Milliyana Salsabila gadis 17 tahun yang menginjak kelas 12 di SMA Permata Hati, sekolah swasta favorit kota Surabaya terpaksa harus meninggalkan genknya yang dia bentuk sejak masuk di SMA itu. Genk "Bala" itu terdiri dari 5 anak yang terkenal badgirl tapi cerdas di sekolahnya. Milly berparas cantik, sexy, paling cerdas di antara teman-temannya. Shezy sahabat Milly dari kecil yang tak kalah cerdas tapi rankingnya selalu di bawah Milly. Ia juga cantik dan berbodi sexy sama dengan Milly. Rizky (cowok) dan Rizkina (cewek) si kembar tapi saling bertolak belakang dan Boy si play boy yang ngaku gak play boy. Kelima anak itu sering keluar masuk BK karena ketahuan sering nongkrong di rooftop saat jam pelajaran berlangsung.
Udara panas di kota Surabaya sudah biasa ia rasakan. Butiran debu dengan sombongnya menempel di kulit membuat sang pemiliknya harus sering-sering cuci muka karena tidak ingin kulit putih mulusnya ternodai. Sepanjang perjalanan Surabaya - Sidoarjo memang tidak terlalu jauh tapi Milly selalu mencari alasan agar tidak cepat sampai di tempat tujuan. Jika semua orang menganggap tempat itu adalah surga maka tidak bagi Milly. Yang ia tahu tempat itu amatlah menyiksa. "Jika surga menciptakan kebahagiaan tapi ada yang tidak bahagia di sana, contohnya aku..." Gumam Milly.
"Illy cepatlah pakai kerudungmu! Sebentar lagi kita sampai." Ujar ayah Milly, pak Johan.
Milly hanya membalut kerudungnya menutup bagian rambutnya tanpa diberi peniti.
"Pakai yang benar, Illy!" Cibir pak Johan.
"Illy gak bisa pakai kerudung, ayah!"
"Ah sudah ayo turun!" Johan merasa kesal dengan sikap putrinya itu. Daripada berdebat lama-lama dengannya, Johan turun dari mobil diikuti oleh istrinya. Milly enggan keluar. Ia merasa belum siap berada di tempat aneh itu.
"Milly ayo turun!" Panggil mamanya. Tapi Milly masih asik dengan ponselnya sehingga dengan terpaksa Monika menarik tangan anaknya itu.
"Aku gak mau ma! Aku tidak kenal dengan tempat ini, Milly mau pulang! Lepasin tangan Milly, Ma!" Teriak Milly sehingga orang-orang yang melintas di area parkir tamu itu beralih fokus ke arah Milly.
Mereka memperhatikan penampilan Milly yang hanya memakai kaos lengan panjang ketat, celana jeans yang ketat pula dan hanya memakai kerudung yang dipasang asal. Sehingga semilirnya angin membawa kain putih persegi panjang itu terlepas dari tempatnya. Kini rambut pirang panjang milik Milly terurai indah hingga santri yang melihat pun tak berkedip melihat pemandangan yang indah sekaligus dosa bagi mereka.
"Astaghfirullah..." Gumam laki-laki yang tengah berdiri di antara Milly dan keluarganya dengan maksud hendak menyambut kedatangannya, alhasil dia yang mendapat sambutan yang luar biasa. Kerudung yang terbang tadi jatuh tepat di wajah laki-laki itu, dengan sigap tangannya menangkap agar tidak terjatuh di tanah.
"Tutuplah auratmu sebelum Allah menutup usiamu!" Ujar laki-laki itu sambil menyerahkan kerudung itu ke pemiliknya.
Milly tak terima dengan ucapan laki-laki yang seakan-akan mendo'akan dia cepat mati.
"Kamu do'aian saya cepat mati!" Ucap Milly geram, tapi tidak direspon oleh laki-laki yang menyambut orang tuanya.
"Assalamu'alaikum pak, Bu. Selamat datang di ponpes Al-Jannah Terpadu. Saya Muhammad Ali Syahbana, wakil ketua yayasan di sini. Bapak bisa memanggil saya Ali." Mereka saling berjabat tangan tapi hanya laki-laki sesama laki-laki.
"Mari pak ikut saya ke ruangan!"
Mereka bertiga mengikuti Ali ke ruangannya.
"Apa betul kamu anaknya Syahbana?" Tanya Johan.
"Iya, Pak. Mohon maaf Abah belum bisa menemui bapak hari ini karena beliau sedang mengisi tausiyah ke luar kota."
"Oh iya tidak apa-apa. Ya sebenarnya saya rindu dengan sahabat lama saya itu. Kita lama tidak berjumpa. Kalau ada waktu saya akan kesini lagi. Bagaimana dengan putri saya apa bisa langsung belajar di sini?"
YOU ARE READING
Ketika Mas Ustadz Menyapa
FanfictionKetika cinta menyapa dengan Ar-Rahman, maka nikmat mana lagi yang engkau dustakan. Kisah seorang gadis dari anak orang kaya yang dipaksa masuk pesantren dan bertemu dengan jodohnya seorang ustadz yang berasal bukan dari golongan orang berdasi melain...
