Purple Lotus Diary

By dna_girlz

57K 6.4K 810

Canva Cover Fanarts included in the books goes back to its respective creators! [Keseharian Jiang Cheng sebag... More

Prologue
1 - Invitation
1.5 - Lan Qiren's Moustache
2 - Marriage
3 - Thoughts
4 - Words
5 - Apologize
6 - Nostalgia
6.5 - Second Life
7 - Wanyin & Rulan
8 - Jiang Cheng Fansclub
9 - Drunk in the Past
10 - Ignorance
11 - Ominous Dark Clouds
12 - Seclusion
13 - Meeting
14 - Wanted Dead or Alive
15 - Conflicts
16 - Healing
17.5 - A Helping Hand
18 - Sect Guest: Bai Zhan Peak Lord
19 - Ulterior Motive
20 - Suspicious Feelings
21 - Annual Visits
22 - Orchid Room
23 - Small Accident
24 - Opinion
25 - Sects Annual Meeting
Happy Birthday, Jiang Cheng Wanyin
26 - Clumsy Feverish
27 - Sect Alliance Conference
28 - Local Stroll
28.5 - Where The Water Flows, When The Wind Blows
29 - Speculation
29.5 - Newly Weds After Story
30 - Burning Night
31 - Dripping Liquor
32 - Double Trouble
33 - Mid-Autumn Festival
34 - Slowburn Realization
34.5 - Latern Festival
35 - Sweet Approach
36 - Quality Time
37 - Open The Mask
38 - Complicated Feelings
39 - Exchanging Letters
40 - Hypocrite
41 - Siren Lament
42 - Little Baby Blue
42.5 - Willow Flower Flying Towards Lotus Field
43 - Intimate Enemy
44 - Cold Regards
45 - Reunion
46 - How to Chase A Swallow
47. Justification
48. Lotus Standing Still
48.5 - Ghostly Quiet Thoughts
49 - Little Nightmare, Little Paradise
50 - Blue Daffodil Against Mulberry Leaves (Tears of A Cloudy Heart)
51 - Flowers from Xian Shu, Swords from Bai Zhan

17 - Declaration

822 104 4
By dna_girlz

Area perairan Yunmeng terlihat cukup tenang, teratai yang tumbuh dewasa menghasilkan wangi harum dan polong yang manis di kecapan. Kala sungai mengalir dengan eloknya menghantarkan diri Lan Xichen dalam pemikirannya sendiri. Semenjak kepulangannya ke Cloud Recesses, pikirannya malah beralih kemana-mana. Entah mengapa, rasanya rekan sektenya yang mabuk kala itu seperti membuatnya sedih.

Apalagi besoknya mereka semua hanya bisa pergi diantar oleh anak buah tanpa Jiang Cheng. Dengan usul dari Nie Huaisang, maka Lan Xichen akan berbaikan dengan Jiang Cheng dan tak menyinggungnya lagi.

Pemimpin sekte Lan mengakui kalau dirinya sungguh seorang pecundang. Membalas air susu dengan air tuba, tindakan yang tak terpuji. Itu sudah melanggar peraturan Gusu.

Jadi Lan Xichen sudah bertekad; dirinya akan meminta maaf dengan benar, jadi sekarang saatnya mencari cara agar bisa melakukannya.

"Eh? Meminta maaf pada Jiang Cheng?"

Wei Wuxian terkejut bukan main karena sang pria Gusu datang ke Jingshi, hanya untuk meminta saran soal bagaimana cara membuat permintaan maaf. Itu pun untuk saudara angkatnya.

Jujur saja, sang Yiling Laozu ingin tertawa terpingkal—kalau bisa berguling di lantai ruangan. Namun karena yang meminta bantuan ini adalah kakak iparnya—dan targetnya adalah Jiang Cheng—yang secara teknis adalah ipar dari iparnya, maka Wei Wuxian hanya bisa diam-diam menurut dan melihat bagaimana komedi ini akan terjadi.

"Hoo... Jadi begitu ceritanya."

Berdasarkan dari ceritanya, sepertinya bisa ditebak kalau Nie Huaisang berulah lagi dalam menjahili kedua rekan sektenya tersebut.

Tak buruk juga. Memang teman mereka berdua itu berbagi satu sel otak konyol jenius yang kompak.

Akan ia ladeni, kalau begitu.

"Karena Anda adalah orang yang paling dekat relasinya dengan Jiang-Zhongzhu, makanya saya datang ke sini. Jadi saya meminta saran untuk cara berbaikan dengannya." jelas Lan Xichen sambil terlihat tenang.

Wei Wuxian menopang dagu dengan telapak tangan dan sikut sebagai pilar di meja. "Ah, tapi kalau untuk dia pasti mudah marah tapi juga mudah senang. Dia itu memang pemarah, dan Anda tahu itu, Zewu-jun. Diamkan saja."

"Tapi walau pun begitu, saya tak ingin hal ini berlarut begitu saja dan bungkam. Mungkin hubungan sekte takkan berpengaruh apapun dan Jiang-Zhongzhu bekerja dengan profesional, tapi tidak pantas juga kalau harus diam saja tanpa komunikasi di luar bidang tersebut."

Lan Xichen adalah orang yang tak ingin semuanya dibiarkan memburuk, apalagi kalau alasannya itu adalah karena dirinya. Bahkan cukup bisa dibilang kalau memang ia ingin semua orang bahagia. Namun membuat senang Jiang Cheng setelah bertengkar itu mungkin akan sulit baginya, mengingat watak sang pemimpin sekte Jiang yang keras.

Wei Wuxian mengelus dagunya, berpikir sejenak. "Hmm... Setahuku, Jiang Cheng itu memang temperamental. Tapi kalau Anda meminta maaf dengan tulus, saya yakin Anda pasti bisa berbaikan dengan cepat."

"Apa ada hal yang disukainya?"

"Tanpa benda juga tak apa, kok. Klan Jiang lebih mementingkan niat dan tekad daripada benda, Zewu-jun. Jadi Anda tak usah khawatir."

Sang pria Gusu terdiam merenungkan saran adik iparnya. Jika memang begitu, meski bertangan kosong maka secepatnya dia harus bisa meminta maaf.

Tak lama kemudian, Lan Xichen turun dari Shoyue dan disambut oleh pengawal gerbang Lotus Pier yang membungkuk hormat padanya, dibalas dengan anggukan untuk penyapaan singkat sebelum diantarkan masuk ke dalam. Dirinya diantar menuju taman pribadi dikarenakan sang kepala daerah sedang berada di sana.

Setelah ditinggalkan di gerbang taman Teratai Ungu, Lan Xichen berjalan masuk untuk mencoba mencari dimana paviliun kemarin. Dari kejauhan, terlihat tempat tersebut dan membuatnya bersiap untuk berjalan. Namun langkahnya otomatis berhenti saat pecah tawa samar yang dikenalinya.

Suara Nie Huaisang dan Jiang Cheng yang terlihat bercengkerama di Paviliun Teratai Ungu terdengar dari kejauhan. Lan Xichen mengeryitkan dahinya, terheran akan perubahan yang tiba-tiba.

Perasaan kemarin mereka berdua dimusuhi, kenapa sekarang sudah berbaikan?

Namun bukan Lan Xichen namanya kalau tak berpikir positif.

Bisa saja Nie Huaisang datang dahulu dan berbaikan dengan caranya sendiri makanya bisa tertawa seperti itu lagi.

Ya, itulah yang dipikirkannya saat itu.

Sebelum matanya melihat Nie Huaisang memegang dan menepuk pundak Jiang Cheng, mendekat dengan sangat akrab, dan... cukup intim.

"Hahaha... Hentikan lelucon itu, A-Sang! Aku tak sanggup membayangkannya."

"Jiang-Xiong, jangan mengelak. Kau juga tertawa, bukan? Tapi itu memang benar!"

Tawa mereka sungguh alami, seperti aura pertengkaran malam kala itu hilang begitu saja.

Jurus apa yang membuat Jiang Cheng memaafkannya dengan secepat itu? Dia ingin tahu.

Dada Lan Xichen sedikit merasakan bingung akan rasa jengkel yang tiba-tiba datang.

Ada apa ini?

Kenapa rasanya mengesalkan sekali?

Di saat yang sama, Nie Huaisang yang meredakan tawanya pun bertemu pandang dengan Lan Xichen yang memperhatikan mereka dari kejauhan, sebelum duduk sopan sambil menyahut, "Ah, ada Zewu-jun rupanya!"

Tanpa sadar, Jiang Cheng menghentikan tawanya saat mendengar nama gelar tersebut. Ia tak ingin menoleh dan kebetulan memunggungi arah dimana datangnya Lan Xichen sekarang.

Kenapa harus datang sekarang?!

Lan Xichen yang ketahuan pun hanya memasang senyum teduh andalannya dan mengangguk, sekedar sebagai tanda sapa.

"Sepertinya saya mengganggu waktu senggang anda berdua. Saya bisa kembali lagi lain kali nanti."

"Tak apa, Zewu-jun! Kebetulan urusan saya juga sudah selesai." Matanya melirik pada Jiang Cheng yang melihat balik sambil melayangkan tatapan ancaman padanya.

Jangan pergi, sialan!

Nie Huaisang hanya tersenyum dari mata hingga mulut, membuka kipasnya dengan puas.

"Jiang-Xiong, sepertinya saya harus pamit dulu."

Kata-kata umpatan terlihat jelas di tatapan tajam Jiang Cheng saat lelaki Qinghe tersebut berdiri dari duduknya.

"Y-Ya... Hati-hati di jalan."

Akan dia buat perhitungan dengannya nanti setelah masalah ini selesai.

Lelaki berambut sebahu tersebut berjalan ke arah dimana Lan Xichen berasa, sekilas mencuri lirik bersamaan dengannya.

Keduanya mengangguk sesaat dan berlawanan arah setelah itu.

Lan Xichen bersiap diri dalam hati, meminta Dewa untuk melancarkan urusan hari ini sebelum melangkahkan kakinya menuju Paviliun Teratai Ungu.

"Jiang-Zhongzhu."

"Zewu-jun. Silakan."

Jiang Cheng mencoba membuat dirinya bersikap biasa saja dan mempersilakan Lan Xichen duduk bersama setelah membungkuk hormat.

"Apakah teh lavender cukup untuk Anda?"

"Tentu."

Hanya ada keheningan kaku setelah keduanya mulai meminum cairan panas tersebut, membuat Lan Xichen yang biasanya pandai mencari topik pun bingung harus mulai darimana. Teh lavender yang dia pegang cangkirnya pun turut mengundang rasa tenangnya kembali. Ya, ia harus bicara dengan sejujurnya.

Sementara itu, Jiang Cheng berkutat dalam sanubari untuk mencari cara agar bisa pergi dari sini. Semenjak kemarahannya di Guanyin dan perkara mabuknya itu, ia jadi tak bisa menatap Lan Xichen dengan benar lagi.

Tak masalah jika bersedih hati karena kehilangan yang penting dalam hidup, namun tak mungkin harus berlarut di dalamnya. Rasa hormatnya sedikit berkurang karena melihat keterpurukan Lan pertama yang gampang sekali untuk disudutkan dalam melankoli. Ia berpikir kalau lelaki sejati takkan bertindak dan berpikir dangkal seperti itu, makanya Jiang Cheng melayangkan tinju untuk yang kedua kalinya. Setelah dipikir lagi, dirinya memang bodoh memarahi keduanya kala malam itu. Harusnya Jiang Cheng menahan diri untuk minum alkohol.

Lan Xichen memecah keheningan dengan pernyataan sopan, mencoba setenang mungkin. "Taman kediaman anda sungguh indah, Jiang-Zhongzhu. Bagaimana cara anda merawatnya-"

"Langsung ke intinya saja. Percuma dengan basa-basi anda, Zewu-jun."

Jiang Cheng menghela nafas lelah, menyela dengan sedikit nada muak yang ditahan dan meletakkan cangkirnya saat itu juga.

Dengan tertegun sejenak, sang Lan pertama tahu kalau inilah saatnya bicara dengan baik dan benar.

"Begini, Jiang-Zhongzhu. Apakah anda bisa ikut saya ke suatu tempat?"

Jiang Cheng mengernyitkan dahi, bingung di wajahnya tertera dengan mata yang menyipit curiga.

"Kemana?"

"Suatu tempat, saya tak bisa beritahu. Jika anda tidak keberatan."

"Kalau anda main rahasia begini, saya menolak." balasnya, membuat Lan Xichen terdiam menambahkan fakta.

"...Baiklah, ke sebuah bukit dekat sini. Bagaimana, maukah anda ikut untuk berjalan bersama saya menyusuri sungai?" bebernya dan melanjutkan menatap Jiang Cheng.

Di sisi lain, pria Yunmeng tersebut terdiam memikirkan kesimpulan apa yang akan terjadi nanti. Tidak ada alasan mengapa Lan Xichen mengajaknya berjalan keluar selain karena soal kemarin. Usaha Lan Xichen yang berusaha bicara lagi dengannya cukup membuat Jiang Cheng untuk mempertimbangkan ajakannya.

Ia menghela nafas singkat. "Baiklah. Saya akan ikut."

Dan akhirnya, keduanya pergi ke bukit yang dituju. Tempat yang masih asri dan tenang mennadi lokasi dimana mereka akan berjalan mencari angin sesaat.

Jiang Cheng yang bingung hanya memperhatikan Lan Xichen yang berjalan terlebih dahulu.

"Anda tahu sungainya?"

Lan Xichen mengangguk menanggapi sebelum berjalan lagi dengan anggun.

"Saya pernah diajak oleh Wangji, jadi takkan tersesat."

Menyurusi ke dalam hutan, hanya coklatnya batang pohon, kelabunya batu bercampur pasir tanah dan hijaunya dedaunan di sekitar.

Akhirnya, mereka sampai di pohon rindang dekat sungai yang bening nan teduh. Pemandangan asri dengan ikan yang berkecipak-kecipuk dekat batu membuat hati sesaat tenang bagi siapa pun yang memandang, tak terkecuali Jiang Cheng.

Lan Xichen tersadar akan sesuatu dan menoleh.

"Jiang-Zhongzhu, tolong tunggu sebentar di sini. Saya akan segera kembali."

Jiang Cheng hendak bertanya namun yang bersangkutan telah menghilang dari pandangan dengan cepat, mau tak mau membuatnya tak ada kegiatan selain menunggu. Ia mendudukkan dirinya di bawah sebuah pohon yang cukup besar dan lebar akarnya berluaskan satu meter, jadi tempat yang cocok untuk orang memancing ikan di kawasan tersebut.

Sesaat ia merenung, membawa pikirannya ke perihal perang dingin yang ia luncurkan pada Lan Xichen dan Nie Huaisang. Bukan salah mereka, sih. Hanya saja ketika melihat keduanya akrab, secara tak langsung mengingatkannya pada dirinya sendiri dan saudara angkatnya dahulu. Wei Wuxian selalu bersamanya, menggelayuti dan mengajaknya berpetualang jika ada kesempatan. Tapi sejak Wei Wuxian pergi ke sisi Lan Wangji, dirinya serasa ditinggalkan dan hanya sendirian. Namun ia tak mungkin bicara padanya soal itu lagi. Mana bisa ia mengajaknya makan malam, minum bersama, dan mengatakan terima kasih dan maaf.

Hal seperti itu takkan terjadi, jadi Jiang Cheng biarkan berlalu begitu saja.

Lalu ketika melihat Lan Xichen dan Nie Huaisang tampak dekat dan akrab, Jiang Cheng merasa seperti ditinggalkan lagi. Ia kesal karena perasaan itu kembali lagi, padahal sudah menyingkirkannya jauh-jauh agar bisa menjadi lebih dewasa.

Untuk apa Jiang Cheng marah pada orang yang tak tahu akan penyebab marahnya begitu saja. Setelah sadar dari mabuk, ternyata bodoh sekali pemikirannya kala itu. Dan untungnya, Nie Huaisang mendatanginya dan meminta maaf—karena mereka sudah berteman selama bertahun-tahun, maka perang dingin dengannya pun musnah bagai tak pernah bertengkar sekali pun lalu tertawa lepas lagi.

Tapi sekarang, lain halnya dengan Lan Xichen. Mereka berdua adalah sesama saudara dari ipar dan tak terlalu dekat juga. Bahkan bekerja sama pun hanya karena mereka berdua adalah ketua dari salah satu sekte penting dunia kultivasi. Hanya karena soal kekesalan dengan pemikiran sentimental saudara sesumpahnya, dikarenakan topik yang sensitif, pria pemilik gelar Sandu Sengshou tersebut bergerak secara negatif dan impulsif untuk menyerangnya. Bodohnya dia ini.

Jiang Cheng merogoh kantungnya dan hanya terdiam dengan giok kecil pemberian Nie Huaisang di tangannya, mengelus pelan batu tersebut dan mengantunginya kembali. Seperti tak ada hal lain untuk dilakukan selain menunggu Lan Xichen yang kembali dari hutan, tenggelam akan lamunannya.

"Jiang-Zhongzhu?"

Tersadar akan suara penuh ketenangan tersebut, Jiang Cheng menoleh padanya.

"Sudah selesai urusannya?"

Sial, nadanya terlalu kasar.

Untungnya Lan Xichen tak terpengaruh sama sekali, menghampiri seperti biasa dan duduk dengan jarak yang wajar.

Pikirannya terngiang perkataan Wei Wuxian sekali lagi.

Yang penting adalah permintaan maaf yang tulus.

"Mungkin ini tak cukup bagi Jiang-Zhongzhu, tapi dengan kumpulan bunga ini, semoga bisa mewakilkan saya untuk mengatakan yang sejujurnya."

Tangannya yang penuh pun memberikan kumpulan beberapa tangkai bunga putih yang telah mekar tersebut, dan diterima oleh yang bersangkutan dengan kebingungan.

Sementara Jiang Cheng masih tak membuka mulutnya ketika mendengarkan rentetan kata Lan Xichen yang sopan.

"Banyak yang sudah terjadi selama ini, yang takkan terhindarkan mau pun memungkinkan untuk bertindak kekanakkan. Karena itu dengan segala hormat, saya meminta maaf dengan tulus. Mohon agar Jiang-Zhongzhu memaafkan saya yang ceroboh."

Pria Yunmeng tersebut tertegun diam dan menatap rangkaian bunga yang ada di pangkuannya saat ini.

Bunga anggrek putih yang dipetiknya menyebarkan harum wangi di indera penciuman. Memberikan bunga pada pria memanglah cukup susah-susah gampang, harus tahu mana yang bisa diberikan atau tidak. Jiang Cheng tahu kalau para Lan adalah orang yang puitis, romantis dengan syair puisi dan makna tersembunyi di setiap perkataan serta tindakan.

Yang berada di pangkuannya saat ini memiliki makna tersirat dengan jelas:

[ Aku minta maaf. ]

[ Aku ingin membangun kembali hubungan baik lagi denganmu. ]

Pikiran Jiang Cheng berkelit lagi. Kadang, memang mereka harus bertindak dewasa seiring berjalannya waktu.

Ini adalah hidup, tak boleh seenaknya bertindak sesuka hati karena manusia adalah makhluk sosial dan saling membutuhkan satu sama lain.

Sepertinya Lan Xichen memang benar-benar tulus memohon maaf padanya karena masalah kemarin.

"Anda jauh-jauh datang dari Gusu, lalu membawa saya ke sini, hanya karena ingin minta maaf pada saya. Dan dengan bunga anggrek putih?"

Lan Xichen menunduk sesaat sebelum mencoba memberanikan diri untuk menatap Jiang Cheng. "Memang itulah tujuan saya membawa Anda kemari, agar bisa bicara secara langsung tanpa berhalangan. Maafkan saya jika hadiahnya tidak cukup untuk Anda."

Mulus sekali, benar-benar seorang Zewu-jun.

Pemimpin sekte Jiang tersebut menghela nafas singkat dan menatapnya balik. "Maafkan saya juga, saya terlalu kasar mengatakan hal yang tak sepantasnya pada waktu itu."

Lan Xichen menggeleng pelan, "Tidak, justru saya yang berterima kasih akan perkataan Anda. Jika anda tak menyadarkan saya dari kesedihan itu, mungkin saya takkan bisa membereskan perasaan saya yang berkelit ini."

Jika Jiang Cheng tak menolongnya untuk sadar dan keluar dari pengasingan sukarela, mungkin saja ia akan menderita seperti mendiang kedua orang tuanya.

Akhirnya ia pun membalas, "Baiklah, saya terima permintaan maaf Anda."

Mendengar itu, Lan pertama mengerjapkan mata dan tertegun. "Jadi, Anda memaafkan saya?"

"Anda mau saya musuhi lagi?"

Kekehan renyah dari Lan Xichen pecah ketika mendengar celetukan Jiang Cheng yang sarkastik, sementara yang bersangkutan hanya bisa tersenyum tipis sesaat.

Setidaknya, sekarang keduanya resmi berbaikan dan membangun hubungan baik lagi-untuk sekte, pertemanan, serta kekerabatan antara klan Lan dan Jiang.

.
.
.
.
.

"Nie Huaisang?"

Lan Xichen mengangguk pada Jiang Cheng yang bertanya balik. Keduanya sudah kembali ke kediaman Lotus Pier dan minum teh setelah makan siang bersama.

"Ah, dia meminta maaf dengan memberikan hadiah dan kami berbaikan kembali."

Mendengar itu, Lan Xichen diam sepersekian detik.

"Bukannya para Jiang tidak perlu hadiah untuk meminta maaf?"

Soal bunga anggrek tadi, memang inisiatif Lan Xichen karena tak lengkap jika hanya kata-kata saja.

"Memang, tapi kami tak menolak pemberian kecuali itu adalah suap politik. Tentu itu lain cerita."

Jadi yang benar itu yang mana?

Lan Xichen masih bingung namun disodorkan lagi secangkir teh mawar yang harum.

Jiang Cheng bertanya padanya, duduk bersender di pagar paviliun dengan santai. "Zewu-jun. Kapan anda akan pulang dari sini?"

Dia berpikir sejenak. "Mungkin saya akan menginap di penginapan terdekat, karena kebetulan besok saya ada urusan di desa terdekat untuk soal diskusi bisnis."

"Kalau begitu, anda bisa menginap disini kalau mau." ajaknya ringan.

"Benarkah boleh?" tanyanya terkejut sesaat, yang disambut anggukan enteng dari Jiang Cheng.

"Nie Huaisang juga akan menginap disini, kok. Dia baru saja kembali ke kamarnya setelah kita datang."

Entah mengapa Lan Xichen bersyukur ada orang lain selain dirinya menginap di kediaman Jiang Cheng. Malu pasti ada di dahinya, tak etis menginap sesuka hati tanpa persetujuan dan hanya menjadi orang luar sekte yang menginap di sana.

"Begitukah... Baiklah. Kalau begitu mohon bantuannya, terima kasih. Jiang-Zhongzhu,"

Dia mengangkat cangkirnya, diikuti oleh Jiang Cheng juga-yang sudah duduk dengan benar.

"Untuk do'a hubungan baik kedua klan."

"Ya. Untuk hubungan baik bersama, Zewu-jun."

Keduanya meminum bersamaan, dan bercengkerama dengan suasana penuh aura keringanan.

Mengenai soal kembang anggrek putih tadi, mungkin kalian tak tahu. Tapi kumpulan bunga tersebut telah berdiri di dalam vas di sudut ruangan kerja Jiang Cheng, menyebarkan keharuman kala angin sepoi memasukki bangunan-membawa wanginya menyatu dengan teratai di Lotus Pier yang telah kembali tenang.

Sama seperti hubungan baik antara kedua klan saat ini.

.
.
.

"Tangkap!"

Kolam perairan Lotus Pier bergelombang dikarenakan tubuh panjang hijau yang berkamuflase diantara dadaunan mengejar sebuah daging rusa yang segar, sebelum makhluk tersebut menangkapnya dengan sekali gerakan mendongak. Mulutnya menutup lagi sebelum kembali menghampiri tuannya yang telah melemparkan makanannya tadi.

Sang tuan rumah, yakni Jiang Cheng mengelus moncong dan hidungnya sambil memuji dengan senang, "Bagus, bagus. Sepertinya kau sudah sehat, ya!"

Lidah makhluk yang berjenis reptil tersebut keluar sesaat, mengindikasikan kalau hatinya gembira dipuji. Asal kalian sekedar tahu, ular tersebut adalah ular hijau yang kemarin dirasukki oleh energi hitam di insiden beberapa hari yang lalu. Setelah diperiksa, memang murni korban dari energi tersebut untuk dimanfaatkan. Karena kasihan, maka Jiang Cheng bersedia untuk memeliharanya hingga kembali sehat sampai di lepas liarkan kembali ke sungai muara.

Sementara itu, di Paviliun Teratai sudah ada Nie Huaisang dan Lan Xichen yang meminum teh hijau dengan kalemnya. Mereka menginap di kediaman Jiang Cheng dan hanya memperhatikan pria Yunmeng tersebut bermain dengan ular yang diberi nama Little Jade. Alasannya karena berwarna hijau.

Lagi-lagi nama yang norak, tapi mereka tak bisa melarangnya memberikan nama karena takut dicambuk.

Tetiba seorang anak buah Yunmeng Jiang berlari tergopoh-gopoh karena panik.

"Ketua Jiang! Gawat!"

Yang dipanggil dan dua ketua lain menoleh seketika pada lelaki paruh baya tersebut. Jiang Cheng membuat Little Jade mundur untuk bermain di kolam sebelum menghampiri perlahan bawahannya yang pucat.

"Ada apa? Bicara yang benar." Dari belakang, Nie Huaisang dan Lan Xichen menghampiri juga akrena penasaran.

Orang tersebut didekati oleh ketiganya pun mencoba menghirup oksigen dengan rakus, sebelum perlahan berkata, "Ada... ada orang... memaksa masuk... kami mencoba mengusirnya tapi dia terlalu kuat, Ketua Jiang!... Katanya ingin bertemu dengan anda!"

Terdiam sejenak, Jiang Cheng bingung dalam hati bertanya.

Siapa orang kuat yang ingin menemuinya?

Setelah menyuruh bawahan itu untuk pergi dan mengistirahatkan diri, ketiganya pergi menuju dimana gerbang utama Lotus Pier berada.

Sudah beberapa belas anak buah yang terluka akan bogeman di tanah, terkapar dengan tak elitnya dan dibantu rekannya yang lain untuk mundur.

Jiang Cheng menyipitkan matanya, mencoba fokus untuk mengenali siapa orang yang dengan brutalnya memasukki daerah kekuasaannya.

"Ah!"

Terkaget, sang pria berbadan besar tersebut menoleh—langsung menatap tajam ketika akhirnya bertemu pandang dengan Jiang Cheng.

Yang bersangkutan menyeringai dengan perasaan senang.

"Lama tak bertemu, Sandu Sengshou."

.
.
.

====================

I am back, bixhesss~~~ Sorry for late hour because this and that in RL. Btw for the fanart, just pretend the rose to be orchid. Its hard.

For this chapter, both of them apologized and all is well again. SIKES! Its a new character appearance~~~

For whoever that know and can guess who it is then I will give you guys some fanservices with jc involvement. Take a good answer and properly, aight? Guess and comment right here!

On the next chapter, its another character that you guys probably know because he is similar to jc in other universe. So be looking forward to waiting~~~ 💜💜💜

As usual, thank you so much for the views, votes, and leave the comments so I can know whats on your thoughts about my fanfiction and I can improve to be a better writer.

See you guys next time!~ Adios~

regards,

Author

Continue Reading

You'll Also Like

6.4K 405 11
Lan Sizhui, Lan Jingyi, Jin Ling, dan Ouyang Zizhen. Mereka berempat ialah kultivator junior yang sering melanggar peraturan.. walaupun Sizhui lebih...
21.4K 1.2K 10
Alpha Wei Wuxian menghilang setelah membuat kekacauan di kota tanpa malam (Bu Ye Tian). Dia mengasingkan dirinya tanpa diketahui oleh Jiang Cheng, La...
145K 15.8K 29
PERINGATAN! Cerita ini mengandung unsur BxB alias BL. Bagi yang Homophobic hush hush pergi jauh-jauh kalo nekat resiko ditanggung sendiri. Author ha...
171K 2.4K 30
🔞🔞 Kumpulan FanFiction Kategori:M / M Fandom:The Grandmaster of Demonic CultivationPendiri Diabolisme魔道 祖师 - 墨 香 铜臭 | Módào Zǔshī - Mòxiāng Tó Co...
Wattpad App - Unlock exclusive features