Sore di mansion itu terasa berbeda dari biasanya. Hujan sempat turun sebentar tadi, membuat udara lembap dan daun-daun di taman mengilap oleh sisa air. Yunho duduk di kursi dekat jendela besar, memegang secangkir teh yang sudah hampir dingin. Ia menatap keluar, memperhatikan titik-titik hujan yang masih turun perlahan.
Seonghwa datang membawa selimut tebal, meletakkannya di bahu Yunho.
"Kau sudah duduk di situ sejak tadi," katanya lembut. "kau bisamasuk angin."
Yunho tersenyum samar.
"Aku hanya... tidak tahu kenapa hatiku tidak tenang. Mingi belum juga pulang."
Seonghwa ikut duduk di sebelahnya, melipat tangan di pangkuannya.
"Aku yakin dia baik-baik saja. Lagipula ada Hongjoong bersamanya."
"Kau percaya pada Hongjoong?" tanya Yunho, menatap Seonghwa dengan senyum setengah malu.
"Entahlah," jawab Seonghwa pelan, "aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Tapi setiap kali dia muncul, aku... tidak bisa membencinya."
Yunho terkekeh kecil, tapi kemudian menghela napas. Ia mengusap lembut perutnya yang kini semakin bulat.
"Aku jadi mudah lelah. Kadang rasanya aneh, seperti... ada dua denyut jantung di dalam tubuhku."
"Itu wajar," jawab Seonghwa cepat. "Kau membawa kehidupan kecil di sana. Tapi kalau terlalu pusing atau sakit, bilang padaku, ya."
Yunho mengangguk. Keheningan nyaman sempat turun di antara mereka. Hanya suara rintik hujan dan desir angin dari luar yang terdengar.
Tiba-tiba... lantai di bawah mereka bergetar pelan.
Cangkir di tangan Yunho berguncang, teh tumpah sedikit ke piring kecilnya.
"Hwa... kau merasakannya?"
Seonghwa langsung berdiri, menatap ke arah langit di luar jendela yang tiba-tiba menggelap.
"Gempa?" gumamnya. "Tidak mungkin... kita jauh dari pantai."
Guncangan itu tidak lama - hanya beberapa detik. Tapi cukup membuat Yunho menggenggam tangan Seonghwa erat-erat.
"Sudah... sudah berhenti," kata Seonghwa, mencoba menenangkan Yunho yang tampak cemas.
"Aku tidak suka perasaan ini," ucap Yunho pelan. "Rasanya... seperti sesuatu yang besar baru saja terjadi."
Seonghwa menatap keluar. Langit tampak murung, dengan petir samar yang menyambar di kejauhan. Ia tidak tahu kenapa, tapi dalam hatinya, ada perasaan ganjil. Bukan hanya karena gempa, tapi karena hawa di sekeliling mansion terasa... sedikit berubah. Lebih sunyi dari biasanya.
Ia menoleh lagi pada Yunho, memaksa tersenyum agar tidak menakutinya.
"Mungkin hanya gempa kecil. Mari kita istirahat saja, ya?"
Yunho mengangguk, tapi sebelum berdiri, ia menatap keluar sekali lagi.
Awan hitam menggantung rendah di langit - seolah menekan bumi.
Dan entah kenapa, untuk sesaat... lampu di dalam rumah berkelap-kelip sebelum akhirnya padam sebentar.
"Hwa...?" suara Yunho nyaris berbisik.
"Tenang," balas Seonghwa, berdiri sambil menyalakan lilin di meja. "Hanya padam sebentar."
Saat cahaya kecil lilin itu menyala, wajah mereka terlihat tenang kembali. Tapi di luar sana, langit masih bergemuruh... seolah belum selesai memberi pertanda.
---
Malam turun perlahan di atas mansion itu. Setelah petir terakhir menghilang di balik awan, udara jadi lebih dingin dan basah. Yunho sudah berbaring di tempat tidurnya, tapi matanya belum mau terpejam. Ia masih terjaga, menatap langit-langit kamar yang temaram oleh cahaya lilin.
Dari jendela, suara jangkrik dan desiran angin terdengar samar.
Terlalu sunyi. Terlalu hening.
Seonghwa yang berada di kamar sebelah juga belum tidur. Ia duduk di kursi dekat jendela, memainkan jarinya di atas cangkir teh yang kini dingin. Ada perasaan tak nyaman yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah-olah... ada sesuatu di luar sana yang sedang memperhatikan mereka.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kamar Yunho.
"Hwa?" panggil Yunho dengan suara pelan.
Pintu terbuka sedikit, dan wajah Seonghwa muncul.
"Kau juga belum tidur rupanya."
"Aku tidak bisa," jawab Yunho jujur. "Rasanya seperti..., Kau dengar?"
Mereka diam. Hanya suara angin yang melintas di sela jendela. Tapi lalu-ada bunyi samar, seperti dentuman kecil dari luar. Bukan keras, tapi cukup membuat hati berdebar.
Seonghwa menelan ludah. "Mungkin hanya angin."
Namun Yunho menggeleng pelan. "Tidak. Itu dari arah gerbang."
Mereka saling pandang, lalu tanpa bicara lebih lanjut, Seonghwa mengambil senter dan berjalan ke luar kamar, diikuti Yunho perlahan. Langkah kaki mereka bergema lembut di koridor panjang yang sepi.
Begitu sampai di dekat pintu utama, angin malam langsung menyapa. Gerbang besar di ujung jalan terlihat samar dari jauh-tapi ada yang berbeda.
Cahaya pelindung yang biasanya memantul lembut di sekitarnya kini berkerlip tak stabil, seperti tirai kaca yang retak.
"Tabirnya..." gumam Seonghwa.
"Tapi Mingi sudah menguatkannya sebelum pergi," bisik Yunho, wajahnya mulai pucat.
Lalu terdengar lagi suara samar-kali ini seperti desir panjang, nyaris menyerupai tarikan napas berat dari arah pepohonan di luar pagar.
Seonghwa segera menutup pintu. "Kita masuk. Sekarang juga."
Mereka berlari kecil ke dalam, menutup gorden, dan menyalakan beberapa lilin lagi. Namun bahkan dengan cahaya hangat yang memenuhi ruang tamu, hawa dingin yang merayap di udara tidak mau hilang.
Yunho duduk di sofa, menggenggam tangan Seonghwa.
"Apa menurutmu Mingi baik-baik saja?"
"Pasti. Ia tidak akan mudah dikalahkan," jawab Seonghwa, meski suaranya sendiri terdengar tidak yakin.
Dari luar, suara ranting patah kembali terdengar-dan kali ini, diikuti langkah samar yang berat... seperti sesuatu sedang berkeliling di luar pagar mansion.
Yunho menatap Seonghwa.
"Kau juga dengar, kan?"
Seonghwa menelan ludah, menatap ke arah jendela yang kini gelap sepenuhnya.
"Ya... aku dengar."
Angin meniup lilin di dekat mereka. Nyala kecilnya bergetar, tapi belum padam.
Yunho menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
Ia berbisik pelan, lebih kepada dirinya sendiri:
"Mingi... cepatlah kembali."
Dan malam itu pun terus berlalu dalam diam. Hanya angin, bunyi ranting, dan bisikan halus yang tak mereka mengerti - seolah seseorang di luar sana sedang menunggu tabir itu benar-benar runtuh.
---
Mobil hitam mereka melaju pelan di jalan berbatu, diapit hutan lebat yang hanya diterangi cahaya bulan.
Suara mesin yang stabil tidak cukup untuk menutupi suasana tegang yang menggantung di antara tiga orang di dalamnya.
Linnea duduk diam, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Dari kaca, sesekali ia melirik Mingi - sosok tinggi berwajah tajam yang dulu, bertahun-tahun lalu, hanya ia kenal sebagai bayi mungil yang selalu tertidur di pelukan nyonya Maura.
Kini anak itu duduk di belakang kemudi, dengan sorot mata yang mirip ayahnya. Terlalu mirip.
"Tidak menyangka kau akan tumbuh... seperti ini," ucap Linnea akhirnya, pelan tapi jelas.
Mingi menoleh sedikit, nada suaranya datar. "Kau mengenalku dulu?"
Linnea mengangguk perlahan. "Aku menggendongmu satu kali. Waktu itu nyonya Maura meminta aku menidurkanmu sebentar. Setelah itu, aku tak pernah lagi menjejakkan kaki di istana."
Ia menarik napas lembut. "Aku tidak menyangka bayi itu sekarang jadi sosok yang menatap dunia seolah ingin menantangnya."
Hongjoong, yang duduk di belakang, terkekeh kecil. "Itu memang hobi lamanya, menantang segalanya - bahkan langit."
Mingi melirik tajam. "Diamlah, Joong."
Tapi Hongjoong tak berhenti. Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, suaranya santai namun menyindir.
"Aku hanya berkata jujur. Kau marah pada masa lalu, tapi sekarang kau mengulanginya. Semua keputusan yang kau buat... selalu dengan dalih 'demi Yunho', tapi sebenarnya demi menenangkan nuranimu sendiri."
Linnea menoleh kaget ke kursi belakang. "Hongjoong, jangan bicara seperti itu-"
"Tidak apa," potong Mingi, suaranya pelan tapi tajam. "Biar dia bicara. Aku ingin tahu sampai sejauh mana kau bisa menuduhku."
"Menuduh?" Hongjoong menatap balik dengan senyum getir. "Kau menyembunyikan makhluk di bawah mansion, mengurungnya sampai mati tanpa alasan jelas. Lalu sekarang kau bicara soal melindungi Yunho?"
Mingi menahan napas, jemarinya mengetuk setir pelan tapi ritmis.
"Makhluk itu bukan manusia. Dan kalau kau tahu siapa yang memanggilnya pertama kali, kau tak akan menyesalinya sepertiku."
"Tapi tetap saja mati di tanganmu," Hongjoong balas tajam. "Dan sekarang seluruh tanah di bawah mansion itu menangis karena darahnya!"
Mingi menarik napas panjang, menunduk sedikit. "Aku tahu apa yang kulakukan salah. Tapi kalau itu satu-satunya cara menjaga Yunho tetap aman... aku akan melakukannya lagi."
Hongjoong menatapnya lama, lalu berpaling ke jendela.
Linnea memejamkan mata sesaat.
Dalam hati ia berbisik lirih, "Jadi begini rupanya... anak kecil yang dulu ditinggalkan cahaya, kini menanggung bayangan ayahnya sendiri."
Mobil terus melaju menembus hujan, meninggalkan suara guruh di belakang.
Dan di antara tiga jiwa itu - tidak ada yang benar-benar tenang.
---
Mobil mereka terus melaju menembus hujan yang mulai reda. Suara petir masih terdengar jauh di langit, seperti gema dari amarah yang belum sepenuhnya padam.
Hongjoong menatap ke luar jendela, sedangkan Linnea diam, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mingi menatap jalan lurus di depan tanpa benar-benar fokus. Setelah beberapa lama, ia akhirnya berbicara dengan suara rendah, berat-
"Aku tidak akan banyak menggunakan kekuatanku mulai sekarang."
Hongjoong menoleh. "Kau takut?"
"Bukan takut," jawab Mingi cepat. "Tapi setiap kali aku menggunakan kekuatan itu... langit di atas bumi berubah. Ada tanda yang mereka kenali."
Linnea menatapnya lewat sudut mata. "Mereka?"
Mingi mengangguk pelan.
"Mahluk-makhluk penjaga perbatasan. Mereka yang diperintahkan untuk memburuku sejak aku menolak kembali ke langit. Mereka bisa mencium energi yang sama dengan darah raja."
Hongjoong terdiam beberapa detik, lalu menghela napas berat.
"Selama aku di bumi, setiap penggunaan kekuatan akan memantul di langit seperti cahaya suar. Sekali mereka melihatnya... semua mahluk yang dikirim akan datang mencariku. Dan kali ini, bukan cuma aku yang mereka incar - Yunho juga."
Kata terakhir itu membuat Linnea menatapnya penuh khawatir.
"Kau membawa terlalu banyak beban untuk seseorang sepertimu, Nak."
Mingi hanya tersenyum samar, lelah.
"Itu yang membuatku tetap hidup, Linnea. Kalau aku berhenti, kalau aku menyerah... maka semua yang kulakukan akan sia-sia."
---
Langit yang tadi hanya berdenyut tenang tiba-tiba bergetar keras. Mobil berhenti mendadak; hongjoong menatap kaca depan-dan seluruh udara seperti sobek di hadapan mereka.
Cahaya gelap berputar, menggulung debu dan dedaunan ke udara.
Sesuatu keluar dari pusaran itu.
Tubuhnya panjang, tapi bukan ular. Sayapnya compang-camping, hitam tapi berkilau seperti minyak. Wajahnya... seolah terdiri dari banyak wajah yang terus berubah bentuk setiap detiknya.
Linnea spontan membuka perisai kecil dari jubahnya, tapi kilatan pertama dari makhluk itu sudah menghantam mereka. Mobil terpental seperti dilempar badai. Mingi sempat menahan benturan dengan kekuatannya-meski detik itu juga matanya berubah keemasan.
"Mingi!" seru Hongjoong.
"Aku tahu! Tapi kalau tidak kulakukan, kita semua mati sekarang juga!"
Makhluk itu meraung; raungannya membuat tanah bergetar, kaca pecah, dan burung-burung di hutan beterbangan panik.
Mingi keluar dari mobil, menatap makhluk itu dengan rahang mengeras. Api tipis berwarna biru muncul di sekeliling tangannya, membentuk cincin energi yang bergetar halus.
Linnea menjerit, "Jangan gunakan kekuatan itu terlalu banyak!"
Tapi sudah terlambat-Mingi melepaskan satu hantaman besar ke arah langit. Suara ledakannya membuat udara terbelah. Makhluk itu terhempas, tapi kemudian menjerit, dan ratusan kilatan hitam keluar dari tubuhnya-seperti belatung yang berubah menjadi panah tajam.
Hongjoong membentangkan tangannya. Cahaya merah marun melingkari mereka bertiga.
"Aku urus sisi kanan!"
Mingi mengangguk, memutar tubuhnya cepat. Sayap hitam samar muncul di belakangnya, bukan sepenuhnya nyata tapi cukup untuk menebas satu gelombang serangan.
Linnea memegang tongkat kayu kecil yang tampak rapuh-namun sekali digetarkan, tanah di bawah makhluk itu retak, akar-akar besar muncul membelit kakinya. Tapi makhluk itu malah tertawa, suaranya seperti logam diseret di batu.
"Itu bukan makhluk dari neraka..." gumam Hongjoong di sela dentum ledakan.
"Dan bukan dari langit juga..." sahut Mingi. "Lalu dari mana?"
Belum sempat mereka berpikir, makhluk itu membelah diri. Dari satu, menjadi dua... lalu tiga.
Udara terasa menebal. Hutan di sekitar mereka bergetar, daun-daun berubah keabu-abuan seolah kehilangan kehidupan.
Mingi menggenggam pedang energi yang muncul dari tangannya sendiri, lalu berteriak-
"Hongjoong! Tutup bagian timur! Aku ambil sisanya!"
Mereka berdua melompat bersamaan.
Langit bergemuruh; petir memantul dari pedang Mingi, sementara Hongjoong memanggil lingkaran sihir yang berputar di udara, memantulkan cahaya merah ke tubuh-tubuh makhluk itu.
Di tengah dentuman dan cahaya, Linnea melihat sesuatu-di balik pusaran hitam itu, ada mata raksasa yang menatap langsung ke arah Mingi.
Senyum dingin muncul di wajah makhluk utama itu.
Suara rendahnya berbisik menembus bisingnya pertempuran:
"Akhirnya kutemukan darah itu..."
Linnea menatap Mingi, wajahnya pucat.
"Mingi... mereka datang untukmu!"
Mingi menggertakkan gigi. Suara dentuman dari benturan energi membuat langit di atas mereka berdenyut-gelap dan terang silih berganti seperti napas bumi yang terengah.
Hongjoong melesat cepat, menebas makhluk kedua dengan cahaya merah darah, tapi tubuh makhluk itu kembali menyatu seperti lumpur hidup.
"Kau harus bakar intinya, bukan tubuhnya!" teriak Linnea.
Namun sebelum Mingi sempat bereaksi, salah satu dari mereka meluncur cepat, menghantam tanah tepat di dekat Linnea. Serpihan energi gelap menyambar, membuat kain jubahnya robek.
Linnea memejamkan mata-dan saat ia membukanya lagi, pupilnya berubah menjadi dua lingkaran kuning pudar. Kulit tangannya yang tadi keriput samar kini tampak bersinar lembut, seperti batu tua yang memantulkan cahaya bulan.
Ia tampak berwibawa dan tenang.
Udara di sekitarnya berubah dingin, dan saat ia mengangkat tangannya, kabut tipis membentuk pola seperti akar yang tumbuh di udara, menjalar dan mengikat makhluk-makhluk itu.
"Aku tidak ingin menunjukkan wujud ini lagi," gumamnya datar, "tapi kalian membuatku kesal."
Kabut itu mengeras, menjadi rantai cahaya kusam. Mingi menatap cepat, lalu memanfaatkan celah itu-melesat maju, pedang energinya menembus jantung salah satu makhluk.
Cahaya biru dari pedangnya berubah lebih terang, nyaris menyilaukan.
Tubuh makhluk itu terbelah dua, mengeluarkan cairan hitam yang menguap jadi abu.
Satu lagi mencoba menyerang dari belakang, tapi Hongjoong melingkarkan tangan, menarik segel besar di udara dan menghantamnya balik ke tanah. Ledakannya mengguncang hutan, daun-daun beterbangan seperti badai.
Mingi berbalik ke Linnea, napasnya memburu.
"Kau masih bisa menahan mereka?"
"Tidak lama," jawabnya cepat. "Jika kau mau menang, sekarang waktunya, Mingi."
Mingi menatap makhluk yang tersisa. Sekejap matanya bersinar emas penuh-pupilnya berubah menjadi garis.
Api biru membara di sepanjang tanah, membentuk lingkaran besar yang mengurung lawan mereka. Dalam satu hembusan napas, ia menghantamkan pedangnya ke tanah.
Ledakan besar.
Udara terseret, dan semua yang ada di lingkaran itu menghilang, tersapu bersih-tidak ada suara selain hembusan angin yang tersisa.
Hutan kembali tenang, meski sebagian terbakar.
Hongjoong berdiri dengan bahu berdarah, Linnea setengah berjongkok menahan napas. Mingi menatap sekitar, memastikan tak ada lagi yang hidup.
"Kita harus pergi," katanya singkat.
"Kau... mau teleportasi?" tanya Hongjoong sambil menatap luka di lengannya.
"Ya. Aku tak ingin yang lain datang sebelum kita sampai rumah."
Linnea berdiri, tubuhnya masih dengan bentuk lamanya, tapi cahaya di kulitnya perlahan memudar.
"Kau pikir mereka akan berhenti setelah ini?"
"Tidak," jawab Mingi tanpa ragu.
"Tapi aku tak akan biarkan mereka mendekat lagi."
Ia mengangkat tangannya, udara di sekitar mereka bergolak, dan dalam sekejap-
hutan, debu, dan sisa api menghilang.
Mereka bertiga muncul di halaman mansion, dalam kilatan cahaya yang redup.
Hongjoong terduduk, masih menahan luka, sementara Linnea bersandar di pagar batu. Mingi berdiri paling depan, matanya menatap langit yang kembali tenang.
Namun bibirnya menegang.
"Mereka bukan datang tanpa alasan," gumamnya pelan. "Seseorang mengirim mereka. Dan aku tahu siapa yang akan kucari."
---
Begitu pintu utama mansion terbuka, hawa hangat langsung menyambut tiga sosok yang baru saja kembali dari perjalanan panjang.
Namun sebelum Mingi sempat melangkah lebih jauh, suara langkah kecil terdengar cepat di ujung lorong.
"Mingi!"
Yunho berlari sekuat tenaga dari arah ruang tengah, mata beningnya sudah berkaca-kaca, seolah ketakutan dan rindu bercampur jadi satu.
"Yunho! Jangan lari!" seru Seonghwa panik dari belakang, tapi Yunho tidak mendengar. Ia hanya fokus pada sosok Mingi yang kini berdiri di depan pintu, wajahnya sedikit letih namun tetap menenangkan.
Mingi refleks merentangkan tangan. Tubuh Yunho langsung terjerat dalam pelukannya-erat, hangat, nyaris membuatnya sulit bernapas.
Yunho menenggelamkan wajah di dada Mingi, suaranya bergetar, "Aku takut terjadi sesuatu... aku ngerasa bumi sempat bergetar, aku kira kau-"
"Shh..." Mingi mengusap lembut rambutnya. "Aku di sini, Yunho. Aku baik-baik saja."
Hongjoong dan Linnea berdiri beberapa langkah di belakang, saling bertukar pandang. Seonghwa yang baru sampai hanya bisa menghela napas lega melihat Yunho akhirnya tenang, meski matanya menatap Mingi dengan sedikit curiga-ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan dari mereka.
Linnea menatap pemandangan itu, kemudian berbisik lirih pada Hongjoong,
"Ia punya alasan yang kuat untuk pulang secepat ini, rupanya."
Hongjoong hanya tersenyum tipis, menatap bagaimana Mingi masih memeluk Yunho seolah dunia luar tidak lagi penting.
Mingi perlahan menurunkan Yunho, menatap wajahnya yang masih merah karena tangis.
"Sudah, jangan menangis. Aku janji kali ini tidak akan lagi pergi lama," ucapnya dengan suara rendah namun tegas.
Yunho mengangguk kecil, lalu tanpa sadar menempelkan telapak tangan ke dada Mingi, memastikan detak jantung itu nyata.
Suasana pelan-pelan mencair. Seonghwa mengajak Linnea dan Hongjoong ke ruang tamu, sementara Mingi masih berdiri di tempat-memeluk Yunho yang belum mau melepaskan pelukannya.
---
Seonghwa sebenarnya sudah ingin berlari dan memeluk Hongjoong ketika pria itu muncul di ambang pintu - seperti Yunho yang tanpa ragu menubruk Mingi beberapa waktu lalu.
Namun langkahnya berhenti.
Tangannya menggantung di udara, seolah ada dinding tak terlihat yang menahan.
Bagaimanapun, mereka tidak memiliki hubungan apapun.
Ia hanya menghela napas perlahan, menunduk, berusaha menata wajahnya agar tetap tenang. Tapi di dadanya, ada sesuatu yang berdesir pelan - perasaan asing yang tidak bisa ia sebut, tapi jelas terasa nyata.
Hongjoong menatapnya tanpa banyak bicara, seolah tahu semua yang Seonghwa coba sembunyikan di balik diamnya. Tatapan itu terlalu dalam, terlalu lembut - membuat pertahanan Seonghwa nyaris runtuh.
Namun ia memilih membalikkan tubuh, pura-pura sibuk.
"Linnea sudah di tempatnya," katanya pelan, suaranya sedikit serak. "Kau sebaiknya istirahat juga."
Hongjoong hanya mengangguk, lalu melangkah mendekat.
Langkahnya tenang, tapi setiap pijakan terasa menekan udara di antara mereka.
"Seonghwa," panggilnya lembut.
Nada itu membuat Seonghwa menegakkan punggungnya.
"Kenapa?" tanyanya tanpa menatap, suaranya bergetar ringan.
"Aku tahu kau khawatir."
Itu bukan pertanyaan - itu pernyataan yang menelanjangi semua yang berusaha ia sembunyikan.
Seonghwa memejamkan mata sesaat. "Aku tidak-"
Belum sempat ia melanjutkan, Hongjoong sudah berdiri di belakangnya. Jarak mereka hanya sejengkal. Nafas hangat pria itu menyentuh tengkuknya, membuat tubuh Seonghwa kaku.
"Kau tidak harus berpura-pura," bisik Hongjoong. "Aku bisa merasakannya."
Seonghwa berbalik cepat, hendak menyangkal, tapi pandangan mereka bertemu - dan di sana, dalam tatapan Hongjoong, tak ada ejekan, tak ada kesombongan.
Hanya pemahaman.
Dan sesuatu yang jauh lebih lembut dari kata-kata.
Detik itu juga, semua ketahanan Seonghwa runtuh.
Ia menunduk, bahunya bergetar halus. "Aku hanya... aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Yunho," katanya pelan. "Aku sudah terlalu lama sendirian."
Hongjoong tidak berkata apa-apa.
Ia hanya melangkah satu langkah lagi, lalu memeluknya perlahan - tanpa paksaan.
Pelukan itu hangat. Tenang.
Seonghwa terpaku, lalu akhirnya membalas dengan ragu, menekan wajahnya di dada Hongjoong. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu - stabil, nyata, seperti jangkar di dunia yang terasa goyah.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Seonghwa merasa... aman.
Dan di antara keheningan itu, Hongjoong berbisik rendah, "Kau tidak sendiri lagi, Hwa. Aku ada di sini."
Seonghwa menahan napas, lalu memejamkan mata.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Pelukan itu bertahan lama, tanpa ada kata-kata yang benar-benar perlu diucapkan.
Hanya suara napas yang saling bersahutan dan detak jantung yang perlahan menenangkan badai di dada Seonghwa.
Hongjoong menundukkan wajahnya sedikit. Ia memperhatikan bahu Seonghwa yang masih bergetar halus, napasnya tersendat di antara isak yang ia tahan.
Tanpa berpikir panjang, Hongjoong mengecup puncak kepala Seonghwa - lembut, hampir seperti bisikan kasih yang tak diucapkan dengan suara.
Sentuhan itu membuat Seonghwa terpaku.
Ada rasa hangat yang menyebar di dadanya, naik ke tenggorokan, lalu berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan tapi indah. Ia menahan napas, seolah takut momen itu lenyap jika ia bergerak sedikit saja.
"Aku sudah melihat banyak ketakutan," ucap Hongjoong pelan, suaranya nyaris serak.
"Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihatmu mencoba kuat sendirian."
Seonghwa menggigit bibirnya, menunduk lebih dalam di pelukan Hongjoong. "Kau terlalu banyak bicara," gumamnya kecil, suaranya gemetar.
Hongjoong tertawa pelan, nada rendahnya membuat dada Seonghwa bergetar mengikuti. Ia mengeratkan pelukannya sedikit, seolah ingin memastikan bahwa Seonghwa benar-benar di sana - nyata, hangat, dan hidup.
"Kalau aku diam," katanya, "aku mungkin tak bisa menahan diri untuk tidak memelukmu lebih lama dari ini."
Seonghwa mengangkat kepalanya sedikit, menatap wajah Hongjoong yang begitu dekat. Ada garis lembut di mata pria itu, dan untuk sesaat, waktu terasa berhenti.
Mereka hanya saling menatap - diam, tapi penuh arti.
Akhirnya, Seonghwa menarik napas dalam, lalu menunduk lagi, membiarkan dirinya bersandar di dada Hongjoong.
Kali ini, tanpa keraguan.
Hongjoong tersenyum tipis, tangannya bergerak naik ke punggung Seonghwa, menepuknya pelan seperti menenangkan anak kecil.
"Kau boleh marah, boleh takut, boleh menangis," bisiknya. "Tapi jangan pernah merasa sendirian lagi."
Suara hujan mulai terdengar samar di luar jendela, memantulkan cahaya lembut dari bulan yang separuh tertutup awan.
Di dalam ruangan itu, hanya ada dua sosok yang saling berpegangan - saling menjadi satu-satunya tempat untuk kembali.
---
Cahaya redup dari lilin yang dibiarkan menyala semalaman menari lembut di dinding kamar. Udara masih dingin, menyisakan aroma tanah basah setelah hujan semalam.
Yunho terbangun lebih dulu. Tubuhnya masih terasa berat, tapi pelukan di pinggangnya membuatnya enggan bergerak.
Ia menoleh sedikit - Mingi masih tertidur di belakangnya, wajahnya tenang, tapi tangan besarnya tetap menahan pinggang Yunho seolah takut kehilangan.
Yunho tersenyum kecil. Dia pasti kelelahan... pikirnya. Dalam diam, ia membelai jari-jari Mingi yang melingkari tubuhnya.
Namun gerakannya yang terlalu lembut justru membuat Mingi membuka mata.
"Sudah bangun?" suara Mingi serak, rendah, tapi hangat.
"Hmm," Yunho mengangguk, "tapi kau tidak perlu bangun. Tidurlah lagi."
Mingi menggeleng pelan, lalu menarik Yunho sedikit lebih dekat hingga napasnya terasa di leher sang pria.
"Tidak. Aku sudah terlalu lama meninggalkanmu. Rasanya aneh kalau tidak melihatmu di pagi hari."
Yunho terkekeh kecil. "Kau bicara seperti orang yang baru pulang dari perang."
Mingi tersenyum samar, tapi tidak menjawab. Pandangannya turun ke arah perut Yunho yang sudah membulat lebih besar dari sebelumnya.
Tangannya bergerak, mengusap perlahan dengan lembut - berbeda jauh dari sosok dingin yang biasanya orang lihat.
"Bagaimana rasanya hari ini?" tanyanya pelan.
"Sedikit berat. Tapi... aku mulai terbiasa." Yunho memejamkan mata, menikmati sentuhan itu. "Terkadang aku masih takut, Mingi."
Mingi diam sesaat, lalu mendekatkan keningnya ke bahu Yunho.
"Jangan takut. Tidak akan ada sesuatu yang terjadi padamu, tidak selama aku disini."
Yunho menggenggam tangan Mingi yang masih di perutnya. "Kau bilang begitu, tapi kemarin kau hampir mati melindungiku."
Suara Yunho terdengar bergetar. "Aku tidak tahu harus bagaimana kalau kehilanganmu."
Mingi mengangkat wajah Yunho, menatapnya dalam-dalam.
"Lihat aku," katanya pelan. "Aku di sini. Aku masih bernapas, dan akan terus seperti itu selama kau membutuhkanku."
Yunho tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk, dan dalam keheningan itu, Mingi kembali menariknya ke pelukan.
Detak jantung mereka berdua terdengar berirama - pelan, tapi pasti.
Sesaat kemudian, Mingi berbisik di telinga Yunho.
"Setelah semuanya selesai, kita akan pergi dari tempat ini. Aku akan membawamu ke tempat di mana tidak ada lagi tabir, tidak ada lagi darah, tidak ada lagi rasa takut."
Yunho tersenyum kecil. "Dan di sana... kita bisa menanam stroberi?"
Mingi terkekeh pelan, nada suaranya lembut. "Kau dan kebunmu itu... tentu saja bisa. Bahkan aku yang akan menanamkannya sendiri."
Mereka berdua terdiam kembali. Tak ada janji besar, tak ada sumpah sakral - hanya dua hati yang saling berpegangan dalam sunyi.
---
Tim minyun apa joonghwa nih??
Kebanyakan ya???
Aku mau minta maaf soal typo di chapter sebelum2 nya. Jadi awal aku bikin draf emng bukan minyun. Jadi namanya beda, ternyata belum keganti semua. Sama typo2 yang bikin kalian gk nyaman aku paham. Dan udah aku ganti.
Jangan lupa vote and comment🌸
Kalian dapet notif gk? . Ini aku coba up ulang.