Oh, He is an actor!

45 5 0
                                        

Wiuw.. Wiuw.. Wiuw..

Suara sirine Ambulance terdengar memekakkan telinga. Suara yang semula sayup terdengar kian jelas seiring dengan masuknya Ambulance ke area depan Unit Gawat Darurat Dream Hospital. Sekitar tiga orang perawat berhamburan keluar dengan sebuah brankar yang mereka dorong mendekat ke arah Ambulance.

Petugas ambulance kemudian memindahkan sang korban yang ternyata merupakan korban kecelakaan tunggal sebuah mobil. Pasien terlihat sadar namun pelipisnya terluka. Seorang lagi terlihat keluar dari Ambulance dengan keadaan panik, sebelah tangannya sibuk dengan handphone sedangkan pandanganya fokus pada orang yang terbaring di brankar.

Dengan tergesa perawat mendorong brankar menuju UGD, sesegera mungkin mencari tempat yang kosong dan mencari dokter yg kemungkinan sudah terlelap mengingat ini jam setengah tiga pagi.

"Panggilkan dokter Seo, cepat." Seru seorang perawat ke arah receptionist yang langsung di laksanakan detik itu juga, menghubungi satu satunya dokter yg tersisa saat itu.

Dering handphone terdengar nyaring dari sebuah ruang peristirahatan. Dokter Seo yang tertidur terlonjak kaget ketika handphone sialannya tiba tiba berdering nyaring saat ia baru aja terlelap beberapa menit. Dengan mata yang setengah terpejam, diangkatnya benda canggih itu dengan malas.

"APA LAGI? DEMI TUHAN AKU BARU SAJA TERLELAP BEBERAPA MENIT LALU DAN SEKARANG KAU MENGAGETKANKU" semburnya tiba tiba.

"M-maafkan saya dokter, tapi a-ada pasien kecelakaan." Sang receptionist tergagap, tidak siap dengan semburan tiba tiba dari mulut pedas sang dokter.

"Tidakkah ada dokter lain disana? Seingatku aku berjaga dengan dua dokter sialan lainnya." Dokter Seo mengusap wajahnya kasar, masih kesal karna dibangunkan tiba tiba.

"Dokter Kang dan dokter Choi sedang merujuk pasien ke rumah sakit pusat, dokter. Hanya anda yang tersisa saat ini." jelas sang receptionist dengan nada sedikit tak enak mendengar suara sang dokter yg terlihat begitu lelah.

Menghela nafas, "Baiklah, aku akan kesana dan maaf sudah membentakmu". Dokter Seo memutus sambungan telfon sepihak lalu menghembuskan nafas kasar. Kenapa semua orang menghilang disaat seperti ini?

Dengan malas dokter Seo turun dari ranjang nyamannya, memakai jas putih kebanggannya kemudian beranjak menuju UGD yg letaknya tidak seberapa jauh dengan mata yg masih sangat mengantuk.

"Sialan!" Rutuknya dalam hati.

Langkah gontainya sampai ke UGD, netra bulatnya melihat perawat sedang mengecek tanda tanda vital pasien yang tampak tidak apa apa itu. Semua tampak normal, pasien sadar, hanya terdapat luka di pelipis, bukan suatu kegawatan, bibirnya berdecak sebal. Istirahat berharganya diganggu hanya karena pasien dengan luka ringan. Hell!

"Tanda-tanda vital?" Tanyanya tanpa menoleh ke arah perawat karna matanya sibuk melihat seluruh tubuh si pasien untuk memastikan apakah ada luka lain atau tidak, mengangguk setelah memastikan tanda tanda vital baik.

"Apakah ada bagian lain yang sakit, tuan?" Senyum terpatri di bibir dokter Seo, sementara netranya mengamati luka di pelipis si pasien.

"Oh. Tidak, hanya nyeri di pelipis. Tolong rawat luka saya dengan baik, dokter..." si pasien menatap name tag dokter Seo, karena sang dokter tidak memperkenalka diri.

"Haechan. Cukup panggil saya dokter Haechan dan tentu, saya akan merawat luka anda dengan baik" dokter ber name tag Seo Haechan itu menyunggingkan senyum.

Sementara perawat menyiapkan instrument untuk merawat luka, Haechan menatap pasiennya yang entah mengapa terlihat familiar.

"Aktor Jung Sungchan" Sang pasien menjawab dengan cengiran sangat lebar saat tau sang dokter menelisik wajahnya sedangkan para perawat di belakang Haechan tampak kaget karena pasien mereka kali ini adalah seorang aktor yang sangat di sayangi seluruh warga Korea saat ini.

Selesai dengan pemeriksaan luka dan memastikan tidak ada luka lain, Haechan mulai mengobati luka di pelipis Sungchan. diambilnya kasa lalu di celupkan di cairan NaCL, Hakyeon mulai membersihkan luka di pelipis Sungchan.

"AKKKHH!!" Sunchan tiba tiba saja berteriak seolah si dokter baru saja memukulnya dengan sebuah palu besar.

"Mohon tenang tuan, saya sedang membersihkan luka anda" Haechan yang memang moodnya tidak begitu baik tetap berusaha mempertahankan senyum manis di wajahnya padahal di dalam hati dirinya mengumpati si pasien. "Dasar anak manja!"

"Tapi ini sakit sekali!" Dengan wajah kesakitan, Sungchan setengah berteriak pada Haechan.

Mendengus pelan, lantas dengan sengaja menyemprot alkohol (yang apabila terkena luka akan terasa luar biasa perih) pada kasa dan menekannya ke luka di pelipis Sungchan.

"RASAKAN KAU BOCAH MANJA" rutuknya.

Perawat di belakang Haechan menahan nafas, bagaimana bisa si dokter berkata dan berlaku sekasar itu pada pasiennya. Habislah mereka kalau sampai Sungchan membuat laporan macam macam, karir dan reputasi rumah sakit mereka terancam.

"Kau bilang apa, dokter pendek?" Sungchan tampak tidak suka dengan panggilan manja yang dokternya sematkan, rasa perih berkat alkohol dan tekanan kasar pada lukanya ia abaikan. Rupanya si pendek ini ingin mengajaknya bertengkar, pikirnya.

"Pendek kau bilang?" Haechan mulai meradang, moodnya benar benar rusak kali ini.

"Iya kau pendek. Lihat, bagaimana seorang dokter sepertimu bisa memperlakukan aku yang mana seorang pasien seburuk itu huh?" Seolah lupa dengan luka di pelipisnya Sungchan tertawa mengejek Haechan yang gampak emosi, dan

Plak!

Satu tepukan mendarat di pantat tebal Haechan dan sepertinya kiamat langsung terjadi saat itu juga. Haechan murka, dengan wajah yang memerah marah, tanpa ragu memaki Sungchan yang tampak tertawa setelah menampar harta berharganya.

"BAJINGAN GILA! KAU PIKIR KAU SIAPA HAH? KENAPA BERANI SEKALI KAU MENYENTUHKU? APA IBUMU TIDAK MENGAJARKANMU SOPAN SANTUN HAH? HARUSNYA KAU MATI SAJA SAAT KECELAKAAN TADI, SIALAN. DASAR MENYUSAHKAN!"

Melempar kasa yg tadi di pakai untuk membersihkan luka Sungchan secara sembarangan, Haechan berniat pergi namun seruan kaget seorang lelaki yang ternyata manager si aktor membuat Hakyeon sadar kalau ternyata pasiennya tidak bersuara, tidak bergerak sedikitpun, tatapan matanya kosong sedangkan air mata mengalir dari mata bulatnya.

"S-Sungchan-ah.." seru sang manager lemah. Di guncangnya pelan tubuh Sungchan yg kaku serupa batu tapi nihil, raganya tak bergerak menyebabkan semua orang termasuk Haechan sendiri kaget.

"Hei jangan bercanda. Tidak lucu." seru Haechan panik, dirinya sudah memikirkan kondisi terburuk. Apa aktor sinting ini hilang kesadaran? Apa mendadak gila? Apa si sinting ini dan itu, pikirannya kalut hingga penjelasan Manager membuatnya merasa seperti dunia runtuh di bawah kakinya.

"Sebenarnya Sungchan mengalami Post Traumatic Stress Disorder, dokter. Dia tidak bisa di bentak atau di marahi karena pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan dengan neneknya."

Kepanikannya bertambah, Haechan merasa ingin mati kali ini juga. Haechan sangat tau apa itu Post Traumatic Stress Disorder, yaitu kondisi mental di mana pasien mengalami serangan panik yang dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu. Tanpa pikir panjang Haechan memilih untuk merujuk Sungchan ke rumah sakit pusat.

"CEPAT HUBUNGI RUMAH SAKIT PUSAT DAN SIAPKAN AMBULANCE SECEPATNYA!"

Haechan mencoba untuk tetap tenang, kembali ke ranjang Sungchan lalu di pasangkannya masker oksigen pada Sungchan yg masih mematung seperti batu dengan nafas putus putus.

"Ku mohon sadarlah. Maafkan aku" Lirihnya. air mata menggenang di pelupuk mata indahnya.

Ambulance siap, semua sudah siap dan Sungchan sudah di pindahkan ke dalam Ambulance dengan kondisi yg sama, tatapannya masih kosong sedangkan air mata masih menganak sungai di matanya. Haechan menyusul dengan wajah pucat yang tanpa sadar saat memaki Sungchan ternyata ada seseorang yang merekam tindakan bar-barnya diam diam.

.
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.

Hai! Aku mulai berminat nulis lagi dan malah bikin cerita baru padahal cerita sebelumnya belum pada selesai 😂 maafkan aku ya kawan kawan.

Next? Atau stop disini aja? Jangan lupa tinggalkan jejak..

The Crazy DoctorWhere stories live. Discover now