Enjoy Reading!
❤❤❤
"Gue mau ngomong sama kalian," kata Fauzia membuat keempat orang itu menoleh kearahnya.
"Ngomong aja kali, Zi. Emang dari tadi lo ngapain kalo nggak ngomong?" balas Putri yang tengah merebahkan dirinya di kasur milik Fauzia.
Hari ini Hari Sabtu dan mereka memilih untuk membuat rumah Fauzia menjadi tempat nongkrong mereka kali ini.
Fauzia menghela nafasnya dalam.
"Lo kenapa sih, Zi? Ada masalah?" tanya Nia yang duduk di samping Fauzia.
"Eka sakit," ujar lirih Fauzia membuat ketiga temannya tadi yang sibuk dengan kegiatannya kini beralih menatap dan mendekati Fauzia.
"Sakit apaan?" tanya Citra.
Fauzia menatap satu-persatu sahabatnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa sih, Zi!? Jangan buat kita panik!" cerca Elisa.
"Eka sakit tumor," jawab Fauzia menundukkan kepalanya lalu mengelap air matanya yang turun.
Keempat orang yang mendengarnya mematung.
"Lo lagi prank kita?" tanya Citra memecah keheningan.
Fauzia menggeleng mendapati pertanyaan dari Citra. "Ngapain gue prank kalian dengan hal-hal gini?"
Putri dengan cepat mengambil ponselnya lalu mencari kontak Eka. Setelah mendapatkannya, Putri menekan tombol panggilan video. Panggilan video pertama dan kedua Eka menolaknya, barulah yang ke tiga Eka mau mangangkat panggilan video dari Putri.
Putri melihat Eka yang tersenyum lemah di layar ponsel miliknya. Putri melihat rambut Eka yang tinggal sedikit daripada sebelumnya. Putri tak kuasa menahan air matanya lalu memberikan ponselnya pada sahabatnya.
Mereka terkejut, ternyata Fauzia tak berbohong.
"Kok kalian nangis semua sih?" tanya Eka di seberang.
"Sejak kapan?" tanya Nia yang sudah menangis.
"Dari sebelum ujian," jawab Eka.
"Lo jahat, Ka. Lo nggak ngasih tau kita," sahut Elisa yang berusaha menghentikan air matanya.
Eka terkekeh pelan. "Udah jangan nangis. Jelek kalian semua kalo nangis!" katanya membuat mereka sedikit tertawa.
"Sorry, Ka. Gue tadi bilang sama mereka," kata Fauzia.
"Nggak masalah," jawab Eka. "Cit? Lo disana?" tanya Eka.
"Gue nggak mau ngomong sama lo!" balas Citra tak mau menatap layar ponsel milik Putri.
"Ngambek sama gue? Nanti gue beliin permen satu pack deh," kata Eka membuat Citra menangis.
"Nggak mau! Gue nggak suka sama permen lagi," balas Citra yang kini sudah menatap layar ponsel.
Eka tertawa. "Diabetes lo?" tanyanya.
"Sialan!" balas Citra membuat yang lain tertawa.
"Nadia udah tau?" tanya Putri.
"Nanti gue yang kasih tau sendiri sama dia," jawab Eka.
"Lo kenapa nggak pernah ngomong sama kita sih?" tanya Elisa.
"Gue nggak mau nambah beban pikiran kalian," jawab Eka.
"Kita saudara, Ka," sahut Nia.
"Iya tau," jawab Eka dengan senyum mengembang.
"Gue nggak mau tau ya! Pokoknya lo harus sembuh," sahut Putri.
"Lo harus tetap semangat," kata Fauzia.
"Thanks!" jawab Eka. "Udah dulu ya? Gue mau istirahat. Kapan-kapan kalian main ke rumah aja. Tetap jaga kesehatan kalian!" sambungnya.
"BYE, KA!" kata mereka berlima serempak melambaikan tangannya.
Di seberang Eka tersenyum dengan melambaikan tangannya pelan lalu memutuskan panggilan.
Seusai panggilan terputus. Mereka berlima terdiam, tenggelam dengan pikirannya masing-masing.
"Maaf, gue harusnya kasih tau kalian lebih awal," ujar Fauzia memecah keheningan.
"Lo tau sejak kapan, Zi?" tanya Citra.
Fauzia menceritakan semuanya. Bahwa ia tak sengaja bertemu dengan Eka di rumah sakit. Dan akhirnya mengetahui bahwa Eka sakit tumor. Fauzia juga menceritakan bahwa Eka awalnya tak mau kalau yang lain tau, tapi Fauzia menjelaskan bahwa ia menolak keinginan Eka.
"Gue nggak tau mau ngomong apa lagi," ujar Putri yang menekuk lututnya lalu menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.
"Anggap ini sebagai ujian untuk persahabatan kita. Kita harus tetap bersama dan memperkuat pondasi agar nggak roboh saat diterpa badai," ujar Nia.
"Kita harus beri Eka semangat. Yang dia butuhin saat ini hanya dukungan dari kita. Gue yakin Eka pasti bakalan sembuh dan bisa kumpul-kumpul lagi sama kita," ucap Elisa positive thinking.
Mereka berempat mengangguk mendengar ucapan Elisa. Lalu mereka kembali hening.
"Bisnis online kita nasibnya gimana?" tanya Citra
"Nggak tau. Terakhir kita open PO ya waktu itu, habis itu kita nggak lanjut lagi karena sibuk sama tugas sekolah," jawab Fauzia yang hidungnya memerah karena habis menangis.
"Lo mau ambil alih?" tanya Elisa pada Citra.
"Nggak deh, gue takut nggak bisa bagi waktu buat belajar sama jualan," jawab Citra yang diangguki semuanya.
"Sekarang udah banyak banget orang yang jualan sticker sama polaroid," sahut Nia. "Banyak saingan dagang di luar sana," sambungnya.
"Ternyata membangun bisnis nggak segampang yang gue pikirin," ujar Putri.
Tok... Tok... Tok...
Cklekk...
Pintu kamar Fauzia terbuka dan menampilkan Lisa yang datang dengan membawa berbagai macam camilan dan minuman di tangannya.
Setiap Hari Sabtu dan Minggu, Lisa selalu berada di rumah. Tapi tak jarang juga ada panggilan mendesak yang mengharuskan ia harus ke rumah sakit.
"Serius banget bicaranya," kata Lisa membuat mereka tersenyum ke arah Lisa.
"Sesekali, tan. Biar nggak disangka main-main terus sama orang-orang," jawab Putri.
Lisa terkekeh mendengar jawaban dari Putri.
"Sekolah lancar?" tanya Lisa.
"Lancar banget, udah kayak jalan tol tanpa hambatan," jawab Nia yang mencomot sepotong kue balok.
"Tapi tugas-tugasnya makin banyak," sahut Elisa.
"Wajarlah, namanya juga anak sekolah," kata Fauzia.
"Bagi gue sih nggak wajar. Fullday kok masih banyak PR," ujar Citra.
"Tante dulu SMA dimana?" tanya Putri pada Lisa.
"Di Malang," jawab Lisa. Putri menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Lisa.
"Tan, jadi dokter itu susah nggak sih?" tanya Elisa membuat Lisa tersenyum.
"Bukan susah lagi. Jadi dokter itu harus sabar menghadapi pasien. Belum lagi sekolahnya yang lama. Ujiannya yang sulit, buku-bukunya tebal-tebal. Dan masih banyak lagi," jawab Lisa. "Kamu mau jadi dokter juga?" tanya Lisa balik pada Elisa.
"Nggak, tan. Cuma mau nanya doang," jawab Elisa.
"Zia katanya mau jadi dokter spesialis anak, tan," sahut Putri membuat Fauzia yang sedang minum pun tersedak.
Lisa menatap anaknya dengan tersenyum. "Beneran?" tanya Lisa memastikan.
Fauzia memukul pelan dadanya untuk meredakan batuknya. Setelah batuknya berhenti, ia menatap Putri tajam yang dibalas tatapan tak berdosa oleh Putri.
Fauzia menatap Lisa. "Iya. Boleh?" kata Fauzia.
"Boleh banget! Mama bakalan dukung semua keinginan anak-anak mama, asal masih dalam hal yang positif," jawaban dari Lisa membuat Fauzia tersenyum. "Bukan hanya Zia saja. Tapi kalian semua juga harus berusaha dan berdoa supaya semua dimudahkan oleh Allah SWT," sambung Lisa menatap remaja di depannya ini satu-persatu.
"Amin," mereka semua mengamini ucapan Lisa.
"Tante ke bawah dulu ya, takutnya Oma Wiji butuh sesuatu," pamit Lisa yang diangguki semuanya. Ya, setelah ke luar dari rumah sakit, Wiji memang tinggal bersama keluarga Fauzia karena keluarga Tante Shea yang sering bolak-balik ke luar negeri untuk mengurus bisnis.
Setelah Lisa keluar, mereka berempat menatap Fauzia dengan pendangan usil.
"Udah baikan sama Tante Lisa nih," ujar Putri.
"Emang kapan gue marahan sama mama gue?" balas Fauzia bertanya.
"Perlu gue ingatin semuanya satu-persatu?" sahut Citra.
"Udah panggil mama, cuy!" kata Elisa usil.
"Sejak kapan, Zi?" tanya Nia yang ikut-ikutan.
"Sejak gue kecelakaan," jawab Fauzia.
"Kecelakaan yang membawa berkah di hidup lo," ujar Putri menepuk pundak Fauzia. Fauzia mengangguk membenarkan omongan Putri.
Setelah itu, mereka membahas banyak hal. Seperti mereka yang rindu suasana Malioboro, cita-cita, sampai membahas jodoh.
"Gue sih yakin kalau lo jodoh sama Kak Athala," kata Fauzia pada Nia.
"Jodoh udah ada yang ngatur, Zi," balas Nia malas.
"By the way, bokap lo udah sehat?" tanya Elisa pada Nia.
"Udah. Papa gue udah balik kerja lagi," jawab Nia membuat mereka semua mengangguk.
"Tapi yang dibilang sama Zia ada benarnya juga, Ni. Kata orang-orang kalo jodoh itu mirip. Sekilas kalo dilihat, lo sama Kak Athala lumayan mirip," kata Citra lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Mirip dari pluto!" sarkas Nia membuat yang lain tertawa. "Berarti Devan, Elang, sama Zia jodoh dong? 'Kan mereka bertiga mirip tuh?" sambungnya yang mendapat jitakan dari Elisa.
"Mereka kembar dodol! Beda lagi konsepnya!" ujar Elisa kesal lalu kembali mencomot kue balok. Ia tak menggubris Nia yang meringis kesakitan karena ulahnya.
"Lo sama Razka cuma sahabat doang, Cit?" tanya Fauzia menatap Citra.
"Iya," jawab Citra mengangguk yakin.
"Nggak yakin gue. Nggak ada yang namanya persahabatan cowok sama cewek yang nggak pakek perasaan. Pasti ada salah satu dari kalian pakek perasaan," sahut Putri.
Citra jadi ingat perkataan Razka di bazar waktu itu.
"Atau jangan-jangan lo yang suka sama Razka tapi nggak berani bilang?" tebak Nia membuat Citra melotot kepadanya.
"Sembarangan!" sahut Citra cepat membuat yang lain tertawa.
"Perasaan lo sama Kenand masih sama, Zi?" tanya Nia pada Fauzia.
"Ya begitulah," jawab Fauzia singkat.
Eka, Nadia, Nia, dan Elisa mengetahui tentang apa yang terjadi di cafe waktu malam itu. Dan yang mereka katakan pada Fauzia sangatlah menohok. Mereka bilang, "lo kok bego banget sih jadi orang!?"
"Lo nggak coba lupain dia gitu?" tanya Putri.
"Susah, Put. Semakin dilupain malah semakin nempel diingatan," jawab Fauzia.
"Jijik gue dengarnya anjir!" kata Elisa bergidik ngeri.
"Coba ajak diskusi sama Sang Pencipta di sepertiga malam," ujar Nia.
"Pasti itu," kata Fauzia.
"Akhir-akhir ini gue merasa mama sama papa gue berubah," ujar Elisa membuat yang lain menoleh kearahnya.
"Berubah jadi power rangers gitu?" tanya Fauzia.
"Bukan gitu maksudnya. Sikap mereka yang berubah," jawab Elisa.
"Mereka makin tekan lo buat dapatin nilai bagus?" tebak Citra yang mendapat jawaban gelengan dari Elisa.
"Akhir-akhir ini gue ngerasa sikap mereka berdua lebih lembut. Nggak terlalu keras kayak biasanya," jawab Elisa.
"Bagus dong kalo gitu!" ujar Putri.
"Bagus sih, tapi gue kaget aja gitu. Mama gue yang nggak pernah bangunin gue di pagi hari, tiba-tiba bangunin gue. Papa gue yang biasanya selalu ngomongin nilai, tiba-tiba gue diajak ngomong soal liburan," kata Elisa.
"Lo harusnya bersyukur. Berarti mereka udah mau berubah," sahut Nia membuat Elisa mengangguk pelan.
"Kita belum pernah main ke rumah lo. Kapan-kapan bolehlah kita main ke rumah lo," sahut Fauzia.
"Datang aja," jawab Elisa membuat mereka mengangguk.
"Eh, resep bikin cimol agar nggak meleduk gimana sih?" tanya Putri.
"Gue nggak pernah bikin," jawab Citra.
"Emang kenapa, Put?" tanya Elisa.
"Gue pernah bikin cimol tapi waktu gue goreng, cimolnya meleduk kemana-mana. Malah gue dikira main petasan di dapur sama mama gue," jawab Putri membuat yang lain terbahak.
"Petasan cimol," sahut Citra yang memegangi perutnya.
"Cimolnya lo masukin ke wajan waktu minyaknya udah panas?" tanya Nia yang diangguki oleh Putri. "Pantesan aja! Yang bener waktu kompornya belum dinyalain, lo masukin cimolya," sambungnya.
"Lo kayak berpengalaman banget dah?" tanya Elisa pada Nia.
"Ya jelas. Secara gue 'kan sering bikin cimol," jawab Nia.
"Gue kira lo yang jualan," celetuk Citra.
"Gue pernah bikin cimol, tapi adonannya terlalu encer. Cimol gue berubah sektika jadi cireng," ujar Fauzia membuat yang lain lagi-lagi tertawa.
"Eh, paus nafasnya pakek apaan sih?" tanya Putri tiba-tiba.
"Paru-paru," jawab Elisa.
"Paus hampir mirip sama lumba-lumba. Kalau nafas harus muncul di permukaan dulu," kata Nia.
"Tapi gue heran, kenapa paus bisa nahan nafasnya lama banget di dalam air," ujar Putri.
"Iya juga ya. Paus bahkan bisa menyelam di kedalaman belasan meter," ujar Citra.
"Ya mana gue tau! Nanti gue bakal tanyain ke pausnya," jawab Nia asal.
"Paus menangis mendengar ini," tambah Elisa geleng-geleng kepala.
"Otaknya random!" ucap Fauzia.
❤❤❤
Setelah pulang dari rumah Fauzia. Citra langsung diajak oleh kakaknya untuk pergi ke butik. Awalnya ia menolak mentah-mentah ajakan Cantik tapi melihat kakaknya yang terus-terusan merengek padanya membuat kepalanya hampir pecah.
"Dek? Bagusan yang mana?" tanya Cantik menunjukkan dua buah dress pada Citra.
"Nggak ada yang bagus. Kurang bahan semua bajunya!" jawab Citra membuat Cantik merenggut kesal. Citra tak peduli, toh ucapannya memang benar. Salah satu dress yang di pegang kakaknya tanpa lengan dan satunya lagi bagian belakangnya bolong.
"Dari tadi lo bilang nggak ada yang bagus. Padahal bajunya bagus semua," kata Cantik kesal.
"Emang bajunya buat apaan sih?" tanya Citra.
"Nanti malam mau dinner berdua sama Mas Aldo," jawab Cantik dengan mata berbinar.
"Bentar, gue pilihin," kata Citra lalu berjalan memilih pakaian untuk kakaknya.
Cantik menunggu adiknya itu sambil melihat-lihat pakaian yang lain.
"Nih, bagus nggak?" tanya Citra menunjukkan salah satu dress pada Cantik membuat wanita itu melongo.
"Gue mau dinner bukan mau ke kondangan," kata Cantik.
"Udah coba aja. Nih!" kata Citra menyerahkan dress pilihannya. Cantik hendak protes tapi dipotong oleh Citra. "Buruan! Gue capek, mau pulang!"
Dengan terpaksa Cantik berjalan menuju ruang ganti. Setelah beberapa saat, Cantik keluar dari ruang ganti dan keluar. Ia melihat adiknya yang tengah bermain ponsel di sofa tunggu yang disediakan.
"Dek?" panggil Cantik membuat Citra menoleh.
Citra melihat kakaknya terbalut dengan dress warna hitam yang terpadu sempurna dengan kulit putih milik kakaknya.
(Dress yang dipakai Cantik)
"Lo beneran Kak Cantik?" tanya Citra langsung berdiri menghampiri kakaknya.
"Iya lah, emang gue siapa lagi?" ujar Cantik malas.
"Fiks, lo beli yang ini aja," ujar Citra.
"Cocok nggak sama gue?" tanya Cantik.
"Cocok, tenang aja," jawab Citra.
"Yang bener?"
"Terserah lo deh, gue udah jawab jujur," jawab Citra memutar bola matanya malas.
Cantik tertawa pelan lalu berbalik menuju ruang ganti pakaian. Beberapa menit kemudian, Cantik keluar dengan membawa dress tadi ditangannya dan langsung menyerahkan pada salah satu pegawai dan membayarnya.
"Ayo pulang!" ajak Cantik pada adiknya.
Mereka berdua keluar dari butik setelah membayar tentunya.
❤❤❤
"Dek?" panggil Rani.
Saat ini Elisa tengah fokus membaca komik kesukaannya itu pun menoleh ke arah kakaknya yang tengah menggendong Yordan.
"Kamu belum mandi?" tanya Rani. Pasalnya ini sudah sore.
"Udah," jawab Elisa pelan.
Bayi laki-laki yang ada di dalam gendongan Rani itu berceloteh tidak jelas. Bahkan sesekali bermain air liurnya.
"Kakak nitip Yordan dulu ya? Kakak mau mandi," ujar Rani meletakkan Yordan di kasur Elisa lalu keluar begitu saja.
Elisa menutup komiknya lalu berjalan ke arah Yordan yang tengah asik dengan dunianya sendiri. Elisa mencium pipi Yordan yang semakin gembul.
"Ini pipi atau bakpau sih?" tanya Elisa gemas lalu menggigit pipi Yordan.
Bayi itu menangis karena ulah Elisa. Si pelaku di buat kelabakan, Elisa tak tau cara menenangkan bayi.
"Aduh, maaf ya? Aunty sengaja. Abisnya kamu gemesin sih," katanya dengan menepuk-nepuk pantat Yordan.
Bukannya diam, Yordan malah semakin menangis kencang.
"Jangan keras-keras, dek. Nanti tenggorokanmu sakit," ujarnya yang sama sekali tak dimengerti oleh Yordan. "Ini gimana cara buat dia diam?" tanyanya pusing sendiri.
"Yordan kenapa, dek?" tanya Nanda yang tiba-tiba muncul di kamarnya dan mengagetkan Elisa.
"Astaghfirullah," jerit Elisa tertahan.
Nanda berjalan ke arah Yordan lalu menggendongnya sesekali menepuk-nepuk pantat Yordan agar tenang.
"Kok nggak kamu gendong?" tanya Nanda pada Elisa.
"Nggak berani," jawab Elisa datar lalu kembali ke meja belajarnya untuk membaca komik.
Nanda menghela nafas melihat putri bungsunya.
"Pipi kamu merah digigit nyamuk?" kata Nanda saat melihat pipi Yordan.
Elisa kelabakan karena perkataan Nanda. "Mampus!" ujarnya dalam hati.
"Tapi digigit nyamuk kenapa bisa kayak gini?" kata Nanda lagi lalu mengusap pipi Yordan.
"Kayak bekas gigitan orang," sambung Nanda.
"Mati lo, El," kata Elisa dalam hati.
"Dek?" panggil Nanda pada Elisa.
Setelah mengambil nafas dan menghembuskannya, Elisa menoleh ke arah Nanda.
"Pipinya Yordan kamu gigit?" tanya Nanda memastikan.
Elisa mengangguk pelan dengan ekspresi datarnya. Padahal jantungnya sudah mau merosot ke bawah.
Nanda menggeleng pelan. "Aunty kamu nakal, ya?" tanya Nanda pada bayi yang ada di gendongannya itu.
Kini giliran Elisa yang melongo, "gue nggak dimarahin?" tanyanya dalam hati.
"Nggak salah sih kalau aunty kamu gigit pipimu," kata Nanda memberi jeda. "Pipi kamu menggoda buat digigit soalnya," sambungnya lalu mencium seluruh wajah cucunya gemas.
Elisa terpana dengan mamanya yang tengah tertawa dengan bayi yang berada di gendongannya. Hingga suara dering ponselnya membuyarkan lamunannya.
Elisa mengambil ponselnya di atas meja belajar dan melihat siapa yang menelpon dirinya. Ternyata yang menelponnya adalah Fauzia.
"Halo, assalamu'alaikum," sapa Elisa.
"Wa'alaikumsalam," jawab Fauzia di seberang.
"Kenapa, Zi?" tanya Elisa.
"Dompet lo ketinggalan di rumah gue," jawab Fauzia.
"Oh, simpen aja dulu. Senin di sekolah aja gue ambil," jawab Elisa melirik singkat Nanda yang tengah menatapnya.
"Telat! Gue udah di depan rumah lo!" balas Fauzia membuat Elisa membulatkan bola matanya. "Buruan keluar!" sambungnya lalu mematikan panggilan telepon.
Elisa menutup komiknya lalu ke luar dari kamarnya meninggalkan Nanda yang menatap putrinya aneh. Dengan rasa penasaran, Nanda mengikuti putrinya dari belakang.
Elisa melihat Fauzia di depan gerbang rumahnya. Dengan cepat ia membuka gerbang rumahnya.
"Nih," ujar Fauzia menyodorkan dompet berwarna navy pada Elisa.
"Aduh, kenapa lo repot-repot ngantarin dompet gue. Hari Senin di sekolah 'kan bisa," ujar Elisa menerima dompetnya.
"Maunya tadi gitu. Tapi kata mama gue balikin sekarang aja, siapa tau lo butuh isi dompet itu," jawab Fauzia. "Lo nggak berterima kasih ke gue gitu?" sindir Fauzia.
Elisa tertawa. "Iya, sampe lupa. Makasih, Zi," ujarnya.
Fauzia mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang menggendong bayi yang berjalan dari arah belakang Elisa. Fauzia tersenyum ramah ke arah wanita itu dan dibalas senyum ramah juga.
"Kok nggak diajak masuk, dek?" tanya Nanda yang sudah berdiri di hadapan Elisa. Elisa menoleh dengan raut wajah sedikit terkejut pada Nanda.
"Lain kali aja, tan. Udah sore soalnya," tolak Fauzia halus.
Nanda mengangguk mendengar jawaban dari Fauzia.
"Pulang sana! Katanya udah sore," usir Elisa membuat Fauzia menatapnya kesal.
"Iya-iya," ujar Fauzia lalu berpamitan pada Nanda. Setelah itu, Fauzia duduk di boncengan motor milik abangnya. Ya, Fauzia tadi diantar oleh Elang.
"Tadi siapa namanya, dek?" tanya Nanda pada Elisa saat Fauzia sudah menghilang dari hadapan mereka.
"Fauzia," jawab Elisa.
"Dia sama pacarnya?" tanya Nanda lagi dengan sedikit menyingkir karena Elisa hendak menutup pintu gerbang rumahnya.
"Kembarannya," jawab Elisa lalu memasuki rumah terlebih dahulu.
Nanda menghela nafas melihat sikap dingin yang ditunjukkan oleh Elisa pada dirinya secara terang-terangan. "Bantuin nenek buat luluhin hati aunty kamu ya?" tanya Nanda pada Yordan yang dijawab celotehan tak jelas oleh bayi itu. Setelah itu, mereka berdua kembali memasuki rumah.
❤❤❤
"Lo siapa?" tanya Putri pada cowok yang tengah berdiri dihadapan pintu rumahnya.
"Gue masa depan lo," jawab cowok itu membuat Putri kesal sendiri.
"Sorry, masa depan gue bukan lo!" sarkas Putri. "Siapa lo dan ngapain lo ke rumah gue?" tanya Putri.
Cowok itu malah tersenyum manis menatap Putri.
"Nggak waras!" ujar Putri hendak menutup pintu rumahnya namun dihentikan oleh cowok tadi.
"Bentar-bentar," cegah cowok itu. "Gue kesini di suruh mama gue buat ngantarin makanan ini," ujarnya menunjukkan paper bag di tangannya.
"Emangnya mama lo artis gitu? Siapa nama mama lo?" tanya Putri menahan rasa kesalnya.
Cowok itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Mama gue namanya Risma. Temen lama mama lo," jawab cowok itu.
"Oh," respon Putri. "Sini!" ujar Putri mengambil paper bag dari tangan cowok itu. Putri hendak menutup pintu rumahnya namun lagi-lagi di cegah oleh cowok itu.
"Apa lagi!?" tanya Putri.
"Lo nggak bilang makasih gitu?" tanya cowok itu.
"Makasih," kata Putri.
"Gue nggak mau ucapan makasih," ujar cowok itu.
Putri memejamkan matanya untuk menahan agar tak membentak cowok dihadapannya ini. "Mau lo apa sih?" tanyanya.
Cowok itu malah tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Putri. "Kenalin, nama gue Alfan," ujarnya.
Putri hanya menatap uluran tangan itu tanpa berniat membalasnya. "Gue nggak minat kenalan sama lo," kata Putri. "Mendingan lo pulang sana!" usir Putri lalu dengan cepat menutup pintu rumahnya.
Alfan tersenyum menatap pintu tinggi di hadapannya itu lalu pergi dari rumah Putri.
"Siapa, Put?" tanya Yasmin saat anaknya duduk di kursi meja makan.
"Anaknya Tante Risma," jawab Putri lalu mengambil air minum. "Nih, makanan dari Tante Risma," kata Putri memberikan paper bag pada mamanya
"Kok nggak diajak masuk?" tanya Yogi yang duduk di samping Putri.
Setelah menegak air hingga tandas, Putri menatap Yogi. "Anaknya nggak jelas," jawabnya membuat Yogi tertawa.
"Kamu kalau ngomong yang bener, Put!" ujar Yasmin.
"Putri ngomong apa adanya, ma," balas Putri. "Mama masaknya masih lama?" sambungnya bertanya.
"Masih," jawab Yasmin.
"Putri mau ke kamar dulu ajalah," ujarnya lalu berjalan ke arah kamarnya yang terdapat di lantai dua.
"Sifatnya sebelas dua belas sama kayak kamu yang anti cowok," kata Yogi pada Yasmin.
"Iyalah! Orang aku emaknya!" balas Yasmin lalu kembali dengan acara memasaknya.
❤❤❤
"Lo lagi ngapain dek?" tanya Ares saat melihat Nia sedang sibuk dengan bukunya di ruang keluarga.
"Ngerjain PR," jawab Nia.
Ares mengintip tulisan tangan Nia. "Masih bagusan tulisan gue," ujarnya.
"Nggak ada yang nanya!" balas Nia.
"Gue cuma mau ngasih tau," kata Ares.
"Gue nggak mau tau," sahut Nia.
"Lagi ngapain, dek?" tanya Naya yang baru saja bergabung dengan mereka berdua.
Ares langsung tiduran di sofa dengan paha Naya sebagai bantalnya.
"Ngerjain PR," jawab Nia yang kembali fokus dengan bukunya.
"Gue lama-lama kasihan sama PR. Nggak salah apa-apa, tapi dikerjain mulu," ujar Naya.
"Heran gue! Suami sama istri nggak ada yang jelas," gumam Nia.
"Lo ngomong sesuatu?" tanya Naya.
"Nggak," balas Nia cepat.
Setelah hampir tiga puluh menit. Barulah Nia menyelesaikan PR miliknya. Ia menatap kedua kakaknya yang tengah bermesraan dihadapannya. Dimana Ares yang tengah menciumi perut Naya sedangkan Naya memainkan rambut suaminya.
"Kalian berdua kalo mau mesraan di kamar aja sana! Ganggu pemandangan aja!" ujar Nia membuat pasangan suami istri itu menoleh kearahnya.
"IRI? BILANG BOS!!!" jawab keduanya serempak membuat Nia memutar bola matanya malas.
"Makanya buruan cari pacar sana!" kata Naya.
"Males!" jawab Nia.
"Pantesan jomblo," ledek Ares.
"Heh! Gue jomblo aja bahagia apalagi kalau gue punya pacar?" balas Nia membuat kedua orang itu terdiam. "Tapi sayangnya gue nggak mau pacaran," sambungnya.
"Kenapa?" tanya Naya kepo.
"Pasti nggak ada yang mau sama lo, iya 'kan?" sahut Ares.
"Yang mau sama gue banyak! Tapi gue pilih-pilih lah!" jawab Nia.
"Halah! Banyak dari mana coba? Cowok yang sering datang kesini cuma Athala doang," sindir Naya.
Kali ini giliran Nia yang dibuat bungkam oleh omongan kakaknya.
"Ada yang nggak bisa move on dari mantan kayaknya, Yang," sindir Ares.
"Gayanya aja sok judes sama sok galak di depan Athala," tambah Naya.
"Astaghfirullah, kalian berdua senang banget kalo urusan sindir-menyindir," ujar Nia.
"Perasaan kita ngomong terang-terangan, iya 'kan?" kata Naya yang dijawab anggukan oleh suaminya.
"Dosa apa gue punya kakak sama kakak ipar modelan begini," ucap Nia lalu membereskan bukunya dan berlari ke arah kamarnya.
❤❤❤
"Assalamu'alaikum," ucap Nadia saat memasuki rumah neneknya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Santi.
Nadia berjalan menghampiri neneknya lalu mencium punggung tangan Santi.
"Sore banget pulangnya, Nduk?" tanya Santi.
"Iya, nek. Soalnya tadi sekalian di selesaiin juga. Biar nggak bolak-balik kerja kelompok," jelas Nadia.
"Ya sudah, kamu bersih-bersih habis itu makan," kata Santi.
Nadia menurut dan memasuki kamarnya. Sebelum mandi, ia sempat merebahkan dirinya di kasur dan membuka ponselnya. Ia menatap satu pesan dari papanya tanpa ada niatan untuk membalas. Nadia masih merasa kecewa.
Nadia mendapat pesan dari sahabar-sahabatnya, tapi ia terkejut pada pesan yang dikirim oleh Eka.
Nadia mengganti posisi menjadi duduk lalu memencet tombol telepon pada kontak Eka. Tak lama, Eka menjawab panggilannya.
"Halo, assalamu'alaikum," sapa Eka.
"Wa'alaikumsalam," jawab Nadia. "Maksud lo apa ngirim foto diagnosis dokter ke gue? Itu nggak bener 'kan?" cerca Nadia.
"Itu semua bener, Nad. Gue sakit," jawab Eka membuat tangis Nadia pecah seketika.
"Kenapa lo baru bilang?" tanya Nadia terisak.
"Gue nggak mau merepotkan kalian semua," jawab Eka.
"Yang lain udah pada tau?" tanya Nadia.
"Udah," jawab Eka.
Nadia masih menangis. "Apa karena gue jauh dari kalian, jadi kalian main rahasia-rahasiaan sama gue?"
"Bukan gitu, Nad. Awalnya memang yang lain juga nggak ada yang tau. Cuma waktu itu, gue nggak sengaja ketemu sama Zia waktu habis kemoterapi. Jadi, gue jelasin semuanya ke dia waktu itu. Pagi tadi, yang lain juga baru tau, Nad," jelas Eka. "Nggak usah nangis, Nad. Gue nggak apa-apa. Lo kenal gue dari kecil, Nad. Lo tau kalo gue orangnya nggak mudah lemah," sambungnya.
Nadia menghela nafasnya pelan. "Kalo gue bisa, gue pasti udah langsung temuin lo sekarang juga, Ka," ujarnya.
"Nggak usah lebay deh, Nad!" balas Eka. "Lo bisa kesini kalo liburan semester atau kenaikan kelas nanti," sambungnya.
"Gue awalnya nggak pengen balik. Tapi dengar lo dengan kondisi begini gue berubah pikiran," jawab Nadia.
"Nad?" panggil Eka.
"Kenapa?" tanya Nadia.
"Semarah-marahnya seorang anak kepada orang tua. Tetap aja, Nad. Seorang anak pasti akan berlari ke orang tuanya saat mereka sedih," ujar Eka.
"Gue nggak marah. Gue cuma kecewa," jawab Nadia.
"Nad, berantem sama gue yuk!" ujar Eka.
"Kenapa sih?" tanya Nadia heran.
"Marah sama kecewa itu beda tipis, Nad!" jawab Eka kesal membuat Nadia tertawa pelan. "Kalo ada Putri, pasti lo udah dijitak sama dia," sambungnya.
"Gue jadi kangen sama kalian," ujar Nadia.
"Ih, jijik anjir!" balas Eka. "Udah dulu, ya? Nanti kita sambung lagi di grup chat sama yang lain. Bye, Nad!" lanjutnya.
"Bye, Ka! Cepat sembuh," sahut Nadia lalu panggilan pun terputus.
"Lho, kamu kok belum mandi, Nad?" tanya Santi. Niatnya tadi ia ingin mengajak Nadia untuk makan, tapi yang diajak malah belum mandi.
"Iya, nek. Tadi habis teleponan sama sahabat Nadia," jawab Nadia membuat Santi menggeleng pelan.
"Ya sudah, buruan mandi habis itu ke meja makan," kata Santi kemudian berlalu dari kamar cucunya itu.
Dengan sigap, Nadia mandi untuk menyegarkan badannya. Hanya butuh waktu lima belas menit banginya untuk mandi. Setelah itu, barulah Nadia bergabung dengan neneknya di meja makan.
Nenek dan cucu itu menikmati makanan dalam diam. Hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring.
"Sekolah kamu lancar, Nad?" tanya Santi.
"Alhamdulillah, sejauh ini lancar," jawab Nadia.
"Udah dapat pacar atau belum?" tanya Santi.
Nadia menjawab dengan gelengan. "Nggak mau nyari pacar dulu, Nek. Nadia mau fokus buat belajar," jawab Nadia.
"Nanti kalau udah dapat pacar kenalin ke nenek langsung ya?" tanya Santi berniat menggoda cucunya.
"Nek!" kesal Nadia membuat Santi tertawa.
Begitulah suasana sore hari di kediaman Santi. Yang awalnya Santi hanya tinggal seorang diri, tapi kemudian datang sang cucu yang membuat hari-harinya menjadi kian berwarna.
❤❤❤
To be continue
~Amalll