Prolog

161 10 0
                                        

Cinta memang kadang tega.

Seperti menyatukan dua hati yang semula tak saling jumpa, menjadi begitu saling taut dan enggan menyudahi cerita. Tak gentar walaupun semesta gencar menyerang membabi-buta. Ya, itulah cinta beda agama. Hanya luka, luka, dan luka, yang bertopengkan tawa. Sesubur apapun canda, kelak akan layu, dan menjatuhkan bulir demi bulir air mata duka

Bersama untuk berpisah pada akhirnya. Salut luar biasa, untuk pasangan yang bersikukuh melaju dalam cinta beda agama; mereka yang berhati ksatria. Namun, apa yang bisa dipastikan dari perjalanan kisah cinta beda agama? Luka, tentu saja. Bahagia? Bahkan, terkadang, terlalu takut untuk sekadar menabung asa.

Aku tetap berterimakasih kepadamu yang sudah mau menghabiskan waktumu untukku kita telah mengukir sebuah kisah yang tak akan pernah aku lupakan. Bahkan, memikirkan untuk melupakannya saja aku tak memiliki kekuatan

Aku beruntung dipertemukan semesta
denganmu dan diberi kesempatan untuk bisa merasakan bahagia bersamamu jika kamu bertanya apa aku bahagia akan ku jawab dengan lantang dan tanpa ragu bahwa aku sangat bahagia

Meskipun pada akhirnya kita terpisahkan.

Terkadang, semua tak berjalan mulus. Tapi, aku sangat berterimakasih kamu tak menyerah dengan mudahnya. Aku yakin, kamu akan terus bahagia baik denganku atau tidak akan ku pastikan kamu merasakan bahagia seperti saat bersamaku

Aku mencintaimu selalu, sampai kapanpun rasa ini tak akan pernah mati dan akan selalu tetap untukmu, Disha.

—Azkarion Antala Saputra.

Heartbreak.Stories to obsess over. Discover now