Haaah, Cle, kakak lo mana nih?” tanya Rheo tidak sabar diantara kerumunan para penjemput yang menunggu di dekat pagar besi pembatas gerbang kedatangan Luar- Negeri.
Kini Cleo dan Rheo memang sedang berada di Bandara Internasional Soekarno- Hatta untuk menjemput Enrico. Berhubung hari ini hari Sabtu, maka yang tadinya rencananya Daddy yang akan jemput Rico, terpaksa digantikan oleh Cleo karena anaknya yang satu ini ngotot banget pengen jemput Rico. Kebetulan Daddy juga ada meeting mendadak di kantornya, sedangkan Mama nggak bisa jemput karena sedang tidak enak badan. Cleo juga sempat ngajak Logi dan Karin, namun kedua orang itu sudah ada acara masing- masing sehingga tidak bisa ikut.
Hari ini Bandara Soekarno- Hatta tumben- tumbenan crowded banget, sampai- sampai AC- nya pun terasa tidak begitu dingin. Agak aneh juga, mengingat high season masih 4 bulan lagi tapi sekarang ramenya udah kayak mau ngantri minyak tanah. Waktu Cleo baru dateng ke Jakarta juga nggak serame ini. Nggak heran kalau daritadi Rheo ngedumel terus lantaran sering kena dempet para penjemput yang baunya macem- macem, dari wangi Bvlgari sampai bunga Rafflesia Arnoldi. Jangankan Rheo yang cowok, Cleo aja udah gerah banget.
“Nggak tau nih.. Belum keliatan.” Cleo menggelengkan kepala sambil sesekali menelusuri wajah- wajah penumpang yang hilir mudik keluar dari gerbang tersebut. Akan tetapi batang hidung Enrico masih juga belum terlihat.
Namun tidak lama kemudian, Cleo dapat melihat sosok pria berumur akhir belasan berparas muka latino berjalan santai keluar dari pintu kedatangan dengan sebuah koper besar ditangan dan tas backpack besar di pundaknya. Walaupun wajah pria itu tidak begitu terekspos karena kacamata Aviator yang dipakainya, tetapi Cleo dapat mengenali bahwa itulah kakaknya.
“Nah itu dia!” Cleo dengan semangat menarik Rheo menjauhi kerumunan—sebelum cowok tengil ini tumbang—, kemudian berteriak histeris. “RICOOOO!!!”
Rheo yang agak kaget dengan manuver mendadak Cleo dapat melihat lelaki yang dipanggil Enrico itu menoleh ke arah mereka berdua, lalu membuka kacamata Aviatornya dan nyengir playful. Boleh juga si Enrico- Enrico ini, tampangnya dari range nilai 1- 10 dapetlah 9. Sebenernya sih bisa dikasih nilai 10, tapi Rheo agak sangsi ngasih nilai 10 karena bagi dia cowok yang pantes dapet nilai segitu itu cuma dia seorang. Coba kalau Enrico ini masuk ke HB, udah pasti cewek- cewek disana langsung gempar! Bisa- bisa pamornya turun. Untung dia udah kuliah.
Cleo langsung lompat ke pelukan kakaknya begitu Rico sudah melewati pagar besi itu dan berdiri di depannya. Bau Bvlgari èxtreme khas Rico memenuhi hidungnya. “Aaaa Rico! Kangeeeen!!”
Enrico tertawa pelan. Ia balas memeluk pinggang sang adik erat. “I miss you too, Cle.” ujarnya pelan dengan logat British English yang sama seperti Cleo.
Rheo geleng- geleng kepala ngeliat ini. Seandainya aja dia nggak tau kalau mereka berdua ini kakak beradik, mungkin dia bakal ngira kala mereka itu sepasang kekasih yang terpisah lama. Gila, mesra abis keliatannya.
Cleo melepas pelukannya. “So how are you, dear brother? Ihhh.. makin keren deh!” Cleo mengamati penampilan Rico dari atas sampai bawah. Kakaknya ini memang keliatan keren mengenakan washed jeans Levi’s , sepatu kets Nike, dan kaus oblong berwarna abu- abu yang membuat tubuh atletisnya tercetak jelas.
Enrico tertawa lagi. “I’m fine. So do you, cara sorella (adik perempuanku), tambah cantik aja. Udah gede lagi! Kayaknya baru kemaren gue bikin lo nangis.”
Cleo memutar bola matanya, namun di dalam hatinya juga membenarkan. Enrico memang pindah ke New York pada saat dia masih kelas 8 (2 SMP). Dan setelah itu, ia belum pernah kembali ke London lagi, sekalipun pada long holiday. Maklum saja, tiket pesawat New York- London nggak murah. Saat Paula sudah lahir pun, Enrico belum pernah bertemu secara langsung dengan adiknya, melainkan hanya melihat dari foto.
“Mama sama Daddy gimana kabarnya, Cle? Paula? Umur berapa dia sekarang?”
“Mama sama Daddy baik. Paula juga baik. Sekarang dia udah 7 bulan, Ric! Lagi lucu- lucunya! Sekarang udah bisa merangkak.” Jawab Cleo, tertawa kecil ketika teringat akan adiknya di rumah. Kemudian ia baru ingat pada Rheo yang sekarang malah berdiri canggung di sebelahnya. “Oh iya, Ric, ini....,”
“Aaaah...,” belum sempat Cleo selesai bicara, Rico sudah memotongnya seraya nyengir penuh arti. “.... Defron, right? Yang sering lo ceritain ke gue?”
Cleo bengong, sedangkan Rheo mengangkat sebelah alisnya. Kok Defron?
“Hell, no, bukan! Bukan dia. Ini Rheo. Makanya jangan dipotong dulu dong, Ric.”
Ekspresi penuh arti Rico seketika lenyap diganti ekspresi malu. “Oh! Sorry,” dia tersenyum lalu menjabat tangan Rheo hangat. “Seneng bisa ketemu sama lo. Cleo juga sering cerita soal lo sama gue.”
Rheo langsung nyengir lebaaaar banget, merasa geer. Diliriknya Cleo. “Masa sih, Cle?”
Cleo menyilangkan tangannya di depan dada, “Iya, gue cerita kalo lo itu temen gue yang paling geer sedunia.” jawabnya asal yang langsung diberi jitakan maut ala cowok itu di puncak kepala. Merasa nggak terima, ia balas mencubit lengan cowok itu keras sampai- sampai cowok itu mengaduh kesakitan.
Rico senyum- senyum melihat tingkah mereka berdua.
“Nggak kok, Rhe. Dia bilang kalo lo itu care banget sama dia.”
“Huh, harusnya lo jangan bilang gitu, Ric.” Cleo melipat tangannya lagi sambil mengangkat dagunya sok angkuh demi melihat Rheo yang mulai nyengir geer lagi. “Tuh anak bisa geer beneran.”
Enrico cuma bisa tertawa. Rheo mengangguk- angguk pasrah.
***
“Kalian berdua beneran cuma temenan?” tiba- tiba saja keluar pertanyaan itu dari mulut Rico saat mobil Rheo membelah jalan tol Cengkareng, praktis membuat mata Cleo nyaris keluar dari kelopaknya. Rheo malah lebih parah lagi, saking kagetnya dia malah nyaris banting setir ke arah besi pembatas jalan, yang akhirnya menyebabkan mobilnya agak oleng.
“Rico! Apa- apaan sih nanyanya?” Cleo menggapai paha kakaknya yang duduk di belakang untuk dipukul. Rheo berdehem gugup.
“Geez, Cle, easy, okay? Gue kan cuma nanya.” Rico meringis sambil mengusap- usap pahanya. Nggak nyangka pukulan adeknya sakit juga. “Jadi? Beneran kalian cuma temenan?”
“Iyalah, gue kan baru pindah ke HB sebulan yang lalu, Ricc. Baru kenal dia juga sebulan. Lagian, Ric, ini anak tuh playboy tau. Ceweknya berceceran dimana- mana!” kilah Cleo yang langsung dibalas pelototan maut dari Rheo.
Rico mengulum senyum lagi. Satu bulan? Nah kalian berdua satu bulan udah keliatan deket banget... pikirnya dalam hati. “Masa sih?”
“Jangan percaya!” Rheo menyahut garang. Sempet- sempetnya dia ngedorong pundak Cleo padahal satu tangannya lagi sibuk nyetir.
“Waktu satu bulan itu termasuk cepet loh, Rhe, Cle. Buktinya, walaupun baru bulan, tapi kalian udah kayak temenan 3 tahun. Eh, dari segi nama aja udah mirip! Cleo, Rheo... sama- sama ‘eo’ akhirannya. See? Itu udah pasti jodoh!” Rico berkata lagi. Entah tiba- tiba jadi nyangkut ke masalah akhiran nama mereka berdua.
Cleo memutar bola matanya. Mendadak ia jadi memikirkan apa yang Rico katakan tadi. Iya ya.. kalau dipikir- pikir ada benarnya juga. Apalagi kalau inget Cleo agak- agak susah buat deket sama cowok. Sama Logi aja dia nggak se-‘berani’ ini seperti ke Rheo. Tetapi entah kenapa Cleo merasa nyaman sekali kalau sedang bersama Rheo dan juga tidak malu untuk menampakan sisi buruknya ke cowok ini.
Masa iya sih, gue cocok sama dia? Cleo ngebatin sendiri. Diam- diam diliriknya Rheo yang asyik menyetir sesekali menyentak- nyentakan kepalanya seiring dengan musik. Cleo bergidik sendiri. Amit- amit... nggak mungkin banget dia kalau pacaran sama anak tengil macam Rheo. Lagipula Cleo kan sukanya sama Defron.
Defron..
Sejak kejadian tempo hari itu, sikap Defron terhadap Cleo makin hari makin berubah. Memang sih belum sampai deket sekali ataupun bagaimana. Tetapi setidaknya cowok itu seringkali memberikan senyum jika mereka berpapasan. Cleo jelas merasa senang akan hal itu, berarti kesempatan untuk bisa jadi pacarnya Defron masih terbuka lebar. Dan itu terjadi dalam jangka waktu krang lebih tiga minggu sejak ia bersekolah di HB. Cukup cepat juga.
Akan tetapi ada satu hal yang kini mengganjal di pikiran Cleo: permintaan Ibu Defron. Bagaimana kalau Defron jadi ngejudesin dia lagi (atau lebih parah, lebih judes) andaikata Cleo nyuruh dia untuk pulang? Jujur aja Cleo sampe kram otak kalau lagi mikirin itu.
“Udah nyampe mana ngelamunnya? Hongkong?” lirik Rheo sembari memencet klakson mobilnya kepada sebuah truk yang menghalangi laju jalannya.
Cleo tersentak dari lamunannya. Baru disadarinya sekarang mereka sudah tidak berada di jalan tol lagi, melainkan berada di sebuah jalan protokol yang tidak jauh dari rumahnya.
“Udah lama banget lo ngelamun, Cle. Rico tidur aja lo nggak tau kan?” lanjut cowok itu, membuat Cleo otomatis menoleh kebelakang. Ternyata memang benar sekarang Rico udah tidur pulas sekali di jok belakang. Cleo memang nggak tau Rico tidur sejak kapan, namun ia sama sekali tidak berminat untuk membangunkan kakaknya. Kasian, pasti masih jetlag.
“Ngelamunin apaan sih? Jangan bilang Defron.” Rheo berujar lagi setelah menginjak kopling rem saat traffic light menunjukan warna merah. Entah mengapa ketika mengatakan itu nada suaranya terdengar sangat jengkel. Kemudian ia menambahkan lagi. “Lo suka kan sama dia?”
“Apaan sih? Nggak!” Cleo buang muka ke arah jalan.
“Don’t lie to me, Miss Fletcher.”
“Hell, no, I’m not.”
“I can see that just looking at your eyes, Cle. You DO have a crush on him.”
Cleo menatap Rheo tidak percaya tatkala kata- kata itu meluncur dari mulut cowok itu. Raut wajahnya itu… begitu serius dan tanpa senyum. Entah hilang kemana Rheo yang biasanya selalu cengengesan.
Melihat wajah Cleo yang pucat karena suasana tegang ini, impuls Rheo tertawa keras- keras. Saking gelinya, cowok itu sampai memegang perutnya dengan sebelah tangan. “Hahaha.. gotcha! Gimana akting gue, Cle? Keren kan? Udah cukup buat ngelamar ke PH belum?” tanyanya nyebelin sambil memainkan alis, sok keren.
Cleo bengong sesaat. Kemudian baru nyadar.. ternyata yang tadi itu cuma akting belaka! Sialan cowok tengil satu ini! Mendadak Cleo berhasrat untuk ngedorong cowok ini keluar dari mobil. Urusan nabrak sih belakangan.
“Oi, Cle! Gimana? Keren kan?”
“Keren dari Zimbabwe!” sungut Cleo, refleks mendorong pundak cowok ini pelan, lalu langsung buang muka. Rheo ngakak lagi, kali ini lebih keras.
Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di rumah Cleo yang berada di sebuah perumahan elite kawasan pinggiran Jakarta, Cibubur. Rumah Cleo bagus, dengan model rumah ala mediteranian yang memang sudah menjadi trade mark perumahan ini. Halaman rumahnya pun besar dan ditumbuhi dengan bermacam- macam bunga karena Kartika Nirmala Dewi—Ibu Cleo—senang sekali berkebun.
Daddy dan Mama sudah menunggu di ruang tamu saat ketiga anak muda itu memasuki ruang tamu. Mama yang saat itu sedang menggendong Paula seketika menghambur untuk memeluk anak sulungnya. Beliau juga mencium pipi Rico berkali- kali dengan penuh sayang, yang langsung dibalas oleh cowok itu.
Cleo memperhatikan pemandangan ini dengan mata berkaca- kaca. Ada rasa senang yang menyelinap masuk ke dalam benaknya karena kakak yang sudah hampir tiga tahun lebih berpisah kini bisa tinggal dan berkumpul lagi dengan keluarganya. Andai saja jika Defron kembali ke rumahnya, pastinya Tante Wina akan melakukan hal yang sama. Mencium pipi anaknya penuh sayang dan juga memeluknya erat.
Kini giliran Daddy yang maju. Daddy walaupun sudah berumur hampir empat puluh sembilan tahun, namun masih tampan dan terlihat gagah. Sekilas wajah Daddy akan mengingatkan orang pada sosok Antonio Banderas, si pemeran Zorro itu. Sungguh cocok dengan Mama yang masih terlihat cantik sekali di pertengahan umur empat puluh. Cleo selalu merasa bahwa orang tuanya adalah orang tua yang paling serasi yang pernah ia kenal.
“Welcome home, my dear son.” bisik Daddy hangat disela- sela pelukannya. Beliau mengusap- usap punggung Rico kebapakan.
“Thanks, Dad. It’s nice to have you all by my side again.” balas Rico, dengan bisikan juga. Ia melepas pelukan Daddy.
Cleo tertegun. Melihat Daddy dan Rico yang berdiri berdekatan.. mau tidak mau membuat Cleo berpikir bahwa Enrico mirip sekali dengan Daddy! Seperti melihat Daddy masih berumur awal dua puluhan saja. Rico memang mempunyai tampang latino yang cukup dominan. Rico punya tenned skin seperti orang latin pada umumnya. Berbeda sekali dengan Cleo dan Paula yang lebih terlihat lebih seperti orang kaukasia karena kulit mereka putih sekali. Mungkin karena pengaruh dari Mama juga yang punya darah Sunda.
Pandangan cowok itu teralih kepada Paula yang berusaha menggapai- gapai leher Rico sambil tertawa senang, menampakkan giginya yang baru tumbuh dua biji. Sepertinya Paula ingin digendong oleh kakaknya yang baru ia lihat sekarang. Mama tersenyum kemudian memberikan anak bungsunya untuk digendong oleh Rico.
Cleo dan Rheo kompak cekikikan sewaktu Rico menggendong Paula dengan gestur kikuk. Maklum saja, Rico sudah lama tidak menggendong bayi. Terakhir gandong juga saat gendong Cleo sekitar enam belas tahun yang lalu. Itu juga asal- asalan karena waktu itu Enrico masih berumur empat tahun.
“Oh ya, nak Rheo, terima kasih ya karena sudah menemani Cleo jemput Rico di bandara. Maaf, merepotkan. Ayo mari, duduk dulu.” Mama tersenyum ramah. “Nah, nak Rheo mau minum apa? Biar Tante bilang Bibi untuk bikinin minum kamu.”
Rheo mengibas- ngibaskan tangannya. “Nggak usah, Tante. Terima kasih. Saya sudah mau pulang kok.”
“Perché ? Duduk aja dulu disini, nak. Istirahat dulu. You must be tired.” Daddy ikut- ikutan numbrung, pakai nyelipin bahasa Italia pula. Rheo cuma garuk- garuk kepala, bingung. Apaan lagi itu ? Untung saja Cleo dengan baik hati membisikan artinya.
“Ooh..,” Rheo ber- O ria. “Maaf, Tante, Oom. Bukannya nggak mau. Tapi Mama saya udah nelefonin, mobilnya mau dipakai.”
Daddy dan Mama mengangguk- anggukkan kepala. “Oke deh kalau begitu. Terima kasih lagi ya. Maaf merepotkan.”
“Nggak papa, Tante. Saya nggak ngerasa kerepotan kok. Malah senang udah bantu- bantu.” katanya sopan. Tapi malah membuat Cleo memutar bola matanya. Seneng darimananya? Tadi malah di airport dia yang paling bawel! Dasar penjilat!
Rheo pun pamit dari rumah keluarga Fletcher, diantar Cleo hingga depan pagar rumah.
***
“Haaaah.. nggak naik kelas! Nggak naik kelas!” Cleo mengerang pasrah saat keluar dari kelasnya.
Pak Sentanu, guru Fisika yang terkenal dengan reputasinya yang demen ngasih anak- anak ulangan dadakan, kini berulah di kelas 11 IPA 1. Sialnya, Cleo cuma bisa jawab empat nomor dari sepuluh soal yang diujikan. Itu juga dia belum yakin semuanya benar.
Sebenernya sih Cleo nggak bego- bego amat dalam mata pelajaran eksak seperti Fisika, Matematika, dan Kimia. Dia masih bisa ngerjain kok. Cuma, gara- gara kemarin malam dia nggak belajar dan malah asyik ngobrol dengan Enrico—nggak peduli Enrico masih jetlag apa nggak—akhirnya ya seperti ini. Padahal biasanya satu jam sebelum tidur, Cleo menyempatkan diri untuk mempelajari mata pelajaran untuk keesokan harinya. Dan secara Cleo pribadi, dia juga nggak suka- suka banget sama pelajaran itu. Satu- satunya pelajaran IPA yang dia sukai cuma Biologi. Tahu begini, aturan kemarin saat mau masuk HB, Cleo milih kelas IPS saja!
Eh nggak deng, kalau Cleo masuk kelas IPS, belum tentu kan dia bisa punya teman dekat seasik Rheo, Karin, dan Logi?
Melihat tingkah anak didiknya yang baru jadi penghuni kelas itu, Pak Sentanu cuma bisa geleng- geleng kepala seraya tersenyum geli, kemudian melanjutkan aktivitasnya yang sedang mengumpulkan lembar jawaban anak- anak.
Rheo, Tian, Ferdi, dan beberapa murid kelas 11A IPA kemudian menyusul keluar kelas dengan lemas dan rasa nelangsa. Mereka- mereka ini yakin banget bakalan kena remedial. Ferdi cuma bisa menjawab lima nomor, tapi yang ia yakini benar cuma dua nomor. Tian berhasil ngisi semuanya, walaupun lima soal dia isi dengan ngaco. Rheo dan beberapa anak malah lebih parah lagi cuma nulis ulang soalnya aja.
Karin dan Logi? Hmm jangan ditanya. Mereka berdua itu bagaikan titisan cucunya Einstein! Disaat anak- anak lagi mumet ngerjain, mereka berdua malah santai banget ngerjainnya dan berhasil keluar kelas dua puluh menit sebelum bel berbunyi. Kepergian mereka, tentu saja diiringi dengan tatapan iri seluruh kelas, tak terkecuali Cleo dan Rheo.
Di kantin, Cleo segera menghampiri Karin dan Logi yang sedang duduk di bangku favorit mereka. Dua buah mangkuk kosong bekas soto mie mereka teronggok di meja.
“Gimana ulangannya? Bisa?” tanya Logi sambil menyuruput es kelapa mudanya yang tinggal setengah.
“Huh, pasrah pada Tuhan yang maha esa!” jawab Cleo kesal. Ia menghempaskan tubuhnya untuk duduk bangku panjang yang Karin duduki.
Karin dan Logi senyum- senyum. Keliatan banget dari tampangnya kalau Cleo kena stress berat akibat ujian fisika dadakan itu. Rambut panjang kecoklatan cewek itu yang biasanya tersisi rapi kini terlihat kusut lantaran diacak- acak sang empunya.
Cleo bergidik saat merasakan sensasi dingin dan basah yang menerpa pipi kanannya. Ternyata Rheo yang seenaknya saja menempelkan teh botol dingin ke pipi gadis itu. “Apa sih, Rhe?” ketusnya, lalu menepis teh botol itu pelan.
Rheo memilih duduk disamping Cleo. Diulurkannya salah satu teh botol yang ia pegang ke Cleo. Rheo memang membeli dua teh botol, satu untuk Cleo, dan satu untuk dirinya sendiri.
“Nih minum. Biar ngedinginin otak lo.”
Setelah menimbang- nimbang sebentar, akhirnya ia menerima teh botol itu dengan senang hati. Baik juga cowok ini sampe ngebeliin minum segala. “Thank you. Eh, gimana ulangan fisika lo? Bisa nggak?”
“Hah, nggak ngomongin itu dulu bisa nggak? Otak gue mumet banget nih. Si Sentanu tega banget ngasih soalnya susah- susah semua.” Rheo tau- tau jadi galak. Teh botolnya seketika habis dalam satu sedot.
Cleo agak nggak terima dijudesin seperti itu dan berniat untuk membalas omongan Rheo, tetapi niatnya terputus saat melihat sebuah pasangan kekasih yang barusan masuk ke kantin sambil bergandengan tangan.
Si Double R Couple, Rene- Revalia.
Cleo sendiri juga nggak begitu ngerti kenapa mereka bisa jadi seperti itu. Selama ini belum ada gossip yang mengatakan mereka jadian. Yang ada malah fakta bahwa Revalia itu lagi melancarkan pendekatan ke ketua OSIS tercinta alias Defron, dari yang baik- baik sampai ke tingkat super agresif. Rene sendiri juga gossipnya lagi dekat sama anak 12C IPS bernama Vani yang super duper cantik. Tapi kenapa malah mentok- mentoknya dia jadian sama ondel- ondel itu?
Waktu pertama kali bertemu Revalia, Cleo udah langsung antipati sama cewek itu. Cantik sih… bodinya juga oke punya, tapi make up- nya itu looooh tebel banget! Yang benar saja, dia kan ke sekolah, bukan mau ke acara party atau apa! Cleo malah sempat mengira ada ondel- ondel nyasar di HB. Apalagi seragamnya, nggak usah ditanya. Full pressed body abis. Rasanya Cleo pengen beliin dia seragam baru saking ketatnya seragam punya Revalia.
Pihak sekolah sudah pernah memperingatinya dan juga memberi sangsi untuk cewek ini. Beberapa kakak kelas 3 juga terang- terangan menyindirnya. Tapi namanya juga Revalia, otaknya bebal banget. Mau sekolah ini jungkir balik juga, dia nggak bakalan mengganti penampilannya. Pihak sekolah pun lebih memilih untuk membiarkan.
Dan sepertinya sih, Revalia juga sama nggak senengnya ke Cleo. Setiap papasan dengan Cleo, tatapannya pasti nyalang seperti seorang pemburu yang akan menangkap hewan buruannya. Karin bilang kalau si Revalia ini pastinya jealous karena separuh penggemarnya kini telah berubah menjadi menyukai Cleo. Selain itu dia juga pasti jealous karena Cleo lumayan dekat dengan Defron.
“Aduh, romantisnya..,” Karin berkata dengan nada penuh cemooh saat Rene terlihat sedang merapikan rambut Revalia yang berantakan.
“Yeah, right,” timpal Rheo, nada nyinyirnya keluar. “Saking romantisnya gue sampe pengen muntah.”
“Duileee.. jealous nih ceritanya?” Logi cekikikan. Cowok berkacamata itu melemparkan bungkus kacang pilus kosong ke arah sobatnya itu.
Rheo melototinya garang. Dilemparnya balik bungkus kacang itu ke Logi yang sigap menepis. “Najis. Ngapain gue cemburu ngeliat tuh ondel- ondel?”
“Ya, secara lo kan mantannya, pasti kan—“
“Heh? Apa? Tunggu- tunggu! Lo pernah pacaran sama itu ondel- ondel, Rhe?!” seru Cleo tertahan. Dia mengguncang- guncangkan lengan Rheo penasaran.
Rheo dan si Ondel itu pernah pacaran? Ya ampun, lelucon aneh apa lagi ini?
Rheo kini menatap Logi dengan pandangan ‘gara- gara- lo- nih- anak- jadi- ribut’. Logi nyengir sambil angkat bahu. Nggak ikut- ikutan.
“Loh? Lo baru tau, Cle? Temen kita yang ganteng ini emang pernah pacaran sama si Ondel pas akhir kelas 1.” Karin mengedipkan mata penuh arti ke Rheo.
“Iya, gue baru tau.. Kok.. kok bisa?!” Cleo masih shock.
“Kena pelet,” Rheo menjawab asal, namun langsung dihadiahi sebuah sikutan yang cukup keras dari Cleo. Gimana sih Rheo ini, ditanyain serius malah ngaco jawabnya. “Aduh, oke, oke, santai dong, Cle. Gue emang pernah pacaran sama dia! Tapi nggak lama. Alasannya kenapa gue mau sama dia bukan gara- gara pelet sih.. eh nggak tau juga, belum ketauan aja kali.”
“Terus? Kenapa lo putus?”
“Ya lo liat aja. Siapa yang tahan punya pacar kayak ondel- ondel berjalan?”
Ketiga temannya kontan ngakak mendengar statement dari Rheo. Bisa aja dia jawabnya. Tapi syukurlah hubungan Rheo dengan si Ondel itu sudah berakhir. Nggak bisa ngebayangin deh kalau mesti duduk bareng Revalia disini.
“Jadi, si playboy kakap seantero HB beneran jadian ya sama si cewek genit? Hmm boleh juga tuh. Mereka kan sama- sama player. Mau sama- sama selingkuh juga nggak papa kali. Ya nggak?” Logi terkekeh.
“Setuju. Tapi aneh juga ya, si Ondel nggak dapet Defron mentok- mentoknya malah jadi sama saudara tirinya. Enak bener punya ban serep.” Rheo nyeletuk kembali. Udah nyinyir banget, pake bawa- bawa perumpamaan ban serep segala lagi.
Cleo dan Karin geleng- geleng kepala.
***
“Hai, Cleora.”
Cleo dan Rheo yang sedang berdiri di depan counter untuk memesan makan mendengar suara rendah khas seseorang dari belakang mereka. Mereka berdua berbalik dan mendapatkan Defron berdiri di belakang mereka dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana. Ia tersenyum—hmm nggak bisa dibilang senyum juga sih, habisnya senyumnya tipis banget, seperti nggak niat. Defron mengangguk pelan ke Rheo.
Senyum Cleo merekah lebar. Ya ampun, cowok ini makin hari makin keren aja. “Eh hai, Defron!” balasnya kelewat bersemangat.
Disebelah Cleo, Rheo memutar bola matanya, melengos (seperti biasa), kemudian berbalik lagi ke arah counter, belagak cuek.
Defron tersenyum getir sambil melirik Rheo. Nggak habis pikir deh, ini anak kok nyebelin banget sih sama senior? Perasaan dulu masih biasa- biasa aja. “Denger- denger kelas lo abis ulangan fisika mendadak ya?”
“Ih iya, kok tau sih?”
Defron tersenyum lagi, kali ini terlihat lebih rileks. “Pas ke ruang guru tadi, gue sempet denger Pak Sentanu cerita ke Bu Hanna. Katanya lo ngomel- ngomel sendiri, bener?” tanyanya, terkekeh.
Deg. Cleo merasa jantungnya berhenti berdetak. Sekelebat ingatannya kembali saat dia baru keluar kelas tadi. Emang sih dia sempet bilang ‘nggak naik kelas’ berkali- kali. Tapi rasanya nggak mungkin kedengeran deh, lagian dia juga nggak teriak kenceng- kenceng amat. Oh my God.. jadi satu kelas denger dia dong?
Cleo dapat melihat punggung Rheo bergerak naik turun, seperti sedang tertawa tanpa suara. Ternyata biarpun sok cuek, cowok satu ini tetep aja nguping pembicaraan mereka! Kalau nggak inget ada Defon di depan, Cleo mungkin bakalan senang hati memukul punggung Rheo.
“Eh itu… abis susah sih! Aku cuma bisa jawab empat soal. Lagian salah Pak Sentanu bikin ulangan dadakan.” Cleo ngeles. Kedua pipi gadis itu bersemu merah saat tersenyum malu- malu.
Sungguh pemandangan yang menarik sekali bagi Defron. Bibir pinkish yang melengkung indah dan juga rona merah di pipi itu… Nyaris saja Defron mencubit pipi adik kelasnya itu kalau saja dia nggak sadar diri.
“Hmm oke kalau gitu.” Defron berkata canggung. “Gue ke ruang OSIS dulu. Lo tau, mau nyeleksi proposal buat kandidat calon ketua OSIS.” dia melanjutkan, kalem.
Pengumpulan proposal kandidat calon ketua OSIS memang sudah diberlakukan sejak empat hari yang lalu, dimana harusnya itu dilakukan dua minggu yang lalu. Namun karena ada sedikit masalah teknis, pemilihan ketua OSIS akhirnya diundur. Padahal seharusnya jabatan ketua OSIS Defron sudah dicopot sejak seminggu yang lalu dan diganti oleh yang baru karena kelas 12 harus berkonsentrasi pada UN.
Kebetulan Logi yang kalem dan juga bijaksana itu juga turut berpartisipasi mengirimkan proposal pengajuan diri sebagai ketua OSIS. Dalam hati Cleo berdoa saja supaya cowok ini lulus seleksi.
“Loh? Nggak makan dulu, Def?”
“Nggak laper,” Defron menggeleng pelan. Dia menggaruk- garuk kepalanya yang nggak gatal. Kelihatannya agak salah tingkah. “Tadi gue lewat sini, terus ngeliat elo. Well, I thought I just wanna drop here to say hi to you.”
Kedua belah pipi Cleo merona lagi setelah mendengar kata- kata itu melucur dari mulut ketua OSIS dingin ini. Ha, dia nggak salah denger kan? Tadi beneran Defron ngomong gitu kan? Cleo merasa dirinya terbang ke awang- awang sekarang. Geer tingkat tinggi.
“Oke deh.”
Defron pun berlalu dari sana. Gayanya masih tetap sama, kalem dan cool dengan kedua tangan dimasukan ke celana. Cleo menatap kepergiannya dengan tatapan memuja. Sekaligus tolol.
Rheo yang sudah mendapatkan makanannya, cuma bisa geleng- geleng kepala. Hanya karena seorang Defron, Cleo yang terkenal cantik dan anggun bisa jadi kayak orang ayan begini.
Ditepuknya kepala gadis itu pelan.
“Jelek banget lo, Cle. Ngaca deh.”
***
Setelah bel pulang berbunyi tepat pukul setengah tiga siang, mading sekolah dikerumuni oleh beberapa murid SMA HB. Daftar nama- nama para kandidat beserta foto mereka sudah dipajang disana. Ada yang tertawa gembira karena lolos seleksi, namun banyak juga yang gigit jari lantaran nggak lolos. Dari total dua puluh pengumpul proposal, hanya ada lima yang dipilih sebagai kandidat.
“Eh, sorry, sorry, permisi. Permisi… numpang lewat.” Logi berusaha menyelipkan tubuhnya yang jangkung diantara kerumunan murid- murid agar dapat melihat daftar tersebut. Walaupun sebenarnya dia nggak minat- minat amat jadi ketua OSIS dan udah pesimis duluan proposalnya bakalan ditolak, tapi tetep aja dia penasaran.
Namun cowok penggemar novel science- fi itu terkejut sekali ketika mendapatkan tulisan ‘Arilogi Setyadira’ beserta pas fotonya tertera pada urutan nomor dua. Logi menatap papan mading tak percaya.
“LOGIIII!! LO LULUSS!!” seru Karin dan Cleo histeris, nyaris berbarengan. Mereka berdua impuls memeluk erat Logi layaknya teletubbies. Logi yang sendirinya juga nggak sadar kapan duo cewek bawel ini muncul disebelahnya hanya bisa bengong. Tapi dalam hati seneng juga dipeluk dua cewek di waktu yang bersamaan, hehehe.
“Whoa.. whoa.. minggir lo cewek- cewek! Ketauan Bu Hanna baru tau rasa lo!” tiba- tiba Rheo menyeruak masuk, membuat kedua cewek ini melepas tubuh Logi dari pelukan mereka. Rheo nyengir boyish, kemudian menepuk pundak Logi hangat. “Congratulation, bro!”
“Thanks, man.”
Tak lama kemudian terdengar teriakan nyaring dari sisi lain mading, membuat semua kepala yang ada disitu menoleh kaget ke sumbernya. Ternyata suara Revalia dan beberapa klannya.
“Nggak bisa gini! Kenapa gue nggak diterima?! Isi proposal gue bagus kok!” Revalia berkacak pinggang, marah karena tidak melihat namanya tertera di mading.
“Iya ya.. kok lo bisa nggak keterima ya, Va? Proposal lo kan bagus.” Ellen, salah satu anggota geng Revalia yang terkenal suka cari muka di depan orang, mulai berlagak. Sok- sok kesel tapi diem- diem seneng juga. Bisa bayangin seorang Revalia jadi ketua OSIS? Yang ada SMA HB malah jalan mundur, bukannya makin maju. Paling parah kalau SMA HB ganti jadi Sekolah Make Up Harapan Bangsa.
Revalia terdiam. Dia merasa pasti ada yang nggak beres dengan penyeleksian ini. Revalia tahu persis Defron nggak suka pada dirinya (terlihat dari bagaimana annoying- nya tampang Defron setiap Revalia nyemperin dia dulu).
“Defron! Itu cowok pasti sengaja nggak milih gue gara- gara gue jadian sama musuh bebuyutannya! Ya nggak? Lo semua mikir nggak sih?”
“Kalau lo pikir gara- gara itu lo nggak kepilih, lo salah besar,” tiba- tiba saja suara Defron menyaut dingin dibelakang mereka.
Revalia terlonjak kaget., tak menyangka bahwa orang yang ia tuduh bisa setiba- tiba ini muncul Dia menoleh takut- takut dan kemudian tanpa sadar mundur beberapa langkah karena menyadari betapa dekatnya posisi Defron dengan dirinya. Ekspresi wajah cowok itu susah dibaca. Tapi terlihat sekali Defron merasa kesal akibat perkataan Revalia tadi. Yah, siapa sih yang nggak kesel sama cewek nyebelin ini?
Mungkin agak kasian juga sih ngeliat wajah Revalia yang sekarang pucetnya hampir ngalahin mayat. Anehnya, Cleo dan setengah populasi murid yang ada disitu malah merasa senang.
“A- aa.. gue..,” Revalia terbata, berusaha mencari alasan yang tepat. Tetapi sayangnya keburu dipotong Defron.
“Asal lo tau, para kandidat- kandidat yang udah dipilih itu diputuskan bersama oleh guru- guru dan anggota OSIS dalam rapat tadi pagi. Jadi kalau lo mau ngomong gue bersikap curang sama lo, mending lo ngaca dulu. Bukannya gue mau ngerendahin lo, tapi lo emang nggak cocok jadi ketua OSIS disini. Seorang pemimpin itu nggak mungkin seenaknya nuduh tanpa bukti kongkrit dan ngarang- ngarang cerita nggak bener seperti elo.” Defron berkata sinis. Dari ujung matanya dia dapat melihat Rene yang sedang berjalan cepat menghampiri mereka, bersiap untuk membela sang kekasih. Defron buru- buru melanjutkan lagi. “Mungkin gue emang musuh bebuyutan sama Rene, tapi sedendamnya gue sama dia, dia tetep pernah jadi temen gue dan gue nggak mungkin berbuat hal memalukan seperti yang lo bilang tadi. Inget itu.”
Saat itulah langkah kaki Rene terhenti. Pemuda berambut nyaris pirang itu menatap Defron tak percaya.
Defron mendengus pelan, kemudian memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Dia melangkah santai mendekati Rene yang berhenti tak jauh dari mereka. “Bilang cewek lo, kalau punya mulut lain kali dijaga. Jangan sampe mulut busuknya bikin dia susah di kemudian hari.” ucapnya kalem, kemudian menghilang di belokan koridor.
Sepeninggal Defron, anak- anak langsung pada heboh. Nyaris semuanya memuji- muji betapa kerennya cowok itu, termasuk Cleo dan teman- temannya. Anehnya Rheo juga ikut- ikutan muji padahal tau sendiri dia sebelnya kayak apa sama Defron. Apalagi semua mahluk yang bertitel perempuan, mujinya semangat ’45 banget! Beberapa anak kelas 3 yang kebetulan ada disitu bahkan ada yang terang- terangan ikut menyindir Revalia. Ada bagusnya juga Defron ‘ngelabrak’ nih cewek.
Murid- murid pun membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing- masing.
“Ih, kok kamu malah diem aja sih? Kenapa kamu nggak lawan?” Revalia menghampiri Rene yang masih diam. “Aku nggak terima diperlakukan kayak gini, tau nggak, Ren?”
“H-hei, hei, udahlah. Cuekin aja. Salah kamu juga sih, udah tau nggak kepilih, kenapa malah mikir yang enggak- enggak?”
“Loh?! Kok kamu malah jadi nyalahin aku sih?!"
“Aku nggak nyalahin, but I think he made the point too.” kilah Rene serius. Mata biru cowok bule itu mendadak berubah tajam. Secercah emosi nampak jelas terpancar dalam auranya. “Dan jujur aja, aku juga nggak suka kalau kamu menyangkutpautkan masalah aku sama Defron atas kekalahan kamu. This is my problem, not yours. Altough you are my girlfriend, but i know he won’t do that to us.”
“Tapi, Ren..,”
Rene mengangkat tangannya, menandakan bahwa ia tidak ingin dengar excuse apapun lagi. Akhirnya tanpa berpamitan atau berkata apapun, ia membalikan badannya untuk berlalu dari situ. Meninggalkan Revalia beserta sekawanannya yang bingung.
***
Sebelum pulang sekolah, Cleo menyempatkan diri untuk bertandang ke markas Defron (baca: ruang OSIS) seperti biasanya sekaligus untuk mengucapkan terima kasih akan terpilihnya Logi. Agak aneh juga mengingat yang kepilih sendiri malah ngacir pulang duluan, mau nganterin Nyokap ke dokter kulit, katanya. Karin dan Rheo juga udah pergi. Karin ngantuk, pengen cepet- cepet tidur. Sedangkan Rheo pergi ke PIM bareng Tian dan Ferdi untuk refreshing otak.
Seperti biasa Cleo menemukan cowok itu sedang menulis sesuatu di jurnalnya. Saat melihat Cleo diambang pintu, dia langsung menutup jurnal bersampul warna hitam itu dengan gerakan supercepat dan tersenyum.
“Hei, ada apaan?”
Cleo nyengir, kemudian beranjak masuk ruangan sambil pasang tampang malu- malu.
“Gini, Logi bilang ke aku supaya nyampein terima kasih dia ke kamu, soalnya kamu kan udah milih dia jadi kandidat pengganti kamu. Dia berterima kasih banget loh sama kamu, Def.” jawab Cleo, ngeles.
Agaknya nggak begitu berhasil, soalnya alis Defron kini naik sebelah. Pastinya bingung sekaligus curiga. Apalagi dari gelagat Cleo juga ketauan banget boongnya.
“Kenapa nitipnya ke lo?”
“Ng.. soalnya Logi nggak sempet kesini, dia udah ada janji mau nganter mamanya ke dokter kulit. Makanya nitip ke aku.”
Defron ber- O ria. Kepalanya mengangguk- angguk pelan dan enggan bertanya lebih lanjut. Walaupun begitu dia masih belum percaya seratus persen akan kata- kata Cleo.
Suasana menjadi hening. Defron kembali sibuk dengan buku jurnalnya, menulis beberapa kalimat disana. Gesturnya agak aneh, dia berusaha menutup tulisan itu dengan tangan, seperti tidak ingin dibaca oleh Cleo. Padahal Cleo niat baca aja nggak. Iya sih, agak penasaran juga, tapi kan nggak segitunya juga kali.
“Umm.. kalau aku boleh tau, apa sih alasan kamu dan anggota OSIS lain milih dia?” Cleo mengambil bangku di sebelah Defron dan duduk disana. Jantungnya terasa berdegup kencang saat Defron mengalihkan pandangan dari buku jurnal kemudian menatap Cleo lekat- lekat sambil memainkan pulpen.
“Visi dan misi temen Logi bagus,” Defron menjawab kalem. “Plus dia juga termasuk siswa berprestasi di HB. Jadi ya.. kita pikir dia cocok jadi ketua OSIS untuk tahun ini.”
Gantian Cleo yang ber- O ria. Ia sendiri mangakui bahwa yang dikatakan Defron ada benarnya juga. Logi emang cocok banget jadi seorang pemimpin. Mungkin kalau nggak ketemu Defron, bisa aja dari dulu dia udah ngegebet Logi. Bagi Cleo, cowok yang kalem itu lebih menenangkan banget dibanding cowok grasak- grusuk macam Rheo atau Rene. Auranya juga terasa beda.
Tiba- tiba saja Defron menutup jurnalnya lagi.
“Yuk, ah. Gue mau balik sekarang. Lo mau nginep disini?” tanyanya meledek seraya bengkit dari tempat duduknya. Ia mengambil ransel hitamnya kemudian memasukan buku jurnalnya disana.
“Ih ya nggaklah! Aku juga pulang kalo gitu.” Cleo ikut- ikutan bangun.
“Bawa mobil?”
“Nggak, naik taksi. Mobilku lagi masuk bengkel. Apanyaaa gitu yang mesti di service.” Cleo mendadak jadi sewot. Teringat akan nasib mobil Yarisnya yang nggak mau nyala tadi pagi. Untungnya Daddy berbaik hati untuk mengirimkan montir dari sebuah bengkel yang tak jauh dari rumah. Sayangnya tadi siang dia baru dapat kabar dari Daddy kalau mobilnya harus masuk bengkel karena keadaan mobilnya cukup buruk.
“Oh,” Defron merespon datar. “Mau gue anterin?”
Cleo sukses bengong. Tadi cowok itu bilang apa? Sepertinya tadi Cleo salah dengar.
“Halo? Kok malah bengong? Mau gue anterin nggak?” Defron mengibas- ngibaskan tangannya di depan muka Cleo yang masih speechless.
“Eh, sorry, sorry. Cuma aneh aja. Kostan kamu kan jauh dari rumah aku, Def. Emangnya nggak ngerepotin apa?”
“Nggak apa- apa.” Defron mengeluarkan pose favoritnya, kemudian menambahkan lagi.
“Lagian gue juga males ke kostan sekarang.”
Cleo tidak bisa menjawab apa- apa lagi selain mengangguk semangat. Ia mengekor Defron ke lapangan parkir tempat dimana mobilnya diparkir. Wajah Cleo memerah dan sedikit tersipu saat cowok ini membukakan pintu untuknya, such a gentleman.
“Rumah lo di daerah mana sih emang?” tanya Defron sesaat setelah mobil mereka sudah meluncur pelan keluar dari pelataran parkir SMA HB. Sebelah tangannya memasukan CD hasil burningannya seminggu yang lalu (Defron memang lebih suka meng- burn lagu- lagu favoritnya ke CD kosong daripada buang- buang duit cuma buat beli CD originalnya) ke dalam CD player mobilnya. Tidak lama terdengar alunan gitar lagu Stolen- nya Dashboard Confessional. Boleh juga selera Defron.
“Di Nature City, Cibubur. Tau kan?” jawab Cleo, menyebut nama kompleks perumahan elite tempat ia tinggal.
Defron mengulum senyum. Siapa sih yang nggak tau Nature City? Kompleks perumahan elite bergaya mediteranian itu memang terkenal banget di Jakarta. Konon kata Oom Dhirja—paman Defron yang kebetulan menjabat sebagai salah satu petinggi besar disitu—banyak artis- artis yang berdomisili di perumahan itu. Walaupun lokasinya agak bikin stress juga mengingat daerah Cibubur itu biangnya macet.
“Tau kok,” komentarnya lagi sambil membayar uang tol ke petugas. Defron memang memutuskan untuk lewat jalur tol saja karena di jam- jam segini jalan biasa menuju daerah Cibubur biasanya macet. Ada untungnya juga SMA HB cukup dekat dengan akses jalan tol. "Ngomong- ngomong, band lo nanti ikut tampil di Art Night gak?" tanya Defron lagi, kali ini menyebut nama event sekolah mereka yang diselenggarakan setiap tahun.
“Hmm iya, ikut. Kamu sendiri gimana? Ikut perform di acara itu nggak?”
“Gue? Dateng aja nggak kepikiran.” dia mendengus geli, membuat Cleo mau nggak mau menelengkan kepalanya, bingung.
“Perchè no? Bukannya murid- murid wajib dateng?”
“Ya, tapi tema tahun ini bikin gue enek. Mendingan gue di rumah aja nonton DVD.”
“Emang apa temanya?”
Defron terdiam sebentar. Mencoba mengingat- ingat apa yang dikatakan Restu, teman sekelasnya sesudah rapat tadi. “Midnight Prom. Dress codenya wajib pakai gaun buat cewek, dan tuxedo buat cowok.” jawabnya dengan nada suara yang ketara sekali tidak suka sekaligus jijik. Entah apa yang dipikirkan guru- guru saat merancang pesta ini.
Samar- samar Cleo teringat akan mimpinya beberapa tempo yang lalu. Ya, saat itu ia sedang berada di tengah- tengah pesta... Dirinya sedang memakai gaun, dan penampilan Defron saat itu juga terlihat rapi dan formal walaupun nggak pakai tuxedo. Atau jangan- jangan mimpinya bakalan jadi kenyataan?
Cleo geleng- geleng kepala. Ngaco aja sih ini pikiran?
“Kalau kamu nggak suka temanya, kenapa nggak diganti aja? Kamu kan ketua OSIS, pastinya bisa..—“
“OSIS nggak ikut campur dalam acara ini. Art Night ini murni urusan pihak guru dan dewan sekolah. Lagipula, dua bulan kedepan kan gue bukan ketua OSIS lagi.” belum sempat Cleo meneruskan kalimat, Defron sudah memotongnya sambil tersenyum miris. Mungkin agak sedih juga karena harus menanggalkan predikat ketuanya.
Cleo tersenyum lembut, kemudian menyentuh lengan Defron perlahan. “Tapi kalau aku pikir sih, lebih baik kamu dateng aja. Well, its your last Art Night, anyway.”
Defron mendengus. “Ya, itu artinya gue ngerasain Prom dua kali.” katanya, skeptis.
Cleo tergelak. Lucu juga Defron kalau lagi ngambek kayak gini. Mukanya yang lagi bersungut- sungut persis banget seperti anak kecil.
***
“Belok ke kiri, terus kiri lagi, nah rumahku di depannya ada mobil silver itu.” kata Cleo menginstruksikan sang supir alias Defron kemudian mengerutkan alis begitu melihat sosok charming Enrico yang baru turun dari New Honda Civic milik Daddy sambil menggendong Paula. Lho- lho, kok ada Daddy dan Mama juga? Abis darimana mereka? Kok Daddy tumbenan udah pulang kerja sore- sore begini?
Entah kenapa Cleo merasakan firasat nggak enak. Ngebayangin tampang jail Rico saat tahu sang objek curhat adiknya muncul didepannya otomatis membuat Cleo bergidik sendiri. Bisa bahaya kalau Rico sampai ngember yang nggak- nggak di depan Defron! Belum lagi ngebayangin reaksi kedua orang tuanya.
Daddy, Mama, dan Rico menatap mobil Jazz Defron heran saat mobil itu berhenti tepat dibelakang mobil Daddy.
Cleo berkali- kali menelan ludahnya. Mati- mati- mati....
“Thanks ya, udah nganterin aku pulang. Mau turun dulu nggak, Def?”
“Emm.. boleh deh, lagian itu Bokap- Nyokap lo kan? Nggak sopan kalo gue langsung pergi gitu aja.”
Lagi- lagi Cleo merasa terharu. Ya ampun, cowok ini... udah gentleman, sopan banget lagi!
Cleo dan Defron pun turun dari mobil. Defron masih terlihat tenang. Namun Cleo nggak jelas tampangnya seperti apa. Yang jelas dia berkali- kali meringis seperti menahan sakit perut.
“Lho? Cleo? Kamu baru pulang?” Mama yang pertama kali bersuara. Ekspresi kagetnya langsung berubah menjadi ekspresi penuh arti saat melihat Defron. Beliau menyikut Daddy pelan lalu tersenyum ramah. “Oh. Ada temen Cleo rupanya. Mari mari, masuk dulu.”
Defron tersenyum tak kalah ramah, kemudian mengangguk pelan. “Terima kasih, Tante. Tapi saya harus..,”
“Ayolah, masuk dulu. Istirahat dulu. Pasti capek kan nyetir dari sekolah kesini? Kan lumayan jauh, belum macetnya.” Mama menyela. Dengan sok akrab malah menarik Defron untuk masuk ke ruang tamu. Daddy ikut- ikutan mempersilakan Defron untuk duduk di sofa.
Defron bengong saja, tapi baiknya dia masih menurut.
Di belakang Defron, Cleo memukul keningnya pelan. Nah, bener kan?
Pluk! Cleo merasa sebuah tangan menyentuh ujung kepalanya perlahan. Ternyata Enrico. Cowok itu tersenyum meledek kepadanya. “Itu yang namanya Defron, Cle? Ciee.. abis dianterin pulang ya? Boleh juga tuh cowok lo, Cle. Mama sama Daddy kayaknya langsung setuju.” katanya, sotoy.
Cleo memutar bola matanya, lalu menyingkirkan tangan besar Rico dari kepalanya. “Shut up, Ric!”
Rico hanya tertawa, kemudian menyerahkan Paula ke gendongan kakak perempuannya, pegel juga daritadi ngegendong Paula yang badannya cukup gemuk buat ukuran bayi. Cleo mengekor. Dan nyaris mau pingsan melihatnya.
“Namamu siapa, Nak?” tanya Daddy, sedikit ada nada menyelidik dalam suaranya. Beliau duduk persis di sebelah Defron. Sementara Mama juga duduk di sisi lain sebelah Defron. Dengan kata lain Defron kini diapit oleh orang tua Cleo.
“Defron, Oom, Tante. Saya temen Cleo di sekolah.”
“Oh..Classmate?” selidik Daddy lagi.
“Bukan, Oom. Saya udah kelas 12.” Defron menjawab canggung. Namun masih berusaha untuk bersikap ramah terhadap kedua orang tua ini.
“Defron itu ketua OSIS di sekolah aku, Ma, Dad.” tambah Cleo, membuat mata Mama dan Daddy berbinar- binar bangga menatap cowok ini. Defron makin mengkeret. Aduh, ini kok kayak lagi ketemu calon mertua aja sih?
Rico yang udah nggak tahan lagi mau ngakak segera pamit dari situ dan berlari ke kamarnya di lantai atas. Cleo melototi kepergiannya. Dasar kakak nggak berperasaan! Bukannya bantuin atau apa kek.. ini malah ngabur segala! Awas aja mahluk satu itu nanti.
“Berarti sebentar lagi mau lulus dong. Mau kuliah dimana?” kali ini Mama yang bertanya. Cleo nyaris terjungkal kebelakang saat melihat Mamanya yang sekarang mengacak- acak rambut Defron sok akrab. Apa- apaan nih Mama? Anaknya aja belum berani kayak gitu, eh ini malah Mamanya yang genit! “Nak Defron ganteng ya!”
Defron bengong lagi sebelum akhirnya menjawab. “Ke UI, insya Allah, Tante. Ambil fakultas kedokteran.”
Mata Mama dan Daddy berbinar- binar lagi. Dalam hati mikir keren juga anaknya bisa deket sama cowok macam Defron. Udah ketua OSIS, ganteng, calon dokter pula. Siapa sih yang nggak mau punya menantu kayak gini?
Beberapa saat kemudian, Bi Ijah masuk sambil membawa segelas sirup dingin di baki kecil. Setelah menaruhnya di meja, Bi Ijah pun pamit pergi ke belakang. Bibi berumur empat puluh tahun ini sempet- sempetnya ngelirik Cleo dan tersenyum penuh arti kepadanya. Seneng juga ngeliat tamu Non- nya selain Rheo, Karin, dan Logi. Cakep lagi.
“Diminum dulu, Defron.” Daddy mengulurkan gelas kaca itu ke arah Defron yang menerimanya dengan gestur kikuk. “Omong- omong, rumah kamu dimana?”
Defron terdiam sejenak. Air mukanya nampak mengeras sebelum menjawab pertanyaan Daddy. Secara tidak langsung pertanyaan itu pastinya menyentil masalah pribadi Defron dan keluarganya. “Di.. Bintaro, Oom.”
Cleo memejamkan mata, merasa tidak tahan akan perbincangan ini lagi. Cleo tahu persis Defron tidak menyebut alamat rumah aslinya karena setahu Cleo, Bintaro adalah alamat tempat kost cowok itu. Oh God, please.. Stop it.. Kalian bisa bikin dia keingetan sama masalahnya, Ma, Dad.. I cant stand it anymore.
“Ma, Dad, kayaknya Defron udah capek deh. Biarin dia pulang ya? Kan rumahnya jauh dari sini. Kasian.” Cleo menyela diantara mereka. Sekilas ia dapat melihat mulut Defron mengucapkan ‘thank you’ tanpa suara.
Mama dan Daddy tersenyum maklum. Agak malu karena tadi sikap mereka terlalu berlebihan dalam menyambut tamu. ”Oh iya, ya. Maafkan kami, Nak Defron. Tapi apa baiknya Nak Defron ikut makan dulu sama kami? Siapa tahu buat menghimpun tenaga..,”
“Mama,” Cleo menyela lagi sambil tersenyum aneh untuk mengingatkan mamanya.
“Oh oke, oke. Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya, Defron. Udah mau capek- capek nganter anak Tante.” Mama tersenyum manis banget. Tangannya masih sok akrab mengelus- elus pundak cowok itu. Ya ampun.
Defron bangkit dari sofa. Dia mengangguk perlahan. “Nggak masalah, Tante, Oom.”
Mama dan Daddy akhirnya berlalu ke atas. Sedangkan Cleo mengantar Defron kembali ke mobilnya masih sambil menggendong Paula.
“Maafin orang tua aku ya. Mereka emang agak.. uhmm.. berlebihan kalau nyambut tamu. Are you okay?” Cleo berkata lirih. Ia merasa sangat bersalah sekali pada Defron. Apalagi tampang cowok itu terlihat sedikit pucat sekarang.
Untungnya Defron tertawa hambar. Setidaknya Cleo tahu bahwa cowok itu tidak marah. “No problem. You have.. interesting family.” jawabnya seraya nyengir maksa. Kemudian pandangan matanya tertumbuk pada Paula. “Adek lo?”
“Iya, namanya Paula. Hey, Paula, say hello to uncle Defron!” Cleo melambaikan tangan kecil Paula ke arah Defron. Paula tertawa- tawa senang, membuat kedua remaja ini juga ikutan tertawa saking lucunya. Tangan Paula menggapai- gapai ke arah Defron. Cleo mengerutkan keningnya. “Hmm tumbenan dia mau digendong sama orang baru. Waktu digendong sama Rheo dan Karin aja nangis. Kamu mau gendong dia?”
“Boleh,” Defron mengangguk lalu menerima bayi berparas bule itu. Hebat sekali karena gestrunya sama sekali tidak terlihat kikuk seperti Enrico kemarin. Defron nampak sudah mahir padahal setahu Cleo dia anak tunggal dan sama sekali nggak punya adik. “Mirip sama lo. Berapa bulan dia?”
“7 bulan.” Cleo tersenyum lebaaaar banget. Bangga juga rasanya melihat adik kecilnya kini digendong oleh Defron. Kesannya kan kayak udah deket banget.
“Dia.. lucu.” kata Defron lagi ketika wajahnya dipengang oleh Paula yang masih tertawa- tawa. Ia tak tahan untuk mencubit pipi Paula yang bakpau itu. Paula tertawa lagi, sedangkan Cleo cuma bisa memandang iri. Diem- diem pengen juga dicubit pipinya. Hehehe.
Setelah mencium pipi Paula, Defron menyerahkan kembali bayi itu ke kakaknya. Dia tersenyum hangat. “Gue boleh kesini lagi kan?”
Cleo ternganga. “Tentu aja boleh.”
Akhirnya Defron pun berlalu. Cleo memasuki rumah sambil melonjak- lonjak gembira. Defron mau kesini lagi! Defron mau kesini lagi! Yes!