11.

250 32 13
                                        

Sore di mansion itu terasa berbeda dari biasanya. Hujan sempat turun sebentar tadi, membuat udara lembap dan daun-daun di taman mengilap oleh sisa air. Yunho duduk di kursi dekat jendela besar, memegang secangkir teh yang sudah hampir dingin. Ia menatap keluar, memperhatikan titik-titik hujan yang masih turun perlahan.

Seonghwa datang membawa selimut tebal, meletakkannya di bahu Yunho.

"Kau sudah duduk di situ sejak tadi," katanya lembut. "kau bisamasuk angin."

Yunho tersenyum samar.

"Aku hanya... tidak tahu kenapa hatiku tidak tenang. Mingi belum juga pulang."

Seonghwa ikut duduk di sebelahnya, melipat tangan di pangkuannya.

"Aku yakin dia baik-baik saja. Lagipula ada Hongjoong bersamanya."

"Kau percaya pada Hongjoong?" tanya Yunho, menatap Seonghwa dengan senyum setengah malu.

"Entahlah," jawab Seonghwa pelan, "aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Tapi setiap kali dia muncul, aku... tidak bisa membencinya."

Yunho terkekeh kecil, tapi kemudian menghela napas. Ia mengusap lembut perutnya yang kini semakin bulat.

"Aku jadi mudah lelah. Kadang rasanya aneh, seperti... ada dua denyut jantung di dalam tubuhku."

"Itu wajar," jawab Seonghwa cepat. "Kau membawa kehidupan kecil di sana. Tapi kalau terlalu pusing atau sakit, bilang padaku, ya."

Yunho mengangguk. Keheningan nyaman sempat turun di antara mereka. Hanya suara rintik hujan dan desir angin dari luar yang terdengar.

Tiba-tiba... lantai di bawah mereka bergetar pelan.
Cangkir di tangan Yunho berguncang, teh tumpah sedikit ke piring kecilnya.

"Hwa... kau merasakannya?"

Seonghwa langsung berdiri, menatap ke arah langit di luar jendela yang tiba-tiba menggelap.

"Gempa?" gumamnya. "Tidak mungkin... kita jauh dari pantai."

Guncangan itu tidak lama - hanya beberapa detik. Tapi cukup membuat Yunho menggenggam tangan Seonghwa erat-erat.

"Sudah... sudah berhenti," kata Seonghwa, mencoba menenangkan Yunho yang tampak cemas.

"Aku tidak suka perasaan ini," ucap Yunho pelan. "Rasanya... seperti sesuatu yang besar baru saja terjadi."

Seonghwa menatap keluar. Langit tampak murung, dengan petir samar yang menyambar di kejauhan. Ia tidak tahu kenapa, tapi dalam hatinya, ada perasaan ganjil. Bukan hanya karena gempa, tapi karena hawa di sekeliling mansion terasa... sedikit berubah. Lebih sunyi dari biasanya.

Ia menoleh lagi pada Yunho, memaksa tersenyum agar tidak menakutinya.

"Mungkin hanya gempa kecil. Mari kita istirahat saja, ya?"

Yunho mengangguk, tapi sebelum berdiri, ia menatap keluar sekali lagi.
Awan hitam menggantung rendah di langit - seolah menekan bumi.

Dan entah kenapa, untuk sesaat... lampu di dalam rumah berkelap-kelip sebelum akhirnya padam sebentar.

"Hwa...?" suara Yunho nyaris berbisik.

"Tenang," balas Seonghwa, berdiri sambil menyalakan lilin di meja. "Hanya padam sebentar."

Saat cahaya kecil lilin itu menyala, wajah mereka terlihat tenang kembali. Tapi di luar sana, langit masih bergemuruh... seolah belum selesai memberi pertanda.

---

Malam turun perlahan di atas mansion itu. Setelah petir terakhir menghilang di balik awan, udara jadi lebih dingin dan basah. Yunho sudah berbaring di tempat tidurnya, tapi matanya belum mau terpejam. Ia masih terjaga, menatap langit-langit kamar yang temaram oleh cahaya lilin.

His obsessionWhere stories live. Discover now