Aksara Dan Suara

By khanifahda

1.5M 164K 6.7K

Bukan waktu yang singkat bagi Grahita Sembrani Pramonoadmodjo untuk menghapus bayang-bayang penghianatan cint... More

Jaladri
Rawi
Griya
Ludira
Sakwari
Samira
Udaka
Darani
Nirada
Wibana
Lenggana
Asta
Peningal
Brawala
Pakara
Pralapa
Kawur
Kaningaya
Samapta
Persudi
Kanin
Adanu
Lawya
Purwa
Hastu
Sangsaya
Weling
Kaharsayan
Samagata
Mahatma
Wiyoga
Asti
Balakosa
Smara
Mandrakanta
Darba
Soma
Adicandra
Sakanti
Balun
Adyuta
Abhipraya
Syandana
Gama
Jantaka
Nisita
Palar
Byuha
Locana
Nayottama
Agata
Gandring
Radinka
Ilir
Adhikari
Dayita
Adyatma
Wasana
'Naditya'
'Cundamani'
'Woro-Woro'

Mara

20.4K 2.7K 82
By khanifahda

Sekitar 15 menit Gandhi mondar-mandir tak jelas di pinggir jalan. Laki-laki itu bingung harus bertindak apa. Orang-orang tak ada yang bisa ia hubungi kecuali gadis itu sendiri. Apalagi baru saja kejadian buruk menimpa Grahita, membuat Gandhi begitu khawatir. Ia takut kejadian memilukan itu kembali terjadi.

Gandhi lantas menyenderkan tubuhnya di samping mobil seraya mengusap wajahnya kasar. "Hah! Ayo Ndi, lo harus mikir!"

Namun tak kunjung Gandhi mendapatkan jawabannya. Justru khawatir yang semakin menggerogoti dirinya. Dirinya yang biasanya tenang, kini mendadak kalang kabut ketika melihat rumah Grahita yang kosong.

Berkali-kali Gandhi menghembuskan nafasnya kasar ke udara. Laki-laki itu bingung harus bertindak apa. Justru kekhawatirannya semakin bertambah di situasi saat ini.

Cukup lama berpikir, Gandhi tiba-tiba melihat seorang perempuan setengah baya sedang membuka pintu gerbang rumah Grahita. Gandhi langsung berjalan mendekati ibu-ibu tersebut dengan cepat.

"Permisi,"

Perempuan yang ternyata adalah mbok Yati itu terlonjak kaget. Lantas perempuan itu mengucapkan istighfar. Ia kaget dengan kedatangan Gandhi yang tiba-tiba.

"Ada apa ya?" tanya mbok Yati ramah.

"Mohon maaf sebelumnya sudah mengagetkan ibu."

"Kalau boleh tahu, penghuni rumah ini kemana ya, Bu? "

"Neng Tata?" Gandhi langsung mengangguk cepat. Secercah harapan nampak di sana.

"Anda siapa?" tanya mbok Yati yang agak curiga. Ia takut kalau orang itu hendak berbuat jahat dan menyakiti Grahita lagi.

"Saya temannya Bu. Tenang, saya juga bukan orang jahat," ucap Gandhi berusaha menyakinkan mbok Yati. Ia tahu jika perempuan itu curiga. Ia juga maklum dengan sikap waspada mbok Yati terhadap orang baru.

Mbok Yati menatap Gandhi lekat-lekat. Ia takut jika Gandhi berniat buruk. Bagaimana pun juga mbok Yati tetap waspada terhadap hal yang menyangkut Grahita. Grahita sudah mbok Yati anggap seperti putrinya sendiri walaupun gadis itu terlihat judes dan dingin. Grahita tetaplah seperti gadis kecil yang polos dan penyayang terhadap orang terdekatnya.

Namun melihat wajah Gandhi yang menyakinkan itu membuat mbok Yati percaya jika laki-laki itu benar-benar teman Grahita.

Mbok Yati lantas mengangguk, "Neng Grahita ada di rumah utama sementara waktu ini."

"Rumah utama?"

Mbok Yati kembali mengangguk, "Rumah milik eyangnya, Tuan Soeroso."

Gandhi menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya keberadaan Grahita sudah jelas. Hampir saja ia seperti orang frustasi jika gadis itu tak jelas keberadaannya.

Namun batinnya masih belum lega. Ia belum lega jika tak melihat keadaan Grahita secara langsung.

"Mohon maaf Bu, kalau boleh tahu, rumahnya di mana ya?"

Lalu mbok Yati menyebutkan alamatnya secara lengkap kepada Gandhi. Gandhi lantas mengucapkan terima kasih dengan sopan.

Setelah itu, Laki-laki tersebut langsung menuju alamat yang disebutkan oleh mbok Yati. Seingatnya kawasan itu masuk dalam kawasan yang dihuni oleh kaum borjuis ibu kota.

Saat masuk kawasan tersebut, akses masuknya juga sulit. Bahkan Gandhi rela meninggalkan KTP-nya pada gerbang depan jika dipersulit dengan membuang-buang waktunya.

Namun oleh petugas keamanan, justru KTP Gandhi dikembalikan. Petugas itu juga nampak sungkan pada Gandhi yang sudah tak sabar untuk bertemu dengan Grahita dan memastikan kekhawatirannya itu.

Gandhi tak ambil pusing. Ia juga bingung mengapa awalnya petugas keamanan tersebut sangat tegas, namun setelah ia berani menjamin dengan KTP-nya, justru malah dikembalikan.

Lalu ia sampai di rumah dengan gerbang yang sangat tinggi. Kembali lagi ia harus berurusan dengan petugas keamanan di rumah tersebut.

"Permisi, apakah benar ini kediaman bapak Soeroso?" tanyanya pada petugas keamanan di sana dari luar gerbang.

Petugas keamanan di sana langsung keluar menemui Gandhi yang berada di luar gerbang.

"Benar, ada keperluan apa?"

"Mohon maaf, saya temannya nona Grahita, saya ingin bertemu dengannya."

Mata Gandhi menatap rumah yang besar itu. Rumah gaya Mediterania itu berhasil membuktikan imajinasi masa kecilnya yang mengaitkan orang kaya dengan rumah tersebut. Benar-benar mewah.

Lantas ada perasaan terdalam yang ia rasakan sekarang. Ekspektasi mengenai Grahita nyatanya salah besar. Grahita bukanlah gadis biasa dengan segala macam sifat dingin dan judesnya. Grahita lebih dari itu. Bahkan setelah ini, Gandhi akan berpikir berkali-kali untuk keyakinan dirinya.

"Anda siapa?"

"Saya Gandhi."

Petugas keamanan itu lantas masuk ke dalam rumah. Cukup lama sebelum akhirnya Gandhi dipersilahkan untuk masuk. Gandhi langsung memasukkan mobilnya ke dalam halaman luas rumah tersebut.

Tepat turun dari mobil, dirinya melihat Yosi yang berdiri di depan rumah seraya memasukkan  tangannya ke dalam kantung celana. Laki-laki itu mengenakan kaos oblong warna putih dan celana hitam di atas lutut. Gandhi langsung menghampiri Yosi dengan tenang.

"Grahita dimana?"

Yosi justru tersenyum miring, "Bukan pacarnya tapi khawatir banget kelihatannya."

Gandhi mengerutkan dahinya dalam dengan sikap Yosi barusan. Sedangkan Yosi kemudian tertawa dan mengajak Gandhi masuk.

"Gue bercanda kali."

Gandhi mendengus. Lalu ia memilih mengikuti Yosi masuk ke dalam rumah.

"Kenapa lo bisa sampai sini?"

"Nggak tenang sebelum tahu keadaan Tata."

Kembali Yosi terkekeh dengan kejujuran Gandhi. Lalu Gandhi dipersilahkan duduk di ruang tamu yang sangat luas itu. Barang antik hingga mahal berada di sana. Rumah ini besar namun terlihat sangat sepi.

"Tata lagi di belakang. Tapi coba gue tanya apa mau ketemu sama lo apa nggak."

Gandhi mengangguk. Yosi langsung masuk kembali. Tak lama kemudian ada pelayan yang menyuguhkan hidangan kepadanya.

Tiba-tiba Tuan Soeroso datang ke ruang tamu dan bertemu dengan Gandhi. Lalu dengan cepat pula Gandhi bangkit dari duduknya dan mencium punggung tangan eyang Grahita itu dengan sopan.

"Perkenalkan nama saya Gandhi, saya temannya Grahita."

Tuan Soeroso menatap Gandhi dengan seksama sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Saya eyangnya Tata," ucap Tuan Soeroso kemudian.

Belum sempat Gandhi kembali berbicara, Yosi datang dan membawa Gandhi ke taman belakang.
Gandhi dapat melihat Grahita yang duduk di ayunan yang menghadap kolam renang. Gadis itu mengayunkan ayunannya pelan.

"Hai,"

Grahita yang awalnya menatap depan kini langsung menatap ke arah sumber suara. Gadis itu tak sadar jika Gandhi sudah datang. Grahita lalu menghentikan ayunannya.

"Syukurlah. Aku lega," ucap Gandhi kemudian. Melihat Grahita yang sudah mau keluar walaupun terlihat lebih pendiam dan tak bersemangat itu, cukup membuat Gandhi agak bernafas lega.

Gadis itu lalu menggeser tubuhnya. Seakan paham, Gandhi duduk di ayunan yang bisa muat 3 orang itu.

"Terima kasih,"

"Terima kasih sudah datang tepat waktu," ucap gadis itu pelan dengan menatap bawah. Lalu ia mengangkat wajahnya dan kembali menatap ke depan.

Gandhi mengangguk, "Seharusnya aku yang minta maaf, Ta. Aku terlambat," sahut Gandhi.

Grahita lalu menoleh ke arah Gandhi. "Kamu khawatir sama aku?"

Gandhi mengangguk, "Berhari-hari nggak tenang," jawabnya jujur.

"Nggak tenang? Kenapa? Sebegitu khawatirnya ke aku?"

Gandhi seketika diam. Apakah ia salah jika jujur pada gadis itu?

"Ya nggak tenang aja," ucap Gandhi yang mendadak bodoh berada di samping Grahita.

Grahita yang nampak semakin kurus itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Laki-laki itu nampaknya belum paham maksudnya.

Lalu mereka sama-sama memilih diam. Grahita lebih memilih menyelami pikirannya. Ia lebih membuat dirinya tenang. Ia juga mencoba untuk tidak mengingat kejadian itu. Ia lelah harus teringat fase buruk yang hampir membuatnya setengah gila.

Kemarin Grahita yang didampingi oleh Yessy mengunjungi seorang psikiater yang cukup terkenal. Grahita tidak menolak ketika dibujuk oleh Mila ke sana. Justru Grahita berpikir memang seharusnya ia butuh ahli untuk membantu mengatasi segala macam ketakutan dan rasa sakit yang terpendam sedari dulu itu.

"Ndi,"

"Hmm,"

"Pernah sakit hati nggak? Sakit hatinya sakit banget, terus ditambah peristiwa yang tidak menyenangkan juga."

Gandhi lantas menoleh ke arah Grahita yang lebih fokus menatap kolam renang di depannya. Gadis itu nampak tenang memang, namun Gandhi paham jika Grahita tak baik-baik saja.

"Pernah,"

Grahita lantas menoleh, "Because?"

Gandhi terkekeh pelan. Entah rasanya lucu jika ia harus menceritakan rasa sakit yang Grahita maksud. Sementara Grahita masih menatap Gandhi. Grahita penasaran mengapa Gandhi malah tertawa kecil.

"Sakit hatiku agak konyol kalau aku pikir sekarang, Ta. Aku dulu ngerasa sakit banget lah, tetapi sekarang sudah nggak lagi. Justru aku bersyukur dan malah jadi pengalaman lucu karena sebegitu becandanya semesta membolak-balikan hatiku untuk sesuatu yang sakit dan akhirnya aku dibentuk jadi laki-laki yang lebih bijak lagi."

Gandhi nampak menarik nafasnya dalam. Seakan ia siap untuk bercerita tentang bagian kelam yang pernah menyelimutinya.

"Sakit hatiku ditinggal nikah sama tunanganku. Kami akan menikah 3 bulan lagi. Waktu itu aku tiba-tiba dikirim untuk  tergabung dalam pasukan yang melawan kelompok separatis di Sulawesi selama kurang lebih 6 bulan. Artinya pernikahan kami harus diundur. Awalnya dia bilang nggak masalah karena sudah jadi resiko. Namun setelah aku kembali lagi, dia nggak bisa dihubungi. Aku datang ke rumahnya dan ternyata dia sudah menikah sebulan sebelum aku kembali dari Sulawesi. Keluarganya bilang kalau aku yang memutuskan untuk membatalkan pernikahan, itu hanya alibi dia saja tentunya. Waktu itu aku langsung marah besar, sakit hati, dan menganggap perempuan sama saja. Mereka hanya bisa menyakiti laki-laki yang sudah berusaha setia dan berjuang untuk dirinya. Namun ternyata dia berkhianat. Dia lebih memilih orang yang sama seperti diriku namun dengan kedudukan lebih tinggi. Paling menyesakkan lagi adalah ternyata dia sudah selingkuh selama setahun dariku. So fucki*g! Aku bener-bener hancur dan kehilangan rasa percaya terhadap perempuan waktu itu. Aku takut menjalin hubungan lagi hingga lebih memilih fokus bekerja."

"Namun dari hal itu semua aku sadar kalau Tuhan masih baik sama aku. Masih mau menunjukkan mana yang baik dan buruk. Sakit hati sampai sekarang masih ada bekasnya hingga aku nggak mau ketemu dia lagi dan berharap nggak ketemu selamanya. Tetapi aku sudah berdamai dengan masa lalu itu. Kalau dipikir juga berat jika aku nggak mau berdamai. Rasanya pasti akan tetap mengiang. Sekarang aku memilih buat ikhlas dan melepaskan. Aku sudah mau menerima semua itu bagian dari masa lalu. Buat apa juga aku harus stuck di masa lalu? Setelah dipikir, masa depanku lebih cerah ketimbang meratapi nasib yang menyedihkan itu. Se simple itu Ta aku berusaha berdamai."

Grahita terdiam. Ternyata Gandhi juga punya pengalaman buruk dalam percintaannya. Orang-orang dengan simpati rendah pasti menganggap Gandhi laki-laki cengeng karena sakit hati ditinggal menikah. Tetapi Grahita amat sangat paham, ia sama seperti Gandhi. Cintanya pernah dikhianati hingga rasanya untuk percaya dengan lawan jenis susah. Bahkan ia menutup hati untuk laki-laki karena ia menganggap bahwa laki-laki yang ada dihidupnya datang hanya menabur luka kecuali sang opa tentunya.

"Orang-orang yang nggak tahu tentang bagaimana rasanya pasti menganggap aku berlebihan, sad boy lah, lebay, dan sebagainya. Namun yang terpenting aku jadi sadar jika aku sudah diselamatkan dari bencana yang ada. Hal itu buat diriku sadar jika ikhlas, lepaskan, dan lupakan itu penting untuk kesehatan hati dan raga."

Grahita lantas tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Gandhi. "Terima kasih sudah mau berbagi sama aku."

Gandhi ikut tersenyum. Grahita sudah kembali lagi. Setidaknya Grahita tak menjadi pemurung walaupun tetap terlihat berbeda setelah kejadian kemarin.

"Terima kasih sudah mau mendengarkan."

"Terkadang orang datang buat menggores luka. Tetapi hari ini aku paham jika buat ikhlas dan melepaskan adalah hal yang terbaik. Fokus menyembuhkan tanpa dendam adalah poin terpenting."

Grahita berucap dengan pelan dengan mata yang menatap langit cerah di depannya. Gadis itu masih berusaha untuk melawan semua rasa sakit, kecewa, dan takutnya. Ia masih berusaha dengan kemampuan yang ada.

"Ta?"

Grahita lantas menoleh ke arah Gandhi. Wajah sendunya tadi kini lebih terlihat cerah. 

"Jangan merasa bahwa setiap laki-laki yang datang ke kamu hanya akan memberi luka. Yakinlah jika ada laki-laki tulus yang akan menerima dan membuatmu bahagia, Ta."

.
.
.

Mara : Datang, Hadir

Continue Reading

You'll Also Like

6.3K 608 3
"Mas Nunu~" Hanya satu perempuan yang memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Sejak pertama kali mendengar panggilan itu, aku tidak menyukainya. T...
29.2K 2.1K 42
"Sa," ucap Xabiru yang membuat gadis di hadapannya itu mendongakkan kepala dan menatapnya. "Kenapa?" "Kamu mau nggak, jadi anggota kartu keluargaku?"...
260K 20.5K 40
Note. Beberapa tanda kutip menghilang secara misterius dari cerita. I dont Know Why 😭😭 Mohon maaf atas ketidaknyamanan-nya. Dan saya berjuang mera...
72K 7.6K 59
"Yaya." Kepala Gea mendongak, berusaha menghalau air mata yang merebak di sepanjang lengkungan kelopak matanya. "Lo adalah pemicu mimpi buruk gue Ke...