"Grief is messy. It's traumatic. Devastating. Confusing. Exhausting. Grief is a natural process of our human experience. May you find comfort in these unexpected places along your journey."
― Dana Arcuri, Sacred Wandering: Growing Your Faith In The Dark
***
Aku terbangun lagi.
Untuk yang kesekian kalinya, aku terbangun tepat sebelum lonceng jam besar di ruang tengah berbunyi pada pukul tepat jam 12 malam. Dulu aku sempat protes kepada Mama untuk mengubah aturan bunyi jamnya agar tidak harus berbunyi pada tengah malam. Ia malah tertawa bersama Papa. Kak Ilham mengatakan aku penakut karena jam tua itu. Aku tidak takut. Bukan karena itu.
Papa sengaja membuat kan aku kamar yang jauh dari ruang tengah agar tidurku tidak terusik bunyi jam. Aku setuju.
Pada ulang tahun ke 17ku, jam itu sempat mati selama setengah bulan. Anehnya, aku malah selalu bangun jam 12 karena tidak ada bunyi lonceng jam yang khas terdengar di telingaku. Akhirnya aku meminta Papa untuk membenarkan jam itu dan aku digoda oleh sekeluarga selama seminggu.
Tapi cerita ini bukan tentang lonceng jam klasik.
Sudah 4 hari aku terbangun sebelum lonceng jam itu berbunyi. Sudah 5 hari aku ditinggal Mama, Papa, Kak Ilham karena mereka pergi ke Brebes untuk mengurus lahan sawah bawang merah keluarga besarku yang hampir terbengkalai karena Om Satria, teman Papa, tidak becus mengurusnya. Aku tidak ikut dengan dalih sedang mengerjakan tugas akhir kuliah. Seharusnya mereka hari ini pulang.
Aku mendapat telepon dari Tante Muna, adik satu-satunya dari Mama yang tinggal di pinggiran kota Jakarta, tepat setelah lonceng jam berbunyi beberapa kali.
"Ilsa," suara Tante Muna bergetar. Aku tak paham. "Tante sudah masuk ke komplek rumah kamu. Tolong buka pintu ya." pinta Tante Muna dengan suara yang masih bergetar tapi aku tahu bahwa Tante Muna menahannya.
Lima menit kemudian, di ruang tengahku sudah ada Tante Muna dan Om Frans, suaminya. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi. Om Frans memeluk Tante Muna sementara aku berkali-kali bertanya ada apa yang tidak dijawab juga.
"Il, there was an accident. Keluarga kamu kecelakaan di Tol Indramayu malam tadi karena hujan. Om—" Om Frans ikut menangis.
Aku paham. Rupanya 4 hari terakhir yang aku selalu terbangun sebelum lonceng jam berbunyi adalah pertanda. Aku tadinya tidak tahu pertanda apa, tapi itu adalah pertanda. Sekarang aku tahu apa yang itu.
Om Frans mengelap air matanya dengan lengan kaus lalu berbicara dengan tidak menatapku, "Mereka tidak selamat."
Selama seminggu berikutnya aku menangis kencang.
***
YOU ARE READING
After The Rain
ChickLit5 tahun pasca kecelakaan tragis yang merengut nyawa orang tua dan kakak laki-lakinya, Ilsa tumbuh menjadi gadis pendiam yang selalu pergi kemana pun dengan pendengar musik yang bertengger di telinganya. Kini ia tinggal berdua dengan Om Frans, suami...
