Ruang BK.
Papan nama yang ada dihadapan Arum Videlia Arsyi atau sering disebut Achy itu membuat dirinya bergetar, karena Ini adalah pertama kalinya Achy masuk ruang BK, murid yang bisa dikatakan sedikit pandai dalam semua mata pelajaran itu kini dalam masalah besar. Istirahat tadi Ia tidak sengaja melihat segerombolan laki-laki di Rooftrop sedang merokok. salah satu murid SMA MUTTAQIN INTERNASIONAL melaporkan pada guru BK yaitu Pak Iqbal dan mengatakan bahwa Achy menjadi saksi mata karena ia berada pada rooftrop waktu istirahat.
“Awas lo kalo sampai bilang sama Pak Iqbal!” ancam laki-laki itu pada Achy. Achy menoleh sambil mengatakan.
“Gue harus bilang sama Pak Iqbal sejujur-jujurnya biar gue dalam posisi aman, kalo gue bohong sama Pak Iqbal, sama aja gue nyerahin diri, abis itu gue kena hukuman bareng lo lo pada”
“Lo bilang jujur sama Pak Iqbal bakalan aman? Iya bener, tapi lo nggak bakal aman sama kita” ucap laki-laki itu seraya maju mendekati Achy “ Lo cewek gue cowok” lanjutnya sambil selangkah lebih mendekat “
Dugh
Punggung Achy sudah menempel pada dinding sekolah, ia menahan napas dan menunduk saat laki-laki itu berjalan semakin dekat. Ia berbisik pada telinga Achy “Lo sendiri kita berempat”
Achy mendorong kuat dada laki-laki itu. Baru saja Achy hendak mengeluarkan kata-kata untuk membela dirinya Pak Iqbal datang dari arah kelas 11 BAHASA-1. ia mengeluarkan sebuah kunci lalu membukanya.
“Masuk” titahnya. Pak Iqbal menyimpan tas nya di meja kemudian ia duduk di kursi yang sudah di sediakan. Lalu Achy dan ke-empat laki-laki itu masuk, mereka berdiri dalam satu ber-shap, kepalanya menunduk.
“Sebelum saya bertanya kenapa kalian masuk ke ruangan ini ada yang mau membuat sebuah pernyataan terlebih dahulu? Dengan begitu kalian tidak akan menerima hukuman yang berat” ujar Pak Iqbal.
Hening. Tidak satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara atau memberi pernyataan pada Pak Iqbal.
“Oke karena tidak ada yang memberi pernyataan pada Bapak, Bapak yang akan bertanya satu - satu sama kalian” Pak Iqbal berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan pada kelima muridnya.
“Arsyi tolong keluar sebentar” Achy menoleh lalu ia mengangguk dan berjalan keluar dari ruang BK.
“Fasya” panggilnya “apa yang kamu lakukan di rooftrop waktu istirahat?”
“duduk doang pak” jawab Fasya
“Alfan” panggilnya
“ngobrol doang Pak”
Pak iqbal hanya mengangguk-nganggukan kepala kala dirinya mendengar jawaban Fasya dan Alfan. Ia berjalan mendekati Lucky.
“Lucky, apa yang kamu lakukan di rooftrop waktu istirahat?”
“ngumpul doang Pak”
“Arditama?”
“teman-teman saya sudah jawab pak, apa yang mereka katakan semua benar”
“Bapak minta jawaban kamu”
Arditama mengadah melihat wajah Pak Iqbal seraya menjawab
“terlalu banyak kosa kata yang saya keluarkan itu tidak akan mengubah kepercayaan Bapak terhadap kami” Pak Iqbal berdiri dihadapan Arditama.
“kosa kata yang kalian ucapkan tadi seharusnya di ucapkan pada saat saya memberi kesempatan untuk kalian mengeluarkan sebuah pernyataan, jika kalian mengeluarkan pernyataan tadi setidaknya saya akan sedikit lebih percaya pada kalian, kenapa? Karena kalian punya hak dan mengeluarkan pembelaan untuk diri kalian sendiri. Jika kalian hanya diam seperti tadi orang akan semakin percaya bahwa kalian membuat suatu kesalahan dan menutupinya” sanggah Pak Iqbal cepat dengan nada tegas.
