Disebuah desa terpencil lahirlah putri cantik seorang pedagang yang di beri nama Bawang Putih. Bawang Putih yang masih kecil saat ini penuh dengan kebahagiaan bersama ayah dan ibunya. Keluarga kecil ini selalu tersenyum dan tertawa seolah tidak ada beban dalam hidup mereka. Namun, senyum itu hancur untuk saat Bawang Putih berumur 8 tahun ibunya keracunan makanan dan akhirnya meninggal dunia.
*1 Minggu sebelumnya
"Hoeekk"
"Ibu, ibu sakit?" Tanya bawang Putih kepada ibunya.
"Tidak sayang, Ibu hanya salah makan saja" jawab ibunya.
"Mm... Hooekk," ibu bawang putih berlari ke toilet sambil memegang perut dan menutup mulutnya.
Ayah dari Bawang Putih baru pulang dari berdagang di kota. Dia berlari menyusul istrinya yang sedang muntah-muntah di toilet. Ayah Putih menelfon dokter dari kota untuk datang kerumahnya agar meriksa keadaan istrinya.
Beberapa menit kemudia akhirnya dokter itu datang sambil membawa peralatannya. Bawang Putih saat ini hanya melihat dri pintu kamar orang tuanya bersama dokter yang memeriksa ibunya.
Dokter terlihat sedang memeriksa keadaan ibunya dan tak lama dokter itu pun keluar dan kembali ke kota. Ayah dan ibu Bawang Putih berpelukan mereka terlihat sangat senang seolah mendapatkan kabar gembira.
"Kemarilah sayang," ajak Ayah putih.
"Ayah, ada apa?" Tanya Bawang Putih kepada ayahnya.
"Kamu akan mendapatkan teman main sayang," jawab ayahnya yang terlihat sangat senang.
Bawang putih diam sejenak dan memeluk ibunya. Bawang putih menangis dan menatap orang tuanya "Bawang putih senang Bu," ucapnya.
.
.
.
.
.
"Putih pulang..." Saat baru pulang dari sekolah dan langsung berlari ke kamar orang tuanya namun tidak menemukan mereka disana.
Terdengar suara tertawa orangtuanya dari belakang rumah. Bawang Putih berlari menuju arah suara dan melihat orang tuanya sedang berada di ayunan sambil sang Ayah memegang perut ibunya. Bawang Putih terlihat sedih karena biasanya orang tuanya akan menunggu dia di pintu saat pulang sekolah.
"Ayah, ibu putih pulang"
"Ehh sayang, sudah pulang? Sini kita main ayunan" ajak ibunya.
"Hehe iya Bu," Putih berlari dan melupakan rasa sedihnya.
.
.
.
.
.
*8 tahun kemudian
"Ayah menikah lagi?" Tanya tanya Bawang putih kepada ayahnya.
"Ayah, maafin putih. Tpi putih tidak setuju jika posisi ibu di gantikan," tolak Putih.
"Ayah akan pergi berdagang ke kota selama beberapa Minggu sayang, tujuan ayah menikah juga karena ayah tidak ingin kau sendirian dirumah,"
"Tapi ayah, ayah bisa mempekerjakan pembantu.. Kenapa harus menikah?" Tanya bawang putih mulai geram dengan tingkah ayahnya yang kekanakan menurutnya.
"Tapi ayah mencintai dia,"
"Ayah..." Putih menghentikan ucapannya dan tertunduk lemas.
"Jika memang itu yang ayah mau, silahkan. Tapi jangan harap senyum ini akan manis saat ayah menikah dengannya,"
Namun dalam hati putih masih tetap geram "aku benci jika ada yang menggantikan aku atau ibuku disini, ini semua gara-gara ayah, aku benci ayah!"
.
.
.
.
.
2 hari kemudian tibalah saat pernikahan ayahnya putih dan seorang janda anak satu. Mereka terlihat bahagia kecuali bawang putih yang hanya memperlihatkan senyum kecutnya. Geram, sedih, dan kecewa semuanya jadi satu dalam pikiran Putih. Namun, putih tetap mencoba untuk tersenyum tetapi tetap saja senyuman itu hanyalah duri bagi dirinya.
.
.
.
.
.
.
Setelah pernikahan ayahnya, Bawang Putih kembali ke rumahnya untuk istirahat.
"Bawang Putih," tok tok tok.
"Silahkan masuk ayah," ucap Putih mempesilahkan ayahnya untuk masuk kamar.
"Ayah akan ke kota untuk beberapa hari, ayah ada pekerjaan disana," pamit ayah Putih.
"Tapi ayah kan baru saja menikah, apa ayah tidak lelah?" Tanya Putih khawatir.
"Ini telfon darurat dari kota, jadi mau tidak mau ayah harus pergi. Bukan kah beberapa hari yang lalu ayah sudah cerita kan" ucap ayah putih dan pamit ke putrinya.
"Baiklah, Ayah. Hati-hati di jalan," ucap Putih sembari mencium tangan kanan ayahnya.
"Rhanda, jagalah putriku ya. Aku berangkat dulu," kata ayah putih ke istri barunya.
"Iya, sayang. Berhati-hatilah," jawab Rhanda yang tak lain ibu tiri Bawang Putih.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya ada seorang perempuan yang masuk ke dalam kamar Bawang Putih tanpa mengetuk pintu dan meletakkan kopernya dengan kasar. Mendengar ada benda yang jatuh, Putih pun bangun dan melotot ke arah perempuan itu.
"Siapa kamu? Sungguh lancang kau masuk kamarku tanpa izin dariku!" Setiap kata di tekan oleh Putih sambil menunjuk perempuan tersebut.
"Hai. Aku Bawang Merah, dan aku adalah saudari tirimu. Oh iya! Sekarang aku akan tinggal disini" ucap Bawang Merah.
Bawang Putih merasa risih. Ia langsung mendorong Bawang Merah keluar dari kamarnya dan melempar koper si Merah.
"Jangan macam-macam! Ini wilayahku!" Ucap Putih dan menutup pintunya kasar.
