SUARA secarik kertas di taruh di meja menggema di ruangan bermain, setelah itu aku duduk di tengah – tengah meja. Mereka berlima mendekatkan tubuh mereka ke kertas yang baru saja kutaruh untuk mereka baca. Dave, Vanilla dan Vanessa menghembuskan nafas berat dan menyenderkan diri mereka masing – masing di sofa nyaman.
Aku sekarang berada di ruangan bermain yang ada di lantai paling atas, gabungan dari koridor kamar anak perempuan dan laki – laki. Ruangan bermain ini memiliki perapian di sudut ruangan, dilapisi karpet cokelat dan memiliki 10 sofa nyaman berbentuk bundar beserta 10 mejanya. Tidak banyak anak yang datang ke sini, menurutku. Karena sejak aku datang ke sini sepulang sekolah hanya ada 5 sampai 6 orang saja di tambah Vanilla dkk.
“aku sudah tahu itu.” Tukas Dave.
Vanilla dan Vanessa berpandangan penuh arti. Setelah Daniel dan Daniella selesai membaca, mereka melirik ke Vanilla dkk. Aku hanya mengangkat bahu.
“kenapa kalian tidak memberitahu kami?” desak Daniella kecewa.
“maaf, aku tidak ingin kalian tidak nyaman dengan ini” Kata Vanilla.
Aku termenung, sudah banyak keanehan yang terjadi dan aku tidak tahu apa penyebabnya, saking banyaknya aku tidak bisa menjabarkannya satu – satu. Lama aku berpikir, akhirnya aku mengambil memo kecil di dalam saku seragam lamaku, lalu memulai menulis sesuatu di halaman pertama yang masih bersih dari noda coretan.
1. Sekolah berkubu.
2. Vanessa tidak ada pada 3 tahun yang lalu saat aku berkenalan dengan Vanilla.
3. Bibi Jane marah ketika aku ingin membuka pintu ruangan kepala sekolah.
4. Ramalan 13.
Sejauh ini, hanya ada 4 keanehan yang terlintas di benakku, hanya ada 4. Mungkin masih ada tapi aku lupa, wajar aku ini memang dari sananya pelupa. Kututup memo itu dan memasukkannya kembali dalam saku seragam lamaku, oh ya aku lupa membeli seragam Royal Academy.
Keadaan hening ini membuatku sedikit canggung, aku berdeham dan memandang mereka satu per satu.
“Aku… tidak percaya dengan ramalan itu.” kataku.
Mereka tetap terdiam, jadi aku mau tidak mau melanjutkan kalimatku lagi karena kalimat pertamaku tidak digubris.
“dan aku ingin mengetahui mengapa sekolah berkubu.” Lanjutku,
Daniel dan Daniella mengerutkan dahinya, Vanilla menyenderkan punggungnya ke belakang sofa, Vanessa memandangku sambil meminum lemon tea dan Dave menghembuskan nafas secara perlahan
“kau benar – benar ingin tahu?” tanya Vanilla.
“iya.” Jawab aku, Daniel dan Daniella hampir bersamaan.
“jadi begini…” mulai Dave.
“karena festival sekolah tahun lalu, kita membuat 5 kelompok.” Lanjut Vanilla
“di dalam festival itu kita memainkan sebuah permainan yang… hmm… aku tidak tahu namanya apa. Mungkin kau tahu Dave.” Sambun Vanessa.
“aku tahu Vanessa, nama permainan itu Hingrilietz.” Kata Dave lagi.
“permainan macam apa itu?” Tanya Daniella heran, alisnya berkerut.
Nama permainan itu aneh, kira – kira apa ya? Pikirku heran.
“Dan, itu permainan yang sebenarnya tidak boleh dimainkan. Terdiri dari 5 peserta yang mengikuti permainan itu.” Tukas Dave.
“permainan itu diselenggarakan di sebuah stand paling pojok acara festival, katanya sih agar tidak terganggu oleh hiruk pikuk acara festival.”
“Aku, Vanilla dan Dave pernah mengunjungi stand itu, tapi kami tidak pernah masuk ke dalam.”
“dan kau tahu Vanessa, ada 5 orang yang masuk ke dalam stand tersebut.”
“kau tidak bercerita padaku bahwa 5 orang yang ikut, Dave.” Sindir Vanilla.
“maaf! Selanjutnya aku saja yang bercerita ya. Sepertinya ketiga orang ini bingung hehehe.” Kata Dave.
Dia mengerlingkan matanya ke kami dan melanjutkan ceritanya. Jujur aku bingung dengan cerita mereka yang berbelit – belit seperti ini.
“ehem.” Deham Dave.
Seraya menarik nafas dan menghembuskannya, Dave melanjutkan ceritanya lagi.
“acara festival tahun lalu… diantara hiruk pikuk kegiatan festival ada satu stand yang terletak di pojok accara festival. Nama stand itu Hingrilietz, kata penjaga stand yang berjubah hitam sehingga kepalanya tertutup dan memberi kesan misterius itu permainan ini sakral dan pantang untuk orang yang berhati lemah—“
“dan 5 orang itu mati!” jerit Vanessa histeris.
Semua mata memandang kami dengan heran dan waspada, kali ini aku benar – benar ingin meninju wajah Vanessa. Vanilla mencubit lengan Vanessa, sementara Vanessa hanya menunduk menahan emosinya yang bergejolak, aku tahu itu dari bahasa tubuhnya yang mengepalkan tangan kuat – kuat dan menggigit bibir bawahnya sendiri.
“diam Nessa…” bisik Dave penuh waspada.
“jadi… ya seperti kata Vanessa ada 5 orang yang ingin mencoba permainan Hingrilietz, kukira 3—(dia mengerlingkan matanya ke arah Dave yang hanya menyengir kuda). Kami tidak tahu pasti penyebabnya. Tapi setelah terdengar jeritan melengkng dari dalam stand, dan tim medis pun segera turun tangan, yang kami tahu… kelima orang itu meninggal.” Tukas Vanilla dengan mimik muka sedih.
Aku menutup mulutku, Daniel dan Daniella terperangah.
“dan kelima kubu itu… aku, Vanilla dan Vanessa di posisi netral, kita tidak memihak siapa – siapa atas kejadian ini.”
“kalau di meja paling kanan atau kubu nomor 1, yang kemarin kita duduki itu posisi netral, lalu kubu nomor 2 itu ingin balas dendam kepada stand tersebut, kau tahu setiap tahun di acara festival, stand harus tetap ada hingga jangka lima tahun jadi sudah dipastikan stand aneh itu—“
“mereka tidak memenjarakan stand tersebut?” selaku yang sedari diam menjadi pendengar.
Dave menggeleng lesu.
“tidak… stand tersebut masih ada karena kelima orang tersebut sudah terikat perjanjian konyol. Aku tidak tahu apa isi perjanjian itu karena polisi tidak memberi tahu lebih lanjut. Intinya stand tersebut tidak di penjara dan masih ada.”
“lalu kubu nomor 3 itu ingin menghentikan aksi kubu nomor 2.” Tukas Vanilla
“kubu nomor 4 memilih apa yang akan dipilih nantinya, jika nanti voting tentang hal ini, mereka akan menyetujuinya. Oh sungguh ini konyol walaupun aku juga membenci stand tersebut.” Seru Vanessa
“kubu terakhir… yang letaknya paling kiri itu tidak perduli sama sekali tentang ini.” Kata Dave
Selesai mereka bercerita, mereka menghembuskan nafas secara bersamaan.
“ini rumit.” Komentarku
“aku ingin mencobanya.” Ujar Daniel.
Kami serentak menoleh ke arahnya. Sepertinya itu membuatnya gugup.
“eh—apa?” tanyanya.
“kau ingin mencoba apa?” tanyaku waspada.
“Hingrilietz.” Jawabnya singkat dan mantap.
“kau gila?!” tanya Daniella.
Dia menggebrak meja dan itu sukses membuat seluruh pasang mata yang berada di ruang bermain menoleh ke aranya. Aku menenangkannya dan menyuruhnya duduk kembali, nafasnya pendek – pendek seperti habis marathon. Setelah kembali duduk dan tetap memandang Daniel tajam, dia berkata.
“bersumpahlah Dan, jangan pernah kau ikut Hingrilietz.” Kata Daniella serius.
“kau ini kenapa? Seru kan dengan begitu kita tahu apa yang dirasakan kelima orang yang mati tersebut, dan tentu kita selamat.” Elak Daniel.
“tapi Dan—“
“enough. Aku setuju dengan kata –kata Daniella, itu sama saja cari mati Dan!” seruku.
“hei kalian bertiga, sebenarnya aku setuju dengan kata – kata Daniel.” Tukas Vanilla.
Kami berlima sekarang melirik Vanilla, Daniel tersenyum dan kami sisanya hanya membulatkan mulut kami tanpa bisa berkata apa – apa. Speechless.
ÂÂÂ
Setelah selesai membersihkan diri, aku pun mengalungkan handuk di leherku dan mengeringkan rambutku yang basah, baju piyamaku yang berwarna hijau cerah sudah kupakai dan ini artinya aku bersiap – siap tidur. Kupandangi seragam Royal Academy yang baru saja kubeli, aku tertawa dalam hati. Aku memang tidak pernah punya persiapan apa – apa, selalu begitu.
Aku merebahkan diriku di kasur berukuran Queen dan berseprai kuningku dan mulai mengecek smartphoneku. Beruntung sekali aku kalau sekolah di sini tidak ada larangan untuk membawa ponsel.
1 message received
Tumben, biasanya smartphoneku sepi.
Dari : unknown number
Perihal : ini Vanessa
Tanggal : 20 oktober 2011
Kepada : Teressa Aure Meryl
Hai Teressa (jika benar ini nomormu yang tadi dikasih Daniella). Apa kau ingin tahu tentang rumor yang tadi pagi tak sempat ku ceritakan? Aku benar – benar berharap kau ingin kuceritakan kau tahu, aku sangat menyukai hal mistis. Kuharap kau membalas smsku segera.
Setelah aku membaca sms dari Vanessa, aku mengerutkan dahiku bingung. Seharusnya kan pembicaraan ini bisa dibicarakan nanti. Tapi kurasa dia memang penyuka hal mistis... tunggu? Mistis? Dengan cepat aku membalas sms dari Vanessa dan mengambil selimut bulu berwarna hijau lalu membungkus badanku sampai leher.
Dari : Me
Perihal : rumor?
Tanggal : 20 oktober 2011
Kepada : Vanessa
Hai ini benar nomorku, Nessa. Rumor seperti apa? Itu berkaitan dengan hal mistis? Aku cukup menyukai kedua hal tersebut dan jangan buat aku penasaran! Ceritakanlah!
Aku berharap dia cepat membalasnya, dengan segera aku menyingkap selimut bulu ini dan menuruni kasur Queenku. Langkah kakiku menuju keluar kamar dan dapat kulihat Vanilla sedang menonton film Harry Potter and the sorcerer stone dengan sangat serius dan cukup membuatku geli. Kenapa bisa begitu serius? Aku teringat waktu SD, aku suka sekali nonton Harry Potter and the prisoner of Azkaban karena aku suka melihat anjing yang bernama Black itu. Lucu. Sampai – sampai aku berebut dengan Daniel dan Daniella, mereka lebih suka nonton film komedi. Loh mengapa aku malah membicarakan ini? Aku menggeleng kepalaku pelan sambil tersenyum seraya memasuki dapur.
Kubuka kulkas kecil dan kuambil susu cokelat kotakkan. Suara sekotak susu terbuka menggema di ruangan ini dan mengusik ‘kekonsentrasian’ Vanilla menonton Harry Potternya. Dia menoleh ke arahku dan terlonjak kaget, dia mengusap – usap dadanya perlahan.
“kau membuatku terkejut.” Katanya.
“hahaha aku kan iblis yang suka membuat semua orang terkejut.” Kataku sekenanya.
Dengan perlahan dan santai aku kembali ke kamar seraya mendapati cibiran Vanilla yang membuatku tergelak. Aku mengecek smartphoneku kembali sambil meminum susu kotakkan tersebut di kamar, perduli apa kalau setan itu mencak – mencak? Eh maksudku Vanilla...
1 message received. (tepat seperti dugaanku.)
Dari : Vanessa
Perihal : aku senang kau penasaran
Tanggal : 20 oktober 2011
Kepada : Teressa Aure Meryl
Rumor itu sudah beredar di sekolah... dan aku senang kau menyukai hal mistis dan rumor tidak seperti Vanilla yang sangat takut, biasanya aku selalu menakutinya bersama Dave. Lho mengapa aku bicara seperti ini? Back to topic, rumor itu adalah tentang hantu anak perempuan yang ada di perpustakaan sekolah kita—(saat aku membaca ini, tanpa terasa aku menguap dan mengantuk). Anak perempuan itu memakai...(aku benar – benar jatuh tertidur sekarang).
Paginya, seperti biasa matahari menyembul dari balik tirai gorden kamarku dan Vanilla, aku mengamati sekeliling dan dapat kulihat susu kotak cokelat tergeletak di nakas dan aku tahu itu ulah Vanilla. Aku menyengir melihat kotak susu itu, baru saja aku turun dari kasur dapat kudengar suara benda terjatuh.
Pluk.
Oh tidak, ternyata itu smartphoneku. Aku mengambil smartphoneku dengan tergesa dan dapat kulihat layarnya masih menyala (settingnya sengaja kubuat seperti itu). Sms dari Vanessa belum selesai kubaca. Tak apalah aku sudah tak ada waktu lagi untuk membacanya, aku menaruh smartphoneku di nakas, tepatnya di sebelah susu kotak cokelatku.
Selesai bersiap – siap memakai seragam baru ini, aku mengamati penampilanku sebentar di kaca rias.
Oke ini tidak terlalu buruk.
Wajahku ternyata oval.
Hidungku sedikit... mancung.
Dan oh oh ternyata rambutku bergelombang yah.
Mata malachiteku kenapa bersinar begitu?
Blazer putih gading ini terlihat pas di tubuhku.
Aku suka sekali rok kotak – kotak ini!
Stocking hitam yang menutupi seluruh betis sampai paha ini juga sangat keren dengan lambang huruf R sambung di bagian samping lututnya.
Dasi merah ini juga keren.
Sweater yang kupakai, rajutannya benar – benar rapih. (dilapisi balzer juga karena udara hari ini cukup dingin, -1˚C)
Eh!
My narcissism seems relapse...
Sepertinya aku harus menjaga imageku, kan sudah kubilang aku hanya mengamati penampilanku sebentar di kaca. Uh... aku langsung menyampirkan tas hijau kekuninganku di bahu sebelah kanan. Dan berjalan keluar kamar yang tidak berpintu ini. Dapat kulihat Vanilla sedang sibuk mengeringkan rambut pirangnya sambil menonton TV, kartun spongebob, apa dia tidak takut terlambat untuk sarapan di aula tengah? Dasar anak itu. Aku menegurnya.
“Good Morning, Van.” Sapaku.
Dia menoleh tapi tidak memberhentikan kesibukannya.
“Morning.” Balasnya singkat.
“apa kau tidak tahu sekarang jam berapa?” tanyaku sambil berkacak pinggang.
Dia kembali menoleh, tepatnya mendongakkan kepalanya. Tapi bukan ke arahku, namun ke arah jam dinding yang tertempel di atas TV. Sedetik kemudian dia memekik kaget dan tergesa mematikan TV.
Semuanya begitu cepat, Vanilla langsung melempar handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya di sofa nyaman kami, lalu dia ke kamar membawa tas Disney birunya dan kaos kaki merah jambu di tangan kanannya. Dengan tergesa dia memakai kaos kaki tersebut, selanjutnya sepatu. Aku hanya bisa geleng – geleng kepala sembari ketawa.
Di ujung koridor kamar anak perempuan dan laki – laki aku dapat melihat dengan jelas Daniel dan Dave yang berjalan perlahan menuju aula tengah. Anehnya aku tidak melihat Vanessa dan Daniella, apa mungkin dia duluan yah? Sepertinya begitu.
“Daniel! Dave!” panggilku setengah berteriak.
Keduanya menoleh hampir bersamaan, rambut mereka tertimpa cahaya matahari yang membuatku beranggapan mereka sangat keren dalam posisi seperti itu.Andai mataku dapat memotret secara langsung tanpa perantara kamera. (kenapa aku malah berbicara seperti ini?)
Senyum keduanya mengembang, dengan segera mereka menghampiri kami. Kulirik Vanilla yang diam saja, tapi ternyata dia tersenyum sambil melihat mereka juga, sama sepertiku.
“morning!” sapa keduanya bersamaan.
“good morning.” Balas sapaan mereka, hampir bersamaan dengan Vanilla.
Kami berempat berjalan bersisian, aku dengan Dave dan di depan kami Vanilla dan Daniel. Mereka mengobrol ringan dan tertawa sementara aku? awkward moment.
“kok kau tidak berbicara?” Tanya Dave yang menurutku sepertinya dia santai saja.
“eh! Bingung mau bicara apa.” jawabku jujur.
Dia hanya tertawa dan kembali berjalan lagi, sementara aku hanya melongo melihat dia tertawa.
“ngomong – ngomong...” kataku mencoba mencairkan suasana.
“apa kau lihat Daniella dan Vanessa.”
Dahinya berkerut.
“sepertinya tidak.”
Sekarang kami sudah hampir berada di aula tengah, hingga aku terfokus pada sesuatu yang berada di ruangan tempat siswa – siswi sedang berjalan bersama menuju aula tengah. Aku tidak tahu itu apa tapi aku merasa familiar dengan pintu berkayu hitam itu. Dengan kaca gelap yang membuatku bergidik saat memikirkan bagaimana jika aku memasuki ruangan itu, dengan papan kayu yang berada tepat di atas pintu berkayu hitam, berlabel ‘perpustakaan’
to be continued
---
Read my another story :
1. How Can I Move On
2. A-B-C-D Love
3. Princess Series [1] : The Overweight Princess