Hanz menggerutu kesal ketika dirinya dipaksa menyeret dua koper yang lumayan besar, belum lagi ponselnya yang terus bergetar di saku celananya yang membuat ia benar-benar frustasi. Hanz merogoh saku celana, nama Azka Emirson langsung terpampang jelas. Ia menghembuskan napas berat.
"Ada apa sialan?! Aku baru saja sampai di Bandara! Kamu tidak bakalan tahu seberapa susahnya aku membawa dua koper yang besar, belum lagi panggilan telepon yang masuk membuat aku ingin membunuh daddy sekarang juga! Persetan dengan daddy!"
"Wahh, baru saja menginjakan kaki di negeri orang, gaya bicara kamu langsung berubah menjadi berat ya."
Hanz menjauhkan ponselnya seketika, masih sama nama Azka Emirson terpampang jelas, tapi kenapa suara adiknya seperti berubah? Seperti suara Lio. Hanz mengerutkan keningnya, kemudian menempelkan kembali ponselnya di telinga.
"Daddy?" kata Hanz bingung.
"Apa sayang?"
Hanz membulatkan matanya. "Aku ingin pulang lagi. Aku tidak bisa jauh dari papa, aku pasti akan mati kelaparan kalau tidak ada papa," rengek Hanz, terdengar kekehan kecil di seberang sana.
"Kamu sudah daddy daftarkan di salah satu kampus yang berada di sana, nanti daddy akan kesana bersama Azka dan papa kamu."
"Tidak mau! Aku maunya sekarang! Jemput aku sekarang juga, dad!"
"Tidak bisa, Hanz. Daddy tidak mau meninggalkan Azka sendirian buat jemput kamu."
"Daddy saja yang jemput aku, Azka biarkan sama papa. Papa dan Azka tidak usah jemput aku."
"Daddy juga tidak bisa meninggalkan papa kamu, Hanz, apalagi harus meninggalkan mereka berdua."
Hanz mendengus kesal. "Daddy jahat! Daddy sudah tidak sayang lagi sama aku! Sekarang daddy dan papa lebih sayang sama Azka! Aku benci kalian berdua! Benci!"
Panggilan telepon langsung terputus begitu saja oleh Hanz, ia mematikan ponselnya dan memasukan kembali kedalam saku celana. Remaja itu langsung menarik kedua kopernya lagi untuk cepat-cepat keluar dari bandara.
Iya, Hanz dipaksa untuk berkuliah di luar negeri oleh Lio. Awalnya Hanz menolak, begitu juga Andre, tapi namanya juga Lio, apa-apa juga harus sesuai dengan kehendaknya. Mau tidak mau Hanz langsung disuruh pergi oleh Lio seraya melemparkan pasport dan visa kehadapan remaja tersebut.
Baru saja Hanz melangkah, tidak sengaja ia menyenggol tangan seseorang yang sedang berdiri menatap ponselnya lekat.
"So-sorry, sir! I'm sorry!" Hanz meminta maaf, tapi pria dewasa tersebut tidak menjawab, justru malah menatap tajam Hanz yang membuat sang empunya menelan saliva tegang. Hanz mengerutkan dahinya halus.
Pria itu langsung menatap ponselnya dan mengetikan beberapa kata degan pandangan masih tajam menatap Hanz, Hanz bingung harus melakukan apa terlebih di negeri orang yang hanya untuk menempuh pendidikan saja.
"Ikut saya," kata pria dewasa tersebut. Suaranya berat, mampu membuat Hanz mengerjap tidak percaya. Tanpa aba-aba tangan Hanz langsung ditarik begitu saja keluar bandara, Hanz tentu saja menolak, ia memberontak panik.
Hanz berusaha melepaskan cekalan pria tersebut, tapi gagal karena ia kalah kuat dengan pria itu. Ketika Hanz ingin berucap minta tolong, tiba-tiba saja tengkuknya terasa tersetrum, ia melemas saat itu juga.
Pria tersebut langsung mengode beberapa orang yang berpakaian hitam untuk membawa Hanz masuk kedalam mobil.
"Bawa dia ke rumah, jangan sampai dia kabur," perintahnya, "kopernya jangan lupa bawa juga."
YOU ARE READING
OBSESSION (M-PREG)
General Fiction"Diam di sana baby," ujar Gerald tenang, dan satu tembakan pun terdengar. Hanz yang sedang berlari pun merasa kalau kaki kanannya mendadak keram, dan benar saja peluru itu mengenai sasarannya. First update : 12 DESEMBER 2020 End ©Harris2021
