We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

01. Sisa hujan tadi sore

120 2 0
                                        

Aroma air yang jatuh ke bumi tadi sore masih tercium dengan jelas, disertai hawa dingin sehabis hujan yang membuat gadis diboncengan sepeda itu merapatkan cardigan rajutnya. Gadis itu Ayara, mengerutkan dahinya menatap punggung tegap pemuda yang memboncengnya, lalu menatap bahu didepanya itu kesal.

"Jen, kamu nggak pakai jaket tadi?"

Pemuda yang di panggil menoleh sebentar ke belakang, masih mengayuh sepedanya dengan tenang. "Huh? Engga."

Ayara mencibik kesal. "Kenapa nggak pakai coba? Ini kan habis hujan Jen, aku aja pake cardigan masih dingin. Pokoknya kalau kamu bersin-bersin nanti, jangan ngeluh sama aku."

Angin meniup rambut Jeno hingga membuat poninya menutupi mata, satu tangan pemuda itu menyugar rambut hitamnya kebelakang."Nggak akan Ay, ini kan deket, bentar lagi juga nyampe."

"Kamu nggak dingin emang?" Tanya Ayara lebih lembut.

"Dingin tau, peluk makanya."

Plak!

Bukanya mendapatkan sebuah pelukan Jeno malah mendapat geplakan Ayara di punggungnya, membuat pemuda itu meringis kecil dan membuat sepeda yang mereka tumpangi sedikit oleng.

"Kok malah di geplak sih Ra?!" Protes Jeno.

"Nggak usah aneh-aneh deh makanya, kayuh yang cepet! Aku udah laper..."

"Siap tuan putri, pegangan makanya. Serius aku mau ngebut."

Tangan Ayara perlahan melingkar di perut Jeno. Jeno tersenyum puas di depan sana, lalu mengusap pelan tangan yang melingkar di perutnya.

"Let's get it!"

Lalu sepeda itu mulai melaju lebih cepat, menembus angin malam yang sejuk, disertai tawa bahagia dari kedua insan yang duduk diatas sepeda itu. Melewati komplek perumahan Jeno yang saat itu entah mengapa sangat sepi, mungkin saja para penghuni komplek lain memilih bergulung dibawah selimut hangatnya.

Jeno terus mengayuh sepedanya dengan cepat diatas aspal yang masih basah sisa hujan tadi. Hingga berhenti di ujung perempatan jalan tepat di depan gerobak bakso berwarna coklat bertuliskan 'Bakso Mas Taeil' dengan terpal dan tempat duduk kayu dibelakangnya.

Ayara menjadi orang pertama yang turun dari sepeda, diikuti Jeno di belakangnya.

"Mas Taeil bakso nya 2 porsi ya, punya saya nggak pake mie kuning kaya biasa, punya Aya nggak pake toge."

"Siap nak Jeno! Kok sudah lama nggak kelihatan sih?" Mas Taeil bertanya dengan logat jawa nya yang kental pada Jeno sambil menyiapkan pesanannya.

Jeno mengangguk setuju, "Iya nih, Aya sok sibuk mulu mas." Katanya sambil menunjuk Ayara di tempat duduk yang sedang asik mengemil kerupuk.

"Orang aku emang sibuk."

Jeno hanya mengangkat bahu acuh. Mas Taeil hanya terkekeh pelan melihat perdebatan kecil sepasang kekasih itu.

"Tadi nak Hyunjin juga kesini loh, pesen mie ayam pake sambel 10 sendok." Mas Taeil memulai gosipnya sambil menuangkan teh hangat untuk Jeno dan Ayara.

Jeno berdecak kesal "Ck, pasti tuh anak besok minta di temenin boker deh di kampus."

Ayara tertawa kencang sambil menggeplak lengan Jeno. "Serius Hyunjin masih suka minta ditemenin?"

Jeno mengangguk santai. "Beneran Ay, Hyunjin nggak berani boker sendirian."

Mas Taeil dan Ayara kembali tertawa.

"Terus kamu anterin?"

"Iya dong! Aku kan setia kawan." Jeno menepuk dadanya dengan bangga.

Ayara menggeleng tak habis pikir. "Serah maneh Jen."

Best Boy [Lee Jeno]Stories to obsess over. Discover now