Royal Academy

Oleh wulanfadi

1.9M 99.6K 1.9K

Disclaimer: Cerita ini adalah cerita amatir yang memiliki banyak kekurangan. Harap dibaca dengan bijak :) ... Lebih Banyak

Royal Acamedy
01 : That Day
02 : Welcome To Royal Academy
03 : Big Surprise
04 : The Prophecy
05 : Five Section Divided
07 : Library's Rumor
08 : 23 October 2011
09 : First Meet
10 : First Meet 2
11 : Who Is She?
12 : Who Is She? 2
13 : Jonathan
14 : Jonathan 2
15 : First Date
16 : First Date 2
17 : Betrayal?
18 : I'm Sorry, Dan
19 : 13 November 2011
20 : The Begining
21 : It's Show Time
22 : It's Show Time 2
24 : It's Show Time 3
25 : CCTV Room
26 : The Sunset
27 : Unknown
28 : Bad Dream
29 : The Fact
30 : Chit Chat with Rosaline
31 : Teressa Diary
32 : Hingrilietz

06 : Do You Believe a Ghost?

58.4K 3K 60
Oleh wulanfadi

SAMPAILAH aku di kelas 8A yang masih sama seperti kemarin (sama sekali tidak mengacuhkan keberadaanku). Aku menghembuskan nafas panjang dan duduk di pojok ruangan sebelah kanan samping jendela dengan beberapa pasang mata menatapku sinis. Fisikku di sini, tapi pikiranku menerawang jauh memikirkan berbagai macam hal hingga membuat kepalaku pusing sendiri. Aku pun sedikit penasaran dengan perpustakaan yang tadi pagi baru saja kulihat. Aku merasa sangat familiar, entah apa, seakan ada tangan menarik – narikku untuk menuju perpustakaan itu. Lamunanku buyar saat itu juga ketika seseorang menepuk bahuku perlahan. Aku menoleh ke belakang.

“hai.” Sapa seorang perempuan.

Aku mengamati penampilannya kilat, seragamnya rapih, rambut pirangnya agak bergelombang, wajahnya sedikit tembem dan mata hitamnya yang menatapku ramah itu belo. Dia menyunggingkan senyum yang terlihat sedikit ragu. Senyumku mengembang, akhirnya ada juga orang yang mau berkenalan denganku, pikirku.

“hai.” Balasku riang.

“boleh aku duduk di sini?” tanya perempuan itu.

Aku mengangguk ceria dan mengambil tas hijau kekuninganku yang kutaruh di bangku sebelah dan menepuk – nepuk bangku yang akan di duduki perempuan itu. Setelah dia duduk dengan posisi nyaman, aku memulai sesi perkenalan ala Teressa Aure Meryl.

“siapa namamu?” tanyaku.

Dia ragu sesaat, aku tahu. Itu efek ramalan 13 yang benar – benar menyebalkan sekaligus memuakkan. Aku benar – benar kesal dengan ramalan aneh itu dan kuharap itu tidak benar – benar terjadi padaku maupun Daniel dan Daniella. Kembali ke sesi perkenalan ala-ku.

“eh? Um… namaku Sarah.” Jawabnya ragu.

Sarah memilinkan jari jemarinya dan menoleh ke sana ke mari, seperti takut jika ada yang menangkap basah ia mencuri.

“what’s wrong?” tanyaku bingung.

Sambil menoleh ke sana ke mari seperti Sarah, aku memandangnya lagi. Dia menghembuskan nafas panjang dan menatapku ketakutan.

“I’m scared…” lirihnya.

Kukira dia tidak melanjutkan kalimatnya sehingga aku ingin bertanya lagi. Tapi sebelum sempat aku membuka mulutku untuk bersuara, dia berkata lagi.

“do you believe a ghost?” tanyanya.

Sontak itu membuatku heran dan menganga, aku mengangkat bahu pada akhirnya.

“aku tidak tahu.” Jawabku bimbang.

Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku.

“aku mempunyai indera ke enam.” Bisiknya pelan, sangat pelan hingga aku ragu.

Aku berfikir sebentar, indera ke enam? Kemampuan untuk melihat makhluk tak kasat mata? Sungguh itu keren bagiku, tapi kenapa dia malah takut seperti itu sih? Aku memandang sekeliling, entah kenapa tengkukku sedikit merinding, aku mengusap tengkukku pelan dan menatapnya lagi.

“kau serius?” tanyaku.

Sarah mengangguk ragu.

“seseorang … mengikutimu.” Bisiknya pelan penuh misteri.

“oh ya?” tanyaku, mataku membulat.

“baru saja dia mengikutimu. Aku tidak berani menatapnya lama, hanya sekilas. Dia memiliki aura jahat yang benar – benar besar.” Jelasnya.

Aku tersenyum kecut, dalam hati aku bersyukur tidak memiliki indera ke enam dan melihat sesuatu yang menyeramkan seperti yang Sarah bilang.

“Oh.” Hanya itu yang terlontar dari mulutku.

“kau tidak takut?” tanyanya terkejut.

“aku tidak dapat melihatnya. Jadi, buat apa takut?” Tegasku.

“kau bisa.”

“bagaimana caranya, Sarah?”

“kalau ka—“

Omongan Sarah terhenti ketika seorang guru wanita memasuki kelas, semua siswa berbondong – bondong menuju meja masing – masing. Guru wanita itu mengedarkan pandangannya, sedetik lebih lama saat melihatku lalu tersenyum pada semuanya.

“good morning class”

“morning Bu Diana.”

Oh namanya Diana, pikirku sambil manggut – manggut. Sepertinya dia mengajar pelajaran bahasa Indonesia karena jadwal yang tertera di mading kelas seperti itu. Dia maju di depan kelas dan membuka buku salah satu siswa yang berada di meja paling depan.

“sekarang materinya apa?” tanyanya pada semua siswa.

“sepertinya bab 3, Bu.” Sahut seseorang.

“oh ya Bab 3. Yang ke…” celotehnya sambil memainkan jarinya di daftar isi.

Bu Diana tersenyum kepada kami semua dan berkata dengan lantang.

“oke anak – anak! Materi sekarang adalah membuat synopsis dari sebuah buku novel.” Serunya.

Semua anak terdengar berbisik – bisik ricuh. Aku melirik Sarah.

“kenapa mereka senang sekali?” tanyaku.

Sarah tersenyum hangat.

“sebagian besar, di kelas ini suka membaca novel. Termasuk aku.” Jelasnya.

“oh begitu.”

Aku kembali memperhatikan Bu Diana yang menjelaskan setiap detil yang harus ada dalam synopsis sebuah novel sehingga menjadi inti cerita yang membuat pembaca tertarik, dan setelahnya Bu Diana menyuruh kami meminjam novel di perpustakaan dan untung saja saat administrasi lusa kemarin aku sudah dibuatkan kartu anggota oleh Dad. Tugasnya disuruh di tulis di kertas folio, dikumpulkan dua hari lagi, tepatnya saat pelajaran Bu Diana yang ramah, menurutku.

ÂÂÂ

Bel berdentang tanda jam istirahat makan siang di mulai di aula tengah, waktunya istirahany satu setengah jam karena hanya ada satu kali istirahat. Setelah kalang kabut mencari Daniel dan Daniella di kerumunan manusia – manusia yang menuju aula tengah, akhirnya aku menemukannya. Sekarang aku, Daniel dan Daniella sudah duduk manis di tempat duduk  panjang paling kanan. Aku melihat Dave, Vanessa dan Vanilla yang juga mengarah ke tempat duduk paling kanan. Kulambaikan tanganku untuk memberi mereka tanda, Dave tersenyum hangat padaku, aku membalasnya. Mereka bertiga tergopoh – gopoh menghampiri kami dan duduk seperti biasa. Aku, Daniel, Daniella, lalu di hadapan kami adda Dave, Vanessa dan Vanilla. Seperti biasa pulalah aku dan Dave memesan makanan yang tampaknya sekarang sedikit berbeda dengan hari yang kemarin, entah kenapa kami berenam menjadi sedekat ini. Tapi aku sih bersyukur juga punya teman – teman dan sepupu seperti mereka.

“Teressa.” Panggil Dave.

Aktivitas mengambil nampan yang sudah di taruh Bibi Susy makanan terhenti. Aku menoleh ke arahnya yang sudah membawa nampan pesanan kedua sepupu kembarnya dan juga dirinya. Sedangkan aku membawa pesanan aku dan kedua sepupu kembarku.

“ya?” tanyaku sambil mengambil nampan itu.

“maaf aku tidak dapat membantumu karena tanganku juga penuh, hehe.” Katanya sambil menyengir.

Aku tersenyum, kami berdua berjalan menuju meja panjang paling kanan.

“it’s okay, jadi?” tanyaku lagi.

“oh, apa kau sudah diberi tugas oleh Bu Diana?” tanyanya balik setelah sadar apa maksudku.

“sudah, kenapa?”

“bisakah kita mengerjakannya bersama? Maksudku, yeah mungkin yang lainnya juga diberi tugas yang sama tapi… umm kau tahu aku ingin mengerjakannya bersamamu di perpustakaan.” Jawabnya sedikit salah tingkah, rona merah terlihat di kedua pipinya.

Aku tertawa terbahak – bahak karena mukanya yang merona, tapi tak dapat kupungkiri, aku senang dan aku juga… malu, yeah malu. Mukaku semerah tomat sekarang.

“yah… aku terima ajakanmu, ahaha” kataku.

Dave tersenyum senang dan berjalan santai mendahuluiku sambil bersiul – siul. Aneh, kenapa jantungku tidak berdebar – debar? Padahal aku sudah yakin kalau aku tertarik padanya, terlebih dia begitu tampang, oh Teressa lagi – lagi kau gila!

Aku menaruh nampan di meja dengan perasaan campur aduk, jika menyangkut soal percintaan, entah kenapa aku selalu teringat Raven. Senyumnya, candanya, tawanya, suaranya, dan jika menyangkut Raven… sekali lagi aku benar – benar berubah menjadi sosok yang melankolis. Dia juga tinggal di Brooklyn kan sekarang? Aku masih ingat dengan jelas perkataan guruku 3 tahun yang lalu, tepat saat aku menginjakkan kakiku di kelas 5. Masih terpatri di otakku perkataannya sebelum dia pergi dariku, waktu itu aku tidak menyangka perkataannya sungguhan.

Hari itu, 8 Desember 2008.

“RAVEN! Apa kau gila. Kita membolos kelas, kau tahu.” Seruku setengah panik.

Walaupun aku termasuk siswa yang paling bandel di sekolah, aku tidak pernah membolos kelas dan ini hal yang baru bagiku. Raven yang sudah di atas dinding tembok tempat pembatas sekolah dengan lingkungan luar malah terkekeh – kekeh.

“jadi anak nakal sehari tidak masalah kan?” tanyanya mengejek.

“aku—aku tidak akan ikut denganmu!” sahutku.

Rona merah tercetak dengan jelas di kedua pipiku yang tirus, sementara dia terus terkekeh seraya mengulurkan tangannya. Aku bimbang sesaat, tetapi dia malah tersenyum dan memandangku dengan mata cokelatnya yang teduh.

“mau ikut nakal bersamaku?” tawarnya.

Dengan sigap aku menyambut ulurannya dan tertawa – tawa. Dia turun lebih dulu daripada aku dan membalikkan badannya setelah turun, kedua tangannya membentang lebar.

“aku beri kau satu kesempatan. Kalau kau tidak mau ikut maka kau pergi sejauh – jauhnya dariku. Dan jika kau mau ikut maka lompatlah ke sini!” tawarnya lagi.

Aku berpura – pura berfikir keras supaya dia gelisah. Hahaha aku sangat suka mempermainkannya.

“gimana ya…” jawabku malas – malasan.

“oh ayolah…” katanya lemas.

“tutup matamu.” Perintahku.

Dia menutup matanya, senyumku mengembang. Dengan segera aku melompat dan mengalungkan lenganku di lehernya, wangi buah cherry menyeruak dari dalam tubuhnya. Sesuatu yang selalu membuatku tenang selama berada di sisinya sama seperti saat aku menghirup wangi Vanilla dari tubuh Vanilla. Entah kenapa omonganku barusan terdengar terbelit – belit jadi tolong lupakan. Raven memeluk pinggangku dan menurunkanku hingga kakiku berpijak pada tanah. Kami berdua menyengir kuda. Tas kami berdua bahkan masih berada di kelas, aku hanya membawa dompet yang memang selalu kubawa ke mana – mana.

“Aku tahu kau memang akan ikut denganku.” Ucap Raven dengan penuh percaya diri.

Aku mencubit pinggangnya.

“sok tahu!”

Kami berdua tertawa – tawa seraya berpegangan tangan erat dan berlari menjauh dari sekolah.

“berjanjilah padaku.” Kata Raven dengan nafas terengah karena habis berlari.

“apa?” tanyaku bingung seraya berusaha menetralkan nafasku.

Kami berdua duduk di padang rumput tempat Raven mengajakku membolos kelas. Ia merebahkan badannya di sampingku yang terduduk. Seraya menghembuskan nafas dan merasa pernafasanku netral kembali, aku memandangnya yang juga sedang memandangku.

“um.. berjanji apa?” tanyaku bingung.

“berjanjilah tidak akan melupakanku.”

aku bingung apa maksudnya. Tapi aku menganggukan kepalaku.

“janji?”

Raven mengulurkan jari kelingkingnya dan aku mengaitkannya dengan jari kelingkingku.

“janji!”

Kami berdua lagi – lagi tertawa bahagia.

“kita seperti anak kecil.” Seruku.

“hey, Tere.” Panggilnya.

Asal kau tahu, hanya dia seorang yang memanggilku ‘Tere’ dan aku suka itu.

“ya?” tanyaku sambil tersenyum.

“peluk aku.” Katanya, rona merah tercetak di kedua pipinya.

Aku ikut salah tingkah

“eh?” tanyaku.

“please…”

Aku memeluknya saat itu juga dengan beberapa pernyataan bingung yang terlintas di otakku.

“Ressa… Teressa… TERESSA!” panggil seseorang padaku yang sukses membuat lamunanku buyar.

“eh! Apa?” tanyaku.

“kau sedari tadi melamun.” Ucap Daniella khawatir.

Aku melihat piringku, sudah kosong. Berapa lama aku melamun? Oh tidak, sekarang aku benar – benar rindu dengan Raven. Dia tidak pernah izin padaku bahwa ia pindah. Esoknya, semuanya jelas sudah. Aku tersenyum miris.

“Kau tidak apa – apa Ress?” tanya Daniella dengan tampang yang benar – benar khawatir.

“yeah aku tidak apa – apa.” Jawabku.

Aku merasa ada yang memperhatikanku, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling aku menghela nafas panjang. Tidak ada. Apa ini hanya perasaanku saja ya?

ÂÂÂ

“ah kau memilih buku yang itu?” Tanya Dave semangat.

Karena sore hari aku ada kerjaan dengan Vanilla, jadinya aku hanya bisa malam saja dengan Dave ke perpustakaan yang menarik perhatianku tadi pagi. Benar saja, aku bergidik saat ke sini. Aneh. Petugas perpustakaan yang bernama Bibi Freya hanya menganggukan kepalanya ketika kami berdua ke sini.

Aku memegang novel Sherlock holmes di tanganku.

“yah aku suka ini.” Jawabku santai.

“aku juga. Aku akan memilih novel pertamanya untuk tugasku.” Jelasnya sambil menyusuri rak novel fiksi.

“ah sebentar Dave. Aku mau ke sana dulu.”

Dave mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari rak – rak fiksi sementara aku berlalu dari situ menuju pojok ruangan. Entah kenapa ada perasaan aneh yang menyuruhku untuk ke sini. Latunan melodi piano yang menyayat hati terdengar dan membuat bulu kudukku merinding.

Ini benar.

Sesuatu yang ada di sini mengingatkanku pada suatu hal.

Hal yang benar – benar familiar dan baru terjadi beberapa hari.

Tapi… apa?

to be continued

---

Read my another story :

1. How Can I Move On

2. A-B-C-D Love

3. Princess Series [1] : The Overweight Princess

Lanjutkan Membaca

Kamu Akan Menyukai Ini

5.9K 718 12
[Science Fiction - Psychological - Action] Rune Revenmar baru saja terpilih menjadi Presiden Dewan Siswa di sekolahnya; Royal Air Academy. Banyak sek...
13.4K 1K 49
|EXO|STRAYKIDS|NCT127|NCT DREAM|ITZY|AESPA|REDVELVET| "ketika sebuah ramalan yang slalu dianggap tak pernah ada, tiba-tiba saja benar-benar terjadi p...
2.5K 452 49
Dystopia High School, sekolah berbasis asrama yang menyimpan sejuta misteri didalamnya. Membawa mereka menembus dimensi waktu, menuju tempat asing de...
71.6K 8.6K 24
❗ THRILLER, FANTASI AND A LITTLE ROMANCE IN THIS STORY❗ Yang suka teori! Sini ngumpul! Mengungkap sebuah rahasia dari sekolah dan real estate elite...
Aplikasi Wattpad - Akses fitur eksklusif