BIRU (Silver Moon series)

By Sepnodes72

1.3M 82.4K 672

Aku lupa bagaimana caranya menangis. Sudah lama sekali sejak terakhir aku mengeluarkan air mata. Aku bahkan t... More

Prolog
Bab 1
Bab 2
Bab 3
Bab 4
Bab 5
Bab 6
Bab 7
Bab 8
Bab 9
Bab 10
Bab 11
Bab 12
Bab 13
Bab 14
Bab 15
Bab 16
Bab 17
Bab 18
Bab 19
Bab 21
Bab 22
Bab 23
Bab 24
Bab 25
Bab 26
Bab 27
Bab 28
Bab 29
Bab 30
Bab 31
Bab 32
Bab 33
Bab 34
Bab 35
Extra Part

Bab 20

34.9K 2.1K 29
By Sepnodes72


Nino

Disinilah aku berada sekarang. Kembali mencari Sinta untuk mengorek kembali mengenai dia. Benar-benar kacau dunia tenangku sekarang karena makhluk yang bernama wanita. Ada apa dengan mereka sebenarnya? Ada yang dengan mudah memasuki ruang hatiku dan hanya sebatas itu. Masuk tanpa bisa kutahan untuk tetap berada disana. Ada lagi yang dengan mudah masuk dalam hidupku, karena memang atas izinku sendiri, dan sekarang malah menghilang, menyisakan beribu tanda tanya dalam kepalaku. Melelahkan.

Sinta masih terlihat menemani calon pelanggannya dan sepertinya aku masih harus menunggunya disini. Sinta terlihat sangat agresif pada pelanggannya itu. Beberapa kali kulihat tangannya bergerilya ditubuh lelaki itu. Malam ini aku merasa jijik melihatnya seperti itu, padahal biasanya dia juga melakukan hal itu padaku bila aku memintanya menemaniku. Mereka melakukan hal ini untuk uang. Sesulit apa hidup ini sampai mereka melakukan hal itu. Kami para lelaki mungkin memang menanyakan ini dalam benak kami, tapi kami juga ngga mengingkari bahwa kami memerlukan mereka untuk melakukan itu terkadang.

"Sendirian mas?" Ryan mengantarkan minuman yang baru kupesan padanya. Aku sering kemari dan mengenal anak ini dengan baik. Dia bartender terbaik disini.

"Gue nunggu Sinta. Lo temenin gue mau? Biar gue traktir." dia menolak.

"Gue masih kerja. Ngga mungkin minum,"

"Sombong sih sekarang lo," dia hanya tersenyum. Sepertinya aku benar-benar harus menunggu Sinta sendirian malam ini. Hanya demi satu dua info mengenai dirinya, membuatku menunggu selama ini. Sungguh aku mulai kehilangan akal sehatku.

***

 Kupikir aku cukup mencarikan pengisi acara buat pernikahan kejutan Zevan, ternyata dia juga membebani kami bertiga dengan segala macam "tolong" mautnya itu. Hari ini dia sengaja menungguku pagi-pagi cuma untuk menemaninya memilih cincin kawinnya nanti. Tuhan, kenapa aku harus punya sahabat semenyusahkan orang ini?

"Kejadiannya udah bertahun-tahun yang lalu. Lama. Kenapa sih lo ngga berusaha mengobati trauma nyetir lo itu?" kakiku mulai pegal. Ini toko kelima yang sudah kami singgahi. Belum ada cincin yang dia rasa sesuai untuk mereka.

"Lo ngga ikhlas nemenin gue?" tadinya aku berencana menggunakan hari libur ini untuk mencari Sinta, malam itu aku menyerah menunggunya dan memutuskan pulang setelah kepalaku mulai pening karena pengaruh alkohol dari minuman yang cukup banyak menemaniku.

"Lo ngga punya orang lain buat dibikin susah pagi-pagi? Lo bahkan minta sarapan sama gue!" mataku rasanya hampir kabur kerena terus menerus melihat benda berwarna perak yang penuh kilau didepanku ini dari tadi.

Sebentuk liontin berbentuk simbol infinity dengan sebutir berlian kecil menghiasinya menarik perhatianku. Sederhana.

"Ada yang bisa saya bantu?" pramuniaga ini pasti tahu arah pandanganku. Dia segera mengambilkan liontin yang dari tadi kulihat.

"Saya ambil yang ini." dengan cepat aku membayarnya, sebelum Zevan yang lagi sibuk memilih cincinnya melihatku membeli sesuatu disini. Tanpa menunggu pramuniaga itu membungkuskannya terlebih dahulu, aku memilih langsung memasukkan liontin sekaligus kalungnya kedalam saku jaketku.

"Gue udah dapat No, gimana?" beruntung Zevan datang beberapa detik sesudah benda itu masuk, dia memperlihatkan sepasang cincin sederhana dengan titik-titik berlian kecil mengelilinginya. Hanya untuk cincin begini kami mengelilingi lima toko perhiasan?

"Lo memang luar biasa. Gue pikir lo nyari cincin special yang terbuat dari gading gajah Afrika, trus ada mata manusia buat hiasannya." sindirku tajam.

"Sialan lo. Ya sudah, ayo kita pulang. Hari ini cukup sampai disini aja. Gue capek." kamu pikir cuma kamu yang capek? Aku dari tadi dan malah rugi karena membeli barang yang aku belum tau mau dibuat apa.

***

Sampai sekarang dia belum juga muncul didepanku. Sepertinya dia benar-benar menghilang sekarang. Aku selalu benci dengan orang yang mengkhianati kesepakatan bersamaku, dan itu juga yang sekarang kurasakan padanya. Aku salah karena sempat mempercayainya dan seperti orang bodoh mencari keberadaannya. Apa peduliku padanya? Dia bukan siapa-siapa bagiku. Hanya seorang wanita bayaran. Seharusnya dia ngga bisa menyita pikiranku seperti saat ini. Semarah apapun padanya, aku tetap sadar bahwa aku masih memerlukan dia disini dan mengharap kehadirannya. Mungkin kedua hal  itulah yang membuatku benci padanya. Aku masih ingin dia disini. Nessa. Apa aku harus memanggilmu dengan nama itu sekarang?

"Lo udah siap No?" seperti biasa, Alan memang paling klimis diantara kami berempat. Berapa botol gel rambut yang dia gunakan hari ini. Rambutnya terlihat luar biasa hari ini. Dia mengenakan tuxedo silver dengan dalaman kemeja putih sama seperti yang juga kukenakan sekarang. Kami bertiga akan mendampingi Zevan hari ini untuk acara sakralnya bersama Dara. Aku benar-benar turut bahagia untuknya hari ini. Ada kelegaan luar biasa dalam hatiku yang bisa merestui kebahagiaan mereka dengan tulus diluar peranku sebagai sahabatnya.

"Sudah dari tadi. Lo yang paling lama." kurangkul Alan, keluar dari ruang ganti dan menemui Andra yang sudah menunggu kami didepan. Setelah ini kami masih harus menjemput Zevan dan kedua orang tuanya untuk langsung meluncur ketempat acara.

***

Sore ini Zevan akan melangsungkan acara pernikahan yang sudah kami susun dengan serapi mungkin tanpa sepengetahuan Dara. Semua sudah sesuai rencana, tinggal sentuhan terakhir. Bagaiman kami mengatur waktu sat Zevan mengucapkan ijab kabul saat Dara baru menginjakkan kakinya dilokasi. Kami harus benar-benar berkoordinasi dengan Nadia yang bertugas membawa Dara.

"Siap? Dia sudah dijalan menuju kemari." Andra menutup telponnya setelah menghubungi Nadia untuk menanyakan posisi mereka saat ini.

"Gue siap. Ayo, yah.." Zevan berjalan bersama ayahnya dan duduk didepan penghulu yang dari tadi sudah menunggu mereka. Jelas sekali dia terlihat sangat gugup, hanya dia tetap berusaha menutupinya. Semua yang hadir juga ikut tegang. Suasana hening sejenak sebelum penghulu mulai memeriksa berkas nikah dan khotbah pernikahan sebelum memulai ijab kabulnya.

Tiba saat yang paling penting, dengan mantap Zevan mengucapkannya saat Dara terlihat melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Dia terlihat luar biasa dengan gaun pengantinnya. Sangat cantik. Dia sama sekali ngga berusaha menutupi ekspresi kagetnya. Kebahagiaan jelas terpancar dimatanya. Dia tersenyum walau berusaha pura-pura marah pada Zevan yang begitu selesai ijab kabul langsung berjalan menghampirinya.

Mereka memang terlihat sangat serasi. Mereka memang diciptakan untuk bersama dan saling mengisi kekurangan masing-masing. Inilah yang mereka namakan jodoh.

***

Acara masih berlangsung sampai malam. Kami akan menyalakan kembang api sebagai acara puncaknya nanti. Saat ini kami masih berkumpul sambil bersantai menikmati alunan lagu dari para pendukung acara.

Zevan masih terlihat berkumpul bersama keluarganya dan Dara. Kami bertiga lebih memilih duduk sambil menikmati makanan yang kami bawa dengan sebanyak-banyaknya. Zevan harus merasakan kerugian karena meminta kami jadi panitia acara pernikahannya.

"Gue ngga nyangka Zevan yang bakal kawin duluan. Tadinya gue pikir lo Ndra," aku setuju dengan Alan. Kami ngga pernah mengira Zevan yang menikah duluan.

"Yang jelas bukan elo yang bakalan nikah duluan Lan." balas Andra santai. Kali ini aku juga setuju dengannya. Diantara kami berempat Alan memang paling ngga mungkin menikah dalam waktu dekat. Dia paling anti berhubungan serius dengan wanita dan sifatnya yang sedikit kekanakkan itu membuatnya sulit menemukan wanita yang sabar menghadapinya.

"Jelas lah. Gue mau liat kalian semua kawin duluan. Baru gue nyusul. Gue mah baik orangnya, ngalah aja sama kalian." kutimpuk dia dengan tusuk gigi dan tepat mengenai dahinya.

"Kita keliatan menyedihkan ngga sih?" apa sih pertanyaan Alan kali ini?

"Coba liat. Kita tampan, muda dan menawan. Masa ngga punya pasangan ke acara nikahan sahabat?" orang ini memang benar-benar bodoh atau apa sih sebenaranya? Aku heran bagaimana dia menjadi pengacara. Bukannya kami bertiga memang ngga memiliki wanita untuk dibawa?

"Kita mana pernah datang sama wanita? Lo kan tau kita emang ngga pernah punya wanita buat dibawa?" jawab Andra dengan sabar.

"Oh iya. Kita kan memang selalu datang berempat, bukannya berpasangan. Mulai sekarang kalo ada acara kita akan datang bertiga. Karena Zevan pasti akan berdua."

"Ngomong apaan sih lo Lan, makin ngga jelas." dia benar-benar mulai meracau. Apa Andra menyuruh anak buahnya memasukkan alkohol dalam strawberry punch yang dihidangkan hari ini? Alan sepertinya mulai mabuk.

"Kenapa lo senyum-senyum? Lo ngga ngelakuin apa yang ada dipikiran gue kan?" Andra mengangguk. Dia pasti bakal kena damprat habis-habisan dari Zevan kalo dia tahu mereka memasukkan minuman beralkohol dalam hidangannya.

"Sekali-sekali ngejahilin pengantin kan ngga papa No,"

"Gue ngga ikutan kalo Zevan ngamuk ya. Jangan minta tolong sama gue," kepalaku mulai sedikit pening. Sepertinya aku juga mulai merasakan efek minuman yang masih kupegang ini. Aku cukup banyak meminumnya tadi.

"Waktunya nyalain kembang api. Ayo," ajak Andra mengalihkan omelan yang siap kukeluarkan untuknya.

Orang yang bertugas menyalakan kembang api sudah siap diposisi mereka. Kami mau ikut menyalakannya. Aku mengambil kembang api yang cukup besar juga Andra dan Alan, siap menyalaknnya bersama-sama.

"Satu...dua...ti.." belum sempat para hadirin menyebutkan kata "tiga" kami sudah menyalakannya dan percikan dari kembang api Alan mengenai tanganku hingga refleks tanganku menyenggol tangan Andra yang berdiri disebelahku dan kembang api yang ada ditangannya mengarah ke pelaminan dimana Zevan dan Dara sedang berdiri menyaksikan taburan kembang api yang menghiasi malam. Nyaris. Kalo Zevan kurang cepat melemparkan gelas minuman yang dia pegang kepercikan api yang mengenai kain penutup pelaminan, kami ngga tau apa yang bakal terjadi.

"Alann!! Nino!! Andraa!!!"

***

Aku kembali ke apartemenku dengan badan capek sekaligus bahagia. Walau kami berhasil mengacaukan acara pernikahan itu, harus diakui, kami cukup memeriahkan suasana. Mana ada mempelai pria berteriak di acara pernikahannya sendiri?

Aku sudah mulai terbiasa kembali dengan ruangan gelap yang menyapaku begitu aku masuk sebelum aku menemukan dia duduk disana. Dalam gelap, ditempat biasanya menunggku seperti biasa.

"Kamu sudah pulang?"

Continue Reading

You'll Also Like

7.4M 78.3K 20
21+⚠️ * Mengandung kata kasar dan adegan dewasa. * Adegan tidak baik jangan dicontoh apalagi diperaktekkan.😰 * Ambil positifnya buang negatifnya. Ji...
2.6M 87.1K 33
21+ [ Be wise with your reading! ] Mereka dipertemukan kembali, namun dalam status yang berbeda. Dengan rasa benci dan Cinta yang masih bernaung di h...
25.1K 2.8K 34
Terlalu sulit untuk melupakan semua kenangan dulu yang membekas di otak ku. Perasaan dulu yang membuat ku merasakan jantungku berdetak lebih cepat da...
15.6K 510 14
Maaf aku yang terlalu buta dengan peranmu. *** Sebuah hubungan itu harus sama rasanya, bukan berat disisih atau ringan disisih. Cinta juga bukan seke...
Wattpad App - Unlock exclusive features