Mimpi buruk itu menghantuinya lagi. Penglihatannya kini terbuka lebar bagaikan buku terbuka. Bisakah Sawamura Eijun membedakan yang mana ilusi dan kenyataan? Ghost x Indigo AU
JEMARInya yang panjang dengan kuku panjang bergerigi itu bergerak di udara dengan menggapai sesuatu. Dengan kakinya yang bengkok dan tinggal tulang saja bergerak selangkah demi selangkah, mulutnya terbuka—menganga—mengeluarkan aroma busuk dengan giginya yang kotor. Matanya mencuat ke luar berdarah-darah. Terdengar jeritan kecil ke luar dari mulutnya, disusul lengkingan dari tempat lain dan teriakan dari tempat lainnya lagi.
Ia melotot. Tubuhnya bergetar ketakutan. Perlahan kakinya mulai memacu ke sembarang arah—berlari mencari tempat aman. Ia menginjak semak belukar, ranting-ranting, serta sesuatu yang lembek yang tidak ingin ia lihat apa itu. Ketika melihat sebuah pohon beringin besar di depannya, ia memacu ke arah sana demi mencari perlindungan. Berlindung dari balik batang pohon yang besar. Menyenderkan punggungnya yang basah ke sana. Tunggu, sejak kapan sekujur tubuhnya basah?
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Ia sadar. Ia mulai melihat tangannya yang berlumuran darah. Kedua kakinya beralaskan sepatu juga berlumuran darah. Lalu celana, lalu baju, lalu wajah, lalu rambut. Sekujur tubuhnya berlumuran darah! Tubuhnya kembali bergetar karena takut dan jijik yang luar biasa. Ia mencium bau amis dan bau tidak enak lainnya yang membuat ia mual. Tubuhnya perlahan-lahan mulai panas, gatal, kemudian ia merasa seperti terbakar—seperti kulitnya akan meleleh.
Sedetik kemudian. Makhluk yang sudah tinggal tulang tadi—dengan memakai baju lusuh putih kotor bercampur darah dan tanah—sisa kulit di wajah masih ada tetapi seperti hangus terbakar— salah satu matanya mencuat ke luar. Jemari panjang dengan kuku panjang itu mulai mendekatinya. Mencekiknya dengan keras. Berteriak memekakkan telinganya.
"TOLONG AKU!" teriakan bagaikan lolongan anjing kesakitan yang menyiksa memekakkan telinganya. Ia ikut berteriak karena takut dan kesakitan.
DEG!
Itu mimpi! Sawamura Eijun terbangun dengan tarikan di jantungnya yang tiba-tiba. Keringat menetes dari dahinya. Ia langsung melihat sekujur tubuhnya yang baik-baik saja—tidak ada darah bau berlumuran di tubuhnya. Menghela nafas panjang, Eijun memijat pelipisnya pelan—pusing karena bangun yang tiba-tiba ini. Ia duduk dan menyenderkan punggungnya ke tembok di sampingnya. Ia melihat beberapa temannya terkapar di atas lantai beralaskan karpet dan jaket yang dijadikan bantal.
Ada Miyuki Kazuya yang tertidur di ranjang di sebrangnya—tampak tidur dengan damai, bersama Kuramochi Yoichi dan Maezono Kenta yang tidur di samping Kazuya. Sementara Eijun tidur bersama Kominato Haruichi dan Furuya Satoru. Kebetulan Eijun mendapatkan bagian tidur di sisi kiri dekat tembok.
Ia melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Sudah jam tiga pagi dan dia tidak bisa tidur lagi, sialan. Eijun memutuskan untuk bangun dan mengendap-endap pergi ke luar kamar mencari udara. Ia mengambil jaketnya yang di taruh di atas sofa di sudut ruangan kemudian membuka pintu dengan pelan tanpa membangunkan teman-temannya.
Eijun menutup pintunya kemudian melihat lorong remang yang sepi. Ia menelan ludah. Baru saja mimpi buruk menghantuinya dan sekarang ia nekat ke luar mencari udara di jam tiga pagi.