Prolog

27 4 1
                                        

Amanda mengaduk-aduk teh manis dingin yang dipesan tanpa minat. Sedangkan tangan kirinya dijadikan tumpuan kepala yang ingin tergeletak, tidur. Kalau saja warung yang ditempati sekarang berada di tempat tertutup, pasti sudah direbahkan sebagian tubuhnya  di atas meja.

Sesekali ia memandang ke jalan raya sambil menimang-nimang dua pilihan antara pulang atau menunggu seseorang yang ditunggu datang. Mengambil dan menghembuskan napas berat, merasa seperti ada satu batu besar yang tersimpan di dalam rongga pernapasannya.

Selang beberapa menit memainkan pipet minumannya, seseorang itu akhirnya datang. Dengan tenang ia mengulurkan tangan di dekat Amanda. Dan berucap, “Ayo pulang.”

Amanda berhenti dari aktivitasnya. Melihat uluran tangan itu lalu ke wajah pemiliknya. Rambut ceplak yang memanjang, kumis dan jenggot yang mulai tebal, membuat laki-laki itu terlihat lebih dewasa. Ia membuang muka, “Aku capek Piyan, mau pulang.”

Laki-laki bernama Piyan itu mengernyitkan dahi karna merasa bingung,“Ya kan ini aku ngajak pulang, Amanda.”

Gadis itu menatap Piyan sinis, “Ke Kampung bukan Medan.”

Piyan menggeserkan kursi yang ada di sebrang meja Amanda. Duduk, dan menatap gadis itu dengan penuh permohonan,“Tolonglah Man, jangan bertingkah kayak anak-anak. Besok kita udah harus berangkat ke sibolangit.”

“Kau juga harus ngerti aku Piyan!” bentak Amanda yang membuat orang-orang di sana memandang aneh ke meraka. Tapi apa pedulinya, kali ini ia tidak mau mengalah lagi. Cukup! cukup dulu saja dirinya yang diperbudak, “dari awal aku gak mau jadi sekretaris panitia di acara ini, tapi kau sibuk mengajukan. Sekarang aku mau mundur, capek piyan kerja sama, sama orang kayak dia. Setiap hari aku yang menghandle acara, sedangkan dia apa?”

Amanda memberi jeda, membuang muka, lalu menatap laki-laki di hadapannya lagi, “sibuk ngurusin cewek yang katanya cuman kawan sekelas itu.” Ia melipat kedua tangannya di dada, napasnya memburu karna terlalu menggebu-gebu, pandangannya kembali jatuh pada es teh manis dingin yang sama sekali belum ada diminum. 

Sedangkan Piyan sendiri sibuk mengusap-usap wajah. Untuk pertama kalinya ia melihat seorang Amanda si gadis irit bicara bisa berbicara sepanjang itu. Bahkan, ia tidak menyangka  bisa membentak. Tapi yang jadi pertanyaan di benaknya ialah, orang yang dimaksud itu siapa? 

Ketika Sekretaris Panitia Jatuh CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang