I

33 1 0
                                        

Arunika kembali menyapa pria manis itu. Memintanya untuk sejenak meninggalkan alam bawah sadar untuk beberapa jam kedepan.

Tatapan tajam keluar dari mata sipit itu, mulutnya terbuka sempurna berniat menghilangkan rasa kantuk.

Wonwoo, pria manis itu berjalan dengan sesekali menguap menuju kamar mandi.

Percikan air membuatnya sadar sepenuhnya. Bersiap untuk ilmu ilmu baru adalah tujuan kenapa ia harus bangkit dari singgasananya.










Langkah wonwoo mulai membawanya menuju halte untuk menumpang bus yang akan membawanya ke tempat yang sangat ia benci sebenarnya.

Ia bosan menunggu, apa lagi yang tidak pasti.

Eh!?



Mata kucing itu kini sibuk memperhatikan untaian kata kata pada benda persegi ditangan lembutnya.

Untunglah cahaya baskara hari ini tertutupi oleh gelapnya awan. Hari yang indah untuk wonwoo.

Suasana yang tadinya sangat wonwoo nikmati kini telah berubah, suara suara memenuhi bus biru yang ia tumpangi.

Mereka yang memakai pakaian yang sama dengan wonwoo nyatanya tak membuat pria itu membuka suara untuk sekedar berbasa basi.

Nada rendah itu terlalu malu untuk menguntai kata begitu juga tatapannya.

Emangnya apa yang menarik minat wonwoo kecuali buku?

Tidak!

Pria manis itu tak seperti yang kalian kira.

Ia biasa saja.

Ia tetap pada kadarnya.

Ia hanya tak ingin membuang waktu, ia harus memperjuangkan sesuatu.











.  .  .

Langkah kaki wonwoo dipaksa berhenti karena suara yang menyebut namanya.

" Wonu!!"

Sepasang mata kucingnya menangkap sosok rupawan nan tinggi yang sedang tersenyum manis, Rowoon.

Pria yang kelewat tinggi itu kemudian menarik tangan wonwoo tanpa izin. Sudah beberapa saat tapi tak ada tanda tanda ia akan melepas genggamannya.

Pria tinggi itu terlalu menikmatinya tanpa perduli perasaan wonwoo yang sebenarnya.

Tatapan memaki yang tak pantas wonwoo dapatkan seakan tak ingin mengubah arahnya.

" Ini aku bawa bekal, ayoo sarapan dulu."

Tak ada penolakan atau jawaban yang saling bersahut. Rowoon masih menyuapi wonwoo seakan pria manis itu adalah bayinya.

Melupakan rasa takut, rasa tak nyaman dan gelisah dari pria kucing didepannya.








Dentingan bel masuk menghentikan kegiatan Rowoon dan Wonwoo, kedua teman sebangku itu kini sibuk membolak balik halaman dari benda   tebal yang terletak dimeja mereka.

Beberapa bentuk huruf dan simbol sudah tertulis rapi di buku fisika wonwoo. Ia mengikuti pelajaran seperti biasanya.

Wonwoo sebenarnya tak terlalu suka menghitung seberapa cepat apel menyentuh tanah begitu juga menghitung berapa jarak yang telah ditempuh mobil.

hanya saja ia tak punya pilihan.

Guru muda itu berdiri sambil mengemasi alat alat yang ia bawa. Sebelum beranjak keluar, tatapan matanya mengarah ke wonwoo.

NiSKaLAStories to obsess over. Discover now