Under Control

5 1 0
                                        

Bagi orang lain, pulang ke rumah adalah salah satu istirahat terbaik dari jenuhnya kontinuitas kehidupan. Melepas lelah juga penat setelah raga dipaksa untuk berjibaku dengan hal yang paling dibencinya sekalipun. Keterpaksaan sudah menjadi keterbiasaan yang tidak lagi begitu mereka benci. Atau sebaliknya, kesukaan yang berakhir menjadi keterbiasaan yang begitu memuakkan dan ingin segalanya segera berakhir. Saat di rumah, mereka akhirnya tersadar hari itu akan segera berakhir.

Tapi bagi Doyoung, rumah sama dengan neraka. Baru ia membuka pintunya, dia harus siap mendengar ocehan dari mulut ayahnya yang tidak tahu apakah bisa direm. Itu masih level terendah, level paling buruk adalah di saat Doyoung harus dikurung di ruang bawah tanah dan dipaksa untuk mempelajari hal yang seharusnya dulu tidak dibencinya. Doanya hari ini hanya ingin pergi ke kamarnya untuk tidur, pekerjaannya terlalu berat selama seharian penuh.

"hari ini aku cukup bangga padamu, kau bisa beristirahat." Kalimat itu hanya keluar ketika Doyoung mendapatkan pencapaian melebihi ekspektasi ayahnya.

Doyoung berjalan dengan malas dan bara api di hatinya entah kenapa berkecamuk dengan hebat. Hari ini ia lelah dan juga kesal, dia terlalu lelah untuk mengejar ekspektasi ayahnya yang sangat tinggi. Belum lagi pencapaian itu tidak membuatnya bangga, pencapaian itu hanya untuk mengurangi rasa malu ayahnya. Doyoung harus menjadi sosok yang sempurna demi ayahnya. Doyoung harus terlihat sebagai anak yang baik demi ayahnya. Terlalu memuakkan baginya.

Di dalam kamar, Doyoung mengganti kemejanya. Membuka laptopnya dan membaca jurnal yang entah mengapa mencuri perhatiannya pagi tadi. Doyoung adalah seorang peneliti mengikuti jejak ayahnya sebagai peneliti terkenal. Ayahnya cukup dikenal sebagai peneliti dengan penghargaan terbanyak di setiap tahunnya, ia juga dikenal dengan kedermawanannya dan kecintaannya terhadap anak kecil. Tapi bagi Doyoung, itu hanyalah topeng semata.

Matanya baru membaca beberapa baris jurnal saja saat tiba-tiba ia melihat sebuah chat masuk. "bagaimana? Kau tertarik untuk meneliti ini?" dia adalah Rain, seorang wanita yang sudah hampir 10 tahun menjadi sahabatnya. Dia satu-satunya orang yang tahu bagaimana sifat asli ayah Doyoung. Salah satu sifatnya yang paling khas adalah ambisinya untuk mencapai apapun yang diinginkannya.

Doyoung akhirnya memutuskan untuk meneleponnya agar ia bisa berdiskusi dengannya sambil membaca jurnal-jurnal di laptopnya. Ada beberapa hal yang membuat Doyoung penasaran yang pastinya harus langsung ia tanyakan kepada Rain.

"Ya! Kau pikir aku tidak punya kesibukan?" Rain setengah berteriak dari seberang telepon.

"Bukannya kalau kau sudah mengirimkan pesan kepadaku, artinya waktumu sudah luang?" Doyoung terus membaca sampai ia sudah berganti jurnal.

"Aku masih harus menyelidiki barang bukti, kenapa kau menelepon?" suara Rain mengecil, sepertinya ia menyimpan ponselnya di meja sedangkan ia berkeliling sambil melakukan pekerjaannya.

"Kupikir superhuman ini hanya dongeng," Doyoung masih membaca sampai ia terhenti pada satu baris kalimat yang mengatakan: awalnya superhuman hanya kekuatan yang murni dimiliki oleh beberapa orang tertentu, akan tetapi banyak peneliti yang meyakini bahwa superhuman bisa diciptakan. Kekuatan antara superhuman murni dan ciptaan belum bisa dibandingkan karena sejauh ini belum ada keberhasilan dalam penciptaan superhuman baru. "Apa menurutmu ini nyata?"

Rain terdiam sesaat. Ia seperti memikirkan sesuatu. "aku akan mengirmkan jurnal-jurnal lain yang baru kudapatkan." Beberapa saat kemudian laptop Doyoung dipenuhi email dimana emailnya penuh dengan jurnal-jurnal yang dimaksud oleh Rain.

"Mengapa jurnal ini tidak ada di publikasi manapun? Aku mencarinya di internet, tapi aku tetap tidak dapat menemukannya." Doyoung membuka semua jurnal sekaligus.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 11, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SuperhumanStories to obsess over. Discover now