"Ini om siapa sih, njing-_-?" ucap (Name) sinis. "... bau alam kubur."
Rei elus dada denger ucapan bocil berambut merah di depanya, kemudian tatapannya pun terarah pada Ichijiku yang ada di sebelah sang lelaki. "Aah... seperti dugaanku," ucap Rei sambil senyum serem ala om2. "Keindahan tubuhnya ternyata dipenuhi dengan duri-duri tajam dari kata-katanya..."
"Lu ngomong cabul soal adek gue, langsung gue hentiin detakan jantung lu pake canceller," ancam Ichijiku sambil menatap Rei sinis. "Lelaki menjijikan sepertimu gak diterima lama-lama di Chuuoku! Sana pergi sekarang!"
"... Nee-sama, aku otoko kan, yah?"
"Iya, mau transgen, (Name)?" ucap Ichijiku dengan ancaman tersirat. "Transgennya pake piso dapur, seru gak tuh?"
"Eh, enggak, maaf, Nee-sama..." (Name) buru-buru menunduk dan menutup mulutnya. "Aku tidak akan mengganggu obrolanmu lagi, maafkan aku."
"Hm, mulutnya pengen bikin masukin gudang..." ucap Rei pelan. "Adekmu kubeli jadi berapa harganya, Ichijiku? Jadi pajangan enak, tuh."
"Yang ada elu yang gua masukin gudang!" seru Ichijiku kesal. "Ini adek gua baru 10 tahun kasian nanti traumanya entah sampai kapan! Jangan tunjukan wajahmu lagi atau akan kupanggil Party Of Words untuk melibasmu! Mana barang yang kupesan!?"
"Baik, baik, ini barangmu..." Rei berucap sambil menyodorkan sebuah tas. Ichijiku menatap (Name), kemudian menganggukan kepalanya ke arah Rei.
(Name) mengangguk dan berjalan ke arah Rei dengan muka masih dendaman, tapi di tengah jalan mendadak dia jatoh dengan sendirinya akibat keselek—kesandung—batu.
"Aduh," gumam Ichijiku ngilu sendiri. "Sial amat kamu, dek... ehem! Eh, maksudku, bangun segera, (Name). Gak ada waktu bagi seorang tentara sejati untuk berbaring di depan musuh!"
"Y-Ya, aku paham, Nee-sama!" (Name) buru-buru berucap dan berusaha bangkit dengan menjadikan lengannya tumpuan, tapi telapak tangan lelaki itu justru terkena batu dan (Name) kembali meringis kesakitan. "A-Aah... sial sekali aku ini..."
Selagi (Name) terngkurap di tanah dan Ichijiku hanya menatapnya, Rei pun melangkah maju secara mendadak dan berlutut di depan (Name) sambil mengulurkan tangannya.
"Hati-hati, Tuan Kadenokoji," ucap Rei sambil menyeringai tipis, lelaki itu meraih tangan (Name) yang terkena batu tadi dan membantu sang lelaki berdiri. Selagi dengan tenang ia membersihkan luka (Name), Rei pun berucap. "Jangan sampai ciptaan Tuhan yang paling indah ini tergores sedikit pun. Jangan khawatir, akan kulakukan apapun supaya keindahanmu bisa bertahan selamanya... atau setidaknya cukup lama hingga saat kamu legal nanti..."
"Atheis gausah sok muji ciptaan Tuhan, deh-_-!" ucap (Name) sambil menepis tangan Rei dan langsung merebut bungkusan yang Rei bawa, lelaki berambut merah itu kemudian nyembur Rei pakai air suci dari kuil terdekat dan melompat mundur.
"Kalo udah legal juga mau diapain, hah!?" ucap Ichijiku tajam sambil memegangi bahu (Name) dan menatap Rei sinis. Ichijiku kemudian mendecih pelan dan membalikan badannya. "Ayo, (Name), kita langsung masuk sekarang!"
"Baik, Nee-sama!" (Name) berbalik dan mengikuti Ichijiku masuk ke dalam gerbang sebuah dinding kelewat tebat yang terbuka menunggu mereka masuk. Sebelum masuk ke dalam tempat itu, (Name) berhenti sejenak dan melemparkan sebuah tatapan pada Rei yang bikin jiwa pedho Rei bergejelok. "Dah."
Rei gak bisa menutupi senyumannya, "Sampai jumpa nanti, Tuan Kadenokoji!"
Sementara itu, Otome hanya menatap (Name) dan Ichijiku dari salah satu menara di dalam dinding tebal tempat mereka tinggal dengan senyuman kecilnya.
YOU ARE READING
Good (Bad) Luck
Fanfiction(Name) Kadenokoji adalah adik dari Ichijiku Kadenokoji, menjadi adik laki-laki dari perempuan yang membenci lelaki adalah sebuah start bagi keapesan sekaligus keberuntungan (Name). Walau begitu, lelaki itu tetap saja menjalani kehidupannya di Chuu...
