Disclaimer by Masashi Kishimoto
Storyline by Yen-na
🌿
🌿
🌿
Selamat membaca.
🌿
🌿
🌿
"Jadi begitu ceritanya." Neji mengakhiri sesi curhatannya kepada Naruto, ia sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu saja menceritakan tentang keluh kesahnya kepada Naruto yang bahkan baru kali ini saja bisa mengobrol berdua seperti teman dekat.
Sementara Naruto yang menjadi pendengar tampak mengangguk-angguk mengerti walau masih diragukan apa cerita panjang lebar Neji bisa dicerna oleh otak Naruto.
"Apa kau punya solusinya?" Tanya Neji.
"Hmm..."
"Aku sudah cerita panjang lebar loh."
"Hmm..."
"Aku akan membunuhmu jika tidak ada solusi dari masalahku!" Ancam Neji membuat Naruto kembali menegakkan tubuhnya dan berdehem sebelum berbicara.
"Sabar dong kakak ipar." Naruto meraih gelas kopi milik Neji lalu meminumnya.
"Itu milikku, bodoh!"
"Minta sedikit lah."
"Kenapa tadi tidak buat sekalian?"
"Tadi tidak mau minum kopi, sekarang mau. Nih masih ada sisa, kau mau?"
"Tidak, terimakasih. Habiskan saja. Cih!"
"Ok." Dan benar saja detik berikutnya Naruto sudah menghabiskan kopi tersebut sampai hanya tersisa ampasnya saja.
"Hinata buat kan aku kopi!!" Teriak Neji.
"Ga! Buat saja sendiri!" Teriak balik Hinata dari balik pintu kamarnya.
"Sudahlah lupakan masalah kopi. Aku punya solusinya."
"Apa?" Seketika Neji melupakan kopinya.
"A..."
"Kalau solusinya adalah dengan cara membuat Tenten hamil aku tidak mau. Bisa mati sia-sia karena di gorok Tenten."
"Bukan itu."
"Atau kalau kau menyarankan supaya aku kawin lari. Aku tidak mau! Capek!"
"Tidak, bukan itu."
"Dan jangan sampai menyuruhku untuk pura-pura membuat Tenten hamil di depan orang tua ku. Dengan menunjukkan testpack milik orang lain."
"Kakak ipar kau menyindir ku ya?"
"Tidak ada niatan." Jawabnya acuh.
"Tapi aku merasa tersindir."
"Ya syukur lah kalau begitu."
"Cih! Mau solusi tidak?"
"Iya lah. Cepat katakan!"
"Jadi begini, aku sih menyarankan agar kakak ipar sama kakak ipar perempuan untuk..."
"Tunggu, tunggu! Berhenti menyebut ku kakak ipar, ribet banget segala pake kakak ipar Perempuan lah. Sebut saja Neji."
"Aku kira mawar."😂
"Tidak lucu!"😒
"Iya deh iya. Maksudku begini loh, aku tanya dulu ya. Apa kau sudah memperkenalkan kekasih mu kepada ayah dan ibu mertua?"
"Siapa yang kau sebut ayah dan ibu mertua? Enak saja!"
"Jawab saja." 😌
"Belum pernah."
"Itu dia masalahnya! Kau ini bagaimana ingin mendapatkan restu tapi tidak pernah memperkenalkan kekasih mu. Bodoh sekali!" Ujar Naruto menggebu-gebu.
"Berani sekali kau mengatai ku bodoh!"
"A-anu maksudku, bukan begitu kakak ipar." Duh keceplosan batin Naruto.
"Itu karena aku terlalu takut tidak direstui."
"Jangan begitulah. Kau harusnya bisa menghargai kekasih mu itu, walau bagaimanapun dia butuh pengakuan dari keluarga Hyuga, terlepas dari mendapatkan restu atau tidak, setidaknya kalian sudah mencobanya. Memangnya kau mau terus menerus seperti ini? Memangnya dia mau terus menerus menjalin hubungan tanpa sebuah kepastian?"
"Tapi..."
"Berhenti mengatakan tapi. Semua orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anaknya dan mengutamakan kebahagiaan anak-anaknya. Aku rasa ayah dan ibu mertua akan menerima pasangan mu karena dia adalah pilihan anaknya, kebahagiaan mu. Itu yang dikatakan ayah ku."😎
"Aku masih ragu."
"Ya. Dan selama kau masih bergelut dalam keraguan detik itu juga kekasih mu berpaling, menemukan seseorang yang bisa memberinya sebuah kepastian. Lalu apa yang kau dapatkan?"
"Tenten tidak akan berpaling."
"Jangan percaya diri. Laki-laki bukan hanya kau di dunia. Dan hati manusia bisa berubah kapan saja."
"Kenapa jadi menakut-nakuti ku?"
"Aku memperingatkan. Bukan menakuti."
"Kenapa aku merasa ucapan mu benar ya."
"Tentu saja. Kau tidak salah memilih teman curhat."😎
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Masih bertanya?! Astaga!!"
🌿
🌿
🌿
Hinata mendengar semuanya, dibalik pintu kamarnya dia menguping pembicaraan Neji dan Naruto. Walau ia harus berusaha ekstra untuk menajamkan pendengarannya.
Hinata tampak kagum dengan cara pandang Naruto, walau dari luar menyebalkan err maksudnya sangat menyebalkan, tapi ternyata pemikiran Naruto sangat dewasa. Hatinya menghangat dan semakin berdebar kencang.
"Naruto-kun."
🌿
🌿
🌿
Tok... Tok... Tok...
Naruto mengetuk pintu kamar Hinata beberapa kali, Neji sudah pergi setelah mendapat solusi dari Naruto tanpa menunggu Hinata keluar kamar. Entah apa yang dilakukan Hinata selama dikamar karena sampai detik ini dia tidak juga keluar.
"Hime!"
"Apa?"
"Sudah berapa butir?"
"Apa maksud mu?"
"Aku kira kau sedang bertelur karena tidak keluar kamar."
"Tidak lucu!"
"Hehehe."
Cup!
Naruto sengaja mencium pipi kiri Hinata karena terlalu gemas dengan ekspresi wajah Hinata sampai wajah cantiknya kini merah padam.
"Permisi aku mau mandi."
Hinata masih menetralkan detak jantung dan rona merah di pipi saat ia menggeser tubuhnya ke samping agar Naruto melewatinya.
"D-dia benar-benar..."
Hinata segera menuju dapur, mungkin dengan memasak pikirannya akan teralihkan. Kacau sekali detak jantungnya. Apakah ini normal? Apa ini tidak akan membuatnya mati mendadak?
🌿
🌿
🌿
Keduanya makan malam dalam diam, Hinata sibuk dengan pikirannya tentang perilaku manis Naruto padanya sementara Naruto, entahlah dia tidak bisa ditebak.
"Mungkin malam ini terakhir kalinya aku disini."
"Eh?"
"Jangan kaget begitu. Seperti tidak rela saja aku meninggalkan mu."
"Ti-tidak."
"Tapi jika kau melarangnya aku akan tetap disini."
"Ter-terserah saja! Kau kan suka seenaknya."
"Jadi kau juga mau enak ya?"
"A-apa sih ambigu!"
"Hahaha lihat wajahmu, lucu sekali."
"Suka sekali menggoda orang." Runtuk Hinata sembari melempari Naruto dengan daun selada.
"Aku serius. Aku akan pergi."
"Pergi saja."
"Jangan merindukan ku ya."
"Ti-tidak akan."
"Kau gugup dari tadi loh."
"Tidak!"
"Yaahh galak lagi deh."
"Aku sudah selesai! Cuci piringnya." Hinata berlalu meninggalkan Naruto, namun sebelum itu Naruto sudah menarik tangan Hinata sampai Hinata jatuh di pangkuannya.
Keduanya terdiam, posisi ini membuat Hinata dan Naruto kikuk. Dengan debaran jantung yang saling bersahutan. Bahkan dapat didengar dengan jelas.
"Lepas."
"Diam."
"Na-naruto."
"Hinata, bolehkah." Naruto semakin mendekat ke arah Hinata, semakin memperpendek jarak keduanya.
Mempererat pelukannya ditubuh Hinata. Hinata seakan terhipnotis dengan tatapan mata Naruto. Apakah ini benar?
Detik dimana Naruto hampir mendaratkan bibirnya di bibir Hinata, tubuh Hinata refleks menjauh dan memalingkan wajahnya.
Mendapat penolakan dari Hinata membuat Naruto tersenyum maklum, lalu melepaskan pelukannya dan Hinata pun berdiri seketika sambil merapikan rambut dan bajunya. Sebelum akhirnya Hinata masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya.
Hinata menolaknya, saat ia merasa gadis itu masih mempunyai rasa cinta terhadapnya. Naruto salah, dan apa yang dilakukannya jelas lebih salah. Bahkan Naruto harusnya mendapatkan lebih dari sekedar tamparan keras di pipinya.
Pengecut.
Terlalu pandai menasehati orang tapi menasehati diri sendiri sangat bodoh. Ini adalah akhirnya, dia tidak akan menggangu Hinata lagi, dia akan membiarkan Hinata dengan hidupnya, tidak lagi bermain-main dengan perasaan orang.
Naruto patah hati bahkan sebelum dia serius mengatakan jika dia kini telah mencintai Hinata. Tapi penolakan itu membuatnya mundur sebelum mengambil langkah.
Biarkan saja, toh kata Bunda jodoh tidak akan kemana. Itu kata orang tua! Tapi nyatanya saingan jodoh ada dimana-mana. 😥
🌿
🌿
🌿
Tbc