Sunflowers

8 1 0
                                        

Aku memiliki seseorang yang kucintai. Dia bernama (?). Dia adalah teman sekelasku. Seorang laki-laki yang membawa pengaruh keceriaan di sekitarnya dalam setiap langkah kakinya. Parasnya menawan, namun memiliki satu perbedaan yang membuatnya dijauhi oleh teman-temannya.

Aku tak peduli. Dia begitu menawan di mataku.

Pagi yang begitu indah. Setiap hari aku selalu berangkat sangat awal, mengikuti kebiasaan dia, bahkan melebihi pagi yang dimiliki olehnya.

Aku berangkat ketika masih ada penjaga sekolah yang menunjukkan entitasnya yang sedang merapikan sekolah. Kudekati pria paruh baya itu dan berbisik: "Pak, tolonglah diriku yang sedang kasmaran ini. Sebentar lagi dia akan tiba. Sudahkah Bapak merapikan tempat duduknya yang memiliki posisi di sudut kelas bersampingan dengan jendela?"

Pria paruh baya itu tersenyum sembari jari-jarinya yang penuh tanah sebab sedang bercocok tanam di taman depan membentuk tanda 'OK'. "Tentu saja, seperti biasa, Nona."

Aku tertawa merespon hal itu. Bapak penjaga sekolah itu tahu persis permintaanku setiap harinya dan jatuh cintaku pada dia.

Dan dia pun tiba. Aura keceriaan memenuhi perjalanannya. Aku sembunyi demi melihatnya sedang menyapa Bapak penjaga sekolah yang baru saja kutemui. Salah satu temanku tiba-tiba menyentuh pundakku dan menggelengkan kepalanya. "Kenapa kau menyukai laki-laki yang tak ada spesialnya itu."

Ah, temanku tak mengerti.

Hingga suatu hari, dia menghilang. Tanpa kabar. Tanpa surat. Dengan tega meninggalkanku dalam tanda tanya karena rindu. Semua entitas lain tak menggubris keabsenannya. Aku khawatir.

Sampai akhirnya, seluruh temanku diajak guruku menuju kediamannya, ketika mendengar dia yang pada akhirnya tidak akan pernah kutemui di sepanjang sisa umurku, sisa perjalananku. Banyak diantara teman sekelas lebih sibuk tak menyangka bahwa sebenarnya dia adalah sosok laki-laki berkewarganegaraan Korea Selatan dan memilih berdiri dibalik bayangan orang biasa. Mereka bergunjing di teras bahkan sampai ke ambang pintu. Sementara aku menangis, di depan rumahnya, tak berani menginjakkan kaki di sana, meski temanku menjelaskan bahwa dia dibawa ke tanah kelahirannya.

Karena itulah aku menangis berhari-hari.

Tiga hari setelah itu, aku dipanggil oleh ibunya dan disambut oleh pelukan penuh tangis.

"Maafkan saya. Seseorang yang saya utus melaporkan bahwa kau adalah teman semeja (?). Grace Allumput, terima kasih karena telah bersedia menemani putraku di dalam kelas. Terima kasih karena bersedia berada di sisinya ketika teman yang lain menjauhinya. Dan terima kasih karena menjadi sebab keceriaannya di sisa hidupnya."

Aku menangis mendengar itu.

Setelah itu, aku mengeluarkan capture bertuliskan artikel tentang dia. "Aku tahu penyebabnya tidak terungkap oleh media, karena itu Anda membawanya berobat ke tempat kelahirannya, bukan? Aku tidak akan mencari tahu tentang hal itu. Namun, izinkan aku untuk menjenguknya di setiap minggu."

"Tidak, Nak. Kau tak perlu berusaha sekeras ini-"

"Biarkan aku berada di sisinya sampai waktuku habis hingga akhirnya aku akan bersama dengannya lagi, eommonim." Aku mengucapkan itu dengan Bahasa Korea. Wanita itu akhirnya menangis sesenggukan sambil memelukku. Kami berpelukan pada akhirnya.

Hai laki-laki bernama (?). Sudah siapkah berjumpa kembali denganku?

*

Guncangan kelewat kuat menjadi penyebab garis panjang melintang tercipta di halaman buku. Bahkan sebagian tulisan rapi tersebut terkena imbas tinta hitam. Aku, si korban, menghembuskan nafas lelah dan meletakkan pulpen gel dengan hiasan karakter Koya di tengah halaman.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 18, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SunflowersWhere stories live. Discover now