Surat Pertama

12 1 0
                                        

Halo, apa kabarmu? Aku berharap kamu baik – baik saja disana. Pasti kamu sangat terkejut saat melihat surat ini. Surat pertama yang akan kamu baca. Aku sungguh berharap kamu membacanya dengan baik.

Pertama – tama, aku ingin minta maaf. Untuk semuanya. Untuk semua hal yang sudah aku lakukan maupun tidak aku lakukan. Hal yang membuatku sungguh merasa bersalah karena sudah menyakiti perasaanmu dan juga tidak dapat berada di sisimu. Aku tidak ada untuk membicarakannya langsung ke kamu. Hmm, aku merasa seperti pecundang. Aku tau, kalau aku bicara langsung ke kamu dan melihat matamu, aku sangat yakin aku tidak akan sanggup melakukan ini semua dan mengurungkan niatku lagi. Disini, aku sangat yakin bahwa kamu akan menyalahkan dirimu atas kepergianku, tapi kamu harus ingat bahwa ini bukanlah salahmu. Aku tidak ingin kamu membenci dirimu sendiri atas apa yang telah aku lakukan. Bukanlah kamu yang mendorongku untuk melakukan semua ini. Terlalu banyak hal yang telah ku lewati. Begitu banyak sampai akupun tidak dapat menghitungnya satu persatu.

Untuk dirimu, hanya dirimu seorang, aku akan menceritakan kejadian yang membuatku melakukan ini semua. Mungkin, hanya mungkin, kamu akan mengerti. Menurutku, untuk mengerti itu semua, aku harus menceritakan cerita yang sangat panjang yang bermulai bertahun – tahun yang lalu sebelum aku pindah ke kota ini dan mengenalmu. Semua bermulai di Sumba, tempat dimana aku dilahirkan. Setelah aku memikirkannya, itu adalah saat – saat terbaik dalam hidupku. Bangun tidur, pergi dari pintu depan untuk berenang atau sekedar mengitari pulau lalu pergi ke pasar untuk bertemu dengan orang – orang. Pedagang di pasar sangat baik terhadapku, mereka selalu bercerita dan mengajak aku berbincang -bincang. Oh iya, seperti yang telah kamu ketahui, aku sangat suka pergi ke pantai. Melihat para nelayan memancing ikan, tak sedikit dari mereka memamerkan hasil pancingan mereka kepadaku. Sering kali aku ikut mereka pergi berlayar lalu mereka akan mengajariku cara untuk menangkap ikan. Aku juga suka pergi menyelam. Melihat indahnya pemandangan bawah laut yang dimiliki negeri kita tercinta ini. Hatiku terasa sangat damai ketika aku pergi menyelam. Menyelam bagiku adalah satu – satunya cara untuk aku pergi dari mimpi buruk yang aku alami selama ini.

Sebelum aku menceritakan tentang mimpi burukku , mungkin lebih baik aku menceritakan tentang latar belakang keluargaku terlebih dahulu. Ayahku dulu adalah seorang arsitek yang cukup terkenal di Jakarta. Lalu saat ayah pergi untuk mengerjakan proyeknya di Sumba, ayah jatuh sakit hingga akhirnya harus dibawa ke dokter yang paling dipercaya di Sumba saat itu. Iya, dokter itu adalah ibuku. Mereka berdua jatuh cinta dan lahirlah aku. Terdengar seperti cerita di dongeng bukan? Dulu aku sangat mengaggumi cerita cinta mereka tapi itu semua pada akhirnya berubah. Itu semua hanyalah kebohongan.

SuratStories to obsess over. Discover now