Dont forget to leave your vote/comments/advice/compliment/unsatisfy. I'll appreciate it.
Happy reading and enjoy :)
***
Delancy sempat tercengang seketika, begitu sosok Calum Hood memeluknya dengan sedikit usapan lembut di punggungnya.
Detik selanjutnya, Calum melepas pelukannya. Dan dihadiahkanlah senyum manisnya teruntuk Delancy Leroy.
Dan lagi-lagi, Delancy tercengang. Kenapa laki-laki ini harus membuatnya melongo begini, sih?
Calum mendekatkan bibirnya ke arah telinga Delancy. Dan sebuah bisikan yang menggemparkan pun terdengar samar namun pasti. "Dibelakangmu banyak wartawan."
Delancy sempat mau menolehkan kepalanya, namun Calum menahannya. Tiba-tiba saja Delancy dapat merasakan bibir hangat yang basah, menempel di bibirnya.
Hanya sejenak.
Sangat singkat.
Namun cukup besar membuat wajah gadis berparas rupawan ini kehilangan akal. Salah-tingkah.
Dengan lembut tapi tegas, Calum menarik pergelangan Delancy dengan segera membawanya pergi. Sinar flash dari kamera para wartawan lainnya, sudah menunggu di luar bandara. Ya, saking banyaknya wartawan di dalam tadi, sampai-sampai sebagian wartawan lainnya menunggu di luar. Juga, tidak sedikit fans yang ikut antusias di luar sana.
Mobil hitam mengkilap sudah menunggu juga di sebrang. Dengan segenap kekuatannya, Calum menggiring gadis dalam genggaman tangannya, memasuki mobil tersebut. Tak perduli berpasang-pasang mata dan bermulut-mulut bibir yang meneriaki mereka. Kata-kata kasar pun keluar untuk ditujukan pada Delancy, dari fans yang tidak menyukainya. Untunglah, Calum tidak datang sendiri. Para bodyguard ikut membantu.
"Delancy, you just want public fucking attention! Get off of my boy!"
Salah satu lontaran sarkastis itu hanya ia respon dengan delikan masa bodoh. Ia masuk ke lebih dulu ke dalam mobil, sedangkan Calum menjaganya di belakang.
"Apa yang kau lakukan?" Pertanyaan Calum terkesan menyentak, padahal baru saja ia bersikap manis. Oh, atau Calum sudah mulai memahami bagaimana drama itu seharusnya berjalan?
Delancy tak menjawab. Hanya menatap sinis. Seolah-olah, ia lupa kalau beberapa menit yang lalu, ia baru saja dibuat baper oleh seorang bassist bernama Calum Hood.
"Kenapa kau diam disana selama berjam-jam dan membiarkan para wartawan itu membuat gosip lain tentangku, huh?" Walau kini Calum tak menyentak, tapi terdengar jelas kalau nada ini mengisyaratkan kalau ia merasa keki. "Kalau kau mau pergi, kenapa kau tidak pergi?"
Mati. Apa yang akan kau jawab Delancy? Bukankah kau hanya pura-pura mau pergi dan semua ini hanyalah sebuah drama semata, bukan?
"Kau hanya mau cari perhatianku 'kan?" Terka Calum namun ia bermaksud kalau terkaannya yakin benar.
Delancy menggeleng cepat. "Tidak. Tentu saja tidak." Tanpa ia sadari, pipinya memanas dan berubah kemerahan.
"Jangan bohong." Ujar Calum seraya menyenderkan dirinya dan menaruh kedua tangannya di belakang kepala. Matanya ikut ia pejamkan. "Aku tahu kau sengaja ingin ku kejar, iya 'kan?"
Geplak.
Ia memukul keras pundak Calum. Lelaki yang jadi korban, spontan mengaduh dan menbelalak. Walaupun perempuan yang berpenampilan manja, pukulan Delancy cukup menyakitkan. Karena ia pernam mengikuti olahraga muangthai.
"Tidak perlu percaya diri begitu!"
"Sakit, duh!"
"Hei, Calm," tekan Delancy, namun disela oleh Calum. "Namaku Calum, princess."
"Oke, listen, Calum." Ia berhenti sejenak. "I don't really care with your fucking attention."
"Then?" Ia menaikkan sebelah alis tebalnya. Buat Delancy makin geram saja.
Gadis ini menyipitkan matanya, dan jari lentiknya ikut bermain seiring dengan perkataannya."Aku sedang menunggu jam penerbanganku, tapi ternyata aku ketiduran dan ketinggalan pesawat. Jadi aku sama sekali tak menunggumu ataupun mengharapkan kau untuk mengejarku."
"Hei, jangan tidak sopan!" Bentak Calum, menepis jemari letik Delancy yang mulai menunjuk-nunjuknya. "Terserah apa katamu, tapi kau tidak boleh pergi seenaknya."
"Tapi kalian mengusirku!"
"Oh, kami bebas melakukan apapun. We're punkrocks." Bela Calum dengan santainya.
"Maka dari itu kau bebas memeluk dan menciumku, huh?"
Skak mat. Sebenarnya ini bukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena alasan Calum melakukan adegan tadi ialah karena para wartawan. Namun, kata memeluk dan menciumku itu membuatnya dag-dig-dug. Llaki itu termangu selama beberapa detik.
"Kau tidak boleh bertingkah manis lalu membentak seperti ini padaku. Kau pikir aku ini apa!"
"Aku tidak bertingkah manis." Calum menatap mata gadis marah itu lekat-lekat. Seolah-olah, ia ingin memperlihatkan semua yang ada dalam matanya.
"Wartawan itu."
"Apa?" Sebelah alisnya yang menaik menandakan bahwa ia kurang paham. Atau ia paham, tapi tidak mau membenarkan pemahamannya. Karena itu cukup menyakitkan.
"Itulah alasanku melakukannya. Ini tidak berarti apa-apa. Kau hanya perlu melupakannya dan anggaplah aku tak pernah melakukannya." Setelah itu, ia menghadap ke depan dan menghela napas. Membiarkan Delancy dirundung andilau. Ia sedikit mengharapkan jawaban yang lain. seperti misalnya, your lips looks good. Dan bukan jawaban, its all mean nothing.
Jadilah, suasana hening sepi bagaikan di pemakaman. Baik Calum ataupun Delancy, keduanya sama-sama merasa canggung.
***
(Delancy POV)
Sesampainya di neraka, the fucking Calum Hood memimpin. Sebenarnya bukan memimpin, melainkan membiarkanku berada jauh dibelakangnya. Seolah ia tak memperdulikan keberadaanku. Mendapat perlakuan begini, aku mendengus sebal dengan tatapan
Awas kau brengsek.
"Whoa--Tuan Putri kembali rupanya." Goda Mikey yang rambutnya kini tengah berubah menjadi hijau. The hell, kenapa rambutnya terlihat seperti kembang gula?
"So you bring her back, Cal?" Pertanyaan Lucas terdengar sarkatis. Apa dia juga sama seperti Calum, yakni membenciku?
"You see." Jawab Calum datar lantas menutup pintu yang barusan terbuka. Idih. Kau kenapa, sih. Kalaupun mau marah, harusnya aku yang marah karena dia memperlakukanku seperti poop setelah ia menciumku.
Aku membuka pintu yang barusan ditutup dengan sinis oleh Calum. Lalu memasuki kamarnya, yang sudah beralih menjadi kamarku. Aku mendengar suara dari kamar mandi. Suara itu membuatku berhenti dari aktivitas membereskan isi koperku yang tadi ikut bersamaku ke bandara.
"Ouch.... kenapa aku merasa lelah,ya." Gumamku sendiri tanpa berharap ada yang menjawab.
Lalu kudengar...
'Never say goodbye
So kiss me kiss me kiss me, and tell me that I'll see you again.
Cause I don't know if i could let you go
So kiss me kiss me kiss me, i'm dying just to see you again
Lets make tonight the best of our life
YEAAAHHH'
Aku tertawa mendengar senandung itu. Suaranya yang terdengat lucu menurutk, membuatku mendekat ke pintu untuk mendengar yang selanjutnya.
When the lights go out
She's all I ever think about
The picture burning in my brain
Kissing in the rain
I can't forget my English love affair
Karena keasyikan mendengar nyanyian itu, aku sampai tidak sadar kalau tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan sosok berbalut handuk dari pinggang hingga lutut.
"What the fuck you doing here, Delancy!"
Oh, yeah. For the first time in forever, he called my name.
"A-aku, aku pikir tidak ada orang, aku--" kenapa aku mendadak gagu dan sungguh, jantungku berdebar tidak seperti biasanya. Dan aku tidak bisa mengarang sebuah alasan untuk menutupi apa yang baru saja kulakukan.
"Kau pikir tidak ada orang? Kau tuli?" Serunya dengan nada santai namun tetap terkesan menyentak. Oh, Calum, bisakah kau memperlakukanku sedikit manis sebentar saja? Kau terus memperlakukanku seperti aku ini musuhmu, huft. Fuck you.
"Aku--"
Dan aku masih bingung harus berkata apa. God, help me. Tolong jangan kau biarkan hambamu ini diperolok si Asia yang mempesona ini. Eh?
"Minggir." Ia mendorong paksaku. Ini sungguh diluar dugaan. Berani-beraninya dia memperlakukanku seperti ini!
Lantas aku pun masuk ke dalam kamar mandi itu dan duduk diatas kloset. Entah apa yang akan kulakukan karena sesungguhnya aku sedanh tak membutuhkan tempat ini saat ini. Tadi 'kan alasanku berdiri di depan pintu karena ingin mendengar jelas nyanyian dari Calum.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengurung diri di tempat ini dan memainkan ponselku. Begitu membuka instagram, aku amat terkejut ketika mendapati followers instagramku mendadak jadi 1 juta. Oh my God. Dan aku mendapat banyak tag foto. Salah satu tag foto itu merupakan foto di bandara tadi.
"Fag."
Kalau teringat perlakuannya tadi padaku ketika di bandara, yang berbanding terbalik dengan perlakuannya saat ini, entah kenapa aku merasa geram. Ia bersikap manis, lalu bersikap seenaknya. Errrrr.
"I'm coming because I need to find you, is anybody there who can rescue.. Somebody like me cause I'm just waiting for somebody like you-"
"God. Apa yang baru kulakukan? Apa aku baru saja menyanyikan lagu di bandara tadi?"
Errr. Aku jadi frustasi sendiri. Senandung itu terus bermain dikepalaku. Suaranya masih terngiang jelas di telingaku.
Setelah hampir setengah jam melamun di tempat persembunyian ini, aku pun memutuskan untuk keluar dari kamar. Sesungguhnya aku bingung harus kemana, tapi aku juga lebih bingung lagi kalau harus menyendiri di kamar. Jadi lebih baik aku keluar dan menonton Tv di ruang tengah.
Tapi ternyata, disana kulihat Calum sedang duduk santai sambil mengoper-oper siaran Tv. "Sial. Tidak ada siaran yang menarik sama sekali." Kudengar Calum menggerutu.
Kudekati jangan, ya? tapi bagaimana kalau dia menyemburku dengan kata-kata yang menyakitkan? Ah, masa bodo. Aku bisa membalasnya. Delancy Leroy tak kenal kata kalah.
"Kenapa kau disini?" belum juga aku mendaratkan pantat, jambu Asia ini sudah sinis saja. Mana alis tebalnya sok dibuat seperti marah, lagi. Hih.
"Aku mau menonton." Jawabku acuh, lalu duduk disofa tepat di sebelahnya.
"Kau bisa menonton Tv di kamarku yang kau rebut."
"Aku tidak menemukan remote nya." Jawabku asal, lantas merebut remote dari tangan Calum. Lelaki itu mendengus kesal dan beranjak pergi. Kulihat ia berjalan menuju panggung kecil di sudut, dimana berdiri alat-alat band mereka. Calum mengambil gitar akustik yang berdiri disana lalu memainkan sebuah nada.
"Benar katanya. Tidak ada siaran yang menarik." Aku terus mengoper siaran-siaran yang tidak menarik ini, dan tetap saja tidak menemukan. "Apa-apaan ini!" Aku mendadak frustasi.
Kubaringkan tubuhku di sofa empuk ini dan menatap langit-langit yang membosankan.
Tak sengaja telingaku menangkap sebuah melodi yang kurasa kuhafal.
"I'm coming because I need to find you," suara Calum terdengar lantang namun lembut.
"Is anybody there who can rescue,"
Dan tanpa sadar, aku ikut bernyanyi. "Somebody like me cause I'm just waiting for somebody like you, somebody like you, without you I'm a lost-"
Melodi dari gitar akustik itu tiba-tiba berhenti. Aku masih belum menyadari alasannya sampai akhirnya suara dari seorang lelaki terdengar bertanya. "Kau menyanyikannya?"
Ups. Ketahuan.
"Tidak." Jawabku seraya bangun dan menatapnya meyakinkan.
"Kau baru saja menyanyikannya."
"Aku tidak menyanyikannya."
"Ya. Kau menyanyikannya."
"Tidak. Aku tidak."
Wajahnya menyeringai. Kurasa ia sedang berusaha menggodaku, atau cuma perasaanku saja? Ah, tidak. Dia memang berusaha menggodaku. Sekrang dia meletakan gitarnya dan berdiri. Berjalan kearahku. Oh, Tuhan. Apalagi. Apalagi yang mau dia lakukan padaku?
Jaraknya semakin dekat denganku. Kini ia sengaja memasang wajahnya tepat di depan wajahku. Seringainya makin terlihat jelas.
Glek. Aku menelan ludah.
"Jujur saja, kau menyukai laguku, 'kan?"
"What?No!"
"Atau kau menyukai band-ku?!"
"No way!"
"Atau jangan-jangan, kau menyukaiku, ya?!"
"Hell, NO!"