Sean masih menahan Kevin yang terkunci itu, "cepat berikan semua persediaan kalian." Perintah Sean.
Axyra mulai membuka tasnya, namun Pandora menahannya, "jangan, kita bisa melawan mereka." Lalu Pandora menatap orang yang bernama Sean, "ehm begini, kalian hanya berlima sedangkan kami sebenarnya berenam namun salah satu teman kami diculik-"
"Lalu? Aku gak peduli jumlah anggota kalian. Yang kubutuhkan hanya persediaan kalian," Sean menguatkan kunciannya pada Kevin, "cepat berikan, atau temanmu ini akan mati karena patah tulang yang mengerikan."
"Percuma jika aku memberikan persediaanku pada kalian, ingat, Mindless ada banyak sedangkan kalian berlima, ayolah gamungkin kalian menang begitu saja." Pandora berusaha meyakinkan Sean, namun wajah Sean tak menandakan ia setuju melainkan masih angkuh.
"Kau meremehkanku, nona. Aku. Adalah. Atlit. Bela diri." Ujar Sean sambil menunjuk dirinya dengan penuh kesombongan.
"Oh begitu," Pandora menyilangkan tangannya di dadanya, "kalau begitu, apakah anggota mu juga sama kuatnya?" Teman teman Sean menunduk ke bawah sedangkan Sean nampak marah.
"Dasar! Kau hanya bisa ngomong kosong, cepat berikan persediaan kalian lalu aku pergi, apa susahnya?"
"Hahahaha, kau pikir kami bakal takut padamu? Tidak. Patahkan saja tulang Kevin, kami tak peduli." Ophellia menyeringai dan membuat dirinya terlihat menyeramkan.
Sean menggerutu kesal, akhirnya ia melepaskan Kevin, "ayo, bertengkar denganku."
"Aku gak ingin bertengkar dengan pengecut sepertimu," balas Ophellia, "lagipula, cowok gabakal mau berantem sama cewek kecuali ia takut."
"Sialaan!!!" Sean mulai menyerang Ophellia, namun Ophellia menghindar. Ophellia menendang perut Sean dengan lututnya. Sean meringis kesakitan karena itu.
"Kalau kau atlit Judo, aku mantan atlit karate." Ujar Ophellia.
"Haha, lumayan juga." Sean mengelap sedikit darah yang keluar dari mulutnya, "tapi itu belum seberapa dengan kekuatanku."
Sean memeluk pinggang Ophellia kemudian mendorongnya ke tanah sampai jatuh. Sean mengunci tubuh Ophellia. Pandora mulai beraksi, ia mengambil pistol dan mengarahkannya ke kepala belakang Sean, "lepaskan dia, atau kubunuh."
Seorang anak buah Sean juga mengarahkan pistol ke arah Pandora, "jatuhkan senjatamu atau aku juga akan menembakmu, nona."
"Sialan!!" Pandora menarik senjatanya dan bersumpah serapah, "kalian hanya berlima, dan kalian ingin merampas persediaan kami, silahkan ambil saja kalau kalian mau."
"Pandora!!!" Danial mencengkram bahunya, "ini satu satunya harapan kita! Jangan bersikap bodoh."
"Ini semua agar Ophellia dan Kevin selamat." Pandora mengambil tas nya lalu ia berjalan ke arah Sean, ia menaruh tasnya itu juga dengan senjatanya, "ini yang kalian inginkan, lepaskan temanku."
Sean melepas kunciannya pada Ophellia lalu mengambil tas itu dan melirik isinya, "hahaha! Hey, kalian cepat ambil tas tas mereka juga!"
"Tunggu Sean," Pandora menyilangkan tangannya, "dengan persediaan begitu, apakah kau yakin akan mudah membunuh ribuan Mindless?"
Sean menggeram, "tentu!! Aku ini adalah atlit bela diri! Tak mungkin aku gagal."
"Pernah dengar cerita gajah diserang ribuan semut? Gajah itu sangat kuat namun bisa kalah dengan ribuan semut."
"Kau meremehkanku!"
Pandora mengangkat tangannya ke depan, "rileks bung, aku tak meremehkanmu. Cuma mengingatkan mu saja."
Sean tampak berpikir sebentar, dan saat itulah Pandora merasa lega telah meyakinkan Sean, "sebenarnya apa maksudmu itu dari awal?" Sean mulai meletakkan tas Pandora di tanah.
"Maksudku adalah ... aku mau kau bekerja sama denganku sampai ke gedung itu." Mendengar perkataan Pandora, Sean mulai mengerutkan keningnya.
"Tidak-"
"Ini kesempatan bagus untukmu, kita bekerja sama dan semua akan beres. Apa sulitnya?" Pandora mengambil lagi tas nya itu, "bagaimana Sean? Kau mau tidak?"
Sean menyeringai, "ada satu hal yang harus kau ketahui, nona. Aku tak suka bernegoisasi, cuman hebatnya kau berhasil meyakinkanku. Alasannya adalah pertama kau pandai bicara dan kedua ... kau cantik."
Pandora mengepalkan tangannya, "apa maksudmu?"
"Woah, kau juga rileks dong." Sean mendekati Pandora, "seharusnya kau senang karena aku mau bekerja sama denganmu."
"Ya bagus deh." Pandora membantu Ophellia berdiri, "jadi kita bekerja sama sekarang?"
Sean mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Pandora, "oh ya, kau tahu namaku tapi aku tak tahu namamu."
Pandora melepas tangannya, "Pandora."
"Pandora, namamu aneh banget deh sumpah," ujar Sean, "yah, cuman yang namanya Pandora cuman kamu doang deh."
"Bodo."
"Uhm hey," Axyra mulai bicara, "apakah kompas kalian rusak?"
"Tidak juga," ujar salah satu anak buah Sean, "kompasnya berfungsi dengan baik."
"Yah. Cuma kami yang rusak kompasnya." Danial menghela nafas panjang. Akhirnya mereka berjalan menuju timur.
Di perjalanan, Kevin menghampiri Pandora, "hey, bagaimana caranya meyakinkan mereka?"
"Ia hanya butuh diingatkan saja." Ujar Pandora.
Kevin mengangguk, "kau itu pintar meyakinkan orang."
"Tidak, aku tak bisa meyakinkan orang sepenuhnya." Akhirnya Pandora dan Kevin berjalan dalam diam.
***
Sekarang mereka sedang beristirahat, persediaan semakin menipis maka itu ada yang berhemat. Pandora tak memakan apapun, ia hanya minum seteguk air saja.
Sekarang, tak ada kemunculan Mindless. Tapi mungkin saja mereka datang tanpa diprediksi kan?
"Axyra, aku ingin kebelakang sana." Ujar Pandora dengan Axyra sambil berdiri.
"Mau kemana?"
"Buang air kecil." Pandora berjalan menjauhi kerumunan. Lumayan jauh agar tak ada yang melihatnya buang air.
Setelah menyelesaikan urusannya, ia berjalan kembali ke grupnya, namun ia melihat seseorang sedang duduk dan bersender di pohon. Lumayan jauh dari tempatnya buang air tadi.
Siapa dia? Apakah dia Mindless?, pikir Pandora.
Pandora tak bisa melihat wajahnya karena orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya. Pandora mendekati orang itu walau mungkin resiko nya sangat besar. Sekarang ia tak membawa satupun senjata untuk berjaga jaga.
Sekarang Pandora tepat berada di depan orang asing itu. Orang itu nampak familiar, bahkan Pandora merasa ia sangat mengenal orang itu. Lagi lagi jantungnya berdegup kencang.
Zach?? Tangan Pandora mulai mendekati orang itu. Ia ingin menyentuhnya bahkan memeluknya.
Zachary??? Itukah kau?
"Zach?" Pandora mulai berani bicara namun pelan, "Zach? Itukah kau? Zach, hey, jawab aku."
Orang itu membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Pandora tercengang melihat orang itu, jantung berdegup lagi, itu benar benar dia.
Itu benar benar Zachary.
Pandora sedikit ragu untuk memeluk Zachary, namun itu benar benar Zachary! Zachary yang Pandora kenal. Tatapannya tidak kosong, normal. Zachary belum menjadi Mindless.
Ia tersenyum, tangannya mulai terangkat dan mengacak rambut Pandora, "hai, lama tak berjumpa."
Pandora langsung memeluk Zachary, Zachary pun juga balas memeluknya. Air mata mulai mengalir di pipi Pandora. Akhirnya ia bertemu lagi dengan Zach. Bertemu lagi dengan sahabat terbaiknya itu, "kemana ... saja?" Suaranya terputus putus karena isakan tangisnya
Zachary mengelus rambut Pandora, "kau bau seperti sampah." Ujar Zachary.
"Kau ... kemana ... saja?"
"Rambutmu juga lepek," ujar Zachary, "kau betul betul seperti gelandangan, Pand." Zachary menarik dirinya dari pelukan Pandora, lalu ia tersenyum dengan senyuman khasnya.
"Kau ... kemana saja?" Pandora mengelap air matanya sambil menatap Zachary.
"Aku ... tak tahu," tatapan Zachary mulai berubah menjadi ketakutan, "mereka ... membawa ku saat tertidur."
"Siapa?!" Bentak Pandora, "apakah orang orang yang mengurusi kita saat di sana?"
Zachary mengangguk, "mereka memukulku, bahkan membentak diriku tak habis habisnya, kau sendiri bagaimana?"
"Aku bahkan jauh lebih baik daripada dirimu, atau mungkin tidak," Pandora duduk di samping Zachary, kepalanya bersender di bahu lelaki itu, "aku bahkan harus melihat teman temanku mati. Bahkan, ada banyak sekali peristiwa yang tak masuk akal."
"Aku tahu kau wanita yang kuat," ujar Zachary, "kau tak mungkin mati semudah itu bukan."
Pandora hanya diam, ia memejamkan matanya. Tangannya saling bertautan dengan tangan Zachary, oh betapa ia rindu sahabatnya ini.
"Aku sayang padamu." Ujar Pandora. Namun Zachary hanya diam saja.
Mungkin sudah beberapa menit mereka duduk, Zachary akhirnya bangkit, "sampai di sini ya."
"Kau mau kemana?" Tanya Pandora.
"Kembali ke mereka," balas Zachary, "kalau tidak, kau mungkin tak akan melihatku lagi."
"Ikutlah bersamaku, Zach ...." pinta Pandora. Namun Zachary hanya menggelengkan kepalanya.
"Jaga dirimu baik baik." Ujar Zachary, ia mulai berjalan ke semak semak tinggi sehingga sosoknya menghilang tertelan semak itu.
Pandora menyibak semak itu, namun Zachary tak ada lagi.
---0000----
Uhuhuhu, akhirnya mereka berpisah lagi :""(( kenapa sih Zach lo pergi!!! Pandora udah kangen mati matian sama lo dan lo pergi gitu aja?? Kecewa aku!!
Pandora nya juga kenapa sih enggak langsung bawa Zachary ketemen temennya. Zachary juga ngilangnya misterius banget sih ! Argh...
Reader: kan elu yang nulis ceritanya ...
Lupakan yang tadi, jadi aku mau curhat.... jadi, aku bakal pisah sma sama seseorang... sedih gak sih kalian? Kalian harus berpisah dengan seseorang yang kalian sayang hanya karena beda sma dan lokasi sma kalian dengan orang itu jauh banget!
Yang saya takutin, saya dengan dia lost contact :""( jadi Chapter ini pas banget sama apa yang aku rasaain sekarang huhuhuhuhu :""""""""""""(
Sampai sini dulu ya curcol kita, sampai ketemu di eps selanjutnya, bye bye!
-book serum yang lagi galau.