Kelana Puspa Temara, begitulah nama yang diberikan ayah kepadaku, putri kecilnya. Kata ayah nama itu bukan hanya estetik, tapi juga sarat akan doa dan pengharapan. Kelana, ayah berharap aku menjadi perempuan yang kuat dan tangguh menghadapi apapun, layaknya seorang pengembara. Puspa, aku yang kebetulan lahir pada era dimana negara gampang sekali terpecah hanya karena perbedaan, maka dipilihlah Puspa, bunga melati lambang kecantikan sekaligus nasionalisme, ayah ingin aku menjadi pemersatu dari sekian banyak perbedaan. Temara, dalam kamus berarti cahaya yang sangat terang, mungkin ayah berpikir akan memiliki anak layaknya malaikat, karena ibuku seperti bidadari surga. Ayah ibuku hanya rakyat biasa di mata negara, tapi tidak menurutku. Ayahku adalah lelaki idaman di mataku. Ayah cukup unik, aku bahkan tak tau cara menggambarkan bidang profesi yang digelutinya. Olehnya aku diajari berbagai pelajaran alam, yang tak akan mungkin aku dapati di bangku sekolah. Lalu ibuku, ini malaikatku, tapi ayah lebih suka memanggil nya bidadari. Ibu seorang guru di sekolah luar biasa di kota, sekaligus sambilan buka yayasan dirumah. Kurang mulia apalagi malaikatku ini. Kami tinggal dirumah sederhana, namun bisa dibilang hidup berkecukupan. Paling tidak tiap akhir semester kami selalu pergi liburan.
YOU ARE READING
KePuTe
Short StoryAku seorang gadis usia sekolahan yang kebetulan dinobatkan secara sengaja dan ilegal oleh ayah menjadi anak paling beruntung di dunia.
