Prolog

10 1 0
                                        

Belum puas mencaci ku, mereka
melontarkan pertanyaan menyakitkan.
"Lo lesbi?"
Deg. aku berpikir, jika memang mereka melihatku dengan sudut pandang jelek, mengapa tidak ku jadikan saja diriku sejelek mungkin?.
"Iya."
Reaksi mereka tidak terduga, seperti kaget tapi juga terlihat jijik padaku. Aku heran, apa anehnya memiliki ketertarikan ini? jika bisa menjadi diri sendiri, mengapa tidak. Mereka masih saja melontarkan banyak pertanyaan yang bersifat menyinggungku. Aku menjawab semua pertanyaan itu dengan bohong, untuk apa jujur dan menjadi baik jika aku saja sudah seperti sampah dimata mereka. Satu jam berlalu, terlihat Latte baru saja keluar dari ruangannya. Saat aku hendak menghampirinya, mereka menahanku dan berkata
"Lo bukan bagian dari kita lagi, gausah sok kenal. Jauh jauh sana!"

Kenyataan menamparku, terasa ada petir yang menyambar di lubuk hatiku. Aku menyadari, menjadi baik atau jahat aku akan tetap sendiri. Mungkin memang takdir, aku segera mengambil sepedaku dan pulang. Di perjalanan, aku merasa tak ingin hidup lagi, aku merasa hidupku memang selalu salah, aku merasa kebaikanku selama ini hanyalah rekayasa. Aku sengaja menabrakkan diriku pada pohon, berharap aku akan mati pada saat itu juga. Namun nihil, aku masih bisa membuka mataku. Terlihat sesosok lelaki berjalan ke arahku, ia membantu diriku yang tergeletak di tanah. Setelah berdiri dan sadar, lelaki tersebut meninggalkanku. Aku tak sempat melihat wajahnya, bahkan berterima kasih saja belum kuucapkan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 27, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Vanillatte.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang