Andai semudah itu
Aku bukan bodoh
Hanya terlalu gigih memperjuangkan
Sedang ia tampak begitu enggan
Dan sekarang aku melepaskan
Bukan menyerah
Hanya menguji waktu
Akankah pilihan itu berpihak padaku
Jika tidak
Tak apa ... Aku yakin mampu
Sudah banyak hal yang kulalui
Kekecewaan pada segala hal yang kuanggap terbaik
Dan aku terima
Hingga sampai aku seolah mati rasa
Pada suatu yang mereka anggap wah
Bagiku ... Biasa.
-----------
2020
Aku Shelly, wanita biasa dengan kecerdasan rata-rata. Tapi terkadang bodoh luar biasa. Fisikku tidak sempurna, tapi aku cukup enak dipandang. Aku kepedean? Tidak. Memang benar adanya, auraku baru keluar ketika aku beranjak dewasa. Sedangkan sejak remaja, tampak biasa saja.
Beberapa lelaki, memang banyak yang mendekatiku. Entah mereka serius atau sekedar hanya ingin mengenali. Bahkan ada lelaki yang sudah beristri nekat memintaku untuk jadi yang kedua.
Aku tertawa mendapatkan kenyataan hati dari seseorang yang tak aku sangka. Bagaimana tidak, aku hanya menganggapnya biasa, hanya sebagai teman kerja. Tak lebih dari itu.
Lalu, seorang duda beranak tiga yang anaknya sudah beranjak remaja pun tak ketinggalan, dia tiba-tiba datang sebagai seorang mantan kekasih sahabatku. Aku terkejut dengan kembalinya dia ke kotaku. Menemui aku yang sudah berprofesi sebagai manager keuangan di sebuah perusahaan ternama. Dulu kami bertemu ketika aku seorang karyawan biasa dengan jabatan admin produksi di sebuah pabrik makanan, dan dia seorang supervisor di tempat kerja sahabatku.
Dia terkejut melihat penampilanku yang berbeda. Dulu ketika kami jalan bertiga, bahkan aku tak begitu peduli dengan penampilan. Sekarang, menurut pandangannya, aku cantik.
"Shelly, ada yang ingin aku bicarakan, mari bertemu. Di cafe biasa," sebuah chat wa aku terima dari seseorang bernama Mas Win.
"Oh iya, Mas. Jam 4 sore ya" balasku cepat.
Lembayung menyapu hangat hari itu, tampak kemilau kuning keemasan membuat wajahku tampak langsat. Aku duduk bersama Mas Win di meja dekat kaca, dekat pula dengan taman yang menyilaukan matahari terbenam.
"Aku sudah bercerai resmi dari Riani, aku sudah punya surat. Dulu ketika Anita masih jadi pacarku, kami memang hanya cerai secara agama, aku paham mengapa Anita dan keluarganya tak bisa bersabar itu sebab dia memilih menikah dengan yang lain. Butuh waktu lama untukku menepi, sampai akhirnya sekarang ketika semua sudah selesai, yang slalu kuingat bukanlah Anita, tapi kamu. Itu sebab, aku mencarimu sampai aku tau, kamu sudah sesukses ini, aku semakin menyukaimu. Dan semakin aku meyakinkan diri, apa karena sukses ini aku ingin kamu, tapi ternyata tidak, hati aku semakin kuat, semakin aku berani melamarmu. Shelly .... Maukah? Jadi istriku?"
Ada kaku di antara kami. Tak sangka, mengapa aku dilamar lelaki yang sudah pernah menikah dan ini terjadi ke sekian kali, lagi dan lagi. Sedang Rayhan lelaki yang kuinginkan, tak memperjuangkan aku seperti Mas Win.
"Aku akan buatmu bahagia. Jika kamu izinkan aku menemui orang tuamu," lanjutnya kemudian.
Aku terdiam merenung, membayangkan Rayhan, teman sekolahku, melamarku seperti ini.
Ini manis, dengan suasana cafe yang romantis, andai saja hatiku ada rasa aku sudah ingin menangis bahagia. Karena memang aku sudah sangat ingin menikah, pernah terbesit pikir 'Kalau ada yang lamar gw pertama, gw terima, mungkin itu jodoh gw. Dan gw pasti bahagia' tapi mengapa hatiku sedih.
Alunan musik syahdu penyanyi cafe mulai terdengar, mengisi senja dalam alunan syair. Jalan ceritaku seolah mengiringi, segala kelumit hati yang hanya bisa dimengerti sendiri. Mas Win meragu, matanya terlihat sayu, nampak getir di bibirnya, kala aku bilang maaf.
Dia memahami, meski pemahaman yang dia mengerti bukanlah maksudku. Bahasa tersirat lewat mataku bukan apa yang dia maksud.
Aku ragu ... Pada hatiku sendiri.
Aku ini ... Jatuh cinta, apa butuh?
YOU ARE READING
AFRAID
RomanceShelly Karina Wanita nyaris sempurna dengan kisah hidup yang rumit. Dia memiliki ketakutan yang hanya bisa dimengerti sendiri
