Liverleaf

380 33 23
                                        


Untuk naosora_ terima kasih untuk bimbingannya, dan maaf yaa karena aku selalu rusuh dengan waktumu😶😶.

Ketika salju turun, serpihanya akan mencair saat aku menyentuhnya. Keindahan juga rupanya yang sehalus kapas menarikku ingin menggengamnya, namun rasa gatal juga panas ketika aku mulai menyentuhnya membuatku tak tahan.
Tapi aku selalu ingin di dalam salju.

Angin malam berhembus halus. Memberikan belaian lembut pada rambut Rin namun, juga memberikan sensasi dingin yang lebih dari biasanya. Rin merapatkan Hoodie dan syal merahnya. Sesekali ia gosokkan kedua tangannya.

"Ini sudah terlalu larut, kita akan kemana lagi ?." tanya Rin.

Yukio menatap Rin dengan sinis. "Aku tidak menyuruhmu untuk ikut, aku akan mencari Shura-san sendiri. "

"Kita bisa mencarinya besok, kau tidak melihat salju turun semakin deras." Rin menelan ludah.
"Setidaknya kita mencari tempat istirahat terlebih dahulu." bola mata Rin bergerak ke sudut, menatap Yukio lemah.

"Mungkin kau benar.." Yukio melirik ke arloji yang melingkar ditangannya, hari memang semakin gelap salju turun semakin deras. Sinar rembulan nampak malu-malu menampakan diri di balik awan hitam.

Selama satu jam perjalanan hanya diisi keheningan hinggap diantara mereka. Tidak ada pembicaraan mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.

Rin semakin letih, lututnya terasa pegal tungkainya seperti ingin patah. Kaki Rin melangkah dengan gemetar hingga akhirnya Rin putuskan berjongkok.

"Kau tidak apa-apa, Nii-san ?." tanya Yukio was-was.

"Eumm..tenang saja." Rin hanya menggelengkan kepala dengan lemas memaksakan tersenyum.

Nafasku terasa sesak ketika melihat tenunan surai coklatnya. Salju berjatuhan di terangi oleh sinar bulan rasanya, seperti melihat musim bunga sakura yang berjatuhan.

Akhirnya mereka menemui Minshuku dengan keadaan lengang dan suram, dan sebuah Chochin merah tergantung diambang pintu.

Mereka memasuki Minshuku, Rin bisa mencium bau apak menyengat khas rumah tua di balik tikar Tatami yang terbuat dari jerami. Fusuma yang terbuat dari kertas beras sudah mulai menguning, dan hiasan Byobu terpampang di ceruk aula kecil tampak rapuh.

"Permisi.." ucap Yukio sembari ia menutup kembali Fusuma.

"Iyaa, kau bisa memanggilku Baa-san." sambut seorang nenek tua dengan perawakan mungil.

"Ahh iya maaf Baa-san.., apa masih ada kamar kosong."

"Ada banyak kamar kosong disini." tawar Baa-san.

"Kalau begitu, saya meminta untuk berdua." sahut Yukio.

Mereka melepaskan sepatu di Genkan dan menatanya dengan rapih menghadap keluar. Lalu mengambil sepasang Surippa untuk digunakan dalam ruangan.

"Baiklah, akan aku tunjukan."
Mereka mengikuti langkah Baa-san dengan pelan. Lalu membuka Fusuma menampilkan ruangan yang luas, jendela yang menghadap langsung ke arah danau.

"Banyak kedai dan pengginapan yang tuyup, karena ini bukan waktu libur. kalian dari Tokyo untuk liburan ?." tanya Baa-san.

"I-iyaa.. kami dari Tokyo." Yukio menjawab nya dengan kikuk.

"Indahnya.." ujar Rin

"Terima kasih, aku sangat senang kau menyukainya." sahut Baa-san. "Jika membutuhkan sesuatu, kalian bisa tanyakan padaku." Baa-san menyentuh lengan Yukio lalu pergi berpamitan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 04, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Badai PutihStories to obsess over. Discover now