Bag. 1

237 40 16
                                        

Stardust

Bag.1

:::

Hidup dalam kesulitan ekonomi, adalah masalah harian yang terus di hadapai bagi orang-orang seperti Huang Renjun dan Ibunya.

Sejak kecil, Renjun terbiasa melihat bagaimana Ibunya bekerja di beberapa tempat dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sulit untuk mempunyai pekerjaan tetap dan kehidupan layak bagi seorang imgran ilegal, dan Ibu satu anak yang telah di tinggal pergi oleh suaminya entah kemana. Meski begitu, Ny. Huang enggan meninggalkan Seoul, karena di rasa kehidupan di kota besar itu lebih baik dari pada Negara asalnya Pyongyang, Korea Utara.

Saat itu, pelarian Korea Utara seperti Ibunya, belum—lah terlalu di terima di karenakan buruknya hubungan kedua Negara. Korea Utara yang terus mengancam dengan rudal-rudal besar mereka, membuat sebagian warga Korea Selatan menjadi muak, dan mengucilkan para pelarian. Hal ini jugalah menjadi alasan bagaimana Huang Renjun melalui masa Sekolahnya dengan berat. Perundingan yang di terimanya, bukan hanya dari para siswa, melainkan guru-guru dan wali kelasnya.

Tidak peduli bagaimana Huang Renjun sangat keras belajar dan berprestasi di Sekolah, namanya tidak akan pernah di pajang dalam bulletin Yayasan, atau mengikuti turnamen-turnamen menjanjikan untuk mewakilkan Sekolah.

Namun suatu hari, Ibunya pulang dalam keadaan bahagia. Beliau bercerita tentang seorang kenalan dari organisasi Yayasan tempat Ibunya bekerja saat ini, yang menjanjikannya sebuah kesempatan untuk naturalisasi sebagai warga Korea Selatan.

Mendengar hal itu, awalnya Renjun merasa sangsi. Tidak yakin jika hal itu adalah berita baik, atau Ibunya mungkin kembali di janjikan harapan palsu seperti yang sebelum-sebelumnya. Tapi melihta bagiamana Ibunya begitu bersemangat, Renjun hanya mampu merespon dengan sebuah senyuman, sambil mengingatkan untuk tidak terlalu banyak berharap.

Bukan berarti Renjun coba menjatuhkan harapan sang Ibu, karena sejak kecil melihat bagaimana Ibunya berusaha agar bisa mendapatkan kewarganegaraan yang murni, membuat Renjun merasa lelah sekaligus sedih. Disaat mereka telah melewati banyak kesakitan untuk berada di posisi saat ini, Renjun rasa kali ini sudah waktunya sang Ibu menyerah untuk hal itu.

Setidaknya, Renjun yang saat ini berusia 23 Tahun, telah memiliki pekerjaan tetap di sebuah Restaurant sebagai kepala koki. Ia juga secara alami mendapatkan kewarganegaraan—nya, karena sang Ayah yang berkewarganegaraan asli Korea Selatan.

"Tapi, Ibu hanya ingin meringankan bebanmu. Lagipula, tidak akan ada yang ingin menikahi anak seorang imigran ilegal." Sang Ibu berujar sendu.

Jika dahulu alasan beliau ingin mendapatkan kewarganegaraan adalah karena ingin mendapatkan pekerjaan dan kehidupan layak, kini sejak Renjun beranjak dewasa, ketakutan dan keinginan Ibunya bertambah. Beliau juga mulai merasa jika tubuhnya tidak sekuat dahulu, jadi memastikan Renjun yang menikah sebelum pergi meninggalkan dunia, adalah harapan terakhir yang di inginkannya setelah banyak harapannya tidak terkabulkan oleh Tuhan.

"Jika tidak ada yang ingin menikah dengan ku karena Ibu, lebih baik tidak usah menikah saja." Bagi Renjun, menikah bukanlah hal yang penting. Sejak kecil hidup dalam kesusahan, setidaknya Renjun ingin membuat nyaman kehidupannya dan sang Ibu dahulu.

Tapi mendengar hal itu dari mulutnya, sepertinya bukanlah suatu hal yang menyenangkan untuk sang Ibu. Beliau kembali mengomel tentang masa depan, dan keinginan agar Renjun tidak mendapatkan nasib yang sama seperti beliau. Karena takut terlalu panjang, Renjun memilih untuk mengalah. Ia merasa lelah dengan pekerjaannya hari ini, dan tidak ingin di buat pusing dengan omelan sang Ibu tentang masa depan apalagi pasangan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 12, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

StardustWhere stories live. Discover now