Seorang gadis mencoba peruntungan dengan mengikuti sebuah audisi yang diadakan oleh rumah produksi terkenal di Seoul, Korea Selatan. Ia berpenampilan sangat rapi menghadapi hari yang dipikirnya akan lebih baik daripada kemarin. Saat ia melangkah melewati pintu gedung besar tersebut dan memulai aktingnya, namun kegagalan harus diterima olehnya.
"Kami tidak bisa menerimamu. Kami akui aktingmu sangat bagus, tetapi wajahmu biasa saja, Nona Sunny". ucap seorang juri dari pihak rumah produksi.
Sunny, sapaan gadis tersebut langsung pergi meninggalkan ruang audisi dengan tatapan pasrah dan meratapi nasib. Ia berjalan melewati lorong-lorong yang penuh kesesakan sepi. Sesampainya diluar gedung, ia berjalan menuju sebrang jalan, tetapi ia melihat seseorang yang tampak sedang menunggu dan membutuhkan bantuan. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghampiri orang tersebut.
"Apakah kau butuh bantuan, Tuan? Sepertinya ada yang kau pikirkan". tanya Sunny dengan sopannya.
Tapi, seseorang tersebut hanya terdiam bahkan melirik pun ia enggan. Sunny tampak tidak menyerah, ia menanyakan sekali lagi kepada seseorang itu.
"Permisi, apakah kau membutuhkan bantuan? Apa ada yang bisa kubantu?".
Seseorang itu hanya menghela napas panjang dan sedikit kesal saat menjawab pertanyaan Sunny.
"Tolong jilat sepatuku!" jawab seseorang tersebut sambil mendengus kesal.
Sunny membelalakkan matanya seakan tidak percaya apa yang baru saja dia dengar.
"Jilat sepatumu? Wah~ apa kau sudah gila?" balas Sunny dengan menaikkan nada suaranya.
"Bukankah tadi kau menawarkan bantuan, jadi tolonglah jilat sepatuku!" balas seseorang tersebut dengan menyilangkan kedua tangannya dan menghadap ke arah Sunny.
Sungguh, wajah Sunny sudah tidak bisa menahan amarah lagi, alisnya mengkerut dan napasnya terengah-engah, saat ia hendak memukul manusia yang sombong tersebut. Tiba-tiba datanglah seorang pria sambil memanggil orang yang berada disamping Sunny.
"Hoyyy~~ apa yang sedang kau lakukan disini? Dan siapa gadis ini?" tanyanya pelan.
"Hei, gadis manis! Apakah dia mengganggumu? Apakah kau baik-baik saja?" sambungnya sambil menyentuh bahu Sunny perlahan.
Sunny mendongakkan kepala ke atas dan menarik napas panjang. Ia tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Wah~ Apakah aku serendah itu sampai orang-orang memintaku melalukan hal yang menjijikkan?. Aku tahu, aku ini jelek!. Tapi, apa kau pantas diperlakukan seperti sampah?".
Pria tersebut sontak kaget dan refleks melepaskan tangannya.
"Apa kau tidak apa-apa? Kau! (menuju seseorang disamping Sunny), apa yang sudah kau lakukan pada gadis ini?". tanyanya tegas.
"Sudahlah, aku permisi! Aku harus mencari uang untuk kebutuhan makan adikku!" balas Sunny sambil berjalan meninggalkan kedua orang tersebut.
Pria itu mengejar Sunny yang sudah cukup lumayan jauh untuk sedikitnya memberikan permintaan maaf atas perbuatan dari sahabatnya.
"Tunggu! Aku mewakili temanku. Entah apa yang telah dia lakukan, aku sangat minta maaf". ucap pria tersebut sambil membungkukkan badan 90 derajat.
"Jika memaafkan itu mudah, untuk apa ada hukum?" jawabnya sambil menghela napas.
Pria itu terdiam dan tidak bisa membalas perkataan Sunny. Ia seperti kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Ck. Benar sekali, orang kaya seperti kalian tidak mungkin mengerti hukum. Uang bisa kalian terima dengan gampang, sedangkan aku harus berjuang mati-matian untuk menghidupi keluargaku. Aku mengikuti audisi tapi, tertolak karena aku jelek. Dunia ini sangat kejam pada manusia kelas bawah sepertiku. Oh astaga! Menyedihkan sekali, bukan? Aku menceritakan betapa menderitanya hidupku kepada orang awan seperti kalian". lanjutnya lalu pergi meninggalkan pria tersebut.
YOU ARE READING
Stand By Closer
FanfictionSunny, gadis manis asal Ilsan, Korea Selatan mengadu nasib pada kota besar para idol Kpop, yaitu Seoul. Ia ditemani sang adik, Soona mencari pekerjaan tetap untuk melengkapi kebutuhan hidup di kota mewah tersebut. Singkat cerita, ia bertemu dengan s...
