From: Mama
Radina, bawa Nalani ke salon langganan Mama. Mama udah bikin janji, kamu tinggal ke sana dan tungguin sampe selesai.
Begitu isi pesan dari ibu Radina. Radina mengerutkan keningnya ketika membaca pesan itu.
“Nal, Mama tadi titip pesen nggak?” tanya Radina yang sedang makan poutine sementara Nalani sedang mencuci piring.
“Nggak,” jawab Nalani.
“Kalo gitu abis makan kita pergi,” kata Radina.
“Ke mana?”
“Nanti juga kamu tau.”
“Nggak mau.”
“Mama nyuruh aku bawa kamu ke salon. Cepet ganti baju.”
Nalani menyelesaikan tugasnya mencuci piring kemudian ganti baju. Radina yang sudah siap pergi langsung menganga dengan cara berpakaian Nalani yang kampung banget. One color theme is a no-no! Baju putih, celana putih, sepatu juga putih. Mau ke mana?
“Nal, ganti celananya. Pake celana pendek,” kata Radina tegas.
“Kakiku gak mulus,” kata Nalani.
Pantas saja ibu Radina menyuruhnya ke salon. Akhirnya Radina memilih pakaian dari lemari Madina untuk dipakai Nalani. Nalani memakai saja, tapi ternyata bentuk atas tubuhnya jadi tercetak jelas. Radina menyiasati hal itu dengan memberikan Nalani kemejanya, ia bilang sedang tren cewek yang memakai kemeja cowok padahal itu hanya modusnya karena tidak mengerti mengapa bentuk tubuh Nalani bisa kembali seperti semula seperti sebelum melahirkan Adnan.
“Full treatment, Mbak?” tanya Radina.
“Iya, Mas. Bu Eddy yang bilang sendiri dan langsung bayar di muka,” kata si kasir.
“Nal, sementara kamu di salon aku keliling ya?” tanya Radina.
Nalani mengangguk saja, ia polos sekali sehingga tidak tau kalau ia akan mendekam lebih dari empat jam di salon.
Baru kali ini Nalani merasakan dipijat dengan sangat nyaman dan tidak menyakitkan. Setelah dipijat, entah apa yang dilakukan oleh pegawai salon kepada seluruh tubuhnya. Ia tidak merasa sakit sama sekali sampai ia terbangun dan disuruh untuk melakukan facial treatment untuk membuat wajah Nalani terlihat lebih fresh. Selama tinggal di rumah Radina, ibu Radina selalu memberikan aneka kosmetik perawatan wajah dan tubuh sehingga Nalani mau tidak mau memakainya terus. Hasilnya sukses, Nalani tidak sehitam saat ia masih tinggal di rumah keluarganya dan bekas jerawatnya hilang.
“Aduh, ini rambut tebel begini mana panjang,” kata pegawai hair spa. Ia mengalami kesulitan saat memakaikan krim hair spa kepada Nalani.
“Mau dipotong, Mas,” kata Nalani.
“Iya, potong dikit aja ya sayang rambutnya,” kata pegawai hair spa itu.
Nalani mengangguk.
“Masih belom?” tanya Radina.
Nalani mengangguk.
“Berapa lama lagi sih?” tanya Radina.
“Sejam lagi, Mas,” jawab pegawai hair spa.
“Nal, makan ini nih ganjel perut dulu. Kamu mau makan apa?” tanya Radina sambil memberikan bungkus Shihlin kepada Nalani.
“Masih kenyang,” jawab Nalani.
“Nih es krim,” kata Radina.
Radina memberi Nalani es krim rasa Macademia Nuts dan Nalani terlihat sangat menikmatinya ketika kepalanya sedang dipijati. Nalani langsung menghabiskan es krim yang diberikan oleh Radina tersebut lalu setelah di hair spa, model rambutnya dirapikan.
“Keriting dikit dong bawahnya,” kata Radina.
“Tapi gak bakal bertahan lama, Mas, rambut Kakaknya terlalu lemes,” kata Nino, hair stylist langganan ibunya Radina.
“Biarin, saya pengen liat. Pake poni juga dong,” kata Radina.
“Ganti model aja maksudnya?” tanya Nino.
“Bagusnya aja gimana, yang penting pake poni,” jawab Radina, tanpa minta persetujuan apa-apa dari Nalani.
Nalani diam saja, tidak protes karena ia ingin berganti model rambut. Selama ini ia hanya pernah beberapa kali memotong rambutnya, makanya rambutnya panjang sekali. Nalani juga tidak pernah diponi, ia ingin melihat penampilannya yang baru.
Radina menyuruh Nalani untuk memotong poni karena ia suka sekali dengan perempuan berponi. Ia baru sadar kalau Nalani cantik karena ketika Nalani hamil, Radina tidak memerhatikan Nalani sama sekali.
Selagi rambut Nalani diubah modelnya, Radina pergi membelikan Nalani pakaian baru. Ingin sekali ia menyingkirkan jeans yang dipakai Nalani. Ia membelikan Nalani atasan oversized top, tights juga flatform baru. Nalani pasti tidak bisa pakai heels.
Radina kembali tepat waktu. Rambut Nalani sudah berubah dan ia jadi terlihat semakin cantik.
“Ganti baju kamu,” kata Radina sambil memberikan kantung belanja pada Nalani.
Nalani menerima kantung belanja itu dan ke ruang ganti sementara Radina langsung menjenggut rambutnya sendiri. Kenapa Nalani jadi terlihat begitu segar dengan penampilan barunya itu?! Radina semakin tidak bisa menahan diri.
“Radina, udah,” kata Nalani.
Radina menatap Nalani dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Yuk makan,” kata Radina sambil menggenggam tangan Nalani.
Nalani ingin melepaskan genggaman tangan Radina, tapi Radina menggenggamnya terlalu erat.
“Kamu mau makan apa?” tanya Radina.
“Iga bakar,” jawab Nalani.
Radina membawa Nalani ke restoran yang paling enak di mall itu dan mereka makan bersama.
“Din, Adnan di mana?” tanya Nalani.
“Nggak tau. Aku teleponin gak ada yang ngangkat,” jawab Radina lalu melahap steak-nya.
Nalani makan dengan tidak nafsu. Ia tidak menghabiskan makannya dan minta pulang.
“Adnan gak bakal apa-apa, Nal,” kata Radina.
“Aku ingin ketemu Adnan,” kata Nalani.
“Iya, aku tau. Mama bawa pergi Adnan supaya kamu bisa istirahat, Nal. Liat, aku aja gak bisa ngehubungin mereka sama sekali.”
“Semoga udah sampe rumah.”
Harapan Nalani kandas ketika melihat rumah Radina begitu sepi. Ia segera mengganti pakaiannya dan menunggu di ruang tamu.
“Nal, ini Mama nelepon,” kata Radina sambil memberikan ponselnya pada Nalani.
“Halo, Ibu?” tanya Nalani.
“Ya, Lani, Adnan lagi tidur sekarang,” jawab ibu Radina.
“Ibu di mana? Kapan pulang?”
“Mama lagi di Bandung, pulangnya besok.”
“Hati-hati di jalan ya, Bu.”
“Ya, kamu istirahat aja ya. Mama juga mau istirahat.”
“Makasih, Bu. Titip Adnan ya.”
“Iya, Mama tutup ya teleponnya.”
Ibu Radina menutup sambungan teleponnya.
“Apa katanya?” tanya Radina.
“Pulangnya besok,” jawab Nalani sambil menyerahkan ponsel Radina dengan tidak bersemangat.
“Kamu pengen ketemu banget?”
Nalani mengangguk.
“Oke kita susulin, besok pagi pake travel,” kata Radina.
“Kalo malam ini?”
“Mau naik apa, Naaaal? Kereta malem aja udah lewat.”
“Bus?”
“Listen, udah kita besok aja perginya.”
Nalani memberenggut, she showed her puppy eyes to Radina for the first time. Bulu kuduk Radina langsung berdiri.
***
Radina merutuk dirinya sendiri. Kenapa ia malah mengajak Nalani untuk menyusul orang tuanya ke Bandung?! Kini ia hanya bisa mengeluh karena naik bus ekonomi dan banyak sekali pedagang juga pengamen yang naik-turun bus sebelum masuk tol. Lebih gilanya lagi, Nalani bisa tertidur meski keadaan sedang porak poranda begitu.
Radina baru bisa tenang ketika bus tersebut memasuki tol Cipularang karena tidak akan ada pengamen yang datang silih berganti. Saat pengamen turun-naik bus dengan silih berganti, pandangan mereka tertuju pada Nalani. Masih muda dan naik bus malam-malam, apa kata dunia?! Radina memasangkan tudung jaket Nalani agar bisa menyembunyikan kepalanya dan sepanjang jalan perjalanan, Radina menyembunyikan Nalani di bahunya sambil mengelusi kepala Nalani sejak Nalani tertidur. Rasanya berat melepaskan tubuh Nalani yang bersandar pada tubuh Radina karena Radina merasa sangat senang dengan keadaan ini.
O-ow, it’s going too fast! Radina membatin ketika menyadari kalau busnya sudah dekat dengan terminal.
“Nal, bangun, udah sampe,” kata Radina.
Perlahan Nalani membuka matanya lalu menguceknya untuk menambah kesadaran. Begitu bus berhenti, Radina menggenggam tangan Nalani dengan erat dan membimbingnya menuju taksi.
***
Nalani langsung berlari menuju apartemen tempat ibunya Radina tinggal ketika ada jadwal mengajar di Bandung. Radina membukakan pintu apartemen yang sudah ia hapal di luar kepala key number-nya.
“Loh, kok ke sini?” tanya ayah Radina yang sedang duduk di depan laptopnya.
Nalani yang mendengar tangisan Adnan langsung menghampiri anaknya tersebut dan menggendongnya.
“Lah, kok Mbak di sini?” Bi Muas terkejut melihat kedatangan Nalani yang tiba-tiba.
Nalani segera menggendong Adnan dan tangisan Adnan langsung mereda.
“Adnaaaan, Papa dateng,” kata Radina lalu mencium kening anaknya.
“Kenapa kalian bisa di sini?” tanya ayah Radina.
“Naik bus, Nalani pengen ketemu Adnan,” jawab Radina.
“Kalau gitu kalian tidur di kamar, suruh Bi Muas bangunin Madina dan tidur di sofa bed,” kata ayah Radina.
“Maksudnya, Pa?”
“Kamu, Nalani, sama Adnan tidur di kamar. Bi Muas sama Madina tidur di depan TV ini di sofa bed.”
“Loh kenapa jadi kita yang di kamar?”
“Kalian sudah menikah ini toh, gak bagus kalian yang tidur di luar.”
“Tapi Radina bisa tidur sama Madina.”
“Apa? Kalian sudah dewasa!”
***
Tik tok on a clock but the party won’t stop ow. Yakali lagu Ke$ha, buat gue sih waktu berlalu tapi pestanya gak mulai-mulai, batin Radina yang kesal hanya bisa menatap Nalani berbaring di sisinya sambil mengusap kening anaknya.
“Gak tidur?” tanya Radina.
“Nggak,” jawab Nalani.
“Kenapa?”
“Ngeliatin Adnan.”
“Besok juga bisa kali. Kamu istirahat aja.”
“Nggak mau, aku dipisahin sama dia seharian ini.”
Radina memilih pindah dari tempat tidur dan duduk di lantai sambil bersandar ke ranjang.
“Kamu gak tidur?” tanya Nalani.
“I can’t,” jawab Radina yang frustasi dengan keadaan ini.
“Kamu tidur di atas aja, aku di karpet,” kata Nalani.
She said whaaaa?
“Kenapa kamu di karpet?” tanya Radina.
“Kamu kan gak pernah tidur di karpet, aku udah biasa,” jawab Nalani.
“Udah kamu di kasur aja, aku belum ngantuk,” kata Radina.
Nalani pindah duduk jadi ke samping Radina.
“Kamu gak bisa tidur karena ada aku, kamu aja yang di atas,” kata Nalani.
“Udah di atas aja,” kata Radina.
“Kamu aja yang di atas.”
“Kamu.”
“Kamu...”
“Kamu.”
“Oke, gak ada yang tidur di bawah. Kita tidur di atas.”
Radina sudah kembali ke tempat tidur tapi Nalani masih duduk di lantai.
“Ayo, Naaal,” kata Radina.
“Aku udah bilang kalau aku aja yang di bawah,” kata Nalani.
“Udah di atas, nanti kamu sakit,” kata Radina sambil menarik tangan Nalani.
“Bener, aku udah kebal tidur di lantai,” kata Nalani.
Radina mengangkat tubuh Nalani dan mendudukkan Nalani di pangkuannya.
“Aku bilang kan jangan tidur di bawah,” kata Radina.
“Ya, aku gak akan tidur di bawah,” kata Nalani lalu kembali ke tempatnya semula, tepat di samping Adnan.
***
Kenapa aku memeluk guling seberat ini? Nalani membatin. Betapa terkejutnya ia ketika ia menemukan wajahnya tersembunyi di dada Radina.
“Udah bangun?” tanya Radina.
“Adnan mana?” tanya Nalani, tidak berani menatap wajah Radina.
“Dibawa pergi, kita ditinggal berdua lagi,” jawab Radina.
“Ayo susulin,” kata Nalani dan langsung membalikkan tubuhnya untuk pergi ke kamar mandi.
“Eeeeeh, mau ke mana?” Radina menarik tubuh Nalani lagi.
“Mandi, terus susul Adnan.”
“Nal, kamu ngerti gak sih kenapa kita ditinggal berdua terus? Papa pengen kamu istirahat dan aku ada untuk nemenin kamu istirahat. Sekarang istirahat selagi Adnan ada yang urus.”
“Iya, tapi lepasin aku.”
“Waktu aku bangun keadaan kita udah gini. Aku peluk kamu dan sebaliknya. And I find it was comfy.”
“Maksud kamu?”
“Maksud yang mana?”
“Tadi kamu bilang apa sih? Aku gak ngerti.”
Ergh, udah ilang mood gue, batin Radina. “Kamu istirahat aja,” katanya.
“Aku mau mandi,” kata Nalani.
Radina melepaskan tangannya yang menggenggam lengan Nalani dan membiarkan Nalani mandi.
That body is hot as hell, batin Radina yang masih ingat bagaimana rasanya memeluk Nalani ketika ia berhasil mencuri kesempatan itu dengan melempar guling yang Nalani peluk jauh-jauh sehingga ia berhasil jadi guling hidup Nalani. Entah berapa kali ia menelan ludahnya sendiri apalagi ketika tubuh Nalani benar-benar menempel dengan tubuhnya.
Cukup lama Nalani mandi, ia ke luar kamar mandi dengan menggunakan pakaian yang sebelumnya karena lupa membawa pakaian gantinya ke kamar mandi. Rambutnya basah karena habis keramas.
Radina menatap Nalani dengan menganga, apalagi ketika Nalani setengah duduk untuk mencari pakaian gantinya. Radina mendekatinya dan menarik lengannya.
“Aw,” Nalani meringis karena tangan Radina menariknya dengan keras.
Radina menangkup wajah Nalani dan menyapukan bibirnya ke bibir Nalani. Nalani terkejut bukan main, apalagi ketika ia berusaha untuk membuka mulut dan bicara, Radina malah memasukkan lidahnya ke dalam mulut Nalani sampai membuat kaki Nalani lemas seperti agar-agar kelebihan bahan pengenyal.
Nalani beringsut lemas sehingga tangan Radina menyangga pinggang dan kepala Nalani. Nafsu Radina sudah meluap-luap dan tidak peduli bahwa Nalani tidak membalas ciumannya. Ia ingin mengeksplorasi mulut suci itu, tanpa peduli reaksi Nalani yang menepuk-nepuk pundaknya.
***
aaaa maaf banget chapter ini lama banget di update-nya. authornya sibuk, tugas numpuk, ya mid-term, ya sakit :( *derita author penyakitan*
maaf ya kalo banyak yang kurang, ngerjainnya sekuat tenaga nih tapi hasilnya gak maksimal. makasih yaaa semuanya yang udah baca, vote, comment, sama jadi fans. selalu terharu deh sama action readers sekalian :">