Lorong sekolah sudah sepi ketika aku dan Daffa keluar dari ruang BK. Suara pintu tertutup pelan, menyisakan gema samar yang bercampur dengan langkah kami. Udara luar mulai panas, matahari terasa menempel tepat di atas kepalaku. Jam 8:35 ini, hanya suara sepatu kami berdua yang terdengar di lorong panjang ini, meski sesekali riuh kecil terdengar dari kelas-kelas yang sedang belajar.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, keringat kecil di pelipis masih menetes. Nafasku ngos-ngosan, sisa dari hukuman sit-up yang diberikan bu Ledy. Dan Daffa? Lelaki di sebelahku juga sama. Wajahnya merah, rambutnya basah oleh keringat, napasnya tersengal. Entah kenapa, ekspresi itu malah membuatku tersenyum lebar.
Kalau diperhatikan baik-baik, Daffa sebenarnya punya aura tampan yang lebih menonjol daripada kakaknya, Daniel. Jujur saja, kalau dia bukan sahabatku, mungkin dari dulu aku sudah menerimanya. Akan tetapi kenyataan berkata lain, aku menolak Daffa tiga kali bukan karena aku tidak suka dia, itu salah besar. Aku hanya takut jika suatu hari nanti kami harus berpisah.
"Lo ngapain liatin gue kayak gitu? Sambil senyum-senyum lagi." Suara Daffa memecahkan lamunan.
Aku mengedip cepat, lalu membuang tatapan ke depan. "Ah, enggak."
"Terpesona ya lu? Atau baru tau kalo gue ganteng? Nyesel udah nolak gue tiga kali?"
Damn.
Tepat sasaran.
"Apaan sih lo! GR banget jadi cowok!" desisku cepat.
Kami sama-sama memalingkan wajah ke depan.
Satu langkah kemudian pandanganku kembali menatapnya.
"Daff?"
"Apa?" jawabnya lembut, tapi tatapannya tak menoleh sedikitpun ke arahku.
"Lo tau nggak, hukuman yang gue dapet tadi, seketika membuat gue pengen tobat nakal, apalagi kalo hukumannya kayak gitu terus, gue bisa mati sebelum lulus," keluhku masih menatap lurus ke depan.
Dia menoleh sekilas, lalu kembali ke depan. "Bagus. Tobat sebelum lo dikutuk jadi kelelawar sama bu Ledy."
Aku mendengus, menyeka pelipis. "Gila, mana mungkin. Gadis cantik, imut, dan baik hati kayak gue ini dikutuk? Tapi, kalaupun ia, pesona gue gak akan salah. Mau jadi manusia atau kelelawar semua cowok pasti ngejar gue."
Daffa bergidik ngeri. "Dih! Banyak PD-nya lo jadi cewek."
Aku menimpalnya cepat. "Biarin, Lu juga!" untuk sesaat langkahku berhenti.
"Tapi, Daf... emang lo nggak capek?" Lu kan ikut nambah angka pas nemenin gue sit-up. Udah push-up ditambah sit-up badan lo aman? Badan gue aja ni ya, sekarang kayak blender rusak. bukannya six pack, yang ada malah crack pack."
Daffa ikut berhenti. Senyuman tipis di bibirnya semakin lebar, ia kembali melangkah. "Yaelah, Xi. Hidup lo itu terlalu dramatis. Sekali-kali lo emang harus di hukum gitu, anggap aja olahraga."
Aku spontan lari menyeimbangi langkahnya. "LAH! Lebay kata lo! Heh, kapasitas kekuatan cewek sama cowok itu beda. Lo aja tadi kalo gak maksain udah kayak mau wafat syahid, apalagi pas hitungan terakhir!"
"Cih." Daffa mendengus, pipinya masih merah. "Itu strategi. Biar bu Ledy kasihan."
Aku mendelik. "Strategi kata lo? Basi. Yang ada Bu Ledy makin seneng liat lo sengsara."
Dia membalas ucapanku dengan kekehan kecil sambil mengedikkan bahu.
Aku menarik napas panjang. "Tapi serius, kalau bukan karena Daniel yang nyeret gue ke ruang BK tadi, mungkin gue masih bisa kabur. Dia ngeselin sih, tapi entah kenapa gue nggak bisa bener-bener marah sama dia."
Langkah Daffa mendadak melambat. Suaranya turun satu nada.
"Oh, jadi lo malah bersyukur dia nyeret lo?" tanyanya.
"Iya lah," jawabku cepat lalu kembali menoleh. "Maksud gue... Daniel emang ngeselin, tapi dia punya cara sendiri yang bikin gue malah pengen terus ngejar dia."
Daffa berhenti mendadak, membuatku ikut berhenti. Wajahnya manyun, bibir maju setengah senti.
Dengan suara tinggi dia menjawab. "Apaan sih lo, dari tadi Daniel, Daniel, Daniel. Emangnya nggak ada nama lain selain dia di otak lo?"
Aku terbelalak. "Lah, Lo kenapa? Tiba-tiba marah."
"Gue bosen denger nama Daniel! Bisa nggak sih, lo sehari aja nggak usah sebut nama dia? Gue muak, Xia. Muak, tau nggak? Gue yang tiap hari bareng lo aja, nggak pernah lo sebut!"
Aku memicingkan mata, menahan senyum sinis. "Astaga, DAFF. Lo masih cemburuan!" aku mencondongkan badan, mencoba membaca raut wajahnya.
"Siapa yang cemburu!" bentaknya cepat. Pipinya terlihat semakin merah. "Gue bukan cemburu. Gue cuma ilfeel aja kalo lo terus bahas dia depan gue. Bosen banget. Enggak di rumah, sekarang di sini juga!"
Dia mendengus keras, lalu berbalik meninggalkanku begitu saja.
Aku terdiam sebentar sambil tersenyum pahit. Aku tahu Daffa bohong. Dia memang cemburu. Dan anehnya, itu bikin aku sakit. Sakit, karena sampai detik ini, aku tetap memilih menyukai Daniel.
"Daffa, tunggu!"
🦋🦋🦋
Jam sudah menunjuk tepat ke angka 10:30. Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit lalu, tapi di kelas, semua murid hanya bisa menghela napas panjang, karena suasana masih terjebak di bawah komando Bu Anggun yang tampaknya punya stamina lebih untuk mengulur waktu.
Tanganku mengetuk-ngetuk meja dengan ritme kesal. Pandangan mata melayang, menyapu ke kanan, kiri, depan, belakang. Sampai akhirnya berhenti pada seseorang yang duduk di sebelahku.
Daffa.
Sejak kejadian di lorong dan masuk kelas tadi, dia duduk dengan tenang bahkan terlalu tenang. Tidak ada celetukan iseng, tidak ada senyum ngeselin, tidak ada godaan yang membuatku jengah, dan jujur, itu cukup membuatku merasa kesepian.
"Daff?" panggilku akhirnya.
"Hm."
Mendengar jawaban Daffa, aku terdiam beberapa detik, otakku langsung nge-freeze.
"Hm? Serius? Astaga, seorang Daffa yang biasanya nggak bisa diem, sekarang menjawab ucapanku hanya dengan kata hm?" batinku.
Aku langsung mukul lengannya sedikit keras. Dia hanya meringis, tangannya cepat-cepat mengusap bahu, tanpa sedikitpun merespon ucapanku. Daffa kembali membenarkan duduknya tanpa protes.
Aku menaikan alis, menatapnya curiga. tanpa rasa bersalah, aku pun bertanya, "Daf, Lo sakit?"
"Enggak."
"Laper?"
"Enggak."
Aku mengernyit, masih berusaha mencari obrolan. "Atau lo pusing?"
Dia mendesah, menoleh tajam ke arahku. "Enggak, Xia."
Nyatanya kesabaranku memang hanya setipis tissue.
"Lo kenapa sih, Daf? Lagi cosplay jadi patung? Biasanya kan mulut lo nggak bisa berhenti ngoceh. Sekarang apalagi? Kenapa tiba-tiba diemin gue?" ucapku pelan karena takut di marahi bu Anggun.
Daffa membuang tatapannya tanpa meresponku. Matanya lurus seolah benar-benar menyimak penjelasan bu Anggun yang masih tak berhenti padahal di luar keadaan sudah ricuh oleh jam istirahat.
Aku ikut diam. Setelah menunggu hampir 5 menit, akhirnya bu Anggun mengakhiri pelajarannya dengan ucapan, "kerjakan buku tugas ujian di halaman 55 dan kumpulkan dipertemuan kita hari Rabu. Saya tutup pelajaran hari ini, semoga ilmu yang saya berikan bermanfaat, assalamu'alaikum warrahmatullohi wabarakatuh."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," ucap serempak.
Suasana langsung pecah begitu Bu Anggun meninggalkan kelas. Suara kursi berderet cepat, membubarkan sebagian murid yang langsung berlari ke kantin. Sementara aku? Aku masih menunggu Daffa untuk mau berbicara padaku.
Aku sebel, kesal, binggung, semuanya campur jadi satu. Sambil bersandar pada kursi. Dalam hati aku ngomel, "gila, ada yang salah banget sama nih bocah. Masa Daffa bisa diemin gue selama ini? Biasanya, kalo pun marah dia gak mungkin cuekin gue lebih dari lima menit. Apa, dia beneran lagi cemburu berat?"
Aku melirik lagi, menaik-turunkan bola mata. "Arghhh Daffa, lo bohong sama gue kalo lo udah beneran anggap gue sahabat lo, nyatanya lo masih punya rasa itu ke gue."
Lelaki itu masih begitu cuek, meski sesekali ia mengusap tengkuknya. Pandangannya masih menunduk, menulis semua materi yang jelas-jelas sudah berakhir.
Rasanya aneh. Bener-bener aneh. Aku seperti kehilangan sesuatu yang biasanya selalu bikin hari aku ribut. Dan jujur, aku tidak suka dengan perasaan seperti ini.
Tanganki mengetuk meja pelan, lalu berkata setengah ragu. "Daffa?"
Daffa melirik sekilas lalu kembali menulis catatan bukunya semakin cepat.
"Ya ampun Daf, sumpah ya lo ngeselin banget. Gue lebih sanggup denger ocehan nggak jelas lo tiap menit daripada ngeliat lo pasang mode bisu gini."
Dia berhenti sebentar, lalu menatapku satu detik dengan ekspresi datar. "Lo sadar nggak sih, Xia... kalau lo itu berisik."
Deg.
Aku ternganga. Merasa tak percaya jika ucapan itu akan keluar dari mulut Daffa. Orang yang selalu senang dengan kerecehan ku. Tapi sekarang? Daffa bilang aku berisik?
Tanganku yang tadi sibuk ngetuk meja berhenti begitu saja. Nafasku terasa aneh, rasanya satu perasaan mulai nyangkut di tenggorokan. Aku menatapnya lama, berharap bisa membaca nada bercanda atau senyum tengil yang muncul seperti biasa. Tapi sekarang tidak. Lelaki itu menunduk, menulis catatan dengan tenang seolah kata-katanya barusan adalah sebuah fakta sederhana yang tidak perlu diperdebatkan.
"Lo." suaraku keluar dengan ragu. "Lo bercanda kan?"
Aku menggigit bibir. Perih. Rasanya seperti ada sesuatu yang copot dalam diriku sendiri. Aku meneguk ludah, menoleh ke depan.
Beribu pertanyaan menyerbu otak.
"Apa aku beneran terlalu berisik? Apa selama ini dia cuma pura-pura betah sama semua ocehanku?"
Dadaku terasa sesak. Dan untuk pertama kalinya, aku bener-bener nggak tau harus ngomong apa.
Pensil di tangan Daffa berhenti bergerak. Lama, sangat lama ia menatap catatan yang tadi nyaris penuh coretan.
Dari sudut mata, aku tahu dia sempat melirikku. Cuma sekilas, tapi cukup membuat jantungku semakin tidak karuan.
Dia menutup bukunya pelan. Menghela napas. "Xia?" Daffa memanggil namaku pelan.
Aku menoleh cepat, menatapnya dengan mata berkunang menahan emosi dan tangisan.
"Apa? Mau bilang gue nyebelin? Norak? Dan suka gangguin hidup lo?" cecarku.
Daffa mendengus, ekspresi kaku di wajahnya mencair sedikit. "Bukan gitu. Gue cuma, nggak mikir aja tadi."
Aku mendelik, menahan rasa panas di mata. "Nggak mikir?"
"Sorry, Xi." dia terdiam lagi, terlihat sangat salah tingkah. Tangannya terulur seolah mau nepuk tanganku, tapi aku buru-buru menariknya.
"Jangan pegang-pegang gue!" ketusku.
Suasana sunyi terjadi di antara kami, aku hanyut dalam overthinking yang berlebihan. Aku sudah siap kalau Daffa balik diem lagi, pura-pura nggak peduli. Tapi tiba-tiba, ada sesuatu yang menyentuh pelan ujung meja di dekat tanganku. Dan itu jari Daffa.
"Xia." suaranya semakin lembut kali ini.
"Apa?" jawabku cepat, masih terdengar ketus.
Dia menatapku sebentar, lalu senyum tipis, senyum yang berbeda dari pada senyum yang selalu dia tunjukin. "Gue nggak bener ngomong tadi. Gue tau lo berisik, tapi—" ia menarik napas, seolah ragu untuk melanjutkan. "—gue, suka kok. Gue lebih nyaman denger lo ngoceh tiap menit daripada diem."
Aku spontan mendongak, menatapnya dengan mata melebar. "Maksudnya?"
Daffa tersenyum, buru-buru mengubah ekspresi jadi cuek lagi. "Iya, tapi lo jangan geer dulu. Maksud gue, lo kalo diem gini bikin kelas jadi nggak ada hiburannya. Gue jadi bosen."
Aku mendecak, separuh marah. "Bosen kata lo? Apa jadinya kalo lo jadi gue dari tadi, udah di fase kesel bukan bosen lagi. Dasar, mulut lo emang minta gue tabok!"
Daffa terkekeh kecil, mencondongkan badan sedikit, suaranya lirih tapi cukup bikin aku merinding. "Tapi serius, Xia. Jangan terlalu mikirin ucapan gue tadi, ya? Gue nggak pernah muak sama lo. Gue malah—" ia berhenti, menelan ludah, lalu berdehem. "—gue malah takut lo beneran ngambek sama gue."
Jantungku terasa berhenti. Tanpa menjawab aku cepat-cepat menoleh ke papan tulis lagi. Entah kenapa pipiku terasa panas.
"Xia!"
"Daffa, Lo tuh ya, bikin gue kesel."
Daffa terkekeh kecil. "Kesel tapi tetep mau duduk sebelahan sama gue, kan? Salting lu jelek, Xia."
Aku spontan menoleh ke arahnya yang kini siap berdiri dan lari dari tempatnya. "DAFFA!!!"
Dia ketawa pelan, lalu lari begitu saja keluar kelas, dan aku, sudah pasti mengejarnya.
🦋TBC🦋