chanyeol memilih untuk menempati spot outdoor karena siang ini langit sedang mendung dan hawanya jadi sejuk banget. kebetulan chanyeol habis ada urusan di dekat sini jadi dia tiba 30 menit lebih awal.
tadinya chanyeol pikir dia harus menunggu cukup lama buat semuanya kumpul. tapi ternyata baru sekitar sepuluh menit dia duduk, lucas udah dateng dengan segala ketiba-tibaan dan kerandomannya kali ini.
hari ini lucas bawa dua bungkus permen kapas.
waktu ditanya kenapa. lucas menjawab karena permen kapasnya warna pink. dan yang perlu kalian tau adalah pink bukan termasuk warna favorit lucas. #LAKIK
alasan sebenernya mah karena yang jual adalah seorang kakek tua. jiwa muda lucas bergejolak meskipun duitnya pas-pasan. tapi bagi lucas alasan sebenernya itu gak perlu diketahui orang lain, cukup dia dan Tuhan aja yang tau. jadilah lucas jawab random aja.
oke sekian dulu tentang si random lucas yang ternyata berhati mulia. #janganmeremehkanseoranglucas
gak berapa lama setelah itu taeil dan johnny juga ikut menampakkan diri. mereka dateng beriringan hingga lucas menaruh curiga.
"kok barengan?"
"emang barengan," jawab johnny begitu duduk di kursi.
"maksudnyaaaa??"
"ya maksudnya barengan cas. emang ada maksud lain?" kali ini taeil yang membalas.
disitu lucas langsung menampakkan ekspresi tersakiti. kenapa? karena lucas ingat permintaan tebengannya kemarin yang hanya dibalas dua buah penolakan. dan ternyata sekarang dua orang yang menolaknya malah berangkat barengan.
"gue tuh sebenernya dianggap apa sih? gue kemaren minta nebeng gak dibolehin?" tanya lucas. hampir aja meneteskan air mata. hatinya udah kayak biskuit monde geprek sekarang.
johnny yang udah menambah stok baru kesabaran bersiap menjawab sehalus mungkin dengan senyuman di wajahnya.
"gini ya dik lucas. pertama lo gue anggep sebagai manusia, manusia bongsor. lo sadar gak sih kemaren waktu bonceng tiga lo itu dengan tanpa perasaannya menempati hampir lima puluh persen wilayah jok motor." johnny mengambil napas, memberi jeda. "udah gitu gak bisa diem banget anjing emosi banget gue pas nyetir."
"emang ya?" tanya lucas dengan tidak berdosanya.
"iya jing. bagi bocah tk juga paling lo keliatan kayak colossal titan."
"john fyi aja lo juga bongsor anjir gue yang kebagian di tengah udah berasa isian sandwich yang siap dipenyet," ucap taeil mengutarakan isi hati.
"sorry to say tapi opini rakyat kecil tidak diterima," balas johnny.
"ANJIR. gue 170 itu udah termasuk normal ya. lo semua aja yang ketinggian!"
chanyeol yang kali ini kembali jadi penonton sinetron striping yang hanya terdiri dari tiga pemain cuma bisa senyum sampe alisnya keangkat. sambil menyeruput es teh miliknya, chanyeol menatap orang-orang sekitar yang untung aja gak menaruh peduli pada mereka bertiga.
tapi yang chanyeol syukuri sekarang adalah berantem mereka kali ini cuma berantem aneh kaya biasanya. bukan tengkar beneran kaya waktu itu. jujur waktu itu chanyeol sempet bingung harus berbuat apa.
setelah dirasa mereka bertiga akhirnya diam, chanyeol akhirnya buka suara, "udah?"
"AYO ADU PANCO!" tantang taeil.
maaf ya untuk seseorang bernama park chanyeol. maaf sudah menjatuhkan ekspetasimu. ternyata berantemnya kali ini belom selesai.
"OKE! SIAPA TAKUT!?" johnny udah menaikkan sebelah lengan kemejanya flanelnya.
"CAS, WASIT!" suruh taeil yang langsung dijawab anggukan semangat oleh lucas.
"SIAP!"
dan tepat setelah lucas selesai menghitung mundur, masing-masing telapak tangan dari taeil dan johnny saling berusaha menjatuhkan. mereka berdua saling menatap sengit sampai dahi mengerut.
taeil dan johnny sekarang sama-sama merasakan perbedaan kekuatan yang cukup signifikasi dari terakhir kali mereka adu panco.
"udah kalo ga kuat nyerah aja," kata taeil mencoba menghasut.
johnny membalas dengan senyuman miring, "lo kali maksudnya yang ga kuat?"
selama seminggu terakhir sebenarnya johnny menggunakan waktunya untuk berolahraga demi menempa fisiknya agar jadi lebih kuat. dan johnny rasa taeil juga melakukan hal yang sama.
"lo ngegym ya?" tanya johnny akhirnya, masih sambil beradu panco.
"gila kali lo. mana ada duit gue," jawab taeil masih dengan muka serius ingin menjatuhkan lawan. "gue cuma pull up di tiang ga-"
"TIANG GAWANG!" samber johnny memotong kalimat taeil.
"LO JUGA?!"
"IYALAH ANJIR ORANG GUE GA PUNYA ALATNYA."
johnny tertawa lepas begitu juga taeil. kemudian ikatan kuat telapak tangan dari adu panco tadi langsung lepas begitu aja berganti dengan sebuah tos yang membuat lucas selaku wasit bingung siapa yang jadi pemenangnya.
chanyeol yang lagi syahdu-syahdunya menegak es teh langsung tersedak melihat sebuah plot twist di depannya. masalahnya barusan tadi aja suasananya itu penuh persaingan yang kental terus tiba-tiba sekarang mereka berdua malah tos-an kayak sohib yang kelewat akrab dan gak pernah ribut.
dan sekarang mereka berdua malah asyik berbincang seputar bidang olahraga dadakan yang mereka lakukan seminggu terakhir. seratus persen tidak menganggap keberadaan dua makhluk lain disana.
chanyeol yang duduk berseberangan dengan lucas saling mengirim kode lewat pandangan mata.
ni berdua pada kenapa deh?
gatau bang sumpah. emang aneh
lo gak ikutan?
enggak, gue hari ini mau waras dulu.
lo waras malah jadi aneh cas.
lucas skrg:
chanyeol akhirnya nyoba pura-pura batuk buat menginterupsi. untungnya kedua insan yang berlagak dunia seperti milik berdua itu langsung diam dan menoleh.
"seru banget ngobrolnya?"
"hehehe maap bang." johnny memberi peace sign sambil tersenyum menampakkan giginya.
"gue liat-liat udah pada siap nih?"
"cuma olahraga aja biar gak kayak kwetiaw nanti," jawab taeil.
"kwetiaw?"
"kwetiaw kan lemes cas."
lucas manggut-manggut. baru menyadari wujud kwetiaw yang lemes banget. mungkin tipes kali ya, pikirnya.
"yaudah bagus pada mau ikut dan ternyata seminggu kemaren pada diem-diem nyiapin diri."
setelah sekian ribu purnama akhirnya chanyeol berhasil mengambil alih topik pembicaraan jadi dia bisa menggiring diskusi kali ini ke jalan yang benar. tadinya chanyeol pikir bakal cuma duduk aja disitu menonton laga sinetron sambil nyeruput es teh sampe diabetes. untungnya sih enggak, ya.
"jadi kapan kita berangkat?" tanya chanyeol.
"besok?!"
"NGASAL BANGET LO JAWAB CAS." taeil langsung nyamber. "kita mau nginep dimana aja belom tau."
"di rumah om gue aja. gimana? kalo mau nanti gue bilang om gue."
tentunya tawaran dari johnny itu langsung mendapat seratus persen suara setuju dari semua peserta rapat kali ini. mereka kompak bersyukur bukan main sebab akhirnya gak perlu keluar uang lebih buat masalah tempat tinggal.
"oke. gue anggep masalah nginep2an udah clear. sekarang tanggal berangkat."
"lusa kelamaan ga bang? gue juga ga enak kalo dateng tiba-tiba ke rumah om gue. kaya mo ngegrebek ntar kesannya."
"gue oke aja sih kapan aja asal bukan h-1 kiamat."
lucas disitu langsung ketawa. "gue rasa bang chanyeol udah mulai bangkit jiwa badutnya anjir."
"lolos seleksi tahap satu sih menurut gue," kata taeil menambahi. "kita yakin lo bisa bang. mari bergabung bersama golongan kami."
chanyeol yang udah gak bisa kaget lagi sama kelakuan mereka cuma memberi senyum penuh paksaan. gak lupa istigfar terus dalam hati biar imannya tetap kuat dan gak goyah.
"sinting lo semua. ga kasian apa liat muka bang chanyeol udah asem banget kayak salah masuk kandang penguin wakanda," kata johnny yang terlihat membela sebelum akhirnya melanjutkan, "betewe kita bakal nyambut lo kapan aja kok bang di golongan ini. kalo lo perlu kiat-kiat 1001 cara menjadi random gue ada bukunya."
di keadaan begitu, chanyeol cuma bisa ngelus dada.
istigfar sendiri, emosi sendiri, nenangin diri sendiri, semuanya dipendem sendiri karena chanyeol terlatih untuk mandiri.
kalo ada ajang pemilihan manusia tersabar abad ini mungkin chanyeol bisa menang effortlessly sebab selama tiga jam pertemuan mereka itu, chanyeol berkali-kali membawa topik pembicaraan mereka ke arah yang lurus setelah berkali-kali pula berbelok, menikung bahkan putar balik kemana-mana.
pertemuan untuk membicarakan masalah keberangkatan petualangan mereka yang harusnya membutuhkan waktu cukup 40 menit malah berakhir berjam-jam.
"gapapa yang penting ketemu mufakat bukan mufasa."
begitulah kata-kata penutup dari lucas.
merapi | sacrifice
to be continue