Again [Re-publish]

By sei-ran

69.3K 4.7K 106

━━━━━━ 𝐀𝐍𝐈𝐅𝐀𝐍𝐅𝐈𝐂 © 13/05/2021 sei-ran !¡ disclaimers ¡! Naruto © Masashi Kishimoto Inspired by anim... More

Bagian 2
Bagian 3
Bagian 4
Bagian 5
Bagian 6
Bagian 7
Bagian 8
Bagian 9
Bagian 10
Bagian 11
Bagian 12
Bagian 13
Bagian 14
Bagian 15
Bagian 16
Bagian 17
Bagian 18
Bagian 19
Bagian 20
Bagian 21
Bagian 22
Bagian 23
Bagian 24
Bagian 25 - END
Penutup
Again : Road to Obito

Bagian 1

5.3K 313 3
By sei-ran

"Ouch..."

Sakura meringis dengan tubuhnya yang tergeletak di tanah. Anehnya, ia merasa pakaiannya mendadak terasa sangat longgar dan kebesaran. Bahkan ketika ia melirik ke arah kanan dan ke arah kiri, ia merasakan ada yang aneh dengan sekitarnya. Semuanya tampak sama, tapi entah kenapa cukup asing.

Tsring!

Jantung Sakura nyaris keluar saat sebuah kunai berwarna hitam dengan bentuk belah ketupat melesat tepat di hadapannya. Matanya membulat sempurna karena terkejut. Tahu-tahu saja ada dua ninja di hadapannya yang akan menyerangnya. Dari hitai-ate yang dipakai mereka, Sakura tidak tahu mereka dari desa mana.

"Apa kau dari Konoha? Tunduklah kepada kami, atau kami akan membuat kedua orangtuamu menangis karena anaknya sudah tidak bernyawa," ancam salah satu dari mereka.

"Apa maksud kalian!" teriak Sakura yang semakin panik hingga tubuhnya sedikit gemetar. Namun, sekejap kemudian ia mengernyit. Ia bingung dengan ucapan yang keluar dari mulut dirinya sendiri.

Kenapa Sakura jadi penakut? Bukankah ia sekarang sudah kuat? Bahkan ia bisa bersanding dengan Naruto dan Sasuke saat di medan perang dan ikut andil di dalam perang sampai selesai, meskipun nyawa pernah hampir terancam hilang.

"Tenanglah, nak. Kau aman jika bersama kami. Anakku akan melindungimu."

Sakura secara refleks mendongak ketika tiba-tiba seorang pria paruh baya berada di hadapannya. Pria paruh baya dan dua orang ninja yang tak dikenal itu mulai saling menyerang.

Di samping itu, Sakura memalingkan wajahnya pada seorang anak laki-laki yang kini berganti posisi menjadi di hadapannya. Anak itu tampak sedang memasang kuda-kuda. Mungkin untuk berjaga-jaga semisal ada serangan yang mendadak.

Di saat itu pula, Sakura kembali merasa keheranan. Tubuhnya jadi terasa lebih ringan. Memang ia sempat diet, tapi itu terjadi sebelum kejadian perang ninja keempat, bahkan itu jauh lebih lama dari iti. Ia mulai memindai bocah di depannya dengan cermat layaknya mesin pemindai.

Rambut perak, wajah ditutupi masker, dan kedua mata yang sayu. Bocah itu seolah sangat familiar di ingatan Sakura. Cukup lama berpikir, hingga akhirnya ia menyadari bahwa anak laki-laki itu mirip seseorang yang pernah menjadi gurunya dulu.

"K- Kakashi-sensei?"

Entah benar atau tidak, anak laki-laki itu langsung melirikkan kepalanya ke arah Sakura. Tanpa berkata sedikitpun. Saat hampir saja anak laki-laki itu membalas ucapannya, pria paruh baya tadi kembali dengan tenang sambil tersenyum. Pria itu menatap mata hijau Sakura lembut.

"Apa kau dari Konoha?" tanya pria tersebut, Sakura pun mengangguk.

"Aku Hatake Sakumo. Ini anakku, Hatake Kakashi. Apa kau punya rumah?"

"Hatake Kakashi... Nama yang sangat mirip." [batin Sakura]

"A- ah, iya. Tentu saja... Meskipun hanya menumpang," jawab Sakura dengan lirih di akhir kalimatnya.

"Untuk saat ini kau ikut bersama kami dahulu. Besok kau boleh kembali lagi pada orangtuamu bersama Kakashi."

"Tidak perlu, itu merepotkan. Aku sudah besar, aku bisa pulang sendiri."

"Hei, sadarlah. Kau ini masih kecil. Kau hampir diculik tadi jika saja kami tidak sengaja menemuimu di sini," timpal anak laki-laki bernama Kakashi.

"Hei, kaulah yang masih kecil. Jaga sopan santunmu pada orang yang lebih dewasa darimu," ucap Sakura sambil berdiri dan menatap Kakashi dengan angkuh.

Kakashi tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Sakura, membuat gadis itu kebingungan.

"Di rumahmu tidak punya cermin?"

"Sudah, sudah. Tidak perlu bertengkar. Kalian berdua sama-sama masih kecil. Lebih baik kita pulang dan memasak untuk makan malam," ucap Sakumo, melerai pertengkaran kecil yang ada di hadapannya.

"Sebenarnya, anak ini benar-benar sensei atau bukan? Yang kutahu, seharusnya ayahnya sudah meninggal saat menjalankan tugas. Jadi, tidak mungkin kalau ada ayahnya di sini bukan? Apalagi dengan dirinya yang masih kecil." [batin Sakura]

"Jadi, apa kau mau ikut dengan kami atau kau akan tinggal?" tanya Sakumo.

"Baiklah, aku akan ikut," jawab Sakura. Sakumo tersenyum senang mendengarnya.

"Hanya untuk memastikan," sambung Sakura di dalam hatinya.

***

Sakura, Sakumo, dan Kakashi pun mulai berjalan berdampingan. Sakura menatap Sakumo yang tengah asyik berbincang dengan Kakashi. Wajah anak itu benar-benar datar, berbeda sekali dengan ayahnya.

Tak lama, mereka tiba di tempat Sakumo dan anaknya itu tinggal. Sakura memandangi bangunan dari kayu yang tampak sudah tua itu sembari menunggu Sakumo yang sedang membuka kunci pintu.

Sakumo membuka pintu dan lantas mempersilakan Sakura untuk masuk terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Kakashi, lalu dirinya.

Setelah berada di dalam rumah, Sakura kembali memerhatikan sekeliling isi rumah itu. Arsitekturnya kuno, tapi bersih dan rapi. Dalam benaknya, ia bertanya-tanya, apakah mereka hanya tinggal berdua di tempat itu?

"Kemarilah, nak."

Barangkali terlalu asyik dengan kegiatan memandangnya, Sakura tak menyadari bahwa Sakumo sudah duduk di ruang tamu. Ia pun lantas berlari kecil menghampiri pria paruh baya tersebut dan memosisikan dirinya duduk berhadapan.

"Jadi, siapa namamu?"

"Haruno Sakura."

Sakumo tersenyum dengan hangat. Tangannya yang besar dan sudah ada keriput itu menepuk-nepuk pucuk kepala Sakura lembut. Gadis bersurai merah muda itu merasa tersipu malu.

"Walaupun hanya sehari, kuharap kau nyaman tinggal di sini," ucap Sakumo.

***

Matahari perlahan terjatuh dan hampir menghilang. Tak lama lagi, langit gelap akan tiba. Sakura merasakan tubuhnya lengket pun akhirnya ingin mandi.

Lantas, Sakura menghampiri Sakumo yang masih berada di ruang tamu. Pria dengan kerutan di wajahnya itu sedang mengelap senjata tajam andalannya sambil sesekali tersenyum. Seolah ia bangga dengan senjata miliknya.

"Sakumo-san, apa aku boleh ikut mandi di rumah ini?"

Sakumo melirik Sakura lalu tertawa. Ia pun mengangguk, "tentu saja, Sakura. Kamar mandinya ada di belakang. Kalau kau kesulitan, minta tolong saja pada Kakashi," ucapnya. Ia kembali fokus dengan kegiatannya semula.

"Baiklah, terimakasih, Sakumo-san!"

Secepat kilat Sakura berlari mencari kamar mandi, tapi tidak juga terlihat barang gagang pintunya saja. Sakura merutuk dalam hati, bagaimana bisa rumah sekecil ini ia kesulitan untuk menemukan kamar mandi.

Dugh!

"Huaaaa..."

Barangkali terlalu bersemangat, Sakura tak sengaja menabrak lantai kayu yang membuatnya jadi jatuh tersungkur. Ada luka tiba-tiba timbul di kaki mulusnya.

Sakura heran karena ia merasa sangat ingin menangis dan kesakitan. Padahal seharusnya itu bukan masalah besar. Ia sudah pernah merasakan perihnya luka yang lebih menyakitkan dari ini.

Lalu, datanglah anak laki-laki bernama Kakashi. Anak itu menghampiri Sakura dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.

"Berisik."

Sakura menatap Kakashi dengan nanar matanya yang berkaca-kaca. Ia makin mengencangkan tangisannya.

"Diam, atau kubuang kau!"

"Huaaa... Sakumo-san..."

Entah karena insting dari seorang ayah atau kepeduliannya sebagai orang tua, Sakumo langsung menghampiri kedua anak itu. Ia terkejut melihat Sakura tersungkur dengan kedua matanya yang sembab dan pipi yang basah. Ia lalu membantu Sakura untuk bangun.

"Ada apa, Sakura?" tanya Sakumo, "kenapa kau bisa terluka? Apa yang terjadi? Kakashi, apa yang kau lakukan padanya? Apa kau menjahilinya?"

"Tidak. Dia menangis, berisik. Kusuruh untuk diam, tapi dia malah jadi tambah menangis," jelas Kakashi tenang.

Sakura sudah sesenggukkan. Ia kembali mengusap habis air matanya, lalu berdiri tegak dan menatap Kakashi dengan sorot matanya yang galak.

"Tapi kau membuatku takut!"

"Itu sih salahmu, berisik."

"Salahmu! Kau tidak membantuku dan malah ingin membuangku. Mana ada anak-anak yang seperti itu!" teriak Sakura yang tak dihiraukan Kakashi.

"Kenapa kau berbicara seperti itu, Kakashi?" tanya Sakumo yang cukup terkejut setelah mendengar penuturan Sakura.

"Dia berisik," Kakashi menunjuk Sakura, "Kupikir dengan ancaman dia bisa diam."

"Sakumo-san, dia jahat! Huaa..."

Sakura berhambur ke pelukan Sakumo dengan air mata mengalir kembali. Ia berharap bahwa pria paruh baya itu akan membelanya dan memarahi anaknya yang menyebalkan itu.

"Sudah, sudah. Kakashi hanya bercanda, maafkan Kakashi," tutur Sakumo sambil menepuk-nepuk rambut Sakura.

"Eh, rasanya seperti ada yang aneh. Kenapa... kenapa aku menangis? Dan kenapa aku jadi cengeng seperti dulu?" [batin Sakura]

Sakura langsung melepas pelukannya pada Sakumo. Dengan cepat, kakinya melangkah untuk kembali mencari kamar mandi. Hingga ketika akhirnya ia menemukan kamar mandi—yang tak tahu kenapa bisa muncul padahal dari tadi dicari tak ada—, ia menatap pantulan dirinya yang ada di cermin.

"AAAAAAAAAAAAA!!!!!!"

***

Sakumo yang panik mendengar jeritan Sakura, dengan sigap langsung berlari menghampiri gadis kecil itu. Tangan keriputnya yang cekatan itu menggeser pintu kamar mandi dengan kencang.

"Ada apa, Sakura?"

Seolah telinganya ditutup oleh sesuatu, Sakura tidak merespon pertanyaan yang dilontarkan Sakumo. Ia masih berdiri mematung dengan hati yang tidak percaya.

Tubuhnya menjadi kecil. Ia menjadi anak kecil lagi!

"Kenapa... bagaimana ini bisa terjadi?" Sakura memegang wajahnya, menatap pantulan dirinya dengan kebingungan.

"Sakura?" panggil Sakumo.

Entah sudah yang keberapa kali Sakumo memanggil nama Sakura. Namun, tetap tidak ada sahutan. Bahkan sampai Kakashi—yang penasaran—ada di sana pun, ia tak bergeming sama sekali.

"Aku... jadi... kecil?"

Sakura terperanjat ketika sebuah tepukan lembut mendarat di bahu mungilnya, membuat ia akhirnya langsung tersadar.

"Sakura, ada apa?" tanya Sakumo dengan khawatir.

"Apakah dugaanku benar?" [batin Sakura]

"Ano... Sakumo-san, apakah benar Anda adalah Hatake Sakumo, ayah dari anak bernama Hatake Kakashi?" tanya Sakura balik.

Sakumo mengernyit, "Tentu saja. Bukankah aku sudah pernah mengenalkan diri padamu?"

Sakura mengalihkan pandangannya pada anak laki-laki berambut perak yang disebut namanya Kakashi itu.

"K- Kakashi... -sensei?" lirih Sakura.

Sakumo dan Kakashi kebingungan melihat Sakura yang juga tampak kebingungan.

Sakura tidak percaya, ia memang terlempar ke dunia Kakashi di saat perang keempat benar-benar baru berakhir.

"Aku... aku harus menemui orangtuaku!" Sakura sedikit berteriak.

Saat Sakura akan pergi, Sakumo dengan sigap menahan tangannya.

"Saat ini kau harus beristirahat, Sakura. Mandilah. Kita makan malam bersama. Aku janji kau akan pergi ke orangtuamu besok."

Sakura mengangguk pasrah. Lagipula, langit sudah gelap. Tubuhnya yang kecil itu pun akan membuat dirinya cukup kesulitan.

Setelah Sakumo dan Kakashi pergi, Sakura langsung membersihkan tubuhnya dan menghampiri dua orang yang baru ia kenali itu di meja makan.

"Uwaa..."

Sakumo tersenyum ramah, "makanlah, kau pasti akan menyukainya."

Sakura mengangguk dengan girang. Ia makan dengan lahap, membuat Sakumo yang duduk di hadapannya terkekeh, sedangkan Kakashi menatapnya sedikit tidak suka.

Mereka makan dengan tenang. Sampai selesai, Sakura bangkit hendak merapikan piring kotor untuk dicuci.

"Tidak perlu, Sakura. Biar Kakashi saja yang cuci," tutur Sakumo.

"Tidak apa-apa, ini sebagai ucapan terima kasihku karena sudah dipersilakan untuk tinggal sebentar di sini."

Kakashi menatap punggung Sakura yang sedang mencuci wadah-wadah kotor. Entah kenapa, tiba-tiba ada sedikit rasa penasaran dalam dirinya.

"Kakashi, besok kau tidak ada misi, 'kan?" tanya Sakumo, Kakashi menggeleng.

"Kalau begitu, temani Sakura menemui orangtuanya."

Kakashi terbelalak, "apa? Bukankah tousan yang berjanji akan menemani dia?"

Sakumo tersenyum kikuk, menggaruk pipinya yang tak gatal, "Yaah... tousan tiba-tiba dapat misi. Mungkin dua atau tiga hari baru pulang."

Sakura yang mendengar itu langsung menyegerakan mencuci piringnya dengan sat-set-sat-set. Membuat Sakumo dan Kakashi lagi-lagi kebingungan.

"Ada apa, Sakura?" tanya Sakumo.

"Ah, tidak. Aku hanya berpikir mungkin hari ini adalah hari terakhir aku bertemu Sakumo-san dan Kakashi-sen- kun."

"SIAPA YANG KAU PANGGIL KUN, BAKA SAKURA!" [batin Sakura]

"Benar juga," raut Sakumo tampak mengguratkan seolah ia merasa sedih, "terima kasih ya, Sakura."

Setelah acara makan malam selesai, Sakura menghabiskan malamnya yang mengejutkan dengan beristirahat di kamar milik Kakashi, sedangkan Kakashi tidur bersama Sakumo, ayahnya.

Continue Reading

You'll Also Like

378K 18.9K 134
How far are you willing to go to achieve your dreams? That's a question that Lei's been asked a lot in his life as a boy born with asthma. However...
13.1M 277K 46
*Wattpad Featured Story* While forbidden fruit is said to be sweeter...it usually is. Elliot Monroe always found herself tangled when it comes to lov...
721K 8.3K 5
Cass doesn't understand why people think she is crazy. She leads a normal life. As normal as it could be while dating a gang leader, that is. Enters...
11.4M 95.4K 7
•A Wattpad Twice-Featured Story. *Previously named Elle's Saviour* At 25 years old, Elle Barrett resorted to escorting to provide for her son and un...
Wattpad App - Unlock exclusive features