kuharap kau tidak keberatan dengan roti gandum"

"Bukan masalah. Mau tidak mau kita memang harus berhemat" jawab Jeong Il sambil mengusap-usapkan kedua tangannya yang kedinginan

Seul Bi tersenyum sedih. Masih membekas tragedi itu di dalam kepalanya. Hanya dalam semalam kehidupannya berubah drastis. Seminggu sudah dirinya pergi meninggalkan kediaman Kim Hye Soon. Kabar hangusnya kediaman putri Kim itu sudah menyebar luas di kota.

"Apa benar kediaman Kim Hye Soon-nim hangus terbakar ?"

"Kudengar malah diserang sekelompok bandit"

"Tapi aneh memang, kenapa tuan putri dari keluarga Kim justru tinggal menyendiri dan membesarkan anak yatim piatu seperti itu"

"Semoga Kim Soon-nim diterima di sisi-Nya"

Seul Bi menunduk dalam-dalam setiap kali gossip kota itu disebarkan dari satu pendengar ke pendengar yang lain. Jeong Il bersiap cuek lagaknya tidak tau menahu soal itu. Memang apa yang bisa mereka perbuat ?. Yang harus mereka lakukan adalah lari dari kejaran para bandit hitam itu. Itulah pesan terakhir yang diberikan Hye Soon-noonim.

"Ah, Sang Ryung hyung ! Mi Ae !" panggil Jeong Il tiba-tiba

"Oppa ! Eonni !" balas suara Mi Ae.

Seul Bi mendongak dan mendapati sosok Mi Ae yang sedang melambaikan tangan ke arahnya sementara tangannya yang lain menggenggam tangan pemuda yang terus menunduk dengan gat terpasang di kepalanya. Bibirnya terus mengerucut tidak senang. Melihat itu Seul Bi langsung terkikik geli. Di mata Seul Bi, Sang Ryung justru yang lebih tampak seperti anak kecil yang enggan melepaskan genggaman tangannya dari Mi Ae.

"Kalian lama" sambut atau lebih tepatnya protes Sang Ryung

"Mianhae yo, Hyung. Susah mencari informasi pagi-pagi begini" balas Jeong Il

Seul Bi mengeluarkan roti gandum yang dibelinya dan membaginya menjadi empat bagian lalu menyerahkan setiap bagiannya rata. Mi Ae menerimanya dengan antusias dan langsung melahapnya tanpa protes. Seul Bi menyerahkan dua bagian potongan roti kepada Jeong Il dan Jeong Il menyalurkan satu potongan roti di tangannya kepada Sang Ryung.

"Jadi, kita pergi kemana setelah ini ?" tanya Sang Ryung sambil merobek secuil Roti di tangannya lalu melahapnya. Seul Bi tersenyum geli, cara makan Sang Ryung mirip anak perempuan.

"Hanseong" jawab Jeong Il sambil menggigit langsung roti di tangannya dan mengunyahnya.

"Jauh juga" ucap Seul Bi sambil menatap kerumunan orang yang sibuk tawar menawar di bawah sana. Kini keempatnya berdiri di pinggiran tebing dangkal dekat pelabuhan. Dari sini keempatnya bisa memperhatikan kalau-kalau ada bandit-bandit hitam itu berkeliaran.

"Namanya juga kabur dari kejaran, kita harus mengambil lokasi terjauh" balas Jeong Il sambil terkekeh. "Lagipula Hanseong masih termasuk wilayah kekuasaannya keluarga Park. Setidaknya Wilayah yang dikuasai keluarga Park termasuk wilayah netral. Kukira kita bisa aman di sana"

Nabi "Butterfly"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang