Hembusan angin malam dengan diiringi suara jangkrik membuat suasana mencekam jalanan sepi. Apalagi disamping jalanan tersebut, terdapat kuburan keramat yang menambah suasana suram.
Namun, itu tak berlaku bagi seorang gadis yang telah terbiasa melewati jalanan tersebut. Gadis dengan potongan rambut pendek dengan tangan berada disaku jaketnya itu melenggang santai sambil mendengarkan musik di earphone nya yang tersambung pada handphone.
Saat sampai di pembuangan sampah, mungkin. Padahal disana terdapat tulisan. Jangan membuang sampah disini!!, tapi banyak masyarakat yang masih bandel membuang sampah disitu. gadis itu samar samar mendengar suara tangisan bayi.
Dengan mengerutkan kening, ia melepaskan earphonenya untuk mendengar lebih jelas suara itu.
"Oeekk.... Oeekk... Oekkk... "
Dia tidak salah dengarkan? Jangan-jangan bukan bayi, melainkan hantu seperti yang orang orang sini bicarakan. Disini kan, terdapat kuburan keramat dan juga pohon besar yang berada ditengah tengah kuburan keramat itu.
Dugaan dugaan yang sempat terlintas di otaknya membuat gadis itu sedikit merinding dan mulai mengusap tangannya ke-kedua lengannya.
Namun rasa penasarannya mulai menyerangnya lagi saat tangisan bayi itu semakin kencang. Dengan hati-hati dia menuntun kakinya ke pembuangan sampah. Semakin lama semakin terdengar jelas tangisan bayi tersebut bahkan sampai membuat telinga gadis itu berkedut.
Dipertengahan jalan dia menemukan bayi yang terbungkus selendang batik, tengah menangis kencang. Tak tega, gadis itu memungut bayi tersebut. Digendongnya bayi itu, di pukpuk nya pantat bayi itu sampai menangis nya sedikit mereda.
Dengan wajah yang memerah dan sesekali menangis, bayi yang mempunyai wajah rupawan dibawa oleh gadis itu keluar dari tempat yang penuh sampah. Dia bahkan rela memberikan jaket favoritnya kepada bayi itu supaya lebih hangat.
"Siapa yang tega membuangmu dek." Tanya gadis itu pada sang bayi yang masih menangis di dekapan sang gadis.
"Padahal tampan eh.. Laki bukan sih? Kayaknya laki deh, kan nggak ada tindik di telinganya." Ucapnya pada diri sendiri.
"Cup cup cup tenang yaa... Ikut mba cantik yuk. Nanti disana ada nenek ada kakek ada mas playboy, terus dikasih minum iya... Adek haus iya haus he'em" "Uhhh tayang tayang tayang cup cup nangisnya pending dulu ya tampan." Gadis itu terus berucap sambil berjalan sambil menenangkan bayi itu agar berhenti menangis.
"Aduhh ini cara nenangin bayi gimana sih. Puyeng deh. Cup cup cup diem ya dek bentar lagi sampe rumah neneknya, nanti dilanjutin aja disana oke." Ujarnya lagi gusar, baru kali ini dia berada pada situasi dimana dia tidak bisa apa-apa.
Saat sudah terlihat rumah tempat kakek neneknya tinggal, baru lah gadis itu menghela nafas lega dan juga bayi itu tiba-tiba berhenti menangis, jatuh tidur terlelap di gendongannya.
"Lahh.. Bocah." Kejut gadis itu melihat kelakuan sang bayi.
Setelah melewati perkarangan rumah gadis itu mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
"Assalamu'alaikum nek... "
"Assalamu'alaikum kek... "
"ASSALAMU'ALAIKUM ROMMY BUKAIN PINTUNYA."
"OEEKKK... OEEEKK... " Teriakkan menggelegar gadis itu membuat sang bayi terkejut dan berakhir si bayi menangis lagi.
"Mampus." Ucap sang gadis sambil tepok jidat.
YOU ARE READING
ALVINO
General FictionVanya tak menyangka, dirinya menemukan bayi diantara sampah di pembuangan sampah. Entah karena iba atau keusilannya ia memungut bayi yang berjenis kelamin laki-laki dan merawatnya. Namun, apa jadinya jika enam tahun kemudian. Keluarga asli bayi ter...
