Na Jaemin?

94 18 3
                                        

Seorang pemuda tampak kusut dengan setelan seragam sekolah tengah berdiri di depan sebuah rumah mewah dengan pagar yang menjulang tinggi. Ia mendongak memperhatikan balkon lantai dua rumah tersebut dengan wajah tertekuk. Terhitung sudah lima belas menit ia berdiri mematung disana. Diam seraya menatap bangunan megah yang sudah lama tak dihuni oleh sang pemilik. Hanya diurus oleh dua asisten rumah tangga dan satu tukang kebun.

Hampir setiap hari pemuda berkulit putih itu akan mampir untuk sekedar melihat rumah besar yang berjarak lima rumah dari kediamannya. Mengingat seraya menunggu sang pemilik pulang. Mengingat dirinya dan seorang pemuda lainnya yang kerap sekali berinteraksi di dalam bangunan itu. Bisa dibilang ia rindu.

"Jaemin, kapan kamu pulang?"

Namanya Huang Renjun. Remaja delapan belas tahun yang kini masih duduk di bangku kelas akhir sekolah menengah keatas. Ia merindukan sosok pemuda yang lebih tua enam tahun darinya. Pemuda yang sejak tujuh tahun lalu pergi dan tak pernah kembali. Renjun tidak tahu kemana perginya Na Jaemin. Ia hanya terus berdoa supaya suatu saat Jaemin akan kembali lagi lalu ia bisa cerita banyak tentang apa yang ia lalui selama ini tanpa pria Na tersebut.

Dulu keduanya sangat akrab walau terpaut selisih usia yang jauh. Jaemin itu ramah, ia tak segan menemani Renjun bermain meski Jaemin jauh lebih dewasa. Keduanya berbeda enam tahun. Berawal dari keluarga Jaemin yang pindah ke komplek kediaman Renjun saat Renjun berusia tujuh tahun. Renjun yang saat itu adalah anak tunggal, melihat Jaemin yang mengunjungi rumahnya entah kenapa Renjun merasa senang. Sekalinya Jaemin menyapa, Renjun kecil langsung tak ingin berpisah dengan yang lebih tua. Hingga saat Jaemin berusia tujuh belas tahun, keduanya harus berpisah.

Dari yang Renjun dengar, orang tua Jaemin bercerai. Itu membuat hak asuh Jaemin diperebutkan walau akhirnya Jaemin memilih untuk tak tinggal dengan salah satu dari orang tuanya. Saat pergi Jaemin bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal atau sekedar berpamitan singkat pada Renjun. Tahu-tahu rumah itu sudah dikosongkan. Itu membuat Renjun terus berharap sampai sekarang.

Cukup lama pemuda Huang itu berdiri disana, ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Berjalan pelan seolah tak punya daya seperti biasanya. Ia memang lelah, sudah lelah dengan kegiatan sekolah ditambah kecewa karena Jaemin yang tak kunjung datang. Setiap hari Renjun berharap supaya suatu saat, di suatu hari yang tak terduga saat Renjun lewat rumah Jaemin, Jaemin sudah kembali.

"Jaemin nih memang belum mau pulang atau nggak akan pernah pulang kesini lagi?"

*****

















"Renjun pulang"

Suara lemas dan gerakan menutup pintu yang seperti tak bertenaga seperti menjadi sebuah hal yang biasa bagi Wendy. Putranya itu kerap kali pulang sekolah tak bersemangat. Saat berangkat juga jarang sekali sih Renjun semangat.

"Kenapa sih Ren tiap pulang sekolah lesu gitu, yang bertenaga sedikit dong. Mama lihat yang lain nggak kayak kamu gini deh, Chenle masih ceria aja tuh" Renjun hanya mendengus, ia seperti tak berminat menanggapi omongan sang ibu. Yang ada dibenaknya saat ini hanyalah tempat tidur. Ia ingin sekali membaringkan tubuhnya yang lelah diatas ranjang empuk berbalut seprei biru lautnya.

"Kan aku capek Ma"

"Tiap hari kamu capek"

"Coba aja Ma Jaemin tuh pulang lagi kesini"

Pemuda mungil itu kemudian berlalu meninggalkan ibunya yang tengah terdiam tak tahu harus menanggapi penuturannya seperti apa. Renjun meneguk segelas air di meja makan sebelum kemudian lanjut menuju kamarnya di lantai dua.

Wendy paham betul, Renjun terus saja menanyakan Jaemin yang jelas-jelas ia sendiri tidak tahu. Wendy putus kontak dengan Yoona, ibu Jaemin sekitar tiga tahun lalu. Wanita Huang itu juga tidak berani bertanya banyak-banyak perihal dimana Jaemin, kapan Jaemin kembali karena menurutnya itu merupakan urusan pribadi. Yang ia tahu selama ini Jaemin tinggal dengan orang tua Yoona. Hanya saja ia tak tahu dimana alamatnya.

























































Helplessly









































































Hope New York holds you..
Hope it holds you like I do
While my demons stay faithful
In the city of angels..

Renjun duduk diam di tepi ranjangnya seraya menyilangkan kaki lalu menatap lurus ke balkon kamarnya yang terbuka. Malam itu Renjun tampak menikmati sekali lantunan lagu milik Niki yang berjudul La la lost you yang terputar di ponselnya. Rasanya seperti Renjun yang tengah melepaskan Jaemin.

Renjun tiba-tiba menoleh ketika knop pintu kamarnya dibuka dari luar. Ada Wendy yang tengah berdiri disana sembari memegang sebuah kotak makan besar berwarna ungu. Terdapat kue bolu di dalamnya.

"Ren, tolong antar ini ke rumah Tante Irene ya, Mama baru aja bikin bolu, Chenle biasanya suka" Renjun mengangguk mengiyakan. Ia lantas mematikkan musik yang terputar diponselnya lalu memasukannya ke dalam saku celana trainingnya. Mengambil alih kotak makan itu kemudian segera bergegas menuju rumah Chenle yang berada di ujung komplek.

Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di rumah sepupunya. Ia hanya memberikkan bolu tersebut lalu pulang. Chenle sudah meminta Renjun untuk tinggal sebentar tapi yang lebih tua menolak dengan alasan sudah mengantuk. Jalanan yang sepi membuat Renjun dengan bebas bisa berjalan di tengah-tengah seraya bersenandung kecil. Pria manis itu menyanyikan reff lagu 2soon milik Keshi. Berjalan santai dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku. Renjun seperti menikmati kegiatannya hingga ia tak sadar sebuah mobil tengah melaju dibelakangnya. Tidak, tidak cepat hanya saja Renjun mengganggu jalan karena ia berjalan kaki ditengah.

Pemuda itu hampir saja meloncat dari tempatnya ketika klakson dibunyikan. Saking terkejutnya Renjun hampir saja mengumpat. Ia ingin marah-marah, kalimat-kalimat kemarahan itu sudah berada diujung lidahnya hingga kaca mobil terbuka Renjun justru diam membisu.

"Kalau jalan kaki minggir, jangan ditengah, ganggu pengendara"



















"Na Jaemin?"





















Renjun tersadar ketika mobil Tesla S P100D putih  itu tak lagi disana, telah berlalu mendahuluinya. Yang dilihat Renjun itu tidak salah, pengemudi itu memang Jaemin. Renjun yakin sekali meski tampang laki-laki itu sedikit berubah. Mungkin hanya berubah menjadi lebih sempurna. Tapi benar-benar seperti Jaemin atau lebih tepatnya memang Jaemin.

Renjun kemudian mengambil langkah panjang untuk segera sampai ke rumah besar yang tadi siang dia singgahi sebentar depan pagarnya. Dan betul gerbang rumah itu terbuka menampilkan mobil yang baru saja mengklaksonnya. Bahkan ada Jaemin yang tengah berbincang dengan seorang laki-laki tiga puluh tahunan yang tidak Renjun kenal. Mungkin pekerja baru.

Pria dua puluh empat tahun itu sangat terlihat dewasa dengan surai blonde dan tubuh yang makin tinggi. Jaemin juga makin tampan, sangat tampan. Tapi sesaat setelah memperhatikan Jaemin yang kini mulai masuk ke dalan rumah, Renjun mulai merasa janggal.

Apa Jaemin sama sekali tak mengenali Renjun?

Apa wajah Renjun seberubah itu?

Kenapa hanya Renjun yang tahu dan Jaemin tidak?

"Jaemin apa kamu lupa sama aku?"














































T
B
C

11/11/2020

#jaemrenlovember

HelplesslyStories to obsess over. Discover now