Budaya klik bintang di bawah sebelum membaca.
Selamat membaca
_
Bandung pada malam itu di guyur dengan hujan. Lebat sekali. Sehingga menimbulkan bunyi keras, berasal dari atas seng tempatnya berteduh. Bak seperti batu yang baru mau di timbun di tempat pembangunan. Dwi bergidik ngeri, cewek itu menengadah dan menjumpai titik air membasahi sudut kamarnya. Di situ, memang sering terjadi kobocoron saat hujan turun. Sontak, ia bergerak tangkas mengambil mangkok berukuran sedang yang memang telah di sediakan buat menampung genangan air agar kamarnya tidak di banjiri hujan.
Di saat seperti ini, mungkin waktu hujan adalah waktu yang tepat bagi setiap mahkluk bernyawa khalayaknya manusia untuk bersantai. Diam di rumah, memakan bakso menyesuaikan suasana, atau mungkin lebih memilih banting pintu, tarik selimut, bobo manis aja. Entahlah.
Dwi kembali mengecek ponsel nya, tidak sabar menunggui pengumuman berhasilnya laporan surat lamaran kerja pengajuannya. Sejauh ini, ia sudah menjelahi keseluruhan kota badung buat melamar pekerjaan. Tapi menariknya, tidak ada satupun yang mau menerimanya sebagai pekerja.
"Padahal Indonesia tuh, masih negara berkembang. Tapi kenapa setiap gue melamar pekerjaan seolah gue sedang berada di Korea sana yang sulit banget melamar pekerjaan. Mustahil banget satupun nggak ada yang mau menerima gue. CK!" Dwi merutuk, menggeram sendiri.
Explanation. Bohong kalau di setiap penjuru kota bandung tak ada satupun orang yang mau menerima surat lamaran pekerjaannya. Memang benar kalau cewek itu sudah berusaha melamar di seluruh perusahaan yang ada di bandung. Tapi itu adalah perusahaan. Dengan menggunakan tamatan kelulusan SMA, perusahaan mana yang mau menerimanya. Mana yang di lamarnya perusahaan besar semua. Sudah jelas tidak ada satupun yang mau menerimanya. Berbeda kalau seandainya dwi melamar di beberapa toko, atau warkop pinggir jalan yang sudah menjanjikannya lulus bahkan sebelum tes di mulai. Maaf ya, Dwi ini cewek yang sederhana kok, dia juga nggak terlalu memilih soal bekerja. Berhubungan dengan toko, butuh waktu lama seharian baginya bekerja. Menurutnya, terlalu santai dan sangat buang buang waktu. Sedangkan warkop sudah menjadi pekerjaannya setiap hari,membantu bibi berjualan bandrex di persimpangan taman.
~
Hampir seharian penuh Dimas mengecak satu persatu laman komentar give away perlombaan menulis nya. Lebih tepatnya sedang menunggu orang lain berdatangan untuk berkomentar di page announcment miliknya. Bisa di hitung selama 22 jam hanya ada empat orang dengan sepuluh orang pengikut yang berkomentar di halaman tersebut dan komentar di ajukan bersifat normal layaknya puitisi. Sedangkan komentar nomor lima orang terakhir perlahan membuat kerutan di dahi Dimas terukir, cowok itu mengeryit dan yang lebih membuat nya penasaran di sana terlihat bayu teman satu team kerjanya menanggapi.
"Dari apakah doraemon berasal, kucing atau kancil? Berani bertaruh, 100k. Mari kita melakukan negosiation proflytable."
Komentar💬
@deasarange_
sedang mengetik.......
Kucing pasti.
@Kembaranleeminho
Sedang mengetik.......
Kucing lah, elahh
@wik_wik
Sedang mengetik.....
@deasarange_
@kembaranleeminho
Slah.
@b49u 4nd1ra_
Sedang mengetik.....
Buaya darat kan
@wik_wik
Sedang mengetik.....
@b49u 4nd1ra, dasar mesum
Awalnya Bayu iseng saja, berniat meramaikan komentar di papan perlombaan dimas yang sunyi kayak kuburan. Tapi namanya juga bayu itu cowok normal, jadilah ia menanggapi kuis tersebut. Lumayan kan 100 k di kali tiga ada untungnya dan rezeki itu nggak ada yang tau, fikir bayu. Tapi yang di dapat sama bayu adalah seperti penghinaan sehingga membuatnya sedikit tersindir dan tidak terima. Kontan bayu langsung menghampiri dimas yang pada sama pada halnya sedang mengecek laman tersebut. "Dim, ni orang kurang ajar banget. buruan usir ni orang dari laman lo"
KAMU SEDANG MEMBACA
move
Fiksi Remajacome tt adalah perusahaan kecil sedang mengikuti perlombaan sengit di perusahan raksasa yang berhadiah untuk merintis setiap perusahaan kecil bagi yang memenangkannya.
