Daftar kesalahanku dimulai ketika satu tahun yang lalu, bulan Agustus 2025.
Saat itu aku bermain belakang dengan salah satu kenalan yang kutemui di salah satu sosial media. Dia dua tahun dibawahku, tetapi tidak terlihat semuda itu.
Aku tidak akan menceritakan bagaimana kisah kita, karena aku memang tidak pernah berniat mendua sejak kali pertama. Bagiku ini hanya main-main, tanpa hati, dan tanpa perasaan. Aku hanya penasaran, bagaimana rasanya bersama orang lain disaat bosan. Tapi bagi kekasihku ini fatal, karena ini bukan kali pertama dan aku terus melakukan hal yang sama. Kebetulan saat itu adalah hari ulang tahunnya juga. Tentu saja itu hadiah terburuk yang pernah dia terima.
Bodohnya, aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari dia sekalipun itu menyakiti hatinya. Dan ya, aku bercerita. Aku bilang, bahwa 'kemarin aku ketemu sama cowo, dia lebih muda dariku. Dan kami melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan orang asing' kataku. Pacarku mengerti maksudnya, dan seperti yang kuduga dia marah besar.
Aku tidak tahu sejak kapan dia memendam amarah sebegitu besarnya. Yang ku tahu saat itu, dia mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada pada hatinya, semua hal yang dia anggap 'tidak apa-apa' selama ini tentangku, ternyata tetap menjadi bom waktu juga--seperti sekarang contohnya.
Imbasnya barang dan perhiasan yang telah kami kumpulkan untuk menikah, harus kukembalikan, karena kemurkaan dirinya. Iya, kita memang sudah berencana akan menikah sejak tahun-tahun lalu, namun tak pernah sampai akhirnya. Yang ada masalah silih berganti tiap harinya.
Aku tidak tau, itu ujian menuju pernikahan, atau memang aku bukan jodohnya. Dan satu hal yang harus kalian tahu, penantianku selama 7 tahun sejak lulus sekolah, berhenti sejak Desember 2024. Sejak dia memutuskan untuk menyerah. Saat kondisiku juga tidak baik-baik saja. Tapi aku mengerti, sangat mengerti. Pernikahan memang tidak semudah itu untuk dilakukan. Lebih tepatnya, aku sedang berusaha mengerti sudut pandangnya.
Kembali pada topik diatas, Aku pun merasa bersalah. Sekecewanya aku karena kita tidak jadi menikah, tetap saja, bermain api dengan orang baru diluaran sana, itu tidak boleh terjadi begitu saja. Status kami memang sudah putus, tapi hati masih sama-sama terikat dan susah untuk dihapus.
Jika kalian berpikir aku tega, benar, aku memang tega. Akupun ingin marah. Marah karena lagi-lagi menyakiti orang sebaik dia, marah karena ternyata aku seburuk itu sebagai perempuan yang dia anggap segalanya. Tapi entah mengapa, aku tidak bisa berhenti dari kebiasaan buruk yang jelas-jelas akupun selalu menyesali akhirnya.