Raga berpendapat apa yang diputuskan Ayahanda Baginda Raja Arruk tidaklah tepat. Maka ia menghadap Manku Ruhkan untuk berbincang mengenai itu.
“Manku, aku merasa keputusan Ayahanda Baginda kurang tepat.” Ia duduk di kursi depan meja kerja Manku Ruhkan di dalam kamarnya di menara Mankubumi.
Manku Ruhkan sedang menulis dengan menggunakan bulu angsa dan tinta hitam. Ia telah selesai dan menggulung kertas dan menyegelnya dengan cap lilin. Sebelum ia menanggapi pernyataan Raga, ia mengupas buah jeruk dan memakannya dengan santai. Ia pandangi cucu kemenakannya.
Raga menunggu tanggapan Manku Ruhkan. “Manku?”
“Aku mendengarkan alasanmu.”
“Alasannya adalah, tidakkah salah membiarkan putri-putri Anucara tidak menghadiri pemakaman Ayahanda Baginda di negeri mereka? Menurutku itu salah, Manku. Tidakkah kita memiliki rasa iba?”
“Tentu kita iba. Tapi Raja telah memutuskan dan menurut Manku sendiri alasan Ayahanda Bagindamu masuk akal. Kita tidak bisa mengambil resiko, penyakit ludahgeni itu amat berbahaya. Mungkin jika kondisi sebaliknya, sang Raja Baranju meninggal bukan karena penyakit itu, mereka boleh saja dikirim ke sana.”
“Tetapi Manku, bukankah sama saja? Prajurit laskar Bajamas akan kembali ke istana. Siapa yang bisa menjamin mereka tidak membawa penyakit itu kembali ke sini? Jika mereka diperkenankan pergi dan kembali, kenapa para putri ini tidak?”
Manku Ruhkan mengaitkan jarinya di bawah dagu. “Posisi mereka berbeda, Pangeran. Prajurit yang pergi ke sana tidak pasti mendekati jasad Raja Baranju. Dan sebaliknya, jika para putri pergi ke sana, sangat mungkin bagi mereka menyentuh jasad ayahnya. Dan itu yang Raja Arruk takutkan. Tiga dari putri itu adalah selirnya, yang pada malam hari mereka tidur bersamanya, setitik bayang saja penyakit itu menempel pada raga mereka, bisa jadi Raja Arruk tertular penyakit mematikan itu.”
Manku ada benarnya. Raga memutar otak, “tidakkah ada cara untuk memusnahkan penyakit itu?”
“Ada. Tapi itu berbiaya amat mahal. Para penyembuh di Juracala, para Shivakin mematok harga sangat mahal untuk Nagabaku dan memberi harga tanpa biaya di tanahnya sendiri. Juga perjalanan menuju ke sana, memakan waktu berbulan-bulan, serta amat berbahaya, kita tidak mau berurusan dengan suku Kalakin dan Manungsirra.”
“Para tabib dan Empu memangnya tidak bisa, Manku? Bukankah mereka dulunya adalah para Pengembara Hitam yang menuntut ilmu-ilmu berbahaya dan berguna dari mana saja?”
“Tidak semuanya, Pangeran. Tidak semua dari mereka menguasai ilmu-ilmu kuno. Biar Manku beritahu pada Pangeran tentang penyakit Ludahgeni.”
Raga mengangguk, ingin mendengarkan.
“Ludahgeni adalah penyakit kuno. Ia terjadi di masa lampau. Di tanah Juracala. Setelah masa Amok dan masa-masa pembangunan kerajaan, tanah di balik lautan terjadi keributan. Terutama di suku Manungsirra. Yang awalnya adalah para manusia beradab yang amat taat pada Ghobalah dan Ghodah. Mereka kehabisan sumber daya alam dan bahan pangan. Mereka teramat kelaparan sampai-sampai mereka menggigit tangan dan paha mereka untuk mengenyangkan perut.
“Itu adalah hal paling buruk yang dilakukan manusia selain membunuh. Itulah dosa yang mengerikan. Alkisah, Ghobalah dan Ghodah murka terhadap suku itu dan mengirim mereka seseorang bernama Tasaka yang amat tampan dan bertubuh sempurna. Suku Manungsirra yang sudah takabur dan menjelma mayat hidup mengagung-agungkan Tasaka. Mereka menyembahnya dan melayani Tasaka. Sampai pada saat perayaan hari kelahiran Tasaka, mereka malah beramai-ramai memakan sesembahannya. Yang mereka tidak ketahui adalah, Ghobalah dan Ghodah menyisipkan penyakit mematikan dalam tubuh Tasaka.
“Setiap daging yang mereka makan menyebabkan tubuh mereka melepuh dan terbakar. Melalui itu Ghobalah dan Ghodah memusnahkan suku Manungsirra yang telah berdosa besar.
“Belum berakhir. Dari sisa-sisa peradaban suku Manungsirra, bangkai-bangkai mereka hidup dan menyerang suku lain. Pertama mereka berhasil mengatasi serangan itu dengan membakar para Manungsirra. Membakar seluruh wilayah Manungsirra. Selama peperangan yang memakan waktu bertahun-tahun itu, muncullah penyakit Ludahgeni. Mereka-mereka yang sesungguhnya tidak terlibat peperangan terkena penyakit itu karena para prajurit yang pulang telah terjangkiti sisa-sisa penyakit itu.
“Berjatuhanlah korban-korban penyakit itu. Para wanita, lelaki, dan anak-anak. Tanah Juracala menghadapi masa teror. Berita penyakit menyeramkan itu sampai juga ke tanah Nagabaku. Membuat semua kerajaan menjadi panik.
“Cahaya terang datang dari Ghobalah dan Ghodah yang telah mengirimkan penyakit itu, melalui tangan para penyembuh di gunung Drye, suku Shivakin menciptakan obat penawar yang ampuh. Berangsur-angsur mereka pulih. Para korban yang berjatuhan telah dibakar dan dibumihanguskan. Hampir tidak ada lagi sisa-sisa keberadaan suku Manungsirra.
“Demi menghindari penyakit itu sampai ke tanah Nagabaku, pihak-pihak dari Nagabaku menawarkan harga yang mahal atas obat penawar itu. Tapi para Shivakin tidak mau menyerahkan obat itu. Mereka mengklaim bahwa penyakit itu sudah sirna.”
“Tapi ternyata mereka salah.” Kata Raga.
“Ya, pangeran. Suku Manungsirra muncul lagi. Kali ini mereka lebih beringas. Mereka menjadi ancaman bagi semua suku di tanah Juracala. Dugaan Manku, ada seseorang yang telah bersentuhan dengan suku Manungsirra. Entah siapa itu, manku tidak tahu.”
Raga berpikir, ia menduga, kemudian ia menyangkalnya.
“Baiklah, Manku, kini aku mengerti bahayanya. Sebagai gantinya, ijinkan aku mengusulkan sesuatu yang lain. Seperti yang kulihat dari awal para putri Anucara datang dan menjadi selir dan dayang. Mereka berlima tidak pernah bertemu, bertatap mata, apalagi berbincang. Yang kuingin usulkan adalah, tolong Manku beritahu Ayahanda Baginda agar memberikan satu waktu khusus kepada lima putri itu untuk berkabung dan berdoa kepada Ghobalah dan Ghodah untuk ayahanda bagindanya. Malam ini, esok malam, atau kapan waktu. Biarkan mereka memiliki waktu kesedihan bersama. Meski mereka harus mengabdi di Buminaga seumur hidup, mereka tetap bersaudari.”
Manku Ruhkan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. “Sungguh, kau adalah pangeran yang mulia dan memiliki hati yang amat baik, Pangeran Raga Reksa. Usulmu akan kusampaikan kepada Raja Arruk.”
“Kasih diterima, Manku Ruhkan. Aku undur diri dulu.” Raga beranjak dari kursi dan keluar dari kamar kerja Manku Ruhkan.
Mungkin tak cukup, tapi itu yang bisa ia lakukan. Raga meyakinkan dirinya bahwa yang telah ia lakukan adalah tindakan yang benar.
Sekarang, selagi hari menjelang sore dan angin mulai sejuk, ia menuju pesisir pantai. Ia ada janji dengan pelatih pedang pilihan Suryaesta. Ia telah belajar pedang selama beberapa pekan sebelum Pangeran congkak itu datang, si penjilat pedang Wasaka.
Raga sengaja mengambil jalan lain untuk menghindari pertemuan dengan Wasaka. Dia tak boleh tahu bahwa dirinya baru sedang berlatih pedang. Jika ia tahu, ini bisa menjadi senjatanya. Ia akan tak henti-hentinya mengolok Raga.
Mungkin Wasaka sedang menggodai para dayang di taman bunga. Raga tak habis pikir bocah sebelas tahun itu sudah berani berlaku seperti itu. Pandangannya kepada sepuluh selir, membuat Raga muak.
Ahli Pedang Resi telah menunggu di dermaga kecil di balik bukit. Sebuah tempat yang tidak terlihat dari puncak menara mana pun. Tempat yang sudah tak terpakai lagi. Tinggal lantai batu yang kotor dan lembab. Di banyak tempat ditumbuhi lumut. Seiring angin laut bertiup, ombak berdebur mencium dermaga itu.
Resi bercerita bahwa dermaga ini pernah digunakan oleh Pangeran Amork dan Pangeran Wajanara ketika pergi berpetualang tanpa sepengetahuan raja.
Resi memiliki postur seperti prajurit biasa. Tapi wajahnya memiliki sedikit persamaan dengan Raga Reksa. Dia cukup tampan dengan hidung dan dagu yang lancip, bermata tajam seperti elang, seolah ketika ia memandang apapun ia sedang menelaah lebih dalam, ia murah senyum dan memiliki warna rambut yang sama dengan Raga.
Tidak heran, karena Resi adalah paman sepupunya. Dia dari Monak. Putra adik Raja Raya Dhroa, Resna Dhrai. Ahli pedang dan pembuat pedang. Dia pernah menjadi nagawana bagi Nagawaja Wajalaga. Pedang yang ia buat panjang, tipis, ringan dan sangat efektif dalam melukai lawan. Tetapi dalam latihan, Raga diberi pedang yang berat dan besar. Demi kekuatan tangan agar terbiasa, bila nanti pedang yang ia gunakan lebih ringan, maka ayunan bisa lebih gesit.
“Kekuatan tidaklah begitu penting jika kau tak memiliki ketepatan.” Dia selalu berkata begitu.
“Selamat hari terbenam, Resi.” Sapa Raga.
“Pangeran.” Balasnya dengan anggukan.
“Mari kita mulai.” Raga menghunuskan pedang bergagang emasnya. Lalu mengambil kuda-kuda dengan pedang mengacung mengancam lawan.
Dilihatnya Resi mengambil dua pedang. Ia berjalan santai mengikuti gerakan Raga. Sesuai yang ia ajarkan, “bergeraklah selalu agar musuhmu kesulitan membaca taktikmu. Dengan bergerak, kau pun bisa lebih mudah menyerang.”
Resi memainkan dua pedang itu, yang satu ukurannya lebih besar dan tampaknya lebih berat. Ia memutar-mutar pedang di udara menggunakan pergelangannya.
“Teruslah ancam musuhmu dengan ujung pedangmu.”
Dan ketika kau melihat kesempatan terbuka pada posisi lawanmu, serang. Raga menghujamkan pedangnya ke arah leher Resi.
Crangg!!
Pedang Raga terlepas dari tangannya, terhantam oleh pedang berat yang dipegang Resi.
“Cengkeraman tanganmu kurang kuat.” Resi berkomentar, tak lupa dengan senyuman.
Resi menepis tangan Raga dengan punggung bilah pedangnya ketika Raga hendak memungut pedang emasnya. Tepisan itu meninggalkan merah di punggung tangan Raga.
“Berdirilah, ambil kuda-kuda.” Raga menurutinya. Resi meraih tangan Raga dan menyuruhnya menggenggam pedang panjang dan berat itu. “Tidak. Tidak dengan dua tangan. Aku minta satu.”
Pedang itu berat sekali. Tangan Raga sampai bergetar, ototnya mengejang. Ia menggigit gerahamnya. Resi meluruskan tangan Raga. “Nah, begini. Tetaplah seperti ini sembari aku bercerita. Suryaesta bilang kau suka cerita.”
“Iya.” Jawab Raga, suaranya hampir seperti geraman.
“Aku mau bercerita mengenai ibumu yang jelita.”
Raga hampir kehilangan keseimbangannya. Pedangnya hampir jatuh.
“Pegang kuat-kuat.” Kata Resi. Ia menepuk lengan atas Raga. “Kau butuh otot yang kuat.”
Raga menarik napas secara teratur. Ia abaikan rasa keram yang mengancam mendera.
“Seperti yang telah kau tahu, aku ini bisa dibilang adalah pamanmu. Paman sepupu. Dan aku cukup tahu tentang ibunda ratu Raranila. Kami tumbuh bersama, aku, Raranila, Razak dan Rakai.
“Aku ingin bercerita mengenai bagaimana sang Maharaja Arruk bisa menikah dengan Raranila.”
Raga memusatkan perhatian pada dua hal. Kestabilan tangan dan pedang berat itu dan pada telinganya untuk mendengar.
“Raranila adalah putri raja Monak yang sangat termasyhur kejelitaannya. Ia memiliki rambut gelombang cokelat yang mengkilau. Matanya ramah dan bijak. Senyumnya mampu mengalihkan dunia kaum lelaki. Ialah lambang kerajaan Monak itu sendiri, ialah Intan yang menjadi simbol kerajaan.
“Maka ketika usianya ranum dan siap menyerahkan diri pada mahligai pernikahan. Banyak bangsawan kaya yang datang dan berusaha melamarnya. Kesemuanya ia tolak. Raja Raya Dhroa membujuk putrinya untuk memilih salah satu saja. Demi persekutuan dengan wilayah-wilayah.
“Raranila berkata ia belum ingin.”
Paha, betis, dan otot lengan Raga mulai menjerit.
“Monak adalah kerajaan yang cukup kuat dan kaya. Intan yang mereka tambang bernilai mahal. Tapi mereka jarang menjualnya. Monak menjadi sekutu idaman wilayah-wilayah lain. Terutama Buminaga. Meski Monak telah bersumpah bahwa kerajaannya tetap di bawah kekuasaan Buminaga, Sang Raja Ramok ingin kedua kerajaan ini bersatu dalam ikatan pernikahan. Di akhir usianya ia mengutus Pangeran tertua, Arruk, untuk melamar dengan segala upaya agar Raranila jatuh ke pelukannya.
“Sama halnya seperti Raranila. Ayahmu adalah sisi lain dari keping koin kejelitaan. Raranila dan Arruk. Pangeran dan Putri yang serasi. Kejelitaan mereka apabila terbaur, menciptakan keindahan yang harmonis.” Resi menatap dan mengangkat dagu Raga. Keringat telah menetes dari dahinya.
“Sekarang ganti tangan kiri.” Perintahnya.
Raga bersyukur, tangan kanannya sudah hampir mati rasa. Sulit untuk ia gerakkan. Ia mengubah posisi kuda-kudanya dan mengangkat pedang berat itu dengan tangan kiri. Kali ini beratnya jauh lebih terasa.
“Baik, lanjut. Raranila pun mendengar perihal Arruk. Sang Pangeran Buminaga yang tampan. Tapi, ada pula putra mahkota dari bangsawan ternama di Monak yang ingin melamarnya pula.
“Raranila berkata pada Raja Raya Dhroa untuk mengadakan pertandingan penentu. Siapa yang menang akan menikahinya.
“Baik keduanya menyanggupi. Arruk dan putra mahkota itu telah bersiap di lapangan kejuaraan. Adu pedang. Arruk datang dengan zirah emas yang amat menyilaukan. Putra mahkota itu, memakai zirah hitam hasil tempaan baja Wajalaga. Mereka telah mengambil kuda-kuda untuk saling menyerang.
“Tapi Raranila menghentikan. Ia berubah pikiran. Ia tak menginginkan salah satu dari mereka terluka. Maka ia memutuskan, ia memilih Arruk.
“Putra mahkota tidak terima dan di kelengahan Arruk yang bersorak menang ia menghujamkan pedangnya ke tubuh Arruk tapi tidak membuatnya terluka. Arruk yang merasa terhina dan menganggap perbuatan putra mahkota itu adalah sebuah pelanggaran, ia langsung membunuh Putra Mahkota di depan semua mata bangsawan Monak. Ia tusuk lehernya sampai tembus ke tulang belakang.
“Raja Raya Dhroa membenarkan tindakan Arruk. Raranila telah memutuskan. Dan siapa yang tidak menerimanya pantas mendapatkan ganjarannya. Mereka akhirnya menikah. Arruk dan Raranila. Tidak lama setelah pesta pernikahan, yang dilaksanakan selama dua pekan penuh, Raja Ramok meninggal dunia karena usia tua. Arruk naik takhta dan Raranila menjadi ratu.
“Raranila adalah ratu yang adil dan bijaksana. Ia mengacu pada nilai moral kemanusiaan. Di awal-awal pemerintahan Raja Arruk, rakyat Buminaga makmur, begitu pula dengan wilayah-wilayah lain yang menjadi bawahannya.
“Tapi, kebahagiaan tidaklah lengkap tanpa adanya seorang Pangeran atau Putri. Lama sekali, setelah Raja dan Ratu itu bersama, mereka tak segera punya bayi. Raranila mulai bersedih. Aku kadang diminta kehadiranku untuk mendengarkan keluh kesahnya. Ada yang salah dengan Raja Arruk. Ratu Raranila takut ia tak bisa melahirkan bayi sehingga memutus rantai warisan kerajaan.
“Tapi, kubilang padanya, Tuhan Amagarana akan memberimu kebaikan. Tunggu itu.”
“Kau menyembah Amagarana?” Raga kaget.
“Ya, dialah Tuhan sejati dunia yang kita ketahui ini. Dialah tuhan naga berkepala sembilan. Aku berdoa padanya untuk kelahiranmu. Dua belas tahun lalu, terlahirlah kau, Raga Reksa.”
Raga menyimpan cerita ini dalam benaknya. Ia terkenang ibunda Raranila yang amat menyayanginya. Menggendong dan membuainya tiap malam dan menceritakan kisah-kisah kebajikan sebelum tidur.
“Bersama kita kenang Ratu adil Raranila.” Kata Resi.
Raga mengangguk.
Resi merebut kembali pedang berat dan panjang dari Raga. “Kurasa cukup untuk sore ini.”
“Syukurlah.” Raga melemaskan kedua tangannya.
“Aku percaya kau bisa menjatuhkan pangeran congkak itu.” kata Resi sambil tersenyum jenaka. “Kembalilah ke istana.”
“Sebentar, siapa putra mahkota yang melawan ayahku?”
Resi diam sejenak. “Dia adalah kakak sulungku.”