"raffa! berhenti kamu!"
langkah cowok itu terhenti ketika mendengar suara cempreng yang menyerukan namanya.
hentakkan sepatu terdengar semakin mendekat ke arah cowok itu. Dan dia hanya bisa pasrah dan berbalik
benar dugaannya kalau yang memanggil namanya adalah guru killer yang tak lain adalah Bu Inul
"aw aw aw!" Raffa memekik ketika Bu Inul menarik telinga kanan Raffa secara tiba-tiba dan menariknya hingga ke ruang guru
"aduh bu! lepasin dong! sakit tau" rutuk Raffa sambil mengusap telinga kanannya yang terasa perih itu
Bu Inul berkacak pinggang sambil menatap tajam ke arah Raffa "bagus kamu ya! telat aja terus sampe sukses! udah berapa kali saya negur kamu?"
"udah 17 kali bu" jawab Raffa polos
brak!
"Saya gak suruh kamu jawab!" Bu Inul menggebrak meja membuat bahu Raffa naik karna kaget
"tadi kan ibu nanya, ya sebagai siswa yang baik saya harus jawab dong emangnya ibu mau saya kacangin? kacang sekarang mahal loh bu dua belas rebu per ki-"ucap Raffa tidak mau kalah
brak!
gebrakkan meja terdengar kembali membuat Raffa akhirnya diam dan melihat Bu Inul yang bahunya sudah naik turun menahan emosi
"udahlah! sekarang kamu berdiri di lapangan sampe jam istirahat"
Raffa hanya mengangguk enteng dan segera pergi ke lapangan. Baginya ini adalah hal yang biasa karna memang sudah sangat sering terjadi
Terik matahari yang panas sama sekali tidak berpengaruh bagi kondisi fisik Raffa. Hanya saja keringat sudah mulai membanjiri pelipis,leher dan juga punggungnya
merasa bosan dengan pemandangan tiang, Raffa pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling
lalu matanya terpaku ke arah gerbang sekolah. Disana terlihat ada seorang gadis yang sedang berusaha memanjat pagar sambil celingukan
gadis itu mulai mengaitkan kakinya pada pagar dan memanjat naik. kebetulan sekali satpam yang bertugas sedang tidak ada jadi gadis itu masih aman
gadis itu sekarang mulai menuruni pagar tapi nyatanya kakinya salah menginjak membuat dia terpeleset dan
"AAAAAA"
yap, gadis itu jatuh tepat diatas tanah yang lembut tapi menyakitkan
"bodoh" gumam Raffa sambil terkekeh pelan melihat gadis itu sedang merintih kesakitan sambil memegang lututnya
karna terus terusan meringis akhirnya Raffa memutuskan untuk menghampiri gadis itu
Raffa menyodorkan tangannya kehadapan gadis itu membuat gadis itu mendongak ke arahnya
Raffa sedikit kaget karna ternyata gadis bodoh si pemanjat pagar itu adalah Airina. Tapi ia menutupi rasa kagetnya dengan wajah dinginnya
Airina menatap Raffa sebentar lalu meraih tangan Raffa untuk membantunya berdiri
"thanks" ucap Airina sambil membersihkan rok nya yang kotor serta telapak tangan dan kakinya
"eh lutut lo berdarah" Raffa menunjuk lutut Airina yang terluka dan ada cairan merah disekelilingnya
"ke UKS yuk, gue anterin" tawar Raffa
Airina mengangkat sebelah alisnya dan menatap Raffa sinis "males banget gue, ntar lo ngerjain gue lagi" dengusnya
Raffa memutar bola matanya "emang ada niat gue buat ngerjain lo sih, tapi gak di saat ini. Lagian gue bakal ngerjain lo dengan apa di uks?"
"bisa aja lu netesin luka gue pake insto dan lu malah netesin mata gue pake betadine" Jawab Airina menbuat Raffa memutar matanya seakan itu adalah jawaban paling bodoh
"udah deh ayo buruan, keburu infeksi" tanpa aba aba Raffa menarik tangan Airina menuju UKS. Airina sendiri hanya bisa diam dan mengikuti
sesampainya di UKS, Raffa langsung mendudukkan Airina di sisi ranjang kemudian ia beralih ke laci untuk mengambil kotak P3K
Raffa mengambil betadine, kapas dan juga alkohol. Setelah itu ia menarik kursi ke arah Airina dan mulai membersihkan luka di lutut Airina
Airina sendiri sedikit tak percaya dengan pemandangan di hadapannya ini. Seorang Raffa, cowok bandel si sekolahnya tengah mengomati luka dengan lihainya
ini adalah pemandangan yang sangat langka
"emangnya ngapain sih lo sampe manjat-manjat pagar segala?" tanya Raffa tapi pandangannya masih fokus pada lutut Airina
"gue telat tadi. pas gue nyampe, gerbang nya udah dikunci. mumpung yang jaga gak ada ya gue milih manjat aja" jawab Airina
"ya elah, telat ya telat aja kali. Sampe manjat pagar segala. Lagian hukumannya paling kalau enggak bersihin toilet ya berdiri di lapangan" Jawab Raffa ringan
"tapi kan sebagai anak baru gue jangan sampe menjatuhkan harga diri gue dengan kena hukuman guru dong"
Raffa tertawa kecil mendengar ucapan Airina. "gak usah kena hukuman, gak bayar goceng aja udah termasuk menjatuhkan harga diri lo"
canda Raffa sambil mengungkit kejadian beberapa tempo hari lalu. Hari pertama mereka bertemu dan hari pertama masalah itu datang
Airina tersenyum ringan "soal yang itu sih gampang. buktinya gue bayarin pesenan lo sama temen-temen lo yang banyaknya warbasyah itu kan"
Raffa mendongakkan kepalanya menghadap Airina sambil tertawa. "dan jangan lupa gue ninggalin lo sendiri di resto" Airina kembali menyunggingkan senyumnya
"ternyata selain cantik, lo lucu juga ya. Walaupun agak rese dan nyolot sih" kalimat Raffa tanpa sengaja membuat Airina tersipu malu dan terdapat rona merah di wajahnya
setelah selesai mengobati luka Airina, Raffa meniup lutut Airina lalu membalutnya dengan kapas dan plester
"nah udah selesai" ucap Raffa
"makasih ya Raf" Airina berterima kasih kepada Raffa dan dibalas dengan anggukan tanda terima-kasih-kembali
tiba tiba pintu UKS terbuka menampakkan sosok Bu Inul disana dengan tatapan geram
"bagus ya kamu Raffa! Sudah ibu bilang berdiri di lapangan malah mesra-mesraan disini!" Bu Inul langsung menumpahkan emosinya pada laki-laki di hadapannya itu
"aduh si ibu ini. Gak liat apa? Ni si Erina lagi sakit loh bu, untung-untung saya bantuin dia kalau enggak udah mati di tempat kali bu"
Airina menampar kecil lengan Raffa karna kalimat terakhirnya yang gak enak banget didenger soalnya menyangkut dengan kematian
"emangnya Erina kenapa?" tanya Bu Inul sambil memperhatikan Airina
"lututnya lagi luka gini masa ibu gak ngeliat?" Tanya Raffa sambil mengangkat-ngangkat kaki Airina sebagai bukti nyata
"oh gitu ya, yaudah deh kalau udah beres kamu lanjutin hukuman kamu ya Raf dan Erina kamu kembali ke kelas"
Raffa dan Airina sama-sama mengangguk mendengar ucapan Bu Inul. Setelah itu Bu Inil melongos pergi untuk kembali piket
"somplak amat tu guru emang" sinis Raffa yang membuat Airina tertawa
"oh iya Rin,soal hukuman lo nanti istirahat temuin gue di kantin ya?" raut wajah Airina langsung berubah. Ia melengkungkan bibirnya
"masih ada hukuman? gue kira lo udah berubah pikiran" terdengar nada kecewa dalam kalimat Airina
"ya masih lah, gue gak mungkin ninggalin lo tanpa pelajaran atas perbuatan lo yang telah membuat badan gue apes sama kuah bakso" dengus Raffa
Airina hanya bisa mendengus sebal
"gue tunggu di kantin" setelah mengucapkan kalimat itu, Raffa berdiri dari duduknya dan pergi kembali ke lapangan untuk melanjutkan hukumannya
Airina sendiri berniat untuk kembali ke kelas. Sukur-sukur dia dibawa ke UKS jadi dia gak ikut kena hukuman sama Bu Inul
. . .
yay ku sudah update part 7 semoga suka yaww! eh masa teenfic pertama gue yang sangadh ancur bak kapal retak itu sudah 4K readers
0_0
YAYYY KU SENANG LOH ya walaupun bener bener aneh ceritanya tapi seru loh gais. Baca ya! buka aja dari profile gue
judulnya reminder
yew malah promosi
jangan lupa vote dan comment ya!
"bikaus your setar en komens is so miningful to me"
-aku-